Janda Bohay

Janda Bohay
Dukungan dari Orang di Sekitar


"Aku tak tahu bagaimana situasi sebenarnya, yang pasti Mas Djiwa tak akan meninggalkan kamu. Kita doakan saja ya." Lily kembali menghibur Mawar.


Wajah Mawar terlihat pucat. Pasti semua ini membuatnya tertekan. Setelah memaksa makan, Mawar akhirnya mau meski hanya dua suap saja. Lily terus menemani Mawar di ruko. Takut terjadi sesuatu dengan Mawar jika ditinggalkan seorang diri.


Sampai besok pagi Djiwa tak kunjung datang. Mawar semakin mengkhawatirkan keadaan suaminya sampai datanglah seorang pria berbadan besar ke warung milik Mawar.


Pria tersebut adalah salah satu body guard suruhan Djiwa. Ia berpura-pura hendak makan namun tak sengaja melihat wanita yang harus diawasinya terus termenung sedih. Wajah Mawar pucat. Mawar menyandarkan kepalanya di tembok dengan tatapan kosong.


Pria itu mendekati Mawar dan berbicara dengan suaranya yang berat namun volume suara yang dikecilkan. Tak mau ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Maaf Ibu Mawar," panggil body guard yang duduk di depan Mawar.


Mawar menoleh dengan malas. Keningnya berkerut melihat lelaki yang tak dikenalinya. "Siapa ya?"


Body guard itu berkata pelan. "Saya body guard Pak Djiwa."


Mendengar nama suami yang sejak semalam ditunggunya disebut, Mawar duduk tegak. Ia menatap lelaki di depannya dan merasa yakin kalau dari postur tubuhnya memang cocok sebagai body guard.


"Saya ditugaskan menjaga Ibu Mawar oleh Pak Djiwa. Saya mau minta maaf, saat kejadian dengan Ibu Melati waktu itu saya hanya diam saja. Jujur Bu, saya salut sama Ibu yang pemberani dan melawan Bu Melati sampai babak belur begitu. Top!" puji sang body guard.


Mawar tak berkata apa-apa, masih meragukan pria di depannya. Lama tinggal di penjara membuatnya bisa membedakan mana orang baik dan mana orang jahat. Tentu sebagai body guard pernah bekerja dengan orang jahat juga bukan? Karena itu Mawar masih berjaga-jaga.


"Saya sampai bicara kemana-mana. Maaf, Bu. Saya tinggal tak jauh dari ruko ini. Pak Djiwa menyuruh saya mengawasi Ibu dan warung ini. Saya lihat, Ibu terus sedih. Pasti memikirkan Pak Djiwa bukan? Jangan dipikirkan, Bu. Pak Djiwa baik-baik saja." Perkataan body guard itu membuat Mawar mulai tertarik.


"Dimana suami saya? Benar dia baik-baik saja? Kenapa tidak menghubungi saya langsung?" Mawar mencecar pria besar di depannya.


Pria tersebut menaruh jari telunjuknya di depan bibir. Memberi kode pada Mawar untuk menurunkan suaranya. "Saya takut ada orang suruhan pihak lawan yang ada di warung ini. Kita bicara pelan-pelan saja ya, Bu."


Mawar mengangguk. Ia duduk tegak dan siap menerima informasi dari body guard Djiwa tersebut.


"Pak Djiwa memang sengaja menonaktifkan ponselnya. Pak Rendi juga. Mereka sedang mengerjakan suatu pekerjaan penting yang rahasia. Saya tak bisa mengatakan apa tapi semua demi cintanya Pak Djiwa pada Ibu Mawar. Mohon Ibu Mawar mendoakan saja Pak Djiwa ya. Jangan berpikir jelek tentang Bapak. Asal Ibu tahu, Pak Djiwa berhasil membuat Jamal mau mengaku tanpa menggunakan siksaan. Malah Pak Jamal sekarang jadi rajin sholat taubat karena menyadari kesalahannya."


Mendengar nama Jamal disebut, Mawar kini yakin 100 persen kalau memang benar lelaki di depannya adalah body guard sang suami. Ia menghela nafas lega mendengar apa yang dikatakan body guard tersebut. Suaminya tidak pergi meninggalkannya, suaminya malah melakukan sesuatu untuk dirinya.


Senyum di wajah Mawar kembali mengembang. Semangatnya kembali tumbuh. Ia mau berjuang bersama Djiwa yang kini entah berada dimana.


"Terima kasih, Pak, atas informasinya. Jujur saya hampir putus asa dan berpikiran buruk tentang suami saya. Untung Bapak menjelaskan, jika tidak pasti saya sudah berpikir yang tidak-tidak," ucap Mawar dengan tulus.


"Tak apa, Bu. Ibu tenang saja, saya ada di warung rokok depan ruko. Kalau tidak ada saya, ada rekan saya yang akan menjaga Ibu. Jangan sungkan minta bantuan kami. Oh iya, tetap bersikap tak kenal kami ya, Bu. Jangan sampai keberadaan kami diketahui oleh orang lain," pinta sang body guard.


Body guard itu pun pergi setelah melihat Mawar yang kembali bersemangat.


Mawar tak mau terus bersedih. Ia mengisi perutnya yang kosong dan bersemangat kembali. Ia membuat menu di dapur dan ingin ikut berjuang bersama Djiwa. Ia berkreasi membuat menu baru agar warungnya semakin ramai.


Saat warung ramai, Mawar keluar membawakan sample menu baru yang ia buat dan membagikan pada pengunjung. Ia mencatat masukan dari pengunjung dalam buku kecil. Kebanyakan menyukai makanan buatannya dan berharap ada di menu terbaru.


Mawar tersenyum senang. Ia memang tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa meneruskan apa yang Djiwa rencanakan. Membuat dirinya terlihat pantas, yakni dengan memajukan warung miliknya.


Dua hari Djiwa tak pulang ke rumah. Untaian doa selalu Mawar panjatkan demi keselamatan sang suami tercinta. Ternyata bukan hanya Mawar yang khawatir. Kedua orang tua Djiwa juga.


Sebuah mobil mewah dengan supir dikirim untuk menjemput Mawar. Meski awalnya ragu, namun Mawar berani ikut setelah body guard Djiwa memberi kode kalau akan mengikuti Mawar dari belakang. Kebetulan body guard tersebut sedang makan di warung Mawar.


Mawar ijin mengganti pakaiannya. Mawar juga meminta Lily membuatkan ayam geprek untuk ia bawa. Mawar mengenakan pakaian yang sopan dan rapi. Baju yang Djiwa belikan sepulangnya dari Lampung dulu. Mawar kini tahu kalau baju yang dikenakannya pasti mahal, pantas bahannya bagus dan lembut.


Dengan mengenakan make up simple dan dandanan yang sederhana, Mawar terlihat makin cantik dan anggun. Para fans Mawar yang kebetulan sedang makan di warungnya sampai terpukau dengan kecantikan alami Mawar.


"Cantik kali kau, Mawar," puji pemuda berkulit hitam.


"Betul. Tak kalah cantik kamu dari Nurul Arifin waktu muda dulu," tambah bapak-bapak berkoyo.


"Iya. Macam adik kakak saja kamu dengan Eva Arnas." Bapak-bapak berambut klimis tak mau kalah.


Mawar tersenyum senang dengan pujian para fans setianya. "Makasih pujiannya bapak-bapak. Doakan saya ya. Saya mau ketemu sama ibu mertua."


"Ibu mertua? Ibunya si asuransi jiwa itu?" tanya pemuda berkulit hitam.


Mawar menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"Wah pantas kamu cantik sekali. Saya doakan kamu akur sama mertua. Yang baik dan hormat ya sama mertua. Anggap beliau sebagai orang tua kamu juga. Coba kamu mau jadi istri saya, pasti tak repot begini. Orang tua saya sudah meninggal, tak perlu kamu takut berhadapan dengan mertua," goda bapak-bapak berkoyo.


"Ih aki-aki masih sempat usaha aja. Sudah berangkat saja Mawar. Kami selalu mendoakanmu!" kata pemuda berkulit hitam.


Mawar lalu pamit. Ia pergi dengan membawa ayam geprek sebagai oleh-oleh. Dengan menaiki mobil mewah, Mawar pun diantar ke sebuah rumah besar dan megah yang tak pernah ia masuki sebelumnya. Rumah yang selama ini ia pikir hanya ada dalam cerita dongeng ternyata memang benar adanya dan itu rumah tempat suaminya dibesarkan.


"Bismillahirrahmanirrahim!" Mawar turun dari mobil dan berjalan menuju rumah Djiwa.


****