
Supir yang mengantarkan Mawar membukakan pintu mobil sebelum mobil diparkirkan. Setelah membaca bismillah dan beberapa surat pendek dalam hati, Mawar pun turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju rumah megah dengan taman luas di depannya.
Mawar merasa bagaikan sedang berada di dunia dongeng, dimana ia ada di sebuah kastil megah milik pangeran. Tak pernah terbayang dalam pikiran gadis kampung macam Mawar akan memiliki suami tampan, kaya dan juga sangat mencintainya. Semua seperti cerita dalam dongeng dan novel buatan Mizzly semata.
Tak lama pintu depan rumah Djiwa terbuka. Asisten rumah tangga dengan senyum hangat menyambut kedatangannya. Ia menyuruh Mawar masuk.
Mawar melepas sandal yang dikenakannya di luar rumah lalu mengikuti langkah asisten rumah tangga Djiwa masuk ke dalam rumah dengan lampu kristal besar di bagian tengah. "Besar sekali rumah Mas Djiwa," batin Mawar.
Mawar teringat lapangan bulu tangkis di kampungnya dulu. Rumah ini jauh lebih luas dari lapangan bulu tangkis. Ruang tamunya saja hampir seluas lapangan bulu tangkis. "Kok bisa ada rumah seluas ini di Jakarta? Rumah kontrakkan saja harganya mahal, apalagi rumah seperti ini. Berapa ya harga rumah sebesar ini?" batin Mawar lagi.
"Silahkan duduk, Ibu akan segera keluar." Asisten rumah tangga Djiwa mempersilahkan Mawar duduk di ruang tamu.
Mawar mendudukkan dirinya di sofa berwarna putih yang lembut dan empuk. Kaki Mawar menginjak karpet tebal yang terasa lembut sekali. Mawar memperhatikan figura besar di ruang tamu.
Dalam figura besar yang terbuat dari ukiran kayu tersebut nampak Djiwa berdiri bersama kedua orang tuanya. Wajah tampan Djiwa adalah perpaduan dari wajah kedua orang tuanya. Mimpi apa Mawar bisa menikahi anak orang kaya seperti Djiwa?
"Tampan bukan anak saya?" Suara ketus mengagetkan Mawar yang asyik memandang figura besar.
Mawar berdiri dan mengulurkan tangannya untuk salim pada Ibu Mina yang hari ini memakai blouse putih dengan celana bahan warna hitam. Terlihat anggun dan cantik sekali meski usianya tak lagi muda.
Uluran tangan Mawar tak dibalas Ibu Mina. Wanita yang berusia setengah abad tersebut malah menatap kaki Mawar yang tanpa sandal. Ia menggelengkan kepala seraya bergumam pelan, "Dasar gadis kampung!"
Mawar menarik kembali uluran tangannya yang tak disambut Ibu Mina. Hatinya terasa sakit saat diabaikan seperti itu. Namun bukan Mawar namanya kalau tidak kuat menahan cobaan seperti ini. Masih ringan dibanding kehidupannya saat di penjara dulu.
"Duduklah!" perintah Ibu Mina yang kini duduk agak jauh dari Mawar.
Mawar menurut. Ia kembali duduk di sofa putih yang kini tak terasa lembut lagi. Jelas saja, ia kini kembali disidang seperti beberapa hari lalu namun dengan tempat berbeda.
"Saya menyuruh supir untuk menjemput kamu adalah untuk menanyakan tentang putra saya. Kemana saja ia selama beberapa hari ini?" tanya Ibu Mina.
"Sa-saya tidak tahu, Bu," jawab Mawar dengan jujur.
"Jangan bohong kamu! Pasti kamu tahu dimana keberadaan anak saya bukan? Ponselnya tak bisa dihubungi. Asistennya juga. Hanya ada email yang dikirim ke suami saya yang mengatakan kalau Djiwa cuti mendadak. Saya sudah kirim orang ke warung kamu dan juga tak menemukan keberadaan anak saya. Kamu sembunyikan dimana dia?" cecar Ibu Mina.
Mawar menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mengisi stok sabar dalam dirinya. Menghadapi mertuanya harus dengan kepala dingin. Jangan sampai emosi menguasai. Bukan restu yang akan ia dapat, malah masalah hukum yang akan menantinya.
"Jujur saja, saya juga mencari Mas Djiwa, Bu. Sama seperti Ibu, Mas Djiwa tak bisa dihubungi oleh saya. Saya sampai tak bisa tidur karena mengkhawatirkan keadaan Mas Djiwa. Saya pikir Mas Djiwa pergi meninggalkan saya," jawab Mawar dengan polosnya.
"Bagus dong kalau begitu," kata Ibu Mina dengan pedasnya.
Mendengar wanita di depannya berkata kalau ia mendoakan Djiwa, ada sedikit kehangatan yang dirasakan oleh Ibu Mina. Sikap polos dan jujur wanita di depannya membuat sedikit kepercayaan dalam dirinya tumbuh.
Ibu Mina jadi teringat perdebatannya dengan sang suami sepulang dari warung Mawar. Rencana melabrak dan memarahi Mawar batal karena suaminya mengajak pulang secara tiba-tiba. Alasannya pun receh.
"Ma, Papa sebagai pebisnis sudah banyak bertemu orang. Tahu mana yang bermuka dua dan mana yang jujur. Wanita bernama Mawar itu sejak tadi berkata jujur. Sorot matanya bagaikan anak kucing lemah yang tak akan mencakar tuannya. Ia begitu mencintai Djiwa dan Papa lihat ia memang tak berniat menipu Djiwa. Ingat Ma, Djiwa tuh nakalnya minta ampun. Pintarnya juga naudzubillah. Dia bisa membedakan mana yang baik dan tidak. Mana yang tulus dan pamrih. Meski awalnya tak percaya dengan perkataan Djiwa, saat melihat Mawar, Papa jadi percaya. Coba deh sekali-kali Mama melihat Mawar dengan pikiran terbuka. Lupakan masa lalu kelamnya. Ia begitu polos dan jujur. Itu yang membuat Papa urung melabraknya. Biarkan saja Djiwa dengan pilihannya," kata Pak Prabu panjang lebar.
Ibu Mina menatap Mawar dengan lekat. Wanita di depannya memang sangat polos dan agak kampungan. Meski memakai pakaian mahal, tatapan lugunya tak bisa ditutupi. "Wajahnya memang cantik, terlihat makin anggun dengan pakaian yang pasti Djiwa belikan. Namun kenapa masa lalunya begitu suram?" batin Ibu Mina.
"Berapa lama kamu mendekam di penjara?" tanya Ibu Mina. Pertanyaannya masih agak ketus namun nada suaranya sudah tidak sekejam sebelumnya.
"Lima tahun, Bu."
"Kok bisa pelaku pembunuhan hanya dihukum lima tahun? Bukankah biasanya lima belas tahun paling sebentar?" sindir Ibu Mina.
"Karena ... buktinya kurang kuat dan tak ada saksi ataupun CCTV, Bu."
"Kamu tidak membayar pengacara?"
Mawar menggelengkan kepalanya. "Hanya pengacara dari negara saja, Bu. Saya tak ada uang untuk menyewa jasa pengacara."
Ibu Mina tidak bodoh, benar yang dikatakan Djiwa. Agak aneh memang hukuman penjara yang dijatuhkan kepada Mawar. Seperti ada permainan orang dalam.
"Keluarga kamu dimana?" Ibu Mina mengganti pertanyaannya. Tak lagi tentang masalah penjara.
"Kedua orang tua saya sudah meninggal. Ada bibi saya ... namun sudah tak mengakui saya sebagai saudara lagi sejak saya dipenjara," jawab Mawar dengan jujur.
Hati Ibu Mina merasa miris. Ia mulai merasa kasihan dengan Mawar. "Jadi kamu seorang diri di Jakarta?"
Mawar mengangguk. "Iya. Saya merantau ke Jakarta seorang diri."
Baru saja Ibu Mina mau mengajukan pertanyaan lainnya, asisten rumah tangga Ibu Mina masuk ke dalam dengan wajah terburu-buru. "Ada apa, Bi?"
"Bu, ada teman-teman arisan Ibu di luar," jawab asisten rumah tangga dengan nafas tersengal. Habis lari rupanya dari gerbang depan.
"Teman-teman arisan? Ya Allah, saya lupa ada arisan hari ini!" Ibu Mina menepuk keningnya. "Kita suguhin apa, Bi?"
***