Janda Bohay

Janda Bohay
Malam Untuk Melati


Melati berjalan menyusul Djiwa dan dengan tidak tahu malu ia menggandeng tangan Djiwa. "Ma, Pa. Aku mau bicara dulu ya dengan Djiwa."


"Iya, Sayang. Kami para orang tua mau mengobrol dulu untuk rencana masa depan kalian," kata Mama Melati.


Djiwa ingin menolak dan menghempaskan kembali tangan Melati namun dirinya sudah ditarik Melati dan dibawa masuk ke dalam rumah megah tersebut. Melati terus menarik tangan Djiwa dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.


Djiwa sangat mengenal kamar ini. Kamar dimana dulu mereka memadu kasih. Kamar dimana mereka tersenyum bahagia setelah mencapai pelepasan sambil kucing-kucingan agar tidak ketahuan orang tua Melati yang sibuk bekerja. Kamar penuh kenangan saat dirinya dan Melati masih saling mencintai dulu.


Djiwa hendak berbalik dan keluar dari kamar ketika Melati menciumnya tiba-tiba. Melati menciumnya dengan penuh gairah seraya menarik tangan Djiwa untuk memegang buah sintal miliknya.


Djiwa berusaha menolak namun tangan Melati malah bermain nakal di miliknya. Bibir Melati dan tangannya bergerak lihai menggoda hasrat lelaki Djiwa. Djiwa masih berusaha menolak namun tangan Melati memegang miliknya dengan kuat.


Djiwa akhirnya berhasil menjauhkan tubuh Melati, namun gadis gila itu malah berjongkok dan melakukan hal yang lebih gila lagi. "Mel, stop!" perintah Djiwa. Ia tak mau orang tua mereka mengetahui apa yang mereka lakukan di dalam kamar.


Melati tak peduli. Ia terus memberikan Djiwa kenikmatan. Djiwa terus berjuang menjaga kewarasannya meski adiknya sudah tergoda namun dirinya tidak. Hal yang sulit dilakukan lelaki manapun, berada di persimpangan antara gairah dan akal sehat.


"Mel, stop aku bilang!" ancaman kedua Djiwa keluarkan.


Melati tak bergeming. Ia terus saja menikmati milik Djiwa, ia merasa yakin kalau Djiwa akan lemah dan tergiur dengan apa yang ia tawarkan. Sayangnya Melati salah.


Djiwa dengan kasar mendorong Melati sampai terjatuh. Dibenarkannya pakaiannya yang ia sendiri tak tahu kapan Melati membukanya. Mungkin saat ia sibuk melepaskan pagutan Melati dari bibirnya.


"Aku bilang stop! Stop!" Djiwa menaikkan sedikit nadanya namun tetap ia jaga agar tak ada yang mendengar pertengkaran mereka di luar sana.


"Sayang, kamu kenapa menolak aku sih? Kamu dulu begitu bergairah padaku. Begitu memujaku. Kenapa sekarang kamu tak mau menikmati service yang kuberikan?" Melati menatap kecewa pada Djiwa. Setetes air mata berhasil lolos dari pelupuk matanya.


"Itu dulu. Jangan samakan aku yang dulu dengan yang sekarang. Aku masih menahan diriku sejak kemarin, namun apa yang kamu lakukan hari ini sudah keterlaluan!" Djiwa begitu marah dengan Melati. Ia merasa dilecehkan. Djiwa tak mau tubuhnya disentuh oleh wanita lain lagi sekarang selain Mawar.


"Kita akan bertunangan, Wa. Dulu saja kita pacaran dan melakukan yang lebih dari ini, kita baik-baik saja. Kita bersenang-senang. Wajar kalau kita melakukannya sekarang. Wa, aku mencintai kamu. Apapun akan aku lakukan demi kamu, Wa!" Melati berdiri dan kini menatap Djiwa secara berani.


"Tak akan ada pertunangan, Mel. Hubungan kita sudah kandas beberapa tahun silam!" kata Djiwa tegas.


Melati membuka kancing bajunya satu persatu dan memperlihatkan asetnya yang memang menggoda iman. Namun jika dibandingkan dengan milik Mawar, jelas Mawar si mantan Janda Bohay lebih menang.


"Aku sekarang milik kamu, Wa. Kamu bebas melakukan apapun padaku!" Melati menarik tangan Djiwa dan menaruhnya di aset miliknya. Ia tahu Djiwa senang membelai asetnya.


Djiwa kembali melepaskan tangannya. Djiwa bahkan mengelap tangannya ke pakaiannya seakan baru saja memegang sesuatu yang kotor. Melati begitu terhina diperlakukan Djiwa seperti itu.


"Mohon maaf nih, pantang mengambil lagi yang sudah bekas orang!" kata Djiwa dengan pedas.


"Apa maksud kamu?" Melati merasa begitu terhina dengan perkataan Djiwa.


Djiwa tersenyum mengejek. "Memangnya kamu pikir aku tidak tahu bagaimana cara kamu mendapatkan banyak tender besar? Caranya ya dengan menyerahkan diri kamu seperti apa yang kamu lakukan padaku hari ini. Menjijikkan!"


"Oh ya? Hotel X, Hotel Y dan terakhir di Hotel B. Aku sendiri melihat kamu dengan mata kepalaku dua kali, sisanya adalah orang yang kusuruh memata-matai. Kamu menggandeng klien kamu dan mengajaknya check in. Keesokan harinya saat tender, sudah jelas kamu akan menang. Iyalah, sudah kamu beri jatah mana nolak? Iya 'kan?" Perkataan Djiwa yang penuh fakta membuat Melati terdiam.


Djiwa kini maju dan mencengkram wajah Melati. "Kamu pikir aku mau disodori tubuh kotor kamu? Jangan mimpi!" Djiwa menghempaskan tubuh Melati dengan kasar ke atas tempat tidur.


Djiwa membuka pintu kamar Melati dan keluar dengan wajah kesal. Ia disambut oleh Mamanya di ruang tamu.


"Sudah bicara dengan Melatinya, Nak?" tanya Mama dengan lembut.


"Sudah dan tak ada lagi yang perlu kami bicarakan. Kami sepakat tak ada pertunangan yang terjadi," jawab Djiwa.


"Djiwa!" Papa menegur Djiwa.


"Kenapa, Pa? Memang sejak awal aku tak pernah setuju kok. Papa saja yang memaksakan kehendak Papa pada Djiwa!" jawab Djiwa.


Papa hendak membalas omongan Djiwa ketika Melati keluar kamar dengan rambut acak-acakan dan baju yang agak terbuka. "Papa ... Mama huaaaa!"


Djiwa tersenyum melihat akting Melati. Bukannya takut, Djiwa malah duduk dengan santai di sofa menonton pertunjukan yang ada.


"Kamu kenapa, Sayang?" Mama dan Papa Melati menghampiri putri mereka. Mama Melati memeluk putrinya yang menangis.


"Djiwa tega memaksaku, Ma!" kata Melati disela tangisannya.


Djiwa melirik ke arah kedua orang tuanya yang nampak cemas. Mereka takut Djiwa melakukan hal yang akan merusak reputasi keluarga terhormat mereka.


"Benar itu Djiwa?" tanya Papa dengan suara berat.


"Maksa apaan, Pa? Maksa Melati supaya tidak dekat-dekat Djiwa? Kalau itu sih benar," jawab Djiwa dengan santai. Djiwa mengambil sirup yang dihidangkan dan kacang mede di meja lalu memakannya tanpa beban.


"Jangan main-main kamu, Djiwa! Jangan buat Papa malu!" Papa sudah marah pada Djiwa tapi Djiwa tak peduli. Ia asyik saja makan kacang mede dan kini mengambil cokelat mahal di atas meja. Djiwa bahkan memasukkannya ke dalam saku jas untuk dibagi ke Mawar saat pulang nanti.


"Buat malu apa? Tanya dulu sama Melati, memang Djiwa melakukan apa?" Djiwa membuka toples yang lain dan melihat ada permen mahal dari Jepang yang ia suka. Ia juga mengambilnya dan memasukkan ke saku jasnya yang lain.


"Djiwa sudah berbuat apa sama kamu, Sayang?" Papa Melati menginterogasi anaknya.


"Djiwa ... hiks ... sudah memaksaku ... melayaninya. Aku tidak mau tapi ia malah berbuat seperti ini sama aku. Aku malu, Pa. Malu!" Melati menampar wajahnya sendiri, membuat keadaan semakin heboh saja.


Djiwa membuka bungkus permen mahal dan memakannya. Kedua orang tuanya kini juga menenangkan Melati yang jadi histeris. Dengan santainya Djiwa malah berkata. "Tamparnya kurang kenceng tuh! Enggak ada bekas di wajahnya. Kurang seru. Mana ekspresinyaaaaa???"


****