
Ibu Mina menatap wanita muda di depannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tubuhnya bohay, persis seperti nama warung miliknya.
Pakaian yang dikenakan Mawar biasa saja. Hanya kaos dan celana panjang, memang dasar aura bohay, mau pakai apapun tetap saja terlihat bohay.
Mawar tidak memakai make up berlebihan seperti wanita lainnya. Hanya lipstik warna soft yang membuat wajahnya terlihat segar.
Pak Prabu juga sama seperti istrinya. Ia menatap wanita yang dinikahi anaknya dari ujung kepala sampai kaki. Mencari tahu apa yang membuat anaknya rela menyembunyikan identitasnya hanya demi seorang wanita kampung yang statusnya sudah janda tersebut.
"Kamu yang namanya Mawar?" Ibu Mina langsung menebak siapa wanita di depannya. Agak berbeda memang dibandingkan dengan foto yang dilihatnya. Jauh lebih cantik aslinya, bukan seperti anak jaman sekarang yang saat berfoto suka memakai filter namun saat dilihat langsung jauh berbeda dengan aslinya.
Harus Pak Prabu akui kalau pilihan anaknya tidak salah. Terlepas dari statusnya yang seorang janda dan mantan narapina, Mawar memang cantik dan bisa dikatakan menarik bagi kaum pria.
"Iya, saya yang bernama Mawar. Ada yang bisa dibantu, Bu?" tanya Mawar dengan nada sopan. Sikapnya yang santun tak luput dari pengamatan Pak Prabu yang reflek membandingkan dengan sikap Melati yang manja dan seenaknya.
"Duduklah. Ada yang mau kami bicarakan dengan kamu!" perintah Ibu Mina.
Meski agak bingung, Mawar menurut. Ia menarik kursi plastik dan duduk di seberang Ibu Mina. "Ada apa ya, Bu?"
"Kami adalah orang tua dari Angkasa Djiwa," kata Ibu Mina. Mata Mawar terbelalak kaget. Ia tak menyangka kalau kedua orang tua Djiwa akan datang menemuinya.
"Orang tua Mas Djiwa? Apakah ini artinya hubunganku dengan Mas Djiwa sudah diketahui?" batin Mawar.
"Ya, kami sudah mengetahui hubungan kalian berdua." Seakan bisa menjawab isi hati Mawar, Pak Prabu akhirnya angkat bicara. "Melihat sikap kamu yang terkejut, berarti kamu sudah tahu bukan, siapa Djiwa yang sebenarnya?"
Mawar tak siap ditanya seperti ini. Ia jadi tergagap saat menjawab pertanyaan dari Pak Prabu. "Saya ... mengenai Mas Djiwa ... sebenarnya saya-"
Pak Prabu tersenyum mengejek. "Sebenarnya memang kamu sudah tahu siapa Djiwa bukan? Kamu hanya berpura-pura lugu dan tidak tahu siapa Djiwa agar bisa menjebak anak kami yang dengan mudahnya masuk ke dalam perangkap kamu, benar begitu?" cecar Pak Prabu.
Mawar mengangkat kedua telapak tangan dan menggelengkan kepalanya bersamaan dengan menggerakkan telapak tangannya. "Tidak. Saya tidak tahu siapa Mas Djiwa. Saya bahkan baru mengetahuinya beberapa hari lalu," jawab Mawar dengan jujur.
"Kamu pikir saya akan percaya dengan jawaban kamu? Djiwa itu lumayan terkenal. Masa sih kamu tidak tahu siapa Djiwa?" cibir Ibu Mina.
Mawar menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia harus tenang dan jangan terpancing amarah. Biar bagaimanapun kedua orang di depannya adalah orang tua dari Mas Djiwa, lelaki yang amat ia cintai.
Mawar memutuskan untuk tidak membantah. Menjawab saat orang tua sedang marah, malah akan membuat suasana semakin panas saja.
"Sudah berapa lama kalian menikah?" tanya Pak Prabu yang sebenarnya sudah tahu jawabannya dari Rendi.
"Su-sudah 2 bulan lebih, Pak," jawab Mawar.
"Secara siri bukan?" sambung Ibu Mina.
Mawar menganggukkan kepalanya. "Iya."
"Kamu tahu kenapa Djiwa menikahi kamu hanya secara siri saja?" tanya Ibu Mina lagi.
Pak Prabu geleng-geleng kepala mendengar jawaban Mawar. "Sungguh wanita yang polos. Pantas Djiwa senang sekali bermain-main dengannya," batin Pak Prabu.
"Sekarang kamu sudah tahu siapa Djiwa. Apa dia pernah membahas sama kamu kalau dia akan menikahi kamu secara resmi?" tanya Ibu Mina.
Mawar menggelengkan kepalanya. "Belum pernah membahas," jawab jujur Mawar.
Ibu Mina tersenyum. Ia merasa ada cela untuk menyerang pertahanan Mawar. "Kamu tahu kenapa Djiwa belum membicarakannya? Sudah jelas karena putra saya hanya bermain-main saja dengan kamu. Pernikahan kalian hanyalah mainan untuk anak saya. Sudah saya duga sih, tak mungkin anak saya menyukai wanita seperti kamu," kata Ibu Mina dengan sombongnya.
Mawar kali ini tidak tinggal diam. Ia membantah perkataan Ibu Mina. "Mas Djiwa tidak begitu. Mas Djiwa amat mencintai saya. Memang awalnya Mas Djiwa menyembunyikan identitasnya namun saat saya tahu, Mas Djiwa tetap mencintai saya. Saya sangat yakin, Mas Djiwa tidak seperti itu."
"Polos sekali kamu jadi seorang wanita, bukankah sebelumnya kamu sudah pernah menikah?" tanya Pak Prabu yang tak tahan hanya diam saja.
Mawar menganggukkan kepalanya. "Sudah."
"Lalu kamu dipenjara dengan tuduhan telah membunuh suami kamu bukan?" sindir Ibu Mina.
Beruntung warung sedang sepi. Pembicaraan mereka aman, tak ada pengunjung yang mendengar. Jika tidak, bisa jelek nama warung Mawar nanti.
"Saya tidak membunuh suami saya," jawab Mawar dengan tegas. "Mas Djiwa sekarang sedang membuktikan kebenarannya. Semua tak lebih dari sekedar fitnah."
Ibu Mina melihat kalau wanita di depannya begitu mempercayai Djiwa. Sudah jelas ditipu namun masih saja percaya apa yang anaknya katakan. Cinta wanita ini memang bodoh.
"Saya tak mau berbasa-basi lagi dan berada di sini lebih lama. Saya langsung saja ke tujuan kedatangan kami. Jujur saja, kami berdua tak dapat merestui hubungan kalian berdua. Anak saya terlalu terhormat dan beda status sosialnya dengan kamu. Mengenai pernikahan kalian, status kalian hanya pernikahan siri. Saya akan minta Djiwa menceraikan kamu," kata Ibu Mina dengan kejam.
Mawar terkejut dengan perkataan Ibu Mina yang menyakitkan hatinya tersebut. "Cerai? Saya tidak mau bercerai dengan Mas Djiwa!" tolak Mawar.
"Saya tidak peduli apa mau kamu. Tenang saja, kamu tak akan miskin setelah bercerai dari Djiwa. Saya dengar, Djiwa berpura-pura meminjamkan uang dua ratus juta sama kamu untuk membuka usaha, bukan begitu? Setelah kalian bercerai, kamu tak perlu mengembalikan uang tersebut. Saya juga akan membelikan dua ruko ini sebagai tunjangan kamu. Enak bukan? Syaratnya hanya bercerai dan menjauhi anak saya. Mudah bukan? Anak saya bisa melanjutkan hidupnya dan kamu bisa melanjutkan usaha kamu. Tawaran yang menguntungkan bukan?" tanya Ibu Mina.
Air mata akhirnya menetes dari pelupuk mata Mawar. Jika di depannya bukan orang tua Djiwa, pasti ia akan lawan, kalau perlu ia buat seperti Melati kemarin.
Di depannya adalah orang tua dari lelaki yang amat dicintainya. Tidak direstui keduanya adalah penolakan paling menyakitkan bila dibandingkan saat ia harus diusir dari kampung dulu.
Pak Prabu dalam diam memperhatikan Mawar menangis. Sejujurnya hati Pak Prabu tak tega melihat kesedihan Mawar. Ia memang tak menyetujui hubungan Djiwa, namun perkataan istrinya terlalu berlebihan. Secara tiba-tiba, Pak Prabu membuat keputusan mengikuti kata hatinya.
"Ma, kita pulang saja!" perintah Pak Prabu.
Ibu Mina terkejut dengan keputusan suaminya dan berusaha membantah. "Tapi, Pa, kita tak bisa membiarkan mereka terus bersama!" tolak Ibu Mina.
"Ya, Papa tahu. Namun kita bukan seperti di sinetron ikan terbang! Memberi uang lalu menyuruh mereka pisah. Tidak semudah itu, Ma. Ini masalah hati. Mengenai hubungan mereka, biarlah Djiwa yang putuskan. Papa tak mau ikut campur. Kedatangan Papa ke sini hanya ingin tahu seberapa jujur wanita bernama Mawar. Apakah dia sudah menipu anak kita atau tidak? Kini Papa sudah menemukan jawabannya. Ayo kita pulang!" Pak Prabu menarik tangan istrinya dan membawanya pulang.
***