Janda Bohay

Janda Bohay
Siang Untuk Mawar


Djiwa mengutarakan pengembangan rencana bisnisnya pada Mawar. "Anak SMA tadi memberiku ide baru. Aku berencana merubah nama warung kamu menjadi Warung Janda Bohay," usul Djiwa.


"Warung Janda Bohay?" Mawar yang semula tiduran sehabis bertempur dengan Djiwa kini duduk tegak. "Kenapa harus bawa-bawa statusku yang dulu janda sih?"


"Bukan begitu, Sayang. Hanya nama. Justru dari nama saja warung kamu sudah menjual. Kamu tiduran lagi ya, jangan duduk begitu. Kelihatan itu aset kamu, nanti adik aku bangun lagi kita tidak jadi diskusi masalah warung tapi malah main kuda-kudaan," bujuk Djiwa.


Mawar menurut apa yang suaminya katakan. Ia kembali tiduran dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Djiwa kembali menjelaskan pada Mawar. "Warung Janda itu sebuah singkatan yakni warung jajanan anak muda, bohay hanya pelengkap saja bisa kita gunakan sebagai nama menu makanan kita. Saat mendengar kata Janda Bohay, biasanya orang akan penasaran. Se-bohay apa sih? Nah nama itu yang bikin orang jadi tertarik. Selanjutnya saat mereka datang, kita buktikan kehebatan warung kamu. Sajikan makanan dan minuman yang enak, dijamin akan balik lagi!"


"Kamu yakin? Bisnis tidak semudah itu, Sayang!" sahut Mawar.


"Sangat yakin. Nama oke, makanan enak, pelayanan bagus dan ditambah promosi pasti penjualan kamu akan naik. Contoh, promosi beli makanan gratis es teh manis. Orang akan menghemat untuk beli minum bukan? Pasti mereka yang budgetnya pas-pasan akan tertarik," jawab Djiwa.


Djiwa melanjutkan presentasinya saat dilihat Mawar mulai tertarik dengan idenya. "Aku akui saat awal membuat usaha, aku hanya fokus pada ayam geprek saja. Aku tidak memikirkan skala bisnis yang lebih besar. Padahal kalau aku lihat, bisnis kamu bisa berkembang lebih besar lagi."


Mawar mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Djiwa. Jujur saja, ia curiga dengan suaminya. Apakah benar suaminya itu adalah pemuda kampung? Kenapa gaya bicaranya seperti orang berpendidikan tinggi yang terbiasa membuat bisnis?


Djiwa menyadari tatapan Mawar yang tak biasa. Ia menahan semangatnya yang menggebu dan kembali berakting polos. "Maaf, Sayang. Aku jadi kebawa sama bos aku yang kalau ngomong kayak begitu. Pakai kata-kata skala bisnis segala. Kayak orang pintar ya kalau aku ngomong begitu?" Djiwa tertawa agar Mawar tak menaruh curiga.


"Iya. Aku heran sama Mas, kalau sudah bicara tentang bisnis Mas jadi berubah. Mas seperti sudah punya banyak pengalaman. Apalagi bahasa Mas yang seperti pengusaha saja," aku Mawar.


"Ini terbawa situasi kerja, Sayang. Boleh Mas lanjutkan lagi?"


Mawar mengangguk. "Lanjutkan saja Mas sebelum aku ketiduran."


Djiwa tersenyum mendengar perkataan Mawar. "Sabar ya, Sayang. Nanti kamu tak akan aku biarkan kelelahan bekerja seperti ini. Aku janji. Oke, kita lanjutkan ya!"


Djiwa dan Mawar diskusi kembali tentang bisnis Mawar yang baru. Bagaimana Djiwa akan merubah total bisnis Mawar. Pengalaman Mawar memasak akan ia jadikan modal untuk menu-menu makanan yang berbeda dibanding di tempat lain.


Djiwa masih ingin mengeluarkan ide-idenya namun melihat Mawar yang tertidur lelap, dia tak tega. Istrinya pasti lelah. Djiwa mengecup kening istrinya dan tertidur di samping Mawar. Tempat ternyaman baginya saat ini.


Keesokan harinya Djiwa membantu Mawar sejak subuh. Ia akan pergi makan malam dengan keluarganya nanti, jadi Djiwa akan menebusnya dengan bekerja keras sejak pagi. Tak lupa Djiwa memakai maskernya agar tak ada yang mengenali seperti kemarin.


Berita kalau pelayan toko sangat tampan yang disebarkan oleh anak SMA kemarin dengan cepat menyebar. Sepulang sekolah mulai banyak anak SMA yang mampir ke warung Mawar. Bukan hanya ingin mencoba menu ayam geprek hotplate namun ingin bertemu dengan pelayan tampan.


"Yah ... kok Mas pakai masker sih? Buka dong! Gantengnya jadi enggak kelihatan nih!" protes anak SMA yang kemarin datang dan sekarang datang lagi demi melihat Djiwa. Ia datang bersama teman-temannya yang lebih banyak lagi.


"Kamu sudah tahu bukan seganteng apa wajahku? Kamu sangat beruntung. Tidak semua orang bisa melihat ketampananku. Jadi, aku harus sembunyikan sebelum banyak fans yang mencariku," jawab Djiwa dengan penuh percaya diri.


Wajah Djiwa menegang. Ia tahu dalam majalah bisnis yang dipegang anak SMA itu memang benar ada wajahnya. Bahaya. Djiwa melirik ke belakang. Dilihatnya Mawar sibuk di dapur dan Ibu Sari sibuk membuat pesanan. Aman.


"Kayaknya gantengan aku deh. Jadi, mau pesan apa? Mau menu paket lagi? Kalau kemarin aku gratisin tahu, bagaimana kalau sekarang gratisnya tempe?" Djiwa mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan tentang menu makanan.


"Tahu sama tempe itu satu komplek Mas, beda blok aja!" sahut anak SMA sambil tertawa centil. "Yaudah aku mau. Siapa lagi yang mau?"


Djiwa mencatat pesanan yang masuk dan pergi ke dapur. Mawar terlihat berkeringat karena menggoreng banyak ayam. Djiwa merasa kasihan. Djiwa akan menambah karyawan lagi saat konsep bisnis terbaru sudah mereka jalankan.


Djiwa membantu di ruko sampai sore. Ia pamit pada Mawar dan mengatakan ada pekerjaan kantor yang tak bisa ia tinggal. Mawar percaya begitu saja dengan alasan yang Djiwa berikan.


Djiwa pulang ke apartemennya dan mengganti baju yang lebih bagus. Rendi sudah menyiapkan semuanya. Rendi juga yang menyupiri mobil Djiwa sampai ke rumah Melati.


"Ini konsep bisnis Mawar yang baru. Gue sudah kasih rinciannya. Gue mau lo siapkan semua, Ren. Satu lagi, cariin karyawan kalau bisa yang berasal dari sekolah memasak. Gue mau ada yang membantu Mawar di dapur. Kasihan bini gue kecapekan." Djiwa mengirimkan konsep buatannya melalui email.


"Siap, Bos," jawab Rendi.


Djiwa merasa tubuhnya lelah sekali. Jalanan yang macet membuat matanya tak kuasa menahan kantuk. Ia pun tertidur lelap.


"Bos, bangun! Kita sudah sampai!" Rendi menggoyangkan tubuh Djiwa dan membangunkan dengan sopan.


Djiwa membuka matanya. Dirinya sudah kembali segar. Ia siap menolak perjodohan dirinya dengan Melati. Harus. Demi Mawar dan masa depan mereka berdua.


Djiwa turun dari mobilnya. Sudah ada mobil Papa yang terparkir di garasi mobil rumah Melati yang mewah. Djiwa hafal rumah Melati. Dulu ia sering main, bahkan melakukan hal gila bersama Melati di dalam. Sekarang Djiwa menyesalinya. Djiwa hanya ingin semua berakhir dan tak ada masalah lagi.


Kedatangan Djiwa disambut oleh keluarga Melati dengan ramah. Nampak Papanya dan Papa Melati sedang mengobrol akrab masalah bisnis.


"Kamu sudah datang, Sayang? Kamu tampan sekali!" Melati menyambut Djiwa layaknya mereka sudah menjadi sepasang kekasih kembali. Melati dengan cueknya menggandeng tangan Djiwa dengan mesra.


"Aduh, mesra sekali ya pasangan baru kita?" sindir Mama pada Mama Melati.


"Cocok ya? Enggak sabar deh aku mau punya cucu!" tambah Mama Melati.


Dengan tatapan dingin, Djiwa melepas tangan Melati dengan kasar. "Jangan pegang-pegang, bukan mahrom!" Djiwa masuk ke dalam dan meninggalkan Melati.


***