
Djiwa ingin pergi rasanya, namun jika Djiwa pergi maka dirinya akan terlihat tidak sopan pada orang yang lebih tua. Mama Melati tersenyum penuh maksud pada calon menantu idamannya.
Djiwa tahu, ada udang di balik batu. Di balik kata-kata lembut dan senyum di wajah, pasti akan ada bujukan agar Djiwa mau melanjutkan pertunangan hingga pernikahan dengan Melati.
"Ada hal penting, Tante? Aku sedang terburu-buru," jawab Djiwa.
Mama Melati kembali tersenyum. "Sebentar saja kok. Tak akan mengganggu waktu kamu yang berharga. Dimana kita bisa bicara? Kedai kopi di bawah atau di ruangan kamu?" tanya Mama Melati setengah memaksa.
Djiwa menghela nafasnya. Mama Melati sebelas dua belas dengan anaknya. Kalau sudah ada maunya tak bisa dibantah apalagi ditolak.
"Di ruang meeting saja, lebih dekat." Djiwa berjalan ke salah satu ruang meeting dan membuka pintu. Tak ada yang menggunakan ruang tersebut. Sekalipun ada akan Djiwa usir seenaknya.
"Duduklah!" Djiwa duduk di kursi tempat ia biasa memimpin rapat. "Maaf enggak ada minum. Saya terburu-buru mau pergi. Langsung ke intinya saja!"
Mama Melati belum mendudukkan dirinya sudah Djiwa sindir dengan perkataan pedas. Wanita yang usianya hampir setengah baya itu masih terlihat cantik. Wajahnya yang rajin perawatan membuat kulitnya terlihat kencang.
Tak beda jauh sebenarnya dengan Mamanya Djiwa. Wanita elit kelas atas yang rela menggelontorkan banyak uang agar terlihat glowing.
Senyum di wajah Mama Melati kembali terukir. Ia tahu Djiwa akan bersikap tak sopan. Justru kedatangan Mama Melati ingin membujuk lelaki yang menolak perjodohan agar memikirkan matang-matang keputusannya.
"Sejujurnya, Tante menyesali apa yang Melati lakukan sama kamu. Melati memang terlalu manja sampai semua yang ia mau harus selalu dituruti. Tante minta kamu sedikit maklum dan jangan terlalu keras dengannya ya. Kamu harus ingat kenangan manis yang kalian buat dulu. Saat kalian memaksakan restu namun tak kunjung-"
"Langsung ke intinya saja, Tante!" Dengan tidak sopan Djiwa memotong ucapan Mama Melati.
Mama Melati menghirup udara agak banyak dan menghembuskannya dengan agak bergetar. Ia menahan kekesalannya dengan sikap Djiwa. Tak pernah ia diperlakukan seperti ini, semua menghormatinya sebagai istri pemilik salah satu perusahaan besar di negeri ini.
"Oke. Tante sedang mengingatkan kamu tentang masa lalu kamu yang indah bersama Melati." Mama Melati membenarkan posisi duduknya dan menatap Djiwa dengan ekspresi tenang meski menahan kesal. "Kamu tahu proyek swasembada beras yang dipegang Papa Melati?"
Djiwa diam sejenak, menerka maksud perkataan Mama Melati. Keningnya berkerut. "Tidak terlalu tahu sih. Memangnya ada apa?"
"Kamu tahu berapa nilai proyek besar tersebut?" tanya Mama Melati dengan penuh semangat.
Djiwa mengangkat bahunya. "Enggak."
Mama Melati tersenyum melihat kesempatan yang datang. Ia berpikir kalau Djiwa akan tertarik jika tahu berapa nominal bisnis yang digarap keluarganya. "Triliunan. Kamu tertarik bergabung?"
"Bergabung? Maksudnya? Kerjasama gitu?" tanya Djiwa.
"Memang bedanya apa?" Djiwa mulai paham kemana arah pembicaraan Mama Melati. Tak jauh dan tak bukan, uang. Membujuk Djiwa dengan uang pada akhirnya.
"Tentu beda. Saingan di bisnis ini banyak. Mafianya juga banyak. Saat mafia bekerja, dalam waktu dekat stok beras bisa langka. Harga semakin naik dan keuntungan kita semakin besar. Melati masih terlalu rapuh. Tak bisa setegas kamu memimpin bisnis ini, apalagi sampai berurusan dengan mafia beras!"
Djiwa tertawa mendengar perkataan Mama Melati. "Maksud Tante, aku udah satu level sama mafia gitu? Enak aja! Aku satu levelnya sama tukang ayam geprek, Tan. Ah Tante ini ada-ada saja!"
Mama Melati menggenggam tangannya sambil memaksa senyum di wajahnya. "Bukan itu maksud Tante. Kamu tuh pemberani, makanya cocok di bisnis ini!"
"Pemberani? Masih pemberani Melati loh, Tan. Suka ngajak cowok ke kamar ... hotel," sindir Djiwa.
Wajah Mama Melati memerah menahan amarahnya. Ia tak suka Djiwa menghina putri semata wayangnya. Ia turunkan harga dirinya demi mendapatkan seorang Angkasa Djiwa sebagai menantunya.
"Kita kembali membicarakan bisnis ya. Masalah Melati, mungkin kamu salah paham saja. Tante mau menawarkan kamu menjadi pemimpin di bisnis besar ini. Tak perlu keluar modal. Biar kami yang tanggung! Kamu hanya perlu memimpin setelah menjadi suami Melati. Mudah bukan?" Mama Melati kembali tersenyum layaknya SPG rokok yang membujuk pembeli agar mau membeli produknya. Senyum palsu penuh tipu muslihat.
"Jadi Tante mengajak saya bicara yang ujung-ujungnya meminta saya nikahin putri Tante gitu? Kayaknya Tante salah orang deh. Lebih baik Tante minta lelaki yang meniduri putri Tante yang bertanggung jawab. Aku sih tidak mau mendapat piala bergilir." Djiwa berdiri dari duduknya dengan senyum mengejek.
"Mengenai bisnis swasembada beras yang keluarga Tante ajukan ... maaf, aku tidak tertarik. Buat apa aku kirim beras banyak ke negara lain sementara di negaraku sendiri saja masih kesulitan? Apa? Triliunan? Yakin? Bukannya Tante membeli dari petani dengan harga murah lalu menjualnya mahal demi untung yang banyak? Keluarga Tante sebenarnya pengusaha atau tengkulak sih? Enggak mau ah aku makan uang kayak begitu. Enggak berkah."
Mama Melati kini sudah habis kesabarannya. Ia kesal dijadikan ejekan oleh anak muda songong macam Djiwa. "Kamu! Saya sudah sabar dan baik ya menawari kamu bisnis! Seharusnya kamu bersyukur putri saya mau sama kamu. Kalau bukan demi Melati, tak akan saya sudi mendatangi lelaki angkuh yang sudah mengosongkan toples cokelat dan permen mahal di rumah saya!"
"Saya malah bersyukur putus dari putri Tante. Tau enggak bagaimana cara putri Tante mendapatkan tender selama ini? Ya, dia menjual tubuhnya. Gratis. Mana mau aku dengan wanita murahan macam itu?"
"Kamu!" Mama Melati menunjuk Djiwa dengan jari telunjuknya. Matanya merah karena marah.
"Mau bukti? Akan aku suruh asistenku mengirim foto saat putri Tante menjual dirinya. Saranku, Tante introspeksi diri saja. Jangan mengejar aku dan keluargaku lagi demi obsesi keluarga kalian. Tante mau keluar duluan atau aku yang pergi duluan?" Djiwa memasang senyum licik di wajahnya.
Dengan wajah memerah karena amarah, Mama Melati meninggalkan ruangan meeting. Kakinya dihentakkan dan pintu meeting dibanting dengan kencang olehnya.
Djiwa menghubungi Rendi untuk memberi asistennya perintah. "Ren, kirim semua foto dan video Melati bersama para lelaki itu ke Mamanya. Biar makin panas keluarga mereka nanti!"
"Baik, Bos!"
Djiwa menutup teleponnya dan pergi meninggalkan kantor. Waktunya sudah tersita demi mendengar permintaan Mamanya Melati. Kini ia harus secepatnya pulang, Mawar membutuhkannya. Dikemudikannya mobil lebih cepat lagi. Melaju di jalanan Ibukota yang masih lengang.
****