Janda Bohay

Janda Bohay
Thinwall


"DJIWA!" Papa Djiwa terlihat emosi melihat anaknya yang santai saja menanggapi masalah serius di depan mata.


"Kenapa, Pa? Ada apa sih? Enggak usah heboh begitu deh, enggak ada apa-apa yang terjadi. Melati saja yang terlalu berlebihan. Kayaknya dia ngebet banget kawin sampai bikin skenario kayak gitu." Djiwa menyilangkan kedua kakinya dan tetap santai menghadapi keadaan di depannya.


"Melati, kalau memang Djiwa melakukan hal yang kurang ajar sama kamu, biar Om yang beri dia pelajaran!" bujuk Papa.


Melati menganggukkan kepalanya dengan lemah. Ia masih menangis dan memeluk Mamanya dengan erat.


"Kita bicarakan dulu dengan tenang. Ayo Melati. Kita duduk dulu!" Papa Melati mengajak semuanya duduk. Djiwa masih saja santai menghadapi akting Melati yang tak ada apa-apanya dibanding kemampuan akting yang ia miliki.


"Melati, apa benar Djiwa memaksamu?" tanya Papa Djiwa. Melati menjawabnya dengan anggukan.


Djiwa tersenyum mendengarnya. "Kurang jago akting lo, Mel!" celetuknya. Ia kini mengambil kacang pistacio dan membuka kulitnya lalu memakan dengan santai, layaknya sedang menonton pertandingan bola.


"Aku sudah bilang tak mau, tapi Djiwa malah memaksa dan akhirnya ... akhirnya kami ... huaaa ...." Melati kembali menangis tapi Djiwa malah tertawa kencang.


"Enggak kebalik Neng? Siapa yang udah maksa duluan tau-tau sudah buka celana gue? Mohon maaf nih, gue juga pilih-pilih kali siapa aja cewek yang mau gue tidurin!" kata Djiwa semakin pedas.


Papa Melati menatap tajam pada Djiwa. "Cukup! Jangan kamu hina putri saya seperti itu!"


"Tenang dulu, Pak. Anak saya kalau berbicara memang suka seenaknya." Papa Djiwa berusaha menenangkan keadaan.


"Ya tapi tidak sampai menghina putri saya segala dong! Saya akan laporkan kasus ini ke polisi!" ancam Papa Melati.


"Lapor saja. Tak masalah." Djiwa malah menantang balik. "Kalau kasus pemerkosaan, akan dilihat apakah ada cairan milik saya di sana. Apakah ada? Yakin? Justru saya akan laporkan balik putri Bapak yang sudah memaksa saya. Masih ada loh bekas saliva putri Bapak di pistol sakti punya saya."


Papa Melati kini terdiam. Ia menatap tajam pada putrinya yang tak lagi menangis melainkan menunduk takut. "Apa benar itu Melati?"


Melati awalnya hanya diam, tak berani menjawab. Ia takut Papanya semakin marah. Akhirnya sebuah anggukan lemah dari kepalanya membuat Djiwa tersenyum penuh kemenangan.


"Lihat bukan? Bukan saya yang memperkosa, tapi putri anda yang memaksa saya. Lihat saja di CCTV siapa yang mengajak saya masuk ke dalam kamar. Saya tidak mau masih ditarik paksa dan langsung dicium. Saya tolak eh dia sudah membuka celana saya dan meng-" Djiwa belum selesai dengan ceritanya sudah Papanya potong. Papa Djiwa tak mau anaknya mempermalukan calon tunangannya lebih jauh lagi.


"Cukup, Djiwa!" kata Papa Djiwa. Kini tak ada kemarahan seperti tadi. Papa Djiwa lega anaknya tak melakukan seperti yang dituduhkan.


Djiwa menutup mulutnya rapat. Ia biarkan Papanya bicara namun jika tidak sesuai dengan apa yang Djiwa mau, maka ia akan protes.


"Saya rasa sudah terjadi kesalahpahaman di antara kita. Saya juga yakin keluarga Melati tak mau memperpanjang urusan ini bukan? Mengenai perjodohan mereka, saya rasa biarkan mereka yang memutuskan. Djiwa dan Melati sudah cukup dewasa untuk menyikapinya. Kami pamit pulang dulu, terima kasih atas jamuannya. Permisi!" Papa Djiwa berdiri dan mengajak keluarganya pulang.


Djiwa juga ikut berdiri. Sebelum pergi, Djiwa mengambil kacang pistacio banyak-banyak untuk dimakan di jalan. Ia menyunggingkan senyum penuh kemenangan di depan Melati yang kini ditatap dengan tatapan penuh emosi oleh kedua orangnya. "Makasih ya Om dan Tante. Kacangnya enak."


Djiwa berjalan keluar dan masih mendengar Melati diomeli habis-habisan oleh kedua orang tuanya. "Bikin malu saja! Jadi anak perempuan itu harus bisa menjaga diri!"


Djiwa tersenyum smirk, untunglah dirinya sudah berubah, tak lagi mudah tergoda seperti dulu semenjak mengenal Mawar. Bagi Djiwa, sekarang Mawar adalah segalanya. Tak ada yang sanggup membuatnya berpaling dari si mantan Janda Bohay tersebut.


"Djiwa, ikut ke rumah Papa dulu sebelum kamu pulang!" perintah Papa.


Rendi sudah siap membukakan pintu untuk Djiwa. "Ren, ada tempat makanan tidak? Wadah apa gitu yang bisa gue pakai."


"Tempat makan? Buat apa Bos?" Rendi mengenakan sabuk pengaman dan mengemudikan mobil keluar dari rumah megah milik Melati.


"Udah cepetan, ada apa enggak?" omel Djiwa.


"Ya enggak ada, Bos! Nanti saja keluar dari komplek gue beliin." Rendi menepati janjinya. Ia membelikan wadah tempat makanan kosong dan memberikannya pada Djiwa. Ia sendiri penasaran apa yang akan dilakukan oleh bosnya.


Djiwa mengeluarkan kacang pistacio dari saku kiri dan memasukkan ke dalam wadah. Selanjutnya dari saku kanan ada aneka cokelat mahal dan di saku atas ada permen. Rendi terpukau sampai mulutnya terbuka.


"Astaghfirullah! Habis ngerampok lo, Wa?" tanya Rendi. Lupa tidak memanggil Djiwa dengan sebutan Bos.


"Iya. Di rumah Melati disuguhin kayak begini. Enak. Daripada mubazir, gue bawa pulang aja buat Mawar." Djiwa sibuk menutup wadah thinwall sementara Rendi geleng-geleng kepala melihat kelakuan bosnya.


"Memang enggak bisa beli, Wa? Lo tinggal pesen aja bisa gue beliin!" protes Rendi.


"Bisa sih. Gue mau jadi kayak ibu-ibu kondangan. Bawa bekel buat keluarga di rumah. Pasti bini gue senang deh gue bawain kayak begini." Djiwa senyum-senyum sambil mengangkat thinwall yang penuh dengan cemilan.


Rendi menghela nafas dan melanjutkan kembali perjalanan mereka. Ulah bosnya memang semakin ajaib saja semenjak mengenal Mawar. Rendi memasukkan mobil Djiwa ke parkiran mobil dan membukakan pintu untuk bosnya.


"Nitip. Awas ya kalo lo makan!" ancam Djiwa


Djiwa masuk ke dalam rumah megah miliknya. Di ruang keluarga, nampak Papa dan Mama sudah menunggu kedatangannya untuk mengajak berbicara.


"Sebentar, Pa. Aku mau ke toilet dulu. Mau cuci senjata habis diemyut sama Melati." Djiwa meninggalkan kedua orang tuanya yang saling tatap dan geleng-geleng kepala dengan kelakuannya.


Djiwa keluar dari kamar mandi dan siap disidang oleh kedua orang tuanya. "Oke, kalian mau bicara apa?"


Papa Djiwa menghirup udara banyak-banyak dan menghembuskannya. "Mengenai Melati."


"Masih mau jodohin? Enggak kapok?" sela Djiwa sebelum Papa menyelesaikan perkataannya.


"Papa belum selesai bicara!" tegur Papa. "Apa yang Melati lakukan hari ini jujur saja membuat Papa kecewa. Papa tak menyangka dia akan memfitnah kamu dan hampir membawa kasus ini ke polisi."


"Papa baru tahu? Itulah kenapa hubungan aku dan Melati kandas beberapa tahun lalu." Djiwa menatap Papanya dengan lekat. Wajahnya kini berubah serius. "Djiwa sudah besar sekarang, Pa. Tolong lupakan niat Papa menjodohkan Djiwa lagi. Untung saja Djiwa kuat iman, kalau tidak bagaimana? Apa Papa dan Mama mau memiliki menantu seperti Melati? Orang yang mau melakukan apa saja demi mendapatkan keinginannya?"


"Tapi-" Mama hendak memotong ucapan Djiwa namun Djiwa tak membiarkannya.


"Aku sudah memiliki wanita yang aku cintai. Tolong, jangan atur lagi perjodohan untukku." Djiwa berdiri dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya dengan rasa penasaran.


****