
Anton tak menyangka kalau kedatangannya akan disambut dengan banyak jawara kampung. Tampang mereka tak kalah menyeramkan dari Anton, dengan golok yang sudah terselip di ban pinggang. Tajam dan siap melukai lawannya.
Anton memutar otaknya dengan cepat. Jelas ia dan anak buahnya akan kalah jika memaksa untuk melawan. Tugasnya hari ini adalah membujuk para petani untuk menjual beras pada perusahaan milik Papa Melati, bukan mencari ribut.
"Ehem." Anton berdehem untuk menstabilkan suaranya. "Tenang dulu, Pak. Kedatangan saya ke kampung ini untuk membeli hasil panen dari petani sekitar kampung ini. Mereka sudah mengenal saya kok. Mungkin kita saja yang belum berkenalan," kata Anton dengan ramah.
"Tak perlu berkenalan. Kami sudah mengenal siapa kamu. Sudah cukup petani di kampung ini kena kibul oleh kamu dan orang kaya yang membayarmu itu!" jawab salah seorang jawara kampung dengan ketus.
"Kibul? Saya tak pernah ada niat untuk membohongi warga kampung, Pak. Saya malah berniat mengajak warga kampung untuk ikut program swasembada beras seperti yang digemborkan oleh perusahaan tempat saya bekerja," bujuk Anton.
"Alah, enggak usah berbohong deh! Kalian yang mengoplos beras dan sudah ada di berita TV bukan? Swasembada pala lo! Pergi saja kalian dari kampung ini! Beras milik petani di sini akan dijual ke perusahaan yang lebih terpercaya!"
"Perusahaan yang lebih terpercaya? Perusahaan siapa?" tanya Anton.
Tiba-tiba Anton mendengar suara dari belakangnya. "Ya ... perusahaan Papa gue lah!"
Anton berbalik badan dan melihat Djiwa berdiri di sebelah Rendi. Di depannya, dua bodyguard yang waktu itu menangkap Jamal sedang berdiri dengan siaga menjaga bos berharga mereka.
"Djiwa?" Anton membelalakkan matanya melihat target yang selama ini ia cari ada di depan matanya.
"Hi Anton! Masih mau nangkep gue?" Djiwa melambaikan tangannya sambil tersenyum meledek.
"Oh jadi lo sembunyi di kampung ini? Lo pikir, lo akan selamat? Heh, nyawa lo tuh duit besar buat gue!" Anton maju dan hendak menangkap Djiwa. Dikerahkannya anak buahnya untuk maju.
"Berani lo sentuh sehelai rambut Bos Djiwa, anak buah lo bakal gue habisin!" ancam bodyguard Djiwa yang sudah menaruh dendam karena Anton mengacak-acak markasnya.
Para Jawara juga bergabung bersama Djiwa and the genk, membuat Anton sadar kalau pasukan Djiwa lebih banyak dari anak buahnya. "Masih mau maju lo?" tantang Djiwa.
"Lo pikir gue takut?" tantang balik Anton.
Anton merasa egonya dipertaruhlan, meski sadar anak buahnya kalah jumlah tetap saja ia maju. Pertikaian pun tak dapat dihindari. Semua berusaha melindungi Djiwa namun Djiwa yang sudah geram ingin menghajar Anton malah maju. Djiwa berhasil melayangkan beberapa pukulan pada Anton. Hasilnya sudah pasti dimenangkan oleh pihak Djiwa. Anton dan anak buahnya berhasil dilumpuhkan. Kali ini Anton diamankan di tempat yang tak akan diketahui siapapun.
Di tempat lain, Papa Melati mulai kelabakan karena stok beras kualitas bagus miliknya sudah dilempar ke pasaran. Produksi ulang seperti yang Melati sarankan telah dilakukan namun stok beras bagus belum juga datang. Anton yang ditugaskan pun seperti hilang di telan bumi.
Tak puas hanya disitu. Djiwa mulai kembali melancarkan serangannya. Bukti hubungan Papa Melati dengan salah seorang oknum kepolisian yang selama ini membantunya menangkap Djiwa mulai diungkap ke publik.
Melalui hacker yang disewa Djiwa, bukti transfer ke rekening oknum polisi yang dilakukan Papa Melati dengan nominal besar diungkap ke publik. Netijen pintar juga kembali Rendi kerahkan untuk meramaikan sosial media dengan tagar #oknumsahabatpengusahalicik #ungkapoknumpenerimasuap
"Anak pengusaha terkenal pemilik Surya Corporation, Melati, tertangkap kamera sedang check in dengan beberapa pria berbeda. Diketahui pria yang diajaknya berkencan adalah para pengusaha pemilik tender besar. Apakah ini ada hubungannya dengan keberhasilan Melati mendapatkan banyak tender besar?"
"Harga saham Surya Corporation menurun drastis sejak terungkapnya kasus pengoplosan beras ditambah skandal kedekatan sang pemilik dengan oknum polisi. Pemilik saham memilih menjual saham mereka apalagi setelah mendengar putri pemilik Surya Corporation yang akan mewarisi perusahaan tersebut mendapatkan tender dengan cara kotor ...."*
"Beras produksi baru keluaran Surya Corporation tak mendapatkan respon bagus di masyarakat. Masyarakat terlanjur kecewa dan memilih beras yang diproduksi oleh perusahaan milik keluarga Angkasa Djiwa yang baru dipasarkan. Menurut masyarakat, kualitas beras produksi Angkasa Corporation lebih bagus dengan harga wajar. Angkasa Corporation juga berjanji akan lebih memperhatikan nasib petani dan kualitas beras ...."
Djiwa melemparkan sebuah kartu ke atas meja. "Ren, kartu As lempar sekarang!"
"Kasus pembunuhan seorang petani di salah satu kampung penghasil beras terbesar negara ini yang bernama Purnomo kembali diselidiki. Purnomo semula diduga tewas diracun oleh istrinya, Mawar. Kini kasusnya dibuka kembali karena ditemukan banyak kejanggalan. Mawar telah menjalani hukuman selama lima tahun di penjara atas tuduhan pembunuhan namun bukti yang diberikan kurang akurat."
Video saat Melati bicara dengan Anton pun diputar. Layar kamera menyorot jelas wajah Melati beserta ucapannya. "Bagaimanapun caranya, paksa para petani bodoh itu menjual beras ke kita dengan harga murah! Kalau mereka menolak, bakar saja lahan mereka. Jangan biarkan mereka menjual di tempat lain! Beli hasil panen mereka dengan harga murah. Ingat, kita yang mengatur mereka, bukan mereka yang mengatur kita!"
Rupanya selain video percakapan Melati dan Anton yang sempat direkam Purnomo lalu ditonton Djiwa dan Mawar, ada rekaman suara lain yang disimpan di file tersembunyi oleh Purnomo. Rendi yang menemukannya saat sedang mengutak atik ponsel jadul milik Purnomo kemudian memberitahu Djiwa kalau ada informasi tambahan dari rekaman tersebut.
"Petani kampung itu, habisi saja dia! Main bersih! Jangan biarkan dia mempengaruhi petani lain!" Suara Melati yang jelas menyuruh Anton melakukan aksi pembunuhan.
Semua Djiwa buka ke publik. Netijen bekerja sama. Mereka membuat kasus ini viral dan menjaga agar tidak hilang oleh masalah lain. Semua potongan berita pun disatukan menjadi satu berita besar, membuat polisi turun tangan mengusut tuntas kecurangan Surya Coporation dan kemungkinan Melati sebagai dalang pembunuhan Purnomo.
Djiwa menatap Rendi dan semua anak buahnya. "Siap pulang?"
Rendi, Iman dan dua bodyguard Djiwa mengangguk sambil tersenyum. "Siap, Pak!"
"Good!" Djiwa menatap Jamal yang terus bersama mereka namun tak pernah berkhianat sama sekali. "Mal, tugas lo belum selesai."
Jamal mengangkat wajahnya dan menatap Djiwa. "Apa lagi yang harus saya lakukan, Pak?"
"Bersihkan nama Mawar!" Djiwa mengeluarkan sebuah surat lalu memberikannya pada Jamal. "Jalani hukuman di penjara dengan tenang. Jangan khawatir, anak dan istri lo terjamin. Pendidikan anak lo akan gue tanggung. Lo cukup menjalani hukuman saja dan akui semua dengan jujur!"
Jamal menerima amplop yang Djiwa berikan. Isinya surat perjanjian kalau Djiwa akan membiayai keluarganya dan juga ATM beserta PIN untuk istri Jamal. Ada nominal uang dalam jumlah besar yang tertera di buku tabungan, simpanan untuk keluarganya selama ini di penjara.
Air mata Jamal pun menetes tanpa bisa dicegah. "Terima kasih, Pak. Tolong sampaikan maaf saya pada Mawar. Maafkan saya ... maafkan saya ...."
****