
"Ya ampun, kamu lucu sekali deh, Wa. Aku tertawa sampai menangis mendengar jawaban kamu!" Melati menghapus setitik air mata yang keluar dari pelupuk matanya karena tertawa mendengar perkataan Djiwa.
Wajah Djiwa datar, tak menganggap ada yang lucu dengan jawabannya. Ia jujur mengatakan kalau dirinya memang mencabuti bulu ayam setiap hari. Melati saja yang menganggapnya becanda.
Tak lama asisten rumah tangga Djiwa datang membawakan minuman dan kue lezat. Djiwa yang selama ini hanya makan masakan sederhana buatan Mawar, mengambil sepotong kue dan memasukkannya ke dalam mulut. Lezat sekali rasanya.
Djiwa tiba-tiba teringat Mawar kembali. Ia memikirkan apakah istrinya sudah pernah makan kue selezat ini atau belum. Djiwa pun berencana akan membawakan Mawar kue ini saat pulang besok.
"Kamu kurusan, Wa. Terakhir aku lihat kamu sedang di Mall bersama Rendi. Kamu keluar masuk toko dengan belanjaan di tangan kamu. Aku mau menyapa kamu tapi kamu nampak terburu-buru. Kamu belanja untuk siapa?" tanya Melati.
Djiwa ingat, ia masuk Mall terakhir kali saat membelikan Mawar hadiah sepulangnya dari Lampung. Jadi ternyata Melati melihat dirinya toh. "Untuk teman tidurku," jawab Djiwa jujur.
Melati agak terkejut dengan jawaban Djiwa yang terkesan sengaja menyakitinya. "Masih berganti-ganti teman tidur?" tanya Melati penasaran.
"Biasanya, memang kenapa? Masalah?" tanya balik Djiwa. Djiwa kini menatap Melati seolah menantang mantan kekasihnya yang pernah menggoreskan luka di hatinya tersebut.
"Kamu ... masih marah ya sama aku?" tanya Melati.
"Enggak tuh, biasa aja." Djiwa kembali menatap taman rumahnya.
"Aku tahu waktu itu aku salah. Aku mau minta maaf sama kamu. Aku terpaksa, Wa. Waktu itu kedua orang tua kita adalah saingan bisnis. Bukan inginku merebut tender besar dari kamu, Papa yang menyuruhku melakukannya. Aku terpaksa, Wa. Jujur saja, aku mau membuktikan juga sama Papa kamu kalau aku ini calon menantu yang bisa beliau andalkan. Aku tak ada niat serakah seperti yang kamu pikir," kata Melati.
Djiwa memang dulu sangat kecewa dengan Melati. Orang tua mereka saingan bisnis. Djiwa berusaha meyakinkan Papanya dan berniat mendapatkan tender besar, sayangnya Melati malah mengkhianatinya dan merebut tender besar tersebut. Papanya makin marah dan pada akhirnya memisahkan hubungan mereka.
Yang membuat Djiwa tambah sakit hati adalah cara Melati mendapatkan tender tersebut. Djiwa mendapat foto dari Rendi yang melihat Melati masuk ke dalam hotel bersama pemilik tender. Mereka check in. Djiwa merasa dikhianati. Sejak itu, Djiwa menutup hatinya rapat untuk Melati dan wanita lain. Mawar yang sudah mengetuk hati Djiwa dengan ketulusannya dan membuat Djiwa kembali percaya akan cinta sejati.
Waktu sudah berlalu namun Melati masih tak menyadari apa kesalahan yang sebenarnya. Djiwa bukan marah karena Melati merebut tender dan mengakibatkan Papanya marah besar. Cara Melati merebut tender tersebut yang membuat Djiwa marah, karena merasa cintanya sudah dikhianati. Sekarang, di saat Mawar sudah menyembuhkan luka yang Melati buat, dengan mudahnya Melati kembali dan ingin merebut hatinya lagi. Oh tentu tidak bisa semudah itu.
"Aku berusaha untuk menjadi pengusaha yang sukses, Wa. Aku ingin membuktikan sama Papa kamu, kalau aku ini menantu yang layak untuk ia banggakan. Sekarang, Papa kamu sudah melihat hasil usaha aku. Papa kamu akhirnya menyetujui hubungan kita kembali. Bukankah ini yang dinamakan jodoh?" tanya Melati penuh harap sambil menatap Djiwa yang sama sekali tidak melihat ke arahnya. Djiwa asik memakan kue lezat sambil menatap taman indah di depannya.
Saat kue yang ia makan habis, Djiwa berdiri. Djiwa meregangkan tubuhnya dan mencuci tangan dengan air kolam renang. Ia sengaja bersikap jorok agar Melati sebal dan akhirnya menjauh.
Bukannya menjauh, Melati malah menghampiri Djiwa. "Rumah kamu bagus sekali. Indah. Sayangnya terasa sepi karena tak ada suara tawa anak kecil. Andai kita setuju dengan pertunangan yang kedua orang tua kita adakan, kita akan cepat menikah dan langsung program untuk punya anak. Pasti rumah ini akan ramai oleh suara tawa anak kecil."
"Bukan itu maksud aku, Sayang!" Melati mengikuti Djiwa yang berdiri. Dengan cueknya Melati menggandeng tangan Djiwa dan langsung dihempaskan oleh Djiwa.
"Enggak usah gandengan. Kayak mau nyebrang aja!" ketus Djiwa.
Melati tersenyum tak tahu malu. "Kamu gemesin ih. Cium boleh?"
Melati memajukan dirinya untuk mencium Djiwa namun dengan sigap Djiwa menghindar. Sayangnya adegan mesra mereka dilihat oleh Om Surya dan Papa Mama Djiwa.
"Wah, benar 'kan mereka harus dikasih kesempatan berdua agar makin akrab?" tanya Om Surya dengan bangga pada Mama dan Papa.
"Iya. Baru sebentar dikasih waktu berdua saja sudah mau ciuman mereka," sindir Mama.
"Itulah anak muda. Kalau di depan kita yang sudah tua, mereka malu-malu. Kalau di belakang kita pasti langsung nyosor!" kata Papa yang membuat mereka semua tertawa, kecuali Djiwa tentunya. Melati tersenyum dalam hati sambil menunduk malu sementara Djiwa bersikap cuek.
"Djiwa, ayo ajak Melati masuk ke dalam! Kita makan malam bersama!"
Djiwa tak berkata apapun dan malah masuk ke dalam. Melati mengikutinya dari belakang namun Djiwa malah mempercepat langkahnya. Sebal dengan sikap Djiwa yang acuh, Melati menarik tangan Djiwa sebelum mereka masuk ke dalam rumah.
"Wa, kamu kenapa sih? Kok kamu kesannya tidak suka kita dijodohkan? Wa, bukankah ini yang sejak dulu kita inginkan? Kamu ingat tidak dengan impian kita? Kenapa sikap kamu jadi begini?" tanya Melati.
Djiwa melepaskan tangan Melati dan tak satupun menjawab pertanyaannya. Djiwa merasa tak ada yang harus ia jawab. Antara dirinya dan Melati sudah selesai. Ia kini pria beristri dan tidak sama sekali tertarik dengan tawaran Melati.
"Wa, jawab dong. Kalau kamu jawab, aku jadi tau mau kamu tuh apa. Jangan kamu diam saja. Aku tahu aku salah, aku minta maaf. Kenapa kamu masih tak mau maafin aku sih? Wa, apa yang aku lakukan juga demi hubungan kita juga. Aku mau memantaskan diri untuk menjadi menantu keluarga kamu. Apa kamu tidak melihat usaha aku?" tanya Melati dengan kesal.
Melati menatap Djiwa dengan lekat. Pria pujaan hatinya masih sama seperti dulu. Pria tampan yang banyak memikat hati banyak wanita. Melati juga tahu sepak terjang Djiwa yang terkenal suka gonta ganti pasangan. Melati juga tahu kalau Djiwa selalu gagal dijodohkan. Melati merasa, Djiwa masih menunggu dan mencintainya.
"Aku masih mencintai kamu, Wa. Aku ingin kita seperti dulu lagi. Kamu dan aku, dengan semua impian kita dulu. Kamu mau 'kan hubungan kita kembali seperti dulu lagi?" tanya Melati penuh harap.
****
Kalian mau kan kasih aku vote? Yuk vote yang banyak. Kalau banyak hari ini insya Allah aku up lagi 😁😁😁