Janda Bohay

Janda Bohay
Balas Dendam


"Itu ... gue cuma kira-kira aja-" Belum selesai Aksa berbicara, tangan Djiwa sudah mencengkeram kerah baju Aksa.


"Lo jawab atau gue kulitin lo hidup-hidup seperti ayam?" ancam Djiwa.


Sorot mata Djiwa menandakan keseriusannya. Ia tahu ada kepentingan dibalik dirinya yang dibuang di kampung tempat Mawar tinggal.


"Itu ... gue yang suruh. Gue mau menang tender hari itu jadi gue buat lo tidak bisa hadir. Gue tau kalau Rendi yang wakilin lo pasti akan kalah," jawab Aksa takut-takut.


Djiwa yang sangat lihai berbohong tahu kalau manusia di depannya sedang berbohong. Radarnya bekerja dengan sangat baik.


Djiwa menghempaskan tubuh Aksa sampai terhempas ke sofa. Ia mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Rendi asistennya. Pada dering pertama, Rendi yang mengkhawatirkan Djiwa langsung mengangkat teleponnya.


"Iya, Bos."


"Ren, waktu gue dibuang sama si kupret ini, tender apa yang harus gue datangi?" tanya Djiwa.


"Sebentar. Gue lihat catatan dulu." Rendi membuka catatannya dan melihat di tanggal Djiwa menghilang saat tender. "Tender Perusahaan Ogah Rugi Malas Kalah, Wa."


"Perusahaan apaan tuh?" tanya Djiwa sambil mengernyitkan keningnya.


"Real estate. Namanya doang yang ajaib tapi nilai tendernya besar," kata Rendi menjelaskan.


"Lalu Si Kupret ini yang menang?" tanya Djiwa.


"Kupret? Maksudnya Adiyaksa?" tanya balik Rendi.


"Iyalah. Dia bilang katanya gue dibuang supaya tidak menang tender," jelas Djiwa.


"Sebentar. Gue cek data dulu di komputer." Rendi menyalakan komputernya dan mencari informasi yang Djiwa minta. "Bukan perusahaan Aksa yang menang. Di sini Perusahaan Surya Gemilang milik-"


"Papanya Melati." Djiwa memotong ucapan Rendi. Djiwa mengerti sekarang siapa otak dibalik dibuangnya ia di kampung pinggiran Jakarta hanya dengan celana pendek saja tanpa ponsel dan uang sama sekali. "Oke, Ren. Gue paham sekarang. Lo lanjutin kerjain apa yang gue minta tadi!"


"Siap, Wa!"


Djiwa memutus sambungan teleponnya. Aksa menatap Djiwa dengan takut-takut. "Berani ya lo bohong sama gue?" Nada suara Djiwa tenang namun penuh ancaman.


Bulu kuduk Aksa meremang. "Gue bisa jelasin, Wa. Bukan seperti yang lo pikir. Gue cuma mau ngerjain lo doang. Anggap saja April Mop."


Djiwa tersenyum menyeramkan. "Oh ... April Mop ya? Kok lebih menyeramkan dari Halloween ya?"


"Melati enggak pernah nyuruh kayak begitu, Wa. Gue cuma disuruh mencegah lo datang aja. Gue yang jahil sama lo. Gue tahu lo anaknya asyik. Lo pasti enggak akan marah sama gue, makanya gue berani. Gue datang lagi kok buat jemput lo, tapi lo enggak ada. Bener deh!" Aksa berusaha menenangkan kemarahan Djiwa dengan kebohongan, namun itu malah membuat Djiwa semakin marah saja.


"Oh begitu ceritanya ya? Jadi lo kerja sama dengan Melati mencegah gue datang agar Melati menang tender. Gila ya lo. Gue anggap lo sahabat gue loh. Kita mabok bareng. Main cewek bareng. Party bareng tapi balasan lo kayak begitu. Dijanjiin apa sih lo sama Melati sampai tega kayak gitu sama gue?" tanya Djiwa dengan nada penuh kekecewaan.


"Gue minta maaf, Wa. Lo sahabat gue. Gue terpaksa, Wa. Melati ancam gue. Dia mau jeblosin gue ke penjara. Dia pegang kartu gue. Maaf, Wa. Maaf banget. Lo mau 'kan maafin sahabat lo ini?" pinta Aksa dengan nada memelas.


Djiwa kembali tersenyum menyeramkan. "Oh tentu dong sahabatku. Aku akan memaafkanmu dengan lapang dada. Tak akan kubiarkan sahabatku memelas minta ampunan seperti ini. Aku maafkan!"


"Benarkah? Makasih ya, Wa!" Aksa tersenyum senang, berbeda dengan Djiwa yang tak lagi tersenyum.


"Karena kita sahabat, gue mau ajak lo main. Kita udah lama enggak main bareng. Bagaimana kalau kita pesta halloween?"


Senyum di wajah Aksa menghilang. Tawaran Djiwa pasti petaka buatnya. "Kayaknya enggak usah deh, Wa. Gue mau pulang aja. Sakit habis kena resleting."


"Yah jangan dong. Gue minta body guard gue bantu lo lepas celana ya? Ganti yang lebih nyaman." Djiwa memberi kode pada kedua body guardnya.


Aksa mulai ketakutan. Dua orang bertubuh besar itu membuka celana Aksa dengan paksa. "Bajunya juga dong! Masa celana aja!" perintah Djiwa.


Sebuah celana hitam model seperti popok bayi tanpa jahitan dipakaikan ke Aksa yang tak bisa melawan. "Hidungnya belum. Jangan lupa, pakai lem yang kuat ya biar tidak gampang lepas!"


Sebuah hidung palsu dipakaikan ke Aksa. "Wa, gue mau lo apain? Jangan, Wa. Please." Aksa memohon ampunan Djiwa namun semua sia-sia.


"Yang agak banyak lemnya. Biar nempel!" Bodyguard melakukan tugasnya menempel hidung palsu, namun karena berontak terpaksa Aksa dibius dan tak sadarkan diri.


Hidung berbentuk moncong babi sudah menempel di hidung Aksa. Djiwa tersenyum puas. "Oke. Sekarang kalian buang di salah satu kampung. Jangan lupa kirimkan video saat dia dipergoki warga."


Djiwa meninggalkan Aksa dengan perasaan puas. Balas dendamnya sudah dibalaskan. Kini tinggal mencari tahu kartu Aksa yang dipegang Melati.


"Ren, tugas lo bertambah lagi. Cari tahu apa yang Aksa lakukan sampai Melati bisa mengancamnya! Penting! Gue merasa ini semua ada hubungannya," perintah Djiwa.


"Oke. Siap, Wa!"


Djiwa pun pulang ke apartemennya. Ia berganti pakaian dan pulang ke warung Mawar dengan motor bututnya. Sesampainya di warung, Lily mencegatnya dan mengajaknya bicara.


"Mas, aku enggak mau ya Mas menyakiti hati Mawar!" kata Lily memperingati.


Djiwa tersenyum. Ia senang Mawar memiliki sahabat yang amat menyayanginya. "Percayalah, hatiku cuma buat Mawar seorang. Kamu jangan ragu. Wanita itu licik. Dia akan melakukan apa saja untuk memilikiku. Aku tak mau. Aku hanya menyukai Mawar. Dia wanita yang amat kucintai. Tolong jaga Mawar saat aku tak ada ya. Aku ada banyak urusan. Aku percaya sama kamu, Ly. Jangan biarkan Melati mendekati Mawar, oke?"


"Mas Djiwa juga janji ya jangan mengkhianati Mawar!" jawab Lily.


"Janji!" Djiwa mengangkat jari telunjuk dan tengahnya. "Aku masuk dulu ya, Ly! Oh iya, kamu dapat salam dari Rendi. Salam kangen!"


Lily tersipu malu digoda Djiwa. "Ih Mas Djiwa bisa aja!"


Djiwa tersenyum dan masuk ke dalam. "Istriku tercinta! How are you Baby?"


"Assalamualaikum kalau baru datang! Pake how are you segala. Ajaran siapa tuh? Kamu sudah makan?" Mawar mencuci tangannya yang kotor sehabis mengulek sambel. Ia lalu salim pada Djiwa yang mengecup kening Mawar.


"Iya, assalamualaikum. Aku udah makan, Sayang. Aku ke atas dulu ya!"


****


Keesokan subuh, Djiwa membuka video yang dikirimkan bodyguardnya. Nampak Aksa sedang dikelilingi warga. Ada yang melemparinya dengan telur, meludahinya dan memukulinya.


"Ampun, Pak. Ampun! Saya bukan babi ngepet, Pak, Bu. Saya dikerjai teman saya!" mohon Aksa.


"Jangan bohong kamu! Itu buktinya hidung kamu belum berubah!"


"Iya benar!"


"Kamu yang nyuri uang saya ya?"


Djiwa tertawa-tawa melihat video yang bodyguardnya kirimkan. Mawar yang baru selesai mandi pun bertanya. "Kenapa ketawa-ketawa begitu, Mas?"


"Oh ini, Sayang. Ada babi ngepet ketangkep." Djiwa menunjukkan video pada Mawar yang bergidik ngeri.


"Ih orang jaman sekarang makin nekat. Mau aja jadi babi ngepet. Hiiy. Udah ah serem!" Diberikannya lagi ponsel pada Djiwa yang kembali tertawa puas melihat kesialan Aksa.


"Rasain! Djiwa dilawan!" batin Djiwa.


****