
"Test pack?" Kening Mawar berkerut mendengar permintaan Ibu Mina.
"Iya. Kalian suami istri bukan? Sebagai sepasang suami istri yang sehat fisik, kalian pasti melakukan hubungan suami istri bukan? Kalian sudah menikah selama dua bulan lebih, mungkin saja tanpa kalian sadari sudah ada janin yang ada di dalam kandunganmu? Bukan tidak mungkin 'kan? Kalian sama-sama sehat. Tunggu sebentar, biar saya suruh supir beli di apotek dekat sini." Ibu Mina meninggalkan Mawar yang duduk diam seraya mencerna apa yang dikatakan Ibu Mina.
"Hamil? Aku hamil?" batin Mawar.
Tak percaya rasanya Mawar. Memang Mawar akui kalau tubuhnya agak lemah beberapa minggu ini. Perutnya juga suka kram. "Apa benar ya, selama ini tubuhku sudah menunjukkan tanda-tanda kehamilan namun aku tak pernah menyadarinya?" batin Mawar.
Mawar tersenyum seraya mengusap lembut perutnya. Ia bahagia membayangkan ada Djiwa junior di dalam rahimnya kini.
Ibu Mina kembali setelah menyuruh supirnya membeli test pack di apotek terdekat. Niatnya ingin menghampiri Mawar dan bertanya lebih banyak urung ia lakukan.
Ibu Mina melihat menantunya sedang mengusap lembut perutnya. Sesekali Mawar menghapus air mata yang menetes. Mawar tersenyum namun sambil menangis. Ibu Mina merasa bisa merasakan apa yang Mawar rasakan. Perasaan saat mengetahui bahwa mungkin ada makhluk hidup lain di dalam rahim.
Hati keras Ibu Mina seakan luluh. Menantu yang ia hina dan perlakukan tidak baik nyatanya sudah membantunya hari ini. Kalau tak ada Mawar, bisa malu ia di depan teman-teman arisannya karena tak menyiapkan hidangan karena lupa.
Menantunya juga menunggu dengan sabar di gazebo belakang. Mengisi waktu menunggunya dengan mengaji dan mendoakan keselamatan anaknya. Betapa menantu yang memiliki masa lalu kelam ini begitu mencintai Djiwa, anaknya.
Ibu Mina jadi merasa bersalah karena sudah memperlakukan Mawar dengan buruk. Timbul rasa bimbang dalam dirinya. Apakah ia sudah berlaku terlalu kejam pada wanita yang mungkin sedang mengandung cucunya? Cucu yang selama ini begitu Ibu Mina dan suaminya dambakan karena Djiwa selalu bersikap dingin pada wanita yang dijodohkan dengannya.
Ibu Mina memperhatikan Mawar yang mengeluarkan ponsel miliknya. Wajahnya kembali sedih saat orang yang dihubunginya tidak dapat dihubungi. Ibu Mina menduga kalau Mawar menghubungi Djiwa yang beberapa hari ini bak hilang ditelan bumi. Tak ada kabar berita sama sekali.
Ibu Mina berjalan pelan menuju Mawar. Menantunya cepat-cepat memasukkan ponsel miliknya dan menghapus air mata di wajahnya. Dipasangnya senyum palsu untuk menutupi kegalauannya.
"Djiwa masih tak ada kabar?" Ibu Mina mendudukkan dirinya di sofa tepat di samping Mawar.
Mawar menggelengkan kepalanya seraya tertunduk lesu. "Belum, Bu. Baru saja saya telepon tapi masih tidak aktif nomornya. Semoga saja Mas Djiwa baik-baik saja di sana," doa Mawar.
"Kamu sayang sama Djiwa?" Pertanyaan tak penting Ibu Mina ajukan. Ia sudah tau jawabannya, hanya butuh penegasan saja.
"Tentu saya sangat sayang sama Mas Djiwa, Bu. Siapa yang tidak akan menyayangi lelaki sebaik Mas Djiwa yang rela berkorban demi saya?" ucap Mawar dengan tatapan kosong.
Suasana kembali hening sampai Ibu Mina teringat kalau Mawar belum makan. "Ya ampun! Kamu 'kan belum makan ya? Ayo makan dulu!"
Ibu Mina meminta Bi Ijah menyiapkan makan untuk Mawar. Meski awalnya sungkan, Mawar menurut saja apa yang diminta oleh Ibu Mina. Mertuanya ternyata tidak sejahat yang ia pikir. Perhatian juga terhadapnya yang belum makan siang.
Sehabis makan, test pack pesanan Ibu Mina sudah datang. Cepat-cepat Ibu Mina meminta Mawar menaruh air seni miliknya dalam sebuah cup. Mawar yang tak pernah hamil sebelumnya menurut saja apa yang disuruh Ibu Mina.
Diserahkannya tabung berisi air seni miliknya. Ibu Mina lalu menaruh test pack ke dalam air seni dan menunggu hasilnya. Satu menit terasa lama sekali. Rasa penasaran begitu menguasai keduanya.
Ibu Mina mengangkat test pack dan matanya terbelalak saat melihat ada dua garis dengan jelas tertera di test pack yang ia pegang. Rasanya tak percaya kalau wanita di depannya tengah mengandung anak dari Djiwa, putra semata wayangnya.
Pandangan Ibu Mina kini beralih dari test pack yang dipegangnya ke wanita polos yang bertanya apa hasil test pack miliknya. Seharusnya wanita itu bisa melihat ada garis dua namun karena terlalu polos ia tak tahu kalau garis dua berarti dirinya hamil.
Melihat kepolosan Mawar, kini Ibu Mina malah meragukan masa lalu Mawar. Rasanya tak mungkin wanita polos ini bisa membunuh suaminya sendiri. Disuruh menunggu di gazebo saja, ia menurut. Disuruh masak juga nurut. Disuruh makan juga tak membantah. Apa mungkin wanita seperti ini sanggup membunuh orang lain? Rasanya membunuh hewan saja dia tak sanggup.
"Bu, kok melamun? Hasilnya apa?" Mawar mengintip hasilnya. Ada dua garis merah. "Garisnya ada dua, artinya apa, Bu?"
Mawar mengambil bungkus kemasan test pack dan mulai membaca petunjuk. Ia rupanya juga terkejut saat mengetahui arti dua garis di test pack miliknya. "Alatnya beneran bisa mengetes aku hamil, Bu? Kalau di petunjuk ini aku hamil. Beneran aku hamil ya, Bu?"
Ibu Mina masih menatap wanita polos di depannya. Setelah membaca petunjuk masih saja dia meragu. Polos sekali. Ibu Mina menjawab pertanyaan Mawar dengan anggukan pelan. "Iya, kamu hamil."
"Serius, Bu? Alhamdulillah! Ya Allah, aku hamil anak Mas Djiwa." Senyum bahagia merekah di wajah Mawar. Diusapnya lembut perutnya yang masih rata. Mengetahui ada Djiwa junior di rahimnya, membuat kebahagiaan dalam dirinya berlipat-lipat ganda.
Ibu Mina terlihat tanpa ekspresi. Rasanya masih tak percaya kalau ia akan memiliki cucu. "Sudah sore, pulanglah. Supir akan mengantar kamu!"
Mawar mengangkat wajahnya dan berpikir Ibu Mina tak menyukai kehamilannya. Kebahagiaan yang baru sekejap ia rasakan tiba-tiba berubah menjadi kesedihan. Apakah ia akan kembali mendapat penolakan?
Ibu Mina menangkap wajah sedih Mawar. Ia tak mau Mawar salah paham dengan sikapnya. "Saya menyuruh kamu pulang agar tidak kelelahan. Banyak istirahat. Jangan angkat beban berat dan mulai sekarang makan makanan yang bergizi!"
"Pulanglah! Sudah sore. Nanti macet!" Meski terdengar ketus, Mawar malah tersenyum mendengar perkataan Ibu Mina yang terdengar hangat di telinganya.
"Iya. Saya pamit dulu, Bu. Assalamualaikum!" Mawar mengulurkan tangannya untuk salim.
Ibu Mina menatap Mawar sekejap. Ia mengulurkan tangannya dan pergi ke kamarnya setelah Mawar pulang. Ibu Mina terdiam di kamarnya. Asyik dengan pikirannya sendiri sampai lampu kamar dinyalakan suaminya.
"Loh? Ngapain kamu di kamar melamun gelap-gelapan, Ma?" tanya Pak Prabu.
"Pa, ada berita penting." Ibu Mina menatap suaminya yang sedang melepas dasi.
"Berita apa? Djiwa kasih kabar sama Mama?" tanya Pak Prabu.
"Bukan."
"Lalu? Berita apa?" Pak Prabu berbalik badan dan menatap istrinya yang melihatnya dengan lekat.
"Mawar hamil," kata Ibu Mina pelan.
"Ya wajar hamil, dia punya suami, apalagi suaminya macam Djiwa yang liar dan suka- APA? MAWAR HAMIL?"
****