
Mata Djiwa menatap nyalang pada lelaki yang tersungkur tak sadarkan diri di bawah kakinya. Setelah mendengar pengakuan lelaki di depannya, tangan Djiwa seolah bergerak sendiri memberi pukulan demi pukulan sampai dua body guard menghentikannya.
Nafas Djiwa tersengal dan dadanya naik turun. Ia marah. Teramat sangat marah. Karena perbuatan lelaki di depannya, Mawar, sang istri tercinta, harus mendekam di penjara.
"Sabar, Bos. Tahan amarah. Orang seperti dia tak layak untuk bos bunuh. Biarkan dia hidup segan mati pun tak mau," kata salah seorang body guard menenangkan Djiwa.
Akal sehat Djiwa berfungsi kembali. Body guardnya benar. Ia tak boleh mengorbankan masa depannya hanya karena orang tak penting seperti Jamal. Bekicot bin tutut sawah itu lebih cocok jadi makanan hewan dibanding mengotori tangannya.
"Bangunkan dia!" perintah Djiwa.
"Siap, bos!" Salah seorang body guard Djiwa mengambil air dingin dan menyiram tubuh Jamal.
Air yang masuk ke dalam hidung membuat Jamal gelagapan dan terbangun dengan batuk-batuk. Dirasakannya rasa perih dan remuk di tubuhnya. Entah berapa pukulan ia dapatkan dari lelaki yang kini duduk di atas kursi dengan kaki tepat di depan hidungnya. Sekali tendang, bisa dipastikan hidung Jamal akan patah.
"Am-ampun, Bang! Maafkan saya! Saya tidak tahu kalau sambal itu yang menyebabkan Purnomo meninggal!" Jamal dengan tubuh terikatnya meminta belas kasihan Djiwa.
"Tak tahu? Jangan bohong lo!" Sepatu Djiwa menyentuh kening Jamal dan menoyornya dengan cara baru. Menggunakan ujung sepatu.
"Beneran, Bang." Jamal pun menceritakan apa yang terjadi saat itu.
****
Flashback
Jamal diomeli habis-habisan oleh tengkulak tempatnya menyetor beras dari para petani. "Bagaimana mungkin lo bisa kecolongan? Purnomo punya bukti percakapan penting kita! Bagaimana kalau Purnomo melapor pada pihak berwenang? Nona muda tak akan memaafkan kita!" Tengkulak bernama Anton itu bahkan memuncratkan salivanya saat berbicara dengan Jamal.
"Maaf, Bos. Saya tak menyangka Purnomo akan merekam pembicaraan kita. Apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahan saya, Bos?" Wajah penyesalan Jamal membuat Anton memikirkan satu hal jahat.
"Oke. Karena lo menyesali kecerobohan yang lo perbuat, akan gue maafkan. Pulanglah! Nona muda akan gue kabari dan lo siap-siap saja menjalani hukuman lo!" ancam Anton.
Jamal pun pulang ke rumah dengan hati tak tenang. Ia memikirkan hukuman apa yang akan diterimanya nanti. Ia pun memutuskan ke rumah Purnomo.
"Pur, udah deh lo enggak usah saklek. Jangan melawan. Kita tuh rakyat kecil, jangan pernah melawan atasan," nasehat Jamal pada temannya.
"Enggak bisa, Pur. Mereka sudah jahat pada kaum lemah seperti kita. Mereka memeras hingga kering keringat kita namun tidak membayar dengan sepadan. Pakai alasan harga pupuk naik, BBM naik, makanya harga beras dinaikkan. Iya kalau mereka membeli sama kita dengan harga sesuai yang dijual. Ambil untung tipis saja asal berkah. Mereka tidak, Mal! Mereka serakah! Mereka tak pantas kita bela, Mal!" Purnomo kesal karena Jamal malah memihak orang yang dzolim.
"Pur, mereka akan memberi kamu harga yang pantas jika kamu mau bekerja sama. Mereka juga akan memberi kamu uang, Pur. Bukankah kamu mau membahagiakan Mawar? Bayangkan bagaimana bahagianya Mawar saat menerima perhiasan emas dari kamu, Pur!" Tak putus asa Jamal terus membujuk Djiwa.
"Tak perlu! Aku bisa menghidupi istriku sendiri!" Purnomo berdiri dan meninggalkan Jamal yang memijit pelipisnya. Tak tahu bagaimana membujuk Purnomo lagi.
"Jangan sampai kamu menyesal, Pur! Ingat istrimu, bohay dia. Jangan sampai menjadi Janda Bohay karena sikap keras kepala kamu!" Sayang ancaman Jamal tak lagi didengar Purnomo. Sikap jujur dirinya malah membuat Purnomo bak ancaman untuk Jamal.
"Berikan ini pada teman kamu!" Sebuah bungkus plastik diserahkan pada Jamal.
"Apa ini, Bos?" tanya Jamal.
"Sambal. Ajak saja Purnomo makan bersama. Kamu bujuk dia sekali lagi. Sambal itu susah saya dapatkan. Nikmatilah berdua sambil makan siang." Anton melirik Jamal yang terlihat curiga.
"Bu-bukan, Bos. Percaya. I-iya, akan saya berikan." Jamal mengambil plastik hitam dan membawanya pulang.
Keesokan harinya di sawah, Jamal mengajak Purnomo makan. Purnomo menolak karena sibuk membajak sawah. Jamal tak putus semangat. Ia menunggu Purnomo selesai bekerja dan terpaksa mengiyakan ajakan Jamal.
"Mau sambal tidak Pur?" tanya Jamal. Mereka makan di belakang pohon. Purnomo nampak bersandar di pohon yang rindang tersebut.
"Istrimu masak, Mal?" tanya Purnomo. Dilihatnya lauk yang ia makan. Tak ada pedas-pedasnya karena bekal yang ia makan seharusnya untuk sarapan. Hanya telur ceplok dan nasi. Terbayang enaknya makan jika ditambah sambal.
"Dikasih teman. Katanya enak, mau?" Jamal mengulurkan sambal yang terlihat menggiurkan di mata Purnomo.
"Boleh deh." Purnomo mengambil sambal dan menuangkannya di atas nasi. Ia berbagi dengan Jamal karena cabe sedang mahal jadi tidak enak kalau mengambilnya banyak. "Enak, Mal. Ada ikan terinya."
"Iya." Jamal merasakan perutnya melilit. "Pur, gue mau buang air dulu ya! Mules banget."
"Gimana sih kamu, Mal? Ngajak makan bareng tapi aku ditinggal!" Purnomo makan dengan lahap sambal sedikit yang terasa lezat dimakan dengan telor ceplok miliknya.
"Enggak tahan, Pur." Jamal berlari meninggalkan Purnomo, menuntaskan hajatnya.
Setelah selesai, Jamal kembali ke tempat mereka hendak makan bersama. Dilihatnya Purnomo bersandar di pohon. "Enak enggak Pur sambel-"
Jamal tak meneruskan perkataannya. Ia melihat mulut Purnomo mengeluarkan busa dan nampak kejang-kejang. Ia ingin memeriksa keadaan Purnomo namun suara Mawar yang memanggil nama suaminya membuat Jamal cepat-cepat membereskan bekal miliknya dan pergi bersembunyi.
Dengan jantung yang berdebar kencang, Jamal menyembunyikan bekal makanannya di bawah. Ia memperhatikan Mawar yang mendekat ke arah Purnomo. Sesekali Jamal mengusap keringatnya yang membasahi kening. Ia takut. Takut Purnomo mati. Jamal tak tahu apa yang menyebabkan Purnomo mati. Jelas ia yang akan disalahkan karena terakhir bersama Purnomo.
Seekor kucing mendekat dan memakan sambal teri di tempat makan Jamal. Jamal ingin mengusir kucing tersebut namun takut ketahuan sedang mengintip Mawar yang mencari suaminya.
Jamal melihat ada yang aneh dengan kucing yang memakan bekal miliknya. Kucing tersebut seperti tercekik dan tak lama kejang lalu keluar busa dari mulutnya. Mata Jamal membulat tak percaya. Jadi sambal yang diberikan untuknya adalah racun yang bisa membunuhnya juga.
Tubuh Jamal semakin gemetar. Suara teriakan Mawar yang menemukan Purnomo tak bernyawa melengking kencang. Banyak petani berdatangan. Jamal memutar otak. Bisa saja nanti ia akan dibunuh juga macam Purnomo.
Jamal menghubungi Anton dan menceritakan apa yang terjadi. "Kalau kamu tak mau nyawa kamu seperti Purnomo, lakukan yang aku suruh!"
Jamal mendengar perintah dari Anton. Menyimpan ponsel miliknya di saku dan membiarkan Anton mendengar semuanya. Jamal pun memberanikan diri mendekat dan melihat Mawar menangisi kepergian suaminya. Petani di sekitarnya terlihat bingung sambil berbisik-bisik.
Bak maling teriak maling, Jamal pun menunjuk ke arah Mawar sambil berteriak. "Pembunuh! Dia pembunuh! Suaminya sendiri dibunuh"
Mawar terkejut dan mengelak. "Bukan! Saya bukan pembunuh!"
"PEMBUNUH! WANITA IBLIS! PEMBUNUH!" Jamal terus berteriak, membuat petani yang lain mengikuti apa yang ia lakukan.
Ponsel Jamal berdering, ia menjauhi kerumunan dan mengangkat ponselnya. "Bagus. Sekarang hubungi polisi dan teruslah bersikap tak bersalah maka kamu akan dibiarkan hidup!"
Flashback off
****