Janda Bohay

Janda Bohay
Hadiah Untuk Anak Buah


"Pasti akan gue sampaikan ke Mawar. Gue juga akan mengajak Mawar bertemu lo secara langsung agar lo bisa minta maaf ke Mawar." Djiwa menepuk bahu Jamal yang masih menangis penuh penyesalan.


Djiwa menatap Rendi dan anak buah lain yang sudah membantunya. "Terima kasih atas bantuan kalian semua. Percayalah, tanpa bantuan kalian tak mungkin semua masalah besar ini bisa terungkap. Sesuai janji, kalian akan mendapatkan bonus atas kerja keras kalian selama ini ditambah kalian akan dapat liburan gratis ke Bali selama seminggu."


Semua anak buah Djiwa bersorak gembira. Dua bodyguard dan Iman yang ikut membantu tersenyum lebar. Rendi pun demikian. Djiwa sudah berjanji akan membelikannya mobil, meski bukan merk Rubicor seperti miliknya.


"Ren, kita pulang!" perintah Djiwa.


Djiwa dan anak buahnya beserta Jamal pulang ke Jakarta. Setelah menyerahkan Jamal ke kantor polisi, Djiwa pun pergi ke Warung Janda Bohay. Rasa rindunya terhadap Mawar sudah tak terbendung. Sudah beberapa bulan ia menghilang demi membalas keluarga Melati.


"Mawar!" panggil Djiwa.


"Nyari siapa kau, Asuransi Jiwa?" tanya Bapak-bapak berambut klimis.


"Ya nyari Mawar lah! Mawar mana?" tanya balik Djiwa.


"Loh memangnya kamu enggak tau?"


"Tau apa?" Wajah Djiwa terlihat khawatir.


"Mawar sudah lama tidak ke warung. Kita saja kangen sama Mawar," jawab bapak-bapak berambut klimis.


"Mawar tak pulang? Kemana dia?" tanya Djiwa.


Lily yang baru dari dapur melihat kedatangan Djiwa dan Rendi. Senyum di wajahnya mengembang melihat sang pujaan hati datang. "Mas Rendi?"


"Lily my darling!" Rendi bergegas maju dan hendak memeluk Lily namun tangan Djiwa dengan cepat menghadangnya.


"Stop! Jangan pelukan dulu, bukan mahromnya!" omel Djiwa.


Rendi menghentikan niatnya sambil memanyunkan bibir. "Peluk dikit aja dilarang, dulu lo lebih dari itu gue diemin aja, Wa!" gerutu Rendi.


"Ya ... lo enggak sayang sama gue itu namanya! Kalo gue tuh sayang sama lo, makanya gue larang," balas Djiwa.


Djiwa kini menatap Lily. "Ly, bini gue mana?" tanya Djiwa langsung.


"Mawar bukannya tinggal di rumah Mamanya Mas Djiwa ya? Mas Djiwa sih menghilang tiba-tiba, jadi enggak tau deh dimana istrinya berada," sindir Lily.


"Ya ... mau gimana lagi. Jadi Mawar di rumah Mama, bagus deh. Pantas dia selama ini aman." Djiwa hanya meminta Papanya menjaga Mawar, tak tahu kalau Mawar malah disuruh tinggal di rumah kedua orang tuanya. Djiwa lalu menyuruh Rendi yang kini saling tatap dengan Lily. Ia rindu kekasih hatinya.


"Nanti aja Ren tatap-tatapannya. Asli, dosa lo! Nanti gue bilangin sama bokap nyokap lo buat ngelamar Lily langsung. Sekarang ayo antar gue pulang. Kangen gue sama bini gue!" perintah Djiwa.


"Antar lo pulang? Memangnya lo enggak bisa pulang sendiri apa, Wa? Gue mau kangen-kangenan sama Lily. Berapa bulan gue enggak ketemu Lily, jahat banget lo sama gue!" protes Rendi.


"Bukan jahat, Ren. Nanti lo berbuat dosa. Pacaran itu gampang banget bikin dosanya. Lo tatap dia dosa. Lo pegang tangannya juga dosa. Nanti lo sosor dia, dosa. Masih kurang, lo garap dia makin dosa besar deh lo. Gue tuh sebagai bos dan sahabat lo yang baik cuma mau melindungi lo dari gudang dosa. Lebih baik lo nikahin deh Lily, kangen-kangenannya bebas. Mau nginep berdua juga bebas. Mau lo apain kek, bebas. Sekarang, lebih baik lo anter bos lo ini yang udah kangen sama istrinya. Pahala loh, Ren, mengantar suami yang sudah rindu dengan istrinya," kata Djiwa panjang lebar.


"Iya ... iya ... bisa apa kacung kampret kayak gue? Kalau nolak bisa lo pecat, Wa!" Rendi kembali memanyunkan bibirnya. Ia melambaikan tangan pada Lily seperti adegan sedih di film Titanic.


"Iya, Wa. Bawel banget lo, ah. Kayak kucing mau kawin!" balas Rendi.


"Lah ... emang mau kawin. Tau aja lo!" Djiwa merangkul bahu Rendi dan membawanya pergi dari warung. "Let's go, Bro!"


Rendi mengemudikan mobil Djiwa masih dengan bibirnya yang dimanyunkan. Rasa rindunya terhadap Lily juga besar. Beberapa bulan mereka tak bertemu, saat akhirnya bisa melihat wajah cantik Lily eh malah Djiwa mengajaknya pergi. Rasanya seperti memiliki bisul yang siap meletus eh malah jadi bantet.


"Rasa kangen lo itu kayak fatamorgana, Ren. Percuma saja, lo hanya akan bersetuhan dengan dosa," ceramah Djiwa namun diacuhkan oleh Rendi.


"Lo ngambek sama gue?" tanya Djiwa yang melihat dari kaca spion kalau asisten sekaligus sahabatnya sejak tadi hanya diam sambil memanyunkan bibirnya. Saat Djiwa tanya pun Rendi tak menjawab. Masih kesal karena bisulnya tak jadi pecah eh kangennya tak jadi dilampiaskan maksudnya.


"Begitu aja ngambek. Kayak anak perawan lagi datang bulan lo. Ngambek digedein, kerja keras dibanyakkin. Lo enggak makan dari ngambek tapi dari hasil kerja keras," ceramah Djiwa lagi.


Rendi masih diam tak membalas perkataan Djiwa. Ia masih merasa kesal dengan bosnya yang egois tersebut.


"Iya ... gue minta maaf. Gue tuh cuma enggak mau lo berkubang dalam dosa, Ren." Djiwa melirik Rendi yang tak bereaksi sama sekali. "Yaudah, untuk menebus kesalahan gue, lo boleh deh pilih satu cincin di toko berlian gue buat melamar Lily."


Mata Rendi berbinar mendengar Djiwa mengijinkannya memilih satu cincin di toko berlian miliknya. Sudah pasti harga cincin tersebut mahal. "Beneran?"


"Iya. Kalo dikasih gratisan aja deh langsung lo jawab perkataan gue. Baru dipisahin sama Lily sebentar aja, bibir lo manyun terus sepanjang jalan. Merusak pemandangan gue aja," gerutu Djiwa.


"Kata siapa gue manyun? Nih lihat senyum Pespodent gue!" Rendi tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya.


Djiwa geleng-geleng kepala melihat ulah asistennya. "Lebay lo! Udah nyetir yang bener!"


Mobil Rubicor Djiwa pun memasuki gerbang komplek perumahan mewah tempat kedua orang tuanya tinggal. Sebuah rumah megah dengan cat berwarna putih nampak begitu mencolok dibanding rumah yang lain. Lebih megah dan mewah.


Rendi membunyikan klakson yang langsung dibukakan oleh security rumah Djiwa. Jelas, ia mengenali mobil tuannya. Pintu gerbang pun dibukakan lebar. Rendi kembali menjalankan mobil dan memarkirkannya di garasi bersama deretan mobil mewah lainnya.


Rendi cepat-cepat turun dan membukakan pintu untuk Djiwa. "Tumben baik bener, langsung bukain pintu. Biasanya lo pake alesan mau meregangkan pinggang dulu biar gue buka sendiri," sindir Djiwa. "Sakti juga ya tuh cincin, bisa bikin lo jadi nurut begini."


Rendi tersenyum saja mendengar sindiran Djiwa. Bayangan cincin berlian gratis untuk melamar Melati sudah terukir di benaknya.


"Yaudah, lo boleh pulang. Pilih cincin yang bagus!" Djiwa pergi meninggalkan Rendi dan bergegas masuk ke dalam rumah. Rasa kangennya sudah membuncah. Ia rindu istri kesayangannya.


"Assalamualaikum!" ucap Djiwa dengan suara agak kencang.


Ibu Mina yang menjawab terlebih dahulu. "Waalaikumsalam. Ya Allah, Djiwa! Kamu pulang!" Mata Ibu Mina berkaca-kaca melihat putra satu-satunya pulang dengan keadaan utuh tanpa kekurangan satu apapun.


Djiwa memeluk Mamanya dengan erat. "Mama sehat 'kan?"


Ibu Mina menjawab dengan anggukan. Djiwa melepaskan pelukan Mamanya dan mencari istrinya tercinta. "Istriku mana, Ma?"


****