Janda Bohay

Janda Bohay
Perkelahian Dengan Preman Pasar


Djiwa berbalik badan dan mendapati beberapa preman pasar tengah menunjuk ke arahnya. Kedua body guard yang ia tugaskan melindungi majikan yang membayarnya mahal di setiap tugas yang diberikan sudah membuat perlindungan agar Djiwa aman.


"Mau apa lo nguping?" tanya salah seorang preman. Ia mengenakan celana jeans dibawah lutut yang berwarna pudar. Mungkin sudah berbulan-bulan celana tersebut tidak dicuci. Bukannya terlihat belel nampak keren namun malah terlihat kumel.


"Orang mana lo? Baru sekali gue ngelihat lo di sekitar sini!" Preman berbaju cokelat dengan celana jeans panjang robek dan tindikan telinga sebesar gelang ibu-ibu pengajian menatap Djiwa dari kepala sampai kaki.


"Kata siapa kita nguping? Kita lagi ngobrol kok!" jawab salah seorang body guard Djiwa. Nada suaranya dibuat setenang mungkin. Mereka berdua dan ada bos mereka yang harus dilindungi, sementara preman pasar ini bisa dengan mudah memanggil teman-temannya. Jika terjadi perkelahian maka jumlah mereka tidak akan seimbang.


Salah seorang body guard Djiwa melirik saku celana preman yang telinganya ditindik. Ada sebilah pisau lipat yang ia sembunyikan. Pasti tajam karena sering diasah dan digunakan sebagai senjata untuk melindungi diri.


Ia memberi kode sambil berbisik pada temannya yang dibalas dengan anggukan kepala. "Jaga Bos!" bisiknya yang bisa Djiwa dengar.


Djiwa sadar kini keselamatannya dalam bahaya. Berada di dalam sarang preman seperti ini tak cukup hanya dengan bantuan dua body guard saja.


"Ada apa ini?" Suara Jamal terdengar di belakang telinga Djiwa.


Djiwa berbalik badan dan melihat lelaki yang sejak tadi diikutihya. Jamal seakan mengenali Djiwa. Keningnya berkerut dan mengingat dimana pernah bertemu Djiwa.


"Loh, lo bukannya yang tadi di Warung Janda Bohay? Oh ... jadi lo mau ngikutin gue? Ada urusan apa lo mau tahu apa yang gue lakuin?" Nada suara Jamal kini mulai naik. Wajah culasnya menatap Djiwa dari ujung kepala sampai ujung kaki. Menelisik lelaki bersih yang dirasanya bukan dari golongan menengah ke bawah.


"Dia sama kedua temannya nguping pembicaraan lo, Bang," lapor preman dengan celana jeans kumel dibawah lutut.


Jamal makin menatap Djiwa dengan tatapan tak suka. "Nguping? Suruhan siapa lo?"


"Dih kepedean lo!" celetuk Djiwa. "Ngapain gue nguping lo coba? Kayak suara lo merdu aja!" Djiwa malah menantang Jamal, membuatnya semakin terbakar emosi.


Kedua body guard Djiwa bersiap siaga demi keselamatan bosnya. Mereka yakin perkelahian akan terjadi sebentar lagi. Penyebabnya apalagi kalau bukan celetukan bosnya yang tak tepat waktu itu. Runyam sudah. Bos sih bebas, anak buah yang ketar-ketir membereskan ulahnya.


"Eh kurang ajar lo ya!" Jamal melotot marah sambil menunjuk ke arah Djiwa. "Habisin aja orang kayak begini!"


Para preman termasuk di dalamnya si celana jeans kumel melakukan gerakan pemanasan. Loncat-loncat di tempat layaknya petinju hebat. Mereka siap berkelahi melawan Djiwa dan body guardnya.


"Heh, kalian juga maju!" Djiwa mendorong tubuh salah seorang body guard untuk maju, sementara dia bersembunyi dan hanya memperhatikan perkelahian tak seimbang tersebut.


Awalnya dua body guard Djiwa berhasil memukul para preman pasar dengan tangan kosong. Namun karena lengah, salah seorang body guard Djiwa kena pukul dan diserang preman yang lain.


Melihat anak buahnya dikepung, Djiwa turun tangan. Ia melawan para preman dengan kemampuan bela dirinya yang masih lumayan jago. Tendangan dan pukulan ia berikan pada siapapun yang menyerangnya. Sempat juga beberapa pukulan mendarat di wajah mulusnya.


Mendengar ada keributan, beberapa preman baru pun datang. Djiwa dan dua body guard yang mulai kehabisan tenaga saling lirik dan mulai kewalahan. Jumlah preman pasar lebih banyak daripada mereka, sementara bala bantuan yang diharapkan belum juga datang.


"Mampyus lo!" umpat Jamal.


Jamal tertawa penuh kemenangan. "Banyak gaya sih lo! Bisa apa lo di daerah sini?"


"Lo tuh jangan banyak omong! Kalau sampai lo ketangkep sama gue, habis lo!" ancam Djiwa.


Jamal tertawa mengejek. Jamal pikir, Djiwa tak akan sanggup menangkapnya. Ia berada di lingkungan preman pasar yang akan melindunginya. Bukan satu dua orang, seratus orang bisa melindunginya saat ini.


"Lindungi Bos!" perintah salah seorang body guard.


Djiwa dibantu salah seorang body guard. Perkelahian makin tak seimbang sampai datang suara berderap ramai. Nampak polisi berpakaian kaos warna navy datang.


"ANGKAT TANGAN SEMUA!"


Suara teriakan ditambah suara tembakan pistol di udara membuat perkelahian berhenti.


"Tiarap!" Salah seorang polisi menendang preman yang memegang pisau lipat dan berniat menusuk Djiwa. Beruntung polisi datang tepat waktu.


Di balik bilik, Jamal menendap-endap hendak pergi meninggalkan area. Ia tak mau berurusan dengan polisi. Saat body guard Djiwa berbicara dengan kepala polisi kenalannya, Djiwa malah berjalan ke tempat Jamal berada tadi.


Salah seorang body guard dengan setia menemani kemana Djiwa pergi. Body guard yang satu mengurus para preman yang beberapa di antaranya tidak tahu apa permasalahan yang terjadi. Hanya atas dasar solidaritas semata.


Djiwa melirik Jamal yang mengendap-endap pergi. Terus Djiwa ikuti sampai Jamal berada di bagian pojok ruangan. Rupanya jalan buntu.


Ruko yang kosong karena ditinggal penghuni membuat Jamal berniat sembunyi di salah satu ruko yang kosong. Ia mencari jalan masuk ke dalam dan berniat keluar saat keadaan sudah aman.


Sayangnya, ruko tersebut dikunci. Jamal mencari kolong ruko di bagian tengah dimana ia bisa sembunyi. Apa saja yang penting aman.


Djiwa tersenyum licik. Dia akan mendapatkan Jamal dan informasi yang berkaitan dengan kematian suami Mawar dulu, Purnomo. Dengan langkah mengendap, Djiwa sudah berdiri di depan Djamal.


Sebuah kaleng bekas cat yang ada di dekat kaki sengaja Djiwa tendang. Jamal yang kaget reflek meloncat sampai kepalanya membentur rak kayu tempat ia bersembunyi.


Djiwa berjongkok dan dengan senyum Joker miliknya membuat Jamal makin terkejut. "Peek a boo! Baaa!"


Wajah Jamal memucat. Ia ingat ancaman Djiwa, kalau sampai tertangkap maka habislah dia.


"Hi! Long time no see, Beb!"


Jamal mundur dan semakin tersudut.


Cit ... cit ....


Jamal mengaduh saat tangannya digigit tikus yang berada di bawah rak kayu. "Aww! Tikus sialan!"


Djiwa menyingkir saat tikus got berwarna hitam itu kabur melewatinya. "Keluarlah! Itu pun kalau masih ingin selamat. Kalau tidak keluar, akan gue bikin lo sekamar dengan satu kompi tikus got!"


Bayangan akan sekamar dengan banyak tikus, membuat Jamal takut. Dia keluar dari persembunyiannya. Dengan sigap body guard Djiwa menangkapnya. Kedua tangan Jamal dipegangi dari belakang. Tak akan bisa kabur lagi dia.


"Se-sebenarnya ... lo siapa?" tanya Jamal takut-takut. Ia tak menyangka sudah salah berurusan dengan orang.


"Gue ... menurut lo siapa?" Djiwa menyunggingkan senyum misteri di balik wajahnya yang membiru kena pukul. "Gue adalah malaikat nyawa yang akan mencabut nyawa lo! Camkan itu!"


****