Janda Bohay

Janda Bohay
Merindukan Djiwa


Ibu Mina menjelaskan kepada Mawar dengan sabar dan lembut. Menantunya tersebut kini mengerti apa yang sudah terjadi. "Jadi Mas Djiwa yang telah membuat kegaduhan seperti yang diberitakan di TV? Hebat ya Mas Djiwa, bisa membuat keluarga Melati panik seperti itu. Baru berita tentang masalah beras saja, dunia seakan gempar, apalagi kalau tahu mereka yang telah membunuh Mas Pur, pasti akan lebih gempar lagi." Mawar tak menyadari kalau dia sudah kelepasan bicara dan didengar jelas oleh Ibu Mina.


"Apa? Kamu bilang apa tadi? Mereka membunuh Mas Pur? Bukankah Mas Pur itu nama suami kamu dahulu? Jadi mereka yang telah membunuh suami kamu?" tanya Ibu Mina bertubi-tubi.


Mawar menutup mulutnya dan memukul bibirnya pelan, mengomeli dirinya sendiri karena sudah bertindak cerooboh dengan membocorkan rahasia yang dipegang oleh dirinya dan Mas Djiwa.


"Kok diem? Jawab dong pertanyaan Mama! Jadi benar mereka yang sudah membunuh suami kamu?" Ibu Mina mengulangi lagi pertanyaannya.


Mawar tak bisa lagi berbohong. Hubungan mereka kini sudah dekat, Ibu Mina pasti tahu kalau ia berbohong. Terpaksa Mawar menjawab dengan jujur. "Baru kecurigaan saja, Ma. Hanya ada seorang saksi yang tahu. Kebetulan Mas Pur pernah merekam pembicaraan Melati diam-diam, mereka tak mau pembicaraan tersebut bocor pada akhirnya Mas Pur yang jadi korban."


Ibu Mina terdiam. Ia menatap menantunya yang sedang menatapnya dengan tatapannya yang polos. "Maafin Mama ya, Mawar. Selama ini Mama berat merestui kamu dan Djiwa karena berpikir kalau kamu adalah mantan pembunuh. Mama tak menyangka kalau cobaan kamu demikian besar. Semakin mengenal kamu, Mama mulai yakin kalau kamu memang tidak terlihat sebagai mantan pembunuh namun hati ini rasanya belum percaya dan terus was-was. Sekarang Mama yakin sepenuhnya kalau kamu wanita baik yang anak Mama pilih. Maafin Mama ya Mawar." Ibu Mina memeluk Mawar dan menangis di pelukannya.


Mawar menepuk lembut punggung Ibu Mina seraya tersenyum senang. Doa yang selama ini ia panjatkan di saat sujud ternyata sudah dijawab Sang Pemilik Kekuasaan. Dengan mudah hati Ibu Mina dibolak balik, dari yang semula tak mau menerima Mawar secara frontal kini perlahan mulai dekat dan percaya penuh.


"Iya, Ma. Aku tak pernah marah sama Mama, kok. Wajar kalau Mama sebagai seorang Ibu khawatir dengan anak Mama, aku mengerti." Mawar melepaskan pelukan Ibu Mina dan menghapus air mata di wajah Ibu mertuanya dengan penuh kasih.


"Mama sudah aku anggap Mama aku sendiri. Bisa memasak, berjemur, olah raga keliling komplek dan berenang bareng Mama sudah menjadi kebahagiaan buatku. Setelah lima tahun menjalani hukuman di penjara, aku pulang ke rumah dan hanya mendapatkan kehampaan. Ibu yang kusayangi sudah meninggal karena sakit memikirkan nasib putrinya. Tak ada yang menyambutku. Semua menjauhiku, memusuhiku dan akhirnya aku seakan diusir dari kampungku sendiri,"


"Aku memulai hidup baru di Jakarta seorang diri. Dengan bantuan Lily, aku belajar hidup di Jakarta. Rasa sepi itu terus menghinggapiku, tak ada Ibu yang menemani dan suamiku meninggal karena dibunuh. Perlahan semua mulai berubah. Bapak-bapak yang suka menggodaku menjadi teman mengobrol yang kadang menyebalkan namun terlalu sayang dilewatkan,"


"Hidup menjadi semakin berwarna kala aku bertemu Mas Djiwa. Meski semua diawali dengan kebohongan namun aku tau selama ini Mas Djiwa tulus menyayangiku. Aku merasa kembali dicintai oleh lelaki yang juga kucintai. Aku juga mengenal Papa dan Mama. Aku bahkan tak menyangka kalau suamiku adalah orang hebat yang masuk halaman depan sebuah majalah." Mawar tersenyum bangga. Ibu Mina pun demikian. Mendengar anaknya dipuji, Ibu Mina ikut merasa tersanjung dan berhasil mendidik anak semata wayangnya.


"Bisa tinggal sama Mama dan Papa sudah membuatku senang. Ada kehangatan keluarga yang dulu hilang. Aku bahkan menganggap teman-teman satu selku sebagai keluarga karena aku begitu kesepian. Sekarang tidak lagi, ada Mas Djiwa, Mama, Papa dan sebentar lagi ada anak dalam kandungan ini."


Senyum di wajah Mawar menghilang dan ia nampak sedikit sedih. "Aku merindukan Mas Djiwa, Ma. Aku begitu ingin menemuinya. Sesulit itukah kami bertemu?"


Ibu Mina menangkup wajah Mawar dengan kedua tangannya. "Djiwa pasti akan kembali. Tugasnya hampir selesai. Kamu lihat bagaimana anak itu membuat onar?"


Mawar tersenyum dan mengusap perutnya dengan penuh kasih. "Iya. Aku akan tunggu dengan sabar. Aku akan selalu mendoakan keselamatan Mas Djiwa dimana pun ia berada."


"Nah gitu dong. Masak apa lagi kita? Bagaimana kalau buat cemilan, kamu harus memasukkan resep salad buah ke warung kamu. Enak banget. Sehat dan rasanya mantap. Bagaimana kalau produksinya di dapur Mama? Biar Mama bantu! Mama mau buat bisnis kamu makin besar!" Ibu Mina begitu bersemangat dengan rencana-rencananya bersama Mawar.


"Boleh. Aku juga sedang memikirkan untuk memasukkan menu baru. Kalau begitu, mari kita masak!"


****


Seperti yang sudah Djiwa perkirakan, langkah yang diambil Melati sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Anton dan anak buahnya mulai datang ke kampung dan mendatangi petani yang punya stok beras dan yang habis panen.


Sayangnya langkah Anton kalah cepat. Semua petani sudah berhasil terkena bujuk rayu Djiwa. Mereka menjual hasil panennya pada perusahaan Papa Djiwa yang membuka tempat di dekat mereka.


Hasil panen dibeli dengan harga wajar. Yang kualitas jelek seharga kualitas jelek, tak ada kecurangan. Para petani mulai menyadari kesalahan mereka setelah berita di TV ramai diperbincangkan. Mereka takut tak ada yang mau membeli beras yang mereka tanam, artinya usaha mereka akan sia-sia. Lebih baik menjual sesuai harga yang perusahaan Papa Djiwa tawarkan. Kualitas bagus dengan harga yang wajar dan kualitas jelek dengan harga rendah.


"Tak apa. Kedepannya, beras produksi jelek akan semakin berkurang karena kita perbaiki proses penanamannya." Begitu yang selalu Djiwa katakan untuk membesarkan hati para petani.


Djiwa yang terbiasa menjadi motivator tentu lebih mudah diterima dibanding Melati. Perkataannya yang logis dan masuk akal membuat para petani mudah diajak pintar. Mereka kini menolak ajakan permintaan Anton yang meminta untuk menjual hasil panennya.


Anton mendatangi satu per satu petani yang sedang panen. Dibujuknya untuk menjual padanya namun sayang, para petani dengan tegas menolaknya. Cara kekerasan juga Anton gunakan.


"Loh, kalian siapa? Kenapa ada di kampung ini?" tanya Anton yang melihat ada beberapa jawara kampung datang.


"Kami yang mengamankan kampung ini dari mafia beras berkedok tengkulak macam Anda. Berani memaksa petani di sini menjual sama Anda, kami siap maju!" tantang jawara kampung.


****