Janda Bohay

Janda Bohay
Martabak Manis


Djiwa pulang dengan membawa martabak manis keju cokelat di tangan. Sengaja ia membelikan makanan tersebut untuk menghibur Mawar yang sejak tadi tidak keluar kamar.


Kedatangan Djiwa disambut oleh Lily yang melaporkan langsung keadaan sahabatnya tersebut. "Mawar tidak keluar kamar, Mas. Aku tawari makan saja tidak mau. Pintu kamar sampai dikunci dan tak membiarkan aku masuk."


Kening Djiwa berkerut. Tak menyangka kalau keadaan Mawar lebih parah dari laporan Rendi.


"Memang siapa sih yang datang sampai membuat Mawar ketakutan begitu?" Djiwa mencopot sepatu kerjanya dan akan ia taruh di rak sepatu depan kamar Mawar. Sepatu buatan lokal yang akan Djiwa ganti sesampainya di apartemen dengan sepatu mahal. Tentu saja Djiwa memilikinya dengan alasan membayar punya Rendi yang tidak muat dengan cara mencicil.


"Kurang tahu, Mas. Mawar tidak mau cerita. Aku saja sampai celingukan mencari tapi tak tahu siapa. Kayaknya cowok deh Mas, tadi banyak tukang ojek mengantri di depan. Mawar takut saat lihat ke depan." Lily menceritakan semua. Setelah mendengarnya, Djiwa pun pamit naik ke ruko lantai atas.


"Mas coba tanya Mawar dulu, Ly. Terima kasih banyak ya sudah jaga Mawar."


"Sama-sama, Mas."


Djiwa menaruh sepatu kerjanya di rak sepatu. Ia mencuci tangan dulu di kamar mandi barulah masuk ke dalam kamar mereka. Kamar berukuran 3x2,5 meter dengan cat warna cream hanya berisi sebuah kasur spring bed, meja nakas dan lemari pakaian tua yang selalu Mawar bawa kemanapun ia tinggal.


Meski sibuk berjualan, Mawar tetap menjaga kebersihan kamar. Lantai yang diinjak Djiwa selalu bersih, tidak lengket. Rupanya Mawar sudah membuka kunci kamar, mungkin lupa sehabis ke kamar mandi tidak dikunci kembali.


"Assalamualaikum Bidadari Surgaku!" sapa Djiwa dengan ramah.


Dinyalakannya lampu kamar yang membuat Mawar memicingkan kamarnya karena silau. "Kamu suka ya gelap-gelapan kayak begini? Awas ada nyamuk loh!"


Djiwa duduk di samping Mawar yang menutup wajahnya dengan bantal. Diusapnya dengan lembut rambut panjang Mawar yang kalau bekerja di dapur selalu dikuncir kuda. Wanita cantik dengan tubuh bohay tersebut kembali sesegukan. Tubuhnya bergetar menahan tangisan.


"Ada apa sih, Sayang? Cerita dong sama Mas. Kalau kamu tidak cerita, mana mungkin Mas tahu?" Djiwa merebahkan tubuhnya di samping Mawar. Dia menopang kepalanya dengan tangan sementara tangan yang lain memeluk tubuh Mawar.


Merasa nyaman dengan sentuhan Djiwa, Mawar pun berbalik badan. Tangisnya kembali pecah di dada bidang Djiwa. Dibiarkannya Mawar menangis sampai lega seraya menepuk-nepuk punggung Mawar dengan lembut.


"Menangislah. Menangis sampai kamu kembali kuat dan siap menghadapi dunia yang kejam ini." Djiwa menunggu sampai tangis Mawar mereda lalu mulai menenangkannya.


"Kamu tahu, dulu kalau menangis Papa selalu mengomeliku. Mengatakan kalau aku cengeng, anak laki-laki tak pantas menangis. Namun Bapaknya Rendi menggendongku ke ta- (Djiwa hampir menyebut taman) sawah belakang rumah dan membiarkanku menangis sepuasnya,


Pakde bilang aku boleh menangis kalau sedih. Menangis tidak membuatku jadi hina, mencuri dan berbuat jahat yang membuatku jadi hina. Aku akan menangis sampai puas dan suaraku serak. Selesai menangis aku kembali lega. Seakan ada beban berat yang tercabut dari dadaku,


Pakde akan memberiku permen dan menceramahiku untuk jadi lebih kuat lagi. Anggap air mata tadi pengorbanan yang kukeluarkan untuk menjadi bahan bakar keberanian yang baru. Kamu juga begitu ya, tak lelah kamu menangis seharian? Ingat, bahan bakar keberanian kamu sudah full nih. Sekarang kamu akan berubah menjadi Captain Mawar, temannya Captain America!"


Mawar mengangkat wajahnya dan menatap Djiwa. Matanya sangat bengkak, sampai terlihat sipit. "Captain America itu siapa, Mas?"


Sekuat tenaga Djiwa menahan tawanya. Ia tak mau istrinya tersinggung. "Captain Amerika itu salah satu super hero wanita yang kuat."


"Lebih kuat mana dibanding Superman?" tanya Mawar lagi.


"Hmm ... kayaknya lebih kuat SuperDjiwa deh." Djiwa tersenyum jahil. Ia mencubit pipi Mawar dan mencium pipinya lembut. "Uhm ... asin! Kebanyakan air mata nih. Butuh yang manis-manis!"


Mawar tak kuasa menahan gelak tawanya melihat Djiwa berakting layaknya model iklan martabak terang bulan. Lupa sudah Mawar dengan ketakutannya sejak tadi.


"Nah gitu dong!" Djiwa menyuapi Mawar dengan martabak di tangannya. "Selama ada aku, tak akan kubiarkan kamu bersedih dan takut. Angkasa Djiwa akan melindungi kamu!"


Mawar mengunyah martabak yang terasa lebih manis karena ditambah gombalan suami tampannya. "Mas kok sudah pulang?"


"Pake nanya lagi, Mas dengar kamu sedih langsung deh Mas pulang. Mana mau Mas, bidadari surganya sedih?" Djiwa memasukkan martabak ke mulutnya lalu kembali menyuapi Mawar.


"Tidak diomeli?" Di ujung bibir Mawar nampak cokelat yang menempel.


Djiwa memajukan bibirnya dan mengambil cokelat di bibir Mawar disertai kecupan mesra. "Ada cokelat."


Mawar tersipu malu. Bukan sekali ini Djiwa bersikap manis padanya. Lupa pula Mawar dengan kecurigaannya pada Djiwa. "Kamu tenang saja, tak ada yang mengomel. Tadi cuma meeting sebentar lalu pekerjaan kantor Mas bisa bawa pulang."


Mawar menolak martabak yang Djiwa berikan. "Udah, Mas. Kenyang."


Djiwa menaruh kembali martabak di kardus dan mengelap tangannya dengan tisu kering. "Sudah siap cerita?"


Djiwa meminum air dalam gelas di atas nakas yang memang Mawar selalu sediakan. Djiwa memberikan air juga pada Mawar agar ceritanya lebih tenang.


"Aku tadi ketakutan, Mas."


"Ketakutan kenapa? Ada fans kamu yang centil atau mengancam kamu?"


Mawar menggelengkan kepalanya. "Bukan. Tadi ada orang yang aku kenal."


"Siapa?"


"Orang yang ... menuduh aku sebagai pembunuh."


Djiwa menatap Mawar dengan lekat. Ia bisa merasakan trauma Mawar yang sudah terkubur rapat kini naik lagi ke permukaan. "Menuduh kamu?"


"Orang itu adalah teman Mas Pur, Mas Jamal namanya. Saat aku menemukan Mas Pur, aku kaget karena dari mulutnya keluar busa banyak. Warga mulai berdatangan mendengar jeritan dan tangisanku. Tak lama Mas Jamal datang. Ia langsung menuduhku berbuat jahat pada suamiku dan berteriak kencang. Mas Jamal juga yang menelepon polisi untuk pertama kami, bukannya menelepon ambulan,"


"Mas Jamal bilang, kamu tuh sudah bunuh suami kamu! Kamu apakan dia? Kamu racun dia? Aku panik, Mas. Semua orang seakan mendengarkan apa yang Mas Jamal katakan dan tak mau mendengar penjelasanku. Aku yang sedih kehilangan Mas Pur juga takut menghadapi kemarahan warga,"


"Saat aku selesai menjalani hukuman 5 tahun, Mas Jamal kembali mendatangiku. Ia melemparkan telur dan mengajak warga untuk memusuhiku. Berbagai kata umpatan aku terima, aku bahkan dianggap sebagai pembawa sial. Hari ini, aku melihat Mas Jamal di depan ruko. Aku takut, Mas. Kalau dia sampai membuat usaha warungku hancur seperti dia dulu menghasut warga untuk membenciku bagaimana?"


*****