Janda Bohay

Janda Bohay
Penyelidikan Pak Prabu


Pak Prabu Wisesa tak pernah menyangka kunjungan orang yang semula akan menjadi calon besannya punya tujuan lain. Berita yang disampaikan bahkan membuatnya kembali mengulangi pertanyaan hanya agar dirinya bisa menerima informasi yang diberikan tersebut.


"Apa? Menantu saya mantan narapidana? Mantan pembunuh? Maksud Bapak apa? Bapak pasti salah. Tak mungkin, Djiwa itu belum menikah! Berita apalagi ini? Bapak mau memfitnah anak saya? Anak saya nggak bakalan seperti itu! Tak mungkin Djiwa menyembunyikan pernikahannya dari orang tuanya sendiri!" Wajah Pak Prabu Wisesa terlihat sangat marah dan memerah. Ia tak terima anaknya dikatakan sudah menipu dirinya habis-habisan.


Pak Surya tersenyum mengejek. "Bapak tak percaya dengan omongan saya? Oke, tidak apa-apa. Bapak tanya langsung saja dengan anak Bapak yang hebat itu. Siapa wanita yang bernama Mawar? Kalau Bapak tidak percaya, Bapak bisa datang ke Warung Janda Bohay. Silakan cari di Map, hanya ada satu Warung Janda Bohay di dunia ini. Bapak bisa lihat sendiri siapa wanita yang pada akhirnya berhasil menaklukkan hati putra hebat Bapak. Sayangnya, wanita tersebut bukan wanita yang sesuai dengan kriteria Bapak selama ini, miris sekali ya,"


"Saya jadi kasihan, Bapak selama ini sering menjodohkan Djiwa dengan berbagai putri pengusaha terkenal karena dianggap begitu hebat. Anak saya saja sampai harus membuktikan dirinya mati-matian agar bisa diterima oleh keluarga Bapak. Namun ternyata, putra Bapak yang hebat itu lebih suka gadis kampung yang statusnya hanyalah seorang janda, pernah mendekam di penjara lagi karena membunuh suaminya sendiri. Memang ya Pak, kucing itu sukanya ikan asin. Sudah dikasih ikan salmon macam anak saya yang berpendidikan dan hebat, kok malah memilih ikan asin. Berarti memang selera anak Bapak saja yang rendah,"


"Lihatlah ulah perempuan barbar yang jadi menantu Bapak itu. Ia sudah membuat anak saya jadi babak belur seperti ini! Pasti didikan dari dalam penjara yang membuat dia jago berkelahi seperti ini bukan? Wah, apa kata rekan-rekan bisnis yang lain ya jika tahu kalau anak Bapak yang hebat itu menikah dengan seorang janda dan juga mantan narapidana? Pasti akan terjadi kegemparan di dunia bisnis!" Papa Melati tersenyum senang melihat ekspresi wajah Papanya Djiwa yang makin marah.


Pak Prabu Wisesa tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia mengangkat telepon di sampingnya dan meminta asisten pribadi untuk datang.


Merasa tujuan yang sudah tercapai, Pak Surya dan keluarga pun pamit pulang diiringi dengan senyum puas di wajahnya. "Tawaran saya masih berlaku loh, Pak. Melati adalah menantu idaman semua pengusaha. Anda pasti akan rugi karena memilih wanita kampung itu dibanding anak saya. Permisi."


***


Pak Prabu Wisesa mengepalkan tangannya dengan kesal. Beberapa kali ia memukul meja kerjanya. Djiwa benar-benar sudah membuatnya naik pitam. Berani sekali Djiwa menikahi wanita yang bukan termasuk kriteria keluarganya?


"Apa hasil penyelidikanmu?" tanya Pak Prabu Wisesa pada asisten pribadinya. Hari sudah sangat malam, ia rela menunggu di kantor hanya demi mengetahui informasi yang diberikan langsung oleh asisten pribadinya.


"Dari hasil penyelidikan, ternyata Pak Djiwa dan Mawar memang sudah menikah secara siri, Pak. Saya juga membawa Rendi yang kebetulan ada di lokasi." Asisten pribadi Pak Prabu Wisesa membuka pintu. Tak lama Rendi masuk ke dalam ruangan sambil menundukkan wajahnya.


Rendi tak menyangka kalau ia akan diciduk oleh asisten pribadi bos besarnya. Ia dipaksa ikut saat Djiwa berada di atas sedang menjelaskan pada Mawar. Ponsel miliknya disita, tak ada cara memberitahu Djiwa apa yang sudah terjadi.


Rendi tetap menundukkan kepalanya. Ia berdiri tak jauh dari tempat Pak Prabu Wisesa duduk dengan penuh amarah.


"Saya tidak menyangka kamu akan bersekongkol dengan anak saya sendiri untuk menikung saya dari belakang. Kalau bukan karena kamu anak orang kepercayaan saya, sudah saya pecat kamu!" Pak Prabu langsung menyembur Rendi dengan amarahnya yang ia tahan sejak tadi.


"Maaf, Pak." Rendi menjawab sambil tetap menundukkan wajahnya. Tak berani ia mengangkat wajah kalau bos besar sudah murka.


"Maaf kamu bilang? Bukannya mencegah Djiwa berbuat gila, kamu malah mendukungnya. Kini kamu hanya bilang maaf? Kamu sadar tidak, kata maaf kamu tak akan mengubah fakta kalau Djiwa sudah menikahi seorang janda yang juga mantan narapidana? Kamu secara tidak langsung sudah mendukung Djiwa menaruh kotoran di wajah saya!" bentak Pak Prabu.


Rendi makin merasa bersalah. Ia juga takut dengan nasibnya di masa depan kalau Pak Prabu murka dengannya. Lalu Djiwa bagaimana? Pikiran Rendi kini bercabang. Bagaimana nasib Djiwa dan Mawar kelak?


"Sudah berapa lama mereka menikah?" tanya Pak Prabu setelah diam beberapa saat.


"Sudah dua bulan lebih, Pak," jawab Rendi jujur.


Pak Prabu memejamkan matanya. Tak menyangka sudah dibohongi putranya selama dua bulan lebih. Bisa-bisanya ia tak menaruh curiga sama sekali.


"Kenapa Djiwa mau menikahi janda gatel itu? Apa janda gatel itu memelet anak saya?" tanya Pak Prabu lagi.


Kali ini Rendi menggelengkan kepalanya. "Tidak, Pak. Dji- maksudnya Pak Djiwa menikahi Mawar karena memang mencintai Mawar dengan tulus."


"Cinta? Semua wanita saja dia bilang cinta! Cuih! Playboy tengik sialan itu! Semua pakai cinta. Bisa-bisanya dia jatuh cinta sama janda gatel seperti itu!" Pak Prabu lalu menatap asisten pribadinya. "Mana wajah janda mantan narapidana itu?"


Asisten pribadi Pak Prabu maju dan menunjukkan foto di galeri ponsel milik Rendi. Nampak Djiwa sedang tersenyum di samping wanita yang cantik, jauh lebih cantik dari Melati.


"Pantas anak nakal itu tergoda, ternyata jandanya memang cantik. Bohay pula. Tak perlu susuk untuk bisa memikat anak ileran itu," batin Pak Prabu.


Pak Prabu menggeser foto di ponsel Rendi. Nampak foto-foto pernikahan sangat sederhana yang Djiwa lakukan. Tak ada gedung mewah, hanya di rumah kontrakkan sederhana. Baju pengantin yang dikenakan pun hanya kebaya sederhana. Miris sekali.


"Kenapa Djiwa mau berkorban banyak demi wanita ini? Kenapa juga Djiwa tak menggunakan uang miliknya untuk merayakan pernikahan?" batin Pak Prabu.


Pak Prabu kembali menanyai Rendi. "Kenapa Djiwa menikah secara sederhana begini? Kenapa tidak di hotel?" Pak Prabu merasa sangat penasaran. Ada yang aneh dengan pernikahan anaknya. Djiwa bukan orang yang tak punya uang sama sekali. Apartemen yang ia beli dengan uangnya sendiri saja mewah dan harganya fantastis. Belum koleksi mobil sport miliknya. Rasanya aneh kalau Djiwa hanya menikah di kontrakkan kecil seperti itu.


"Pak Djiwa memang ingin menikah secara sederhana, Pak." Rendi masih menutupi niat awal Djiwa namun Pak Prabu tahu mana yang berbohong dan mana yang jujur.


"Katakan dengan jujur! Jangan bohong kamu!"


Rendi ketahuan sudah berbohong. Hukuman untuknya pasti akan lebih berat lagi. "Pak Djiwa sengaja mau nikah sederhana karena ... Mawar tak tahu identitas sebenarnya Pak Djiwa."


"Apa? Maksud kamu, Djiwa menyembunyikan identitasnya?"


****