
Mawar sadar, bisnis yang dijalankannya semua berasal dari modal yang Djiwa berikan. Mawar sudah berpikir dengan tenang, kini ia sadar kalau semuanya berhubungan.
Rendi yang menawarkan pinjaman dan membuat Mawar terbujuk. Lalu datang petugas yang mengaku dari pemerintah yang ingin memajukan usaha UMKM. Ternyata kecurigaan Mawar benar adanya. Tak mungkin ada yang meminjamkan uang dengan mudahnya. Semua karena campur tangan Djiwa.
Djiwa juga yang mendesign konsep warung Mawar. Mengganti namanya, menu dan dekorasi. Semua buah pikiran Djiwa. Jelas, untuk seorang pebisnis sukses macam Djiwa, membuat bisnis kecil semacam ini tentu mudah.
Namun Mawar tak mau berpangku tangan. Masa depannya dengan Djiwa belum pasti, bisa saja Djiwa balik dengan Melati nanti. Bak dicubit, hati Mawar terasa sakit saat membayangkannya.
"Aku tak boleh menyerah. Aku akan membuktikan usahaku!" tekad Mawar.
Mawar pun melakukan perubahan dalam dirinya. Mawar yang sudah lama tidak belajar, mulai menggunakan otaknya untuk menyerap ilmu-ilmu baru.
Berkat jaringan wifi yang kencang di ruko, ia bisa mencari jawaban atas apa yang ia ingin ketahui lewat ponselnya. Ponsel baru yang Djiwa belikan dari uang gaji pertamanya.
Mawar senang menerima pemberian dari Djiwa. Ia tahu, Djiwa bisa saja membelikannya yang lebih mahal, namun urung dilakukan karena takut Mawar mengetahui identitasnya. Tak apa. Mawar mengerti. Ia sudah berdamai dengan keadaan. Entah alasan apa Djiwa menyembunyikan identitasnya, yang pasti kebersamaan mereka harus Mawar manfaatkan, karena ia tak tahu kapan mereka akan dipisahkan oleh takdir.
Mawar membuka contoh cafe yang sukses di Jakarta. Ada Targas Cafe yang berubah menjadi Tarbi Cafe dan membuka bisnis baru atas nama Bisnis Plus-Plus. Sejarah bisnis yang awalnya hanya dari cafe kecil sampai besar menarik minat Mawar.
Mawar jadi terinspirasi dengan kesuksesan keluarga pemilik cafe tersebut. Mawar juga melihat design cafe yang konsepnya gambar matahari dan bulan. Keren dengan mural yang cocok untuk berswafoto.
Mawar lalu membuat konsep ruko sebelah dari hasil belajarnya. Rencananya Mawar akan tunjukkan pada Djiwa saat suaminya yang super sibuk itu pulang. Ya, Djiwa jadi gila kerja dan pulang malam terus. Djiwa bilang dia kena hukuman bosnya dan dikasih pekerjaan banyak.
Mawar pura-pura mempercayai ucapan Djiwa dan hanya memberi semangat. Feeling Mawar mengatakan, Djiwa diomeli orang tuanya karena jarang pulang dan lebih banyak bekerja di ruko. Dalam diam Mawar menghargai usaha Djiwa untuk tetap bersamanya.
"Mas, capek?" tanya Mawar setelah Djiwa selesai mandi dan sholat.
Djiwa sejak menikah dengan Mawar mulai rajin menjalankan sholat lima waktu. Cara Mawar mengajak Djiwa sholat tak membuatnya merasa digurui dan diperintah, karena itu lama kelamaan Djiwa mulai terpanggil untuk melaksanakan kewajibannya sendiri.
"Capek sedikit. Mau dipijitin ya sama kamu?" tanya Djiwa dengan senyum penuh maksud.
"Yaudah ayo berbaring. Aku pijitin," jawab Mawar.
"Beneran? Nanti kamu capek loh!"
"Beneran, Mas." Mawar tersenyum tulus. "Aku pijitin. Ayo rebahan dulu!"
"Asyik! Ini nih nikmatnya punya istri. Saat lelah ada yang pijitin." Djiwa merebahkan tubuhnya dan siap menerima pijatan lembut bertenaga dari Mawar.
Mawar mengeluarkan kertas berisi konsep bisnis miliknya lalu menaruh di depan Djiwa. "Sambil aku pijitin, Mas baca hasil belajar aku ya!"
"Ini kamu yang buat?" tanya Djiwa tak percaya.
"Wah ... keren! Kamu dapat ide darimana, Sayang?" Dipegangnya kertas dan kembali dibaca dengan hati-hati konsep yang Mawar buat.
"Dari internet. Aku lihat-lihat cafe yang sukses dan aku terinspirasi deh. Warung ayam geprek aku udah keren, aku mau buat pembeli aku makin betah dan mau datang lagi ke warung aku. Karena itu aku mau ruko sebelah dibuat unik dan ada spot foto yang bagus. Kalau perlu kita buat versi lesehan di lantai atas dan bawah. Paling enak makan ayam sambil duduk di lesehan loh, Mas." Mawar menyuarakan idenya.
"Bagus ide kamu. Mas suka. Uang pinjaman dan keuntungan warung cukup kok untuk membuat itu semua." Perkataan Djiwa membuat Mawar sangat bahagia. Tak sia-sia ide bisnisnya disetujui oleh pengusaha sukses macam Djiwa.
"Alhamdulillah. Aku senang Mas setuju dengan ide aku. Mas bukan setuju karena aku istri Mas bukan?" Mawar kini memijat bahu Djiwa yang agak kaku karena bekerja.
"Tidak dong. Ini murni penilaian Mas. Bukan karena kamu istri Mas. Memang konsep kamu bagus. Mas suka. Mas akan minta Rendi untuk menyuruh temannya datang. Temannya itu jago dekor. Kamu setuju?"
Mawar tersenyum mendengarnya. "Dasar bos besar, seenaknya saja menyuruh Mas Rendi. Pantas Mas Rendi selalu nurut, bos besar yang perintah mah bebas," batin Mawar.
"Iya. Oh iya Mas, perkembangan kasus Mas Jamal bagaimana?" tanya Mawar.
"Hmm ... mulai menunjukkan sisi positif. Mas akan buat Jamal mengakui kesalahannya di depan polisi agar nama kamu bersih. Mas janji!"
Ini yang membuat Mawar tidak marah meski Djiwa terus membohonginya. Dibalik kebohongannya, Djiwa tulus menyayangi Mawar.
Mawar memang gadis kampung yang hanya lulusan SMA saja, namun Mawar bisa membedakan mana yang tulus menyayanginya dan mana yang tidak. Hati Mawar juga pemaaf, ia melupakan kebohongan Djiwa karena cinta yang pria berikan ini jauh lebih besar dari kebohongan yang dibuatnya.
Djiwa duduk tegak karena tak lagi merasakan pijitan Mawar. Ia melihat istrinya sedang menangis dalam diam. "Hey, kamu kenapa? Terharu sama perkataanku ya?" tanya Djiwa dengan lembut.
Mawar mengangguk sambil menghapus air matanya yang terus menetes. "Ah ... so sweet sekali kamu. Sini, peluk Mas." Djiwa membuka lebar kedua tangannya.
Mawar pun menghambur ke pelukan lelaki pembohong namun ia sayang ini. "Nangisnya dikeluarin ya suaranya. Jangan saat kamu di atas Mas saja yang keluar suaranya. Nangis juga. Orang bilang, nangis itu tak apa-apa. Selain mengeluarkan isi hati juga menjaga kewarasan. Nangislah. Mas akan mendengarkan tangisan kamu!"
"Aku tak mau nangis kencang, Mas. Aku malah mau menghapus air mataku." Mawar melepaskan pelukan Djiwa yang terlihat kebingungan.
"Kok gitu?"
"Iya. Aku menangis karena bahagia. Aku bahagia mengenal kamu, Mas. Aku bahagia berada di sisi kamu. Aku bahagia menjadi salah satu wanita yang kamu cintai-" Belum selesai Mawar bicara, Djiwa sudah memotongnya.
"Kok salah satu? Kamu tuh memang hanya satu-satunya yang Mas cintai, Sayang," ralat Djiwa.
Mawar tersenyum getir. "Ya, tapi aku sadar, yang mencintai Mas bukan hanya aku seorang. Aku hanya berharap, perasaan Mas padaku tak pernah berubah sampai kapanpun, seperti perasaanku pada Mas yang tak akan berubah sampai kapanpun. Kalau nanti Mas pergi, ingatlah selalu bahwa ada seorang Mawar yang akan selalu menunggu Mas untuk kembali."
****