Janda Bohay

Janda Bohay
Bola Panas


Bola panas yang dilempar Djiwa semakin membuat keluarga Melati kepanasan. "Ingat, jangan sampai bola panas ini berbalik ke kita!" Djiwa selalu mengingatkan pada anak buahnya untuk selalu berhati-hati.


Pencarian terhadap Djiwa terus dilakukan. Anton dan anak buahnya kini semakin ditekan untuk menemukan Djiwa. Warung Mawar juga tak luput dari pengawasan.


Penjagaan yang Djiwa berikan pada Mawar, ditambah bantuan Papanya membuat Mawar berada di tempat yang aman. Ya, Mawar untuk sementara tinggal di rumah keluarga Djiwa.


Warung Janda Bohay tetap buka seperti biasa. Mawar membuat bumbu utama dari rumah orang tua Djiwa, selanjutnya Ibu Sari yang bertugas melanjutkan di warung. Keadaan semakin memanas, Pak Prabu tak mau keselamatan Mawar dan cucu dalam kandungannya terancam.


Pemberitaan media massa tentang beras yang dioplos membuat BELOG melakukan sidak. Sejumlah barang bukti ditemukan. Beras produksi perusahaan keluarga Melati banyak yang ditarik di pasaran. Konsumen sudah banyak yang kecewa karena kualitas beras tak lagi seperti 5 tahun lalu.


Hasil sidak yang dilakukan oleh BELOG di sejumlah pasar beras menemukan hampir seluruh beras produksi salah satu perusahaan terkenal terdapat campuran antara beras kualitas bagus dengan yang jelek. Konsumen yang semakin pintar sekarang mulai mengkonsumsi produk lain yang kualitasnya lebih baik meski harganya sedikit lebih mahal.


Djiwa tersenyum puas. Melihat berita di TV. Djiwa menduga sebentar lagi pihak keluarga Melati akan playing fictim, membuat semua itu seakan fitnah semata.


"Ren, amankan stok beras dari petani! Mereka akan produksi ulang sebelum keadaan makin runyam. Siapkan para jawara dan body guard. Kita sambut kedatangan Anton and the gank!" perintah Djiwa.


"Siap, Bos!"


Berita viral tentang beras yang dioplos jangan sampai tertutup berita lain. Untuk itu Djiwa meminta Rendi terus membuat konten di aplikasi Itok Itok tentang beras perusahaan Melati.


Konten yang dibuat semakin beragam. Para selebgram dengan suka hati membuat konten yang menyindir perusahaan Melati. Hal ini membuat perusahaan Melati terpaksa menarik semua barang produksinya dari pasar.


"Dengan ada berita di masyarakat tentang kualitas beras yang tidak sesuai standar, maka seluruh produk beras milik perusahaan kami akan kami tarik untuk pemeriksaan quality control berikutnya. Kami harapkan kepercayaan masyarakat terhadap kami akan tetap terjaga." Papa Melati sebagai pemilik perusahaan akhirnya mengadakan konfrensi pers di depan wartawan. Hal ini ia lakukan karena kantornya yang kerap ditongkrongi wartawan yang haus akan berita yang sedang viral.


Tangan Papa Melati mengepal menahan kekesalannya. Ia kembali ke ruangannya dan memuntahkan semua amarahnya pada Melati dan Anton yang sedang berada di ruangannya.


"Semua ini karena kerja kalian yang tidak becus!" maki Papa Melati.


Papa Melati menatap tajam ke arah Anton, dilemparkannya papan nama kayu miliknya ke arah Anton dengan kencang hingga mengenai sedikit pelipisnya.


Brakk!


Anton menunduk pasrah. Siap dimaki dan dihukum oleh atasannya. "Maafkan saya, Bos!"


"Maaf kamu bilang? Kerja apa kamu selama ini? Menangkap Djiwa saja susah, malah kembali tanpa membawa apa-apa. Percuma saya mengeluarkan banyak uang untuk kamu, lebih baik saya menyewa pembunuh bayaran saja daripada preman pasar macam kamu yang kerjaannya seperti orang kampung! Kemana kemampuan kamu membunuh orang? Dulu kamu mampu menghabisi Purnomo bahkan kamu membuat fitnah bahwa istrinya yang telah membunuh Purnomo. Sekarang mana hasil kerja kamu? Mencari seorang Angkasa Djiwa saja kamu tidak becus. Lihat apa yang sudah kamu timbulkan ke saya? Karena kamu, Djiwa menyerang balik saya dan membuat perusahaan saya jadi hancur seperti ini!" maki Papa Melati.


Anton hanya menunduk dan terdiam. Tak bisa menyanggah atasannya yang teramat murka.


"Produksi ulang? Kita beli lagi gitu?" tanya Papa Melati. Sebenarnya Papa Melati malah berniat mengganti merk dibanding produksi ulang.


"Iya. Aku lebih setuju kalau kita produksi ulang. Kita beli dari petani di kampung hanya beras kualitas bagus. Tak apa harga kita naikkan sedikit asal kita beli dari petani yang kualitas bagus saja. Kalau aku hitung-hitung, kita masih untung kok," jawab Melati.


Merasa ide anaknya lebih cemerlang dibanding ide yang ditawarkan oleh para karyawannya yang lain, Papa Melati pun menyetujui usul yang diberikan oleh Melati. Rapat darurat pun diadakan dan keputusan rapat adalah akan dibuat tim untuk membeli beras kualitas bagus ke kampung secepatnya.


Anton masuk bersama tim yang ditugaskan ke kampung Mawar. Melati bertugas mencari keberadaan Djiwa.


Hasil pencarian yang dilakukan Melati tentu sia-sia belaka. Ia yang berniat mencari informasi dari Mawar malah harus kembali dengan tangan kosong. Mawar tak ada di warung miliknya. Beberapa hari Melati memantau warung milik Mawar namun pemiliknya tak kunjung datang.


Melati juga menyuruh orang mengawasi apartemen Djiwa, hasilnya nihil. Djiwa tak pernah pulang ke apartemennya. Melati pun mencari di kediaman kedua orang tua Djiwa. Betapa kecewanya hati Melati, bukan Djiwa yang ia temui tapi malah Mawar yang sedang asyik berjemur di taman depan bersama Ibu Mina. Keduanya asyik mengobrol dengan akrab layaknya dua sahabat lama.


Kedatangan Melati tentu saja disambut dingin oleh Ibu Mina. Ia bahkan tak dibukakan pintu gerbang dan mendapat ucapan ketus dari ibu mantan kekasihnya tersebut.


"Mau ngapain kamu datang ke sini? Mau mengganggu Mawar lagi? Atau mau berakting pura-pura didzholimi lagi? Sudahlah, lebih baik kamu pulang. Tak ada yang akan percaya sama perempuan macam kamu!" kata Ibu Mina dengan pedas tanpa ampun.


"Tante, aku mau minta maaf atas kejadian waktu itu. Aku menyesal. Aku tak ada niat jahat sama sekali, malah aku ke sini mau mencari Djiwa. Aku mau menawarkan kerjasama yang menguntungkan buat kedua perusahaan kita," bujuk Melati.


"Minta maaf apa kayak begitu. Ada maunya saja baru minta maaf. Djiwa tak akan mau menemui kamu! Pergi saja sana! Jangan ganggu keluarga saya lagi!" usir Ibu Mina.


"Tapi Tante-"


Ibu Mina tak lagi mendengarkan ucapan Melati. Ia menggandeng tangan Mawar dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Nampaknya Djiwa berhasil membuat kegaduhan di keluarga Melati. Anak sombong itu saja sampai turun tangan sendiri untuk bertemu Djiwa. Pasti dia mau meminta Djiwa menghentikan perbuatannya," gerutu Ibu Mina setelah mereka masuk ke dalam rumah.


"Memang apa yang Mas Djiwa sudah lakukan, Bu? Kayaknya Mas Djiwa tak pernah memberi kabar deh," tanya Mawar dengan polosnya.


"Ya ampun Mawar, kamu tak tahu apa yang sudah suami kamu lakukan?" tanya Ibu Mina dengan heran. Ibu Mina menatap Mawar dengan tatapan tak percaya.


Dengan polosnya Mawar menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu, Bu. Memang Mas Djiwa melakukan apa?"


Ibu Mina menghela nafas dalam. "Sekarang aku tahu kenapa Djiwa dan Papa tak pernah berpikir kamu adalah seorang pembunuh. Mawar ... Mawar ... kamu lugu atau bodoh sih?" batin Ibu Mina.


****