Janda Bohay

Janda Bohay
Kesedihan Mawar


"Pa, kenapa kita mendadak harus pulang sih? Kalau di sinetron-sinetron, Mama tuh sedang berada di tahap paling menentukan, dimana orang tua si cowok sedang menekan kekasih anaknya agar mereka bercerai. Kenapa Papa malah menyuruh Mama pulang?" Ibu Mina marah-marah dengan Pak Prabu selama perjalanan di dalam mobil.


Permintaan Pak Prabu yang tiba-tiba menyuruh Ibu Mina pulang seakan tak ada dalam skenario sinetron manapun. Sudah datang jauh-jauh dan membuat Mawar tertekan eh malah diminta pulang? Sungguh di luar konteks sekali suaminya tersebut.


"Bukankah Papa yang semula begitu semangat mau bertemu Mawar? Papa yang bilang kalau Papa mau melihat langsung bagaimana Mawar dan bagaimana seorang janda mantan narapidana itu bisa membuat Djiwa sampai jatuh hati. Kenapa tiba-tiba Papa seakan menyerah dan minta pulang? Enggak jelas deh! Sama saja kamu, Pa, dengan anak kamu Djiwa!" omel Ibu Mina.


Pak Prabu pasrah saja saat sang istri mengomeli dirinya. Memang dirinya pantas diomeli sih. Pak Prabu yang mengajak untuk menemui Mawar eh malah Pak Prabu sendiri yang tak tega.


Awalnya Pak Prabu berpikir Mawar wanita barbar seperti yang diceritakan Melati. Melihat video CCTV yang disimpan Rendi saat mereka bertengkar membuat Pak Prabu berpikir kalau menantunya wanita yang kasar karena pernah mendekam di balik jeruji besi, ternyata saat bertemu langsung, Mawar tidak seperti yang Pak Prabu pikirkan.


Mawar menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Tutur katanya sopan. Cara Mawar berbicara memang terkesan polos dan lugu, khas gadis kampung pada umumnya namun justru itu yang Pak Prabu suka. Tidak terkesan sok pintar dan seenaknya macam Melati.


Pak Prabu terus memperhatikan bagaimana istrinya menekan Mawar. Mawar bisa saja membalas istrinya dengan membentak balik. Dikatakan pembunuh dan kata-kata pedas lain, pasti Mawar sangat marah. Perempuan itu malah menahan amarahnya, terbukti dari air mata yang ia keluarkan.


Rasa tak tega dalam diri Pak Prabu akhirnya mengalahkan rasa amarah yang sejak kemarin ia pendam. Ia kasihan dengan Mawar. Tak tega melihat perempuan yang nasibnya sudah malang harus merasakan penderitaan lagi.


"Papa hanya tak tega, Ma," jawab Pak Prabu seraya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.


"Ah Papa ini, lembek sekali sih jadi laki-laki. Pa, Mawar mungkin sengaja berakting agar Papa mempercayai air mata buaya miliknya. Buktinya sekarang Papa terperdaya. Berhasil dia sudah membuat Djiwa jatuh hati eh sekarang Papa juga luluh!" Ibu Mina mengomeli Pak Prabu habis-habisan.


Pak Prabu biarkan istrinya ngomel-ngomel sampai lelah. Ia telan saja omelan istrinya. Ia akan bicara saat kemarahan istrinya sudah reda.


****


Mawar terus menangis di dalam kamarnya. Ia sedih karena perkataan Ibu Mina terus terngiang di telinganya.


Mawar juga mulai dihinggapi rasa takut. Ancaman Ibu Mina agar dirinya berpisah dengan Djiwa pasti tak main-main. Bagaimana kalau kedua orang tua Djiwa memisahkan mereka berdua?


Setelah puas menangis, Mawar kini gelisah. Ia mondar-mandir di dalam kamar menunggu suaminya yang tak kunjung pulang. Hari sudah larut malam namun Djiwa tak juga pulang ke ruko.


Mawar berpikir kalau Ibu Mina mulai memisahkan dirinya dengan Djiwa. Rasa khawatir kembali melingkupinya. Mawar cepat-cepat mengambil ponsel miliknya dan menghubungi nomor Djiwa.


Mawar harus kecewa karena ponsel Djiwa tak aktif. Tak putus semangat, Mawar kini menghubungi ponsel Rendi. Bak setali tiga uang dengan atasannya, ponsel Rendi juga tidak aktif. Mawar putus asa, kemana lagi ia harus menghubungi suaminya?


Tak ada yang tahu dimana Djiwa tinggal. Lily juga pasti hanya tahu nomor ponsel Rendi saja.


"Ya Allah ... dimana kamu, Mas? Apakah kamu memang akan pergi meninggalkanku?" gumam Mawar.


Semakin malam, rasa gelisah Mawar semakin menjadi. Sudah jam 2 malam namun Djiwa belum pulang dan tidak memberi kabar. Mawar makin tak tenang.


Sejak tadi Mawar terus melihat dari balkon, menunggu suaminya datang. Setiap mendengar suara motor maupun mobil, Mawar langsung keluar dan mencari tahu apakah yang datang suaminya atau bukan. Sayangnya, sampai pagi menjelang Djiwa tak juga datang.


Mata Mawar sudah bengkak karena semalaman menangis sambil berdoa agar Djiwa kembali. Ia takut, teramat takut kehilangan suaminya. Allah sudah mengambil Mas Pur dari sisinya. Ia tak mau keluarga Djiwa memisahkan dirinya dengan Djiwa.


Suara ketukan di pintu ruko membuat Mawar tersadar dari lamunannya. Cepat-cepat dihapus air mata yang terus menetes seakan tak pernah kering. Mawar hendak berdiri namun kakinya terasa kram.


"Iya, Mel," jawab Mawar dengan suara seraknya.


"Mawar, kamu dimana? Aku ketuk-ketuk ruko kok tidak kamu bukakan?" protes Lily.


Sedikit harapan kalau yang mengetuk pintu adalah Djiwa lenyap dalam seketika. Ternyata Lily yang datang.


"Aku di atas, Ly. Tunggu sebentar, kakiku kram. Aku akan bukakan." Mawar mengakhiri panggilannya. Pelan-pelan ia berjalan dan turun dari atas ruko.


Lily terkejut melihat wajah Mawar yang pucat dan matanya bengkak. "Mawar? Kamu kenapa? Mas Djiwa mana?" tanya Lily.


Mawar tak menjawab pertanyaan Lily. Ia menghambur dalam pelukan sahabatnya dan kembali menangis.


"Menangislah sampai puas lalu cerita sama aku ya," kata Lily dengan lembut dan menenangkan.


Puas menangis, Lily membawa Mawar duduk di dalam ruko. Ia membuatkan teh manis hangat dan memberikannya pada Mawar. "Minumlah dahulu. Pasti kamu belum makan bukan sejak kemarin?" tebak Lily.


Mawar mengangguk. Ia menerima teh manis hangat dari Lily, tangannya bergetar, hampir saja gelas yang dipegangnya terjatuh jika Lily tidak cekatan memeganginya. "Pelan-pelan saja."


Mawar kini lebih tenang. Ia menyandarkan kepalanya di tembok dengan tatapan kosong. "Mas Djiwa menyakiti kamu?" tebak Lily.


Mawar tak menjawab. Air mata kembali menetes dari pelupuk matanya.


"Masalah kemarin dengan orang tua Mas Djiwa?" tebak Lily. Ia mendengar apa yang dibicarakan Mawar dan orang tua Djiwa namun tak mau ikut campur.


Mawar mengangguk lemah.


"Mas Djiwa bilang apa?" tanya Lily.


Mawar mengangkat kedua bahunya.


"Loh? Kok begitu? Mas Djiwa tidak membela kamu?" tanya Lily lagi.


Mawar kembali menggelengkan kepalanya. "Mas Djiwa belum pulang sejak semalam, Ly. Ponselnya tak aktif. Mungkin orang tuanya sudah memisahkan kami berdua, Ly? Apakah aku tak akan pernah bertemu dengan Mas Djiwa lagi?" tanya Mawar dengan suara serak.


"Jadi Mas Djiwa belum pulang sejak semalam?" ulang Lily.


Mawar kembali mengangguk lemah. "Apakah takdir kami hanya sampai di sini, Ly?" tanya Mawar.


"Takdir? Takdir apa sih maksud kamu? Mawar, bukan hanya ponsel Mas Djiwa yang tak aktif, ponsel Mas Rendi juga. Mas Djiwa tidak meninggalkan kamu. Mereka sedang ada urusan penting mungkin," kata Lily.


Mawar duduk tegak dan menatap Lily seakan melihat ada secerca harapan. "Urusan penting apa?"


****