Janda Bohay

Janda Bohay
Menginterogasi Jamal


Bulu kuduk Jamal meremang mendengar kalau lelaki di depannya akan mencabut nyawanya. Suaranya tercekat, tak mampu berkata apapun.


Lelaki yang memakai masker di depannya memang terlihat berbeda. Ada aura kekuasaan dalam dirinya. Jamal ingat bertemu dengannya saat makan di Warung Janda Bohay, namun ada urusan apa lelaki itu sampai mengejarnya ke dalam pasar seperti ini?


Jamal tak bisa menganggap remeh lelaki di depannya. Preman pasar yang banyak saja bisa ditaklukannya. Berarti benar lelaki di depannya bukan orang sembarangan. Jamal membayangkan masa depannya kini yang makin tak pasti antara hidup dan mati.


Saat Jamal memperhatikan lelaki di depannya, seorang polisi yang memimpin operasi datang menghampiri. Kepala polisi tersebut menunduk hormat pada lelaki yang mengancam akan mencabut nyawanya tersebut.


"Maaf Pak, kami terlambat!" Kepala polisi terlihat menyesali kesalahannya.


"Tak apa. Masih bisa saya handle, meski agak bonyok sedikit. Terima kasih sudah datang membantu." Djiwa menyalami polisi yang telah berjasa menyelamatkan nyawanya tersebut.


"Sama-sama, Pak. Kabari saja kapanpun Bapak memerlukan bantuan!"


Djiwa mengangguk dengan memainkan alis ia memberi kode body guardnya untuk pergi dari pasar sekarang juga. Yang mereka cari sudah ditemukan. Saatnya interogasi!


****


Byuuur!


Jamal yang baru siuman karena dibius sejak awal naik mobil membuka matanya. Terkejut karena diguyur air dingin membuatnya tersadar. Sinar lampu remang-remang di ruangan gelap membuat Jamal memicingkan mata, mencari tahu sedang berada dimana dirinya saat ini.


Saat mata Jamal sudah menyesuaikan diri, dilihatnya keadaan sekitar. Dua body guard yang tadi membawanya sudah berdiri tegak. Tubuh besar mereka membuat keberanian Jamal menciut.


"Sa-saya dimana?" tanya Jamal dengan suara mengkerut ketakutan.


"Neraka!" jawab salah seorang body guard.


Jamal melihat keadaan sekeliling. Nampak suasana sunyi dan tak ada suara di sekitar selain suara jangkrik. Mereka tidak berada di Jakarta, begitu pikir Jamal. Tak ada lagi jangkrik di Jakarta yang sudah banyak dibangun rumah penduduk dan gedung bertingkat.


"Sekarang jawab dengan jujur pertanyaan gue!" Salah seorang body guard maju dan duduk di kursi tepat di depan Jamal yang terikat di kursi dengan tali. "Untuk keperluan apa lo datang ke Warung Janda Bohay? Apa mau lo?"


Jamal tersenyum menutupi ketakutannya. "Kenapa gue harus laporan sih? Ya ... mau makan lah! Pake nanya lagi!" Jamal tersenyum mengejek.


Body guard berbadan besar tersebut secara tiba-tiba menendang kursi kayu yang Jamal duduki.


Braakkkk!


Bruuggg!


Kursi kayu tersebut kakinya patah dan Jamal terjatuh. Ia meringis karena terlempar oleh body guard besar itu hanya dengan sekali tendang saja.


"Aww! Aww!" Jamal meringis kesakitan.


Body guard tersebut berjalan pelan dan berjongkok di depan Jamal. Tubuh Jamal dalam posisi berbaring miring dengan tubuh terikat pada kursi kayu yang tak lagi memiliki kaki.


"Lo liat bukan, dalam sekali tendang bisa patah kursi kayu sama gue! Mau muka lo gue tendang juga? Biar mata sama kepala lo terpencar kemana-mana?" Suara ancaman body guard Djiwa membuat nyali Jamal menciut. Hilang sudah senyum kesombongan dalam dirinya.


"A-ampun, Bang. Ampun! Enggak berani lagi!" Jamal bercicit ketakutan.


"Jawab lo sekarang! Mau apa lo ke sana?" tanya body guard bersuara berat tersebut.


"Ma-mau ketemu Mawar." Jamal tak punya pilihan lain selain berkata jujur.


"Buat apa?"


"Buat ngancem dia agar pergi jauh dari Jakarta."


"Siapa yang nyuruh lo?" Body guard yang lain mendudukkan Jamal. Ia duduk di lantai. Jamal kini bisa melihat wajah menyeramkan body guard Djiwa. Lebih menyeramkan daripada body guard milik ....


"Bos? Bos siapa?"


Jamal menggelengkan kepalanya. Ia berada dalam posisi serba salah. Tak berani asal menjawab. Dengan kesal body guard pertama maju dan memberinya tinju di wajah.


Jamal meringis kesakitan, apalagi ada sebuah giginya yang copot. "Am-ampun, Bang. Bos yang nyuruh. Enggak tau siapa namanya."


"Nyuruh apa aja dia sama lo?" tanya Djiwa yang baru datang dari luar. Sejak tadi Djiwa berdiri di depan studio musik miliknya, mendengarkan bagaimana interogasi dua body guardnya sedang berlangsung.


Mereka sekarang ada di salah satu rumah miliknya yang biasa digunakan untuk acara keluarga. Studio musik tempat Djiwa biasa bermain musik sengaja ia kosongkan. Lampu ruangan hanya satu yang ia nyalakan.


Suara jangkrik yang di dengar Jamal adalah musik yang Djiwa putar di pengeras suara yang ia taruh di sudut gelap ruangan. Semua agar Jamal berpikir mereka sudah membuangnya ke kampung sepi dan gelap.


"Bang ... tolong, Bang! Keluarkan saya dari tempat ini!" pinta Jamal dengan memelas pada Djiwa.


"Bang ... bang ... aja lo! Memangnya gue abang lo! Jawab jujur, lo disuruh apa saja? Kalo lo enggak mau jawab, gue akan tinggalin lo sama dua body guard gue! Biar lo rasakan dikulitin mereka hidup-hidup!" Djiwa mendekat dan melihat wajah Jamal yang membiru dan ada darah keluar dari hidungnya. Sadis memang body guard suruhannya. Sekali tampol muka orang sudah babak belur begitu.


"Cu-cuma suruh ngusir Mawar dari kampung saja," jawab Jamal.


"Selain itu apa lagi?" Djiwa sadar kalau Jamal berbohong. Bukan itu saja yang Jamal lakukan, pasti lebih. Tadi saja Djiwa mendengar tentang ponsel Purnomo yang mereka ingin ambil.


"Tidak ada lagi," jawab Jamal.


"Hajar aja!" Perintah Djiwa pada kedua body guardnya.


"JANGAN!" Jamal berteriak ketakutan. Tadi saja dihajar satu body guard sudah membuat giginya copot satu, apalagi dihajar dua body guard?


"Jangan mempermainkan kesabaran gue. Cepat jawab, apa saja yang sudah lo lakukan dalam hidup Mawar?!"


"Saya ... mem ... fitnah Mawar."


Telinga Djiwa ditajamkan. "Fitnah apa?"


"Bi-bilang Mawar pembunuh padahal bukan Mawar yang melakukannya."


Kemarahan dalam diri Djiwa menggelegak. Lelaki di depannya yang sudah membuat Mawar dipenjara. Djiwa maju dan mencengkram kerah baju Jamal membuat tatapan mereka beradu.


Jamal ketakutan melihat Djiwa yang marah. Lebih menyeramkan dibanding dua body guard.


"Lo bilang kalau lo memfitnah Mawar sebagai pembunuh. Apa jangan-jangan lo adalah pembunuh sebenarnya Purnomo?"


Mata Jamal membulat mendengar nama Purnomo disebut. Ternyata lelaki di depannya tahu tentang Purnomo. Makin penasaran pula Jamal siapa lelaki di depannya.


"JAWAB!" Djiwa berteriak di depan muka Jamal.


Tubuh Jamal gemetar ketakutan melihat amarah dalam diri Djiwa. Sangat menyeramkan. Bagaikan naga yang menyemburkan api panas yang bisa membakar siapapun yang terkena api tersebut.


"Sa-saya bukan pembunuhnya." Tergagap Jamal menjawab pertanyaan Djiwa.


Djiwa terus menatap Jamal dengan tatapan mengancam. Jamal tak berani lagi berbohong. "Memang bukan saya yang membunuh. Saya hanya memberi sambal padanya."


Jamal melirik Djiwa yang terus memegangi kerah bajunya menunggu di batas sabarnya yang tipis agar Jamal menyelesaikan perkataannya.


"Sambal ... yang telah diracun."


Braaakkkk!!


***