
"Sudah Ly, terima saja Mas Rendi. Biar kamu cepat nikah!" Mawar ikut mengompori Lily agar menerima cinta Rendi.
"Iya. Kalian bisa mesra-mesraan kayak kita berdua juga loh." Djiwa langsung mendapat tatapan tajam dari Mawar.
"Enggak boleh mesra-mesraan sebelum menikah!" omel Mawar.
"Iya, Sayang. Maksudnya mereka harus menikah dulu. Nanti mereka mesra-mesraannya setelah menikah seperti kita." Djiwa lalu menyadari sesuatu dari tatapan Rendi yang menyuruhnya tutup mulut dan jangan bahas pernikahan.
"Oh iya ya, kalau nikah dan orang tua Rendi datang bisa mati aku sama Mawar. Pasti dia akan tahu kalau orang tuaku adalah orang tua kandung Rendi dan penyamaranku akan terbuka segera!" batin Djiwa.
"Pacaran saja dulu!" Djiwa meralat perkataannya. "Saling mengenal dulu. Jangan terburu-buru, oke?"
Rendi menghela nafas lega. Ia juga tak mau menikah dalam waktu dekat. Ia mau mengenal Lily dulu sebelum memutuskan ke tahap yang lebih lanjut.
"Bagaimana Ly? Kamu mau nerima cinta aku?" tanya Rendi sekali lagi. "Kita bisa saling mengenal dulu, Ly. Kamu mau?"
Ketiga orang di depan Lily kini menatapnya dengan lekat tanpa berkedip. Mereka penasaran menunggu jawaban Lily. Dengan malu-malu Lily menganggukkan kepalanya. Suaranya yang kecil pun terdengar tak lama kemudian. "Iya, aku mau."
"Alhamdulillah!" jawab ketiganya kompak.
"Cie ... jadian ... cie ...." goda Djiwa.
"Semoga kalian langgeng ya sampai ke jenjang pernikahan," doa tulus Mawar.
"Aamiin!"
****
Brakkk!
Melati menggebrak meja dengan kencang saat melihat foto-foto saat Djiwa sedang merangkulkan lengannya di bahu seorang wanita yang tidak dikenal.
"Siapa dia?" tanya Melati pada orang yang ia suruh membuntuti Djiwa.
"Dia adalah karyawan Warung Janda Bohay yang terkenal belum lama buka usaha di ruko, Bos. Saya belum dapat informasi selain usaha mereka yang ramai sejak pertama buka. Ruko sebelahnya kosong, saya tidak bisa bertanya pada banyak orang." Lapor orang suruhan Melati.
"Membuka usaha? Sejak kapan Angkasa Djiwa turun tangan sendiri membuka usaha receh macam ini? Apa tadi namanya? Warung Janda Bohay? Cih! Nama macam apa itu!" oceh Melati panjang lebar.
"Berikan alamatnya! Biar saya sendiri yang kesana!"
Melati benar-benar kesal mendapati beberapa foto Djiwa yang tertawa bahagia. Setelah mempermalukannya di depan semua orang kemarin, Melati bukannya kapok mendekati Djiwa malah semakin penasaran.
Hanya Djiwa yang selama ini membekas di hati Melati. Kenangan indah mereka berdua tak bisa semudah itu ia hilangkan. Melati sadar kalau penghianatannya dulu sudah membuat Djiwa terluka. Ia mau menyembuhkan luka hati Djiwa dan menawarkan hubungan serius. Sayang, Djiwa sudah menutup hatinya kini.
Keesokan harinya saat Djiwa sedang pergi meeting di kantor, Melati datang. Ia ingin menemui Mawar yang kemarin dilihatnya di foto namun kondisi warung yang ramai membuatnya gagal menemui Mawar akibat antrian yang terlalu panjang.
Melati tak putus asa. Ia kembali datang beberapa hari kemudian. Kali ini ada Djiwa namun sedang di lantai atas ruko, sibuk dengan pekerjaan kantornya. Melati bertemu dengan fans Mawar yang malah menggombalinya dan membuatnya angkat kaki karena kesal.
Dua kali gagal, Melati kembali datang lagi. Kali ini ia datang saat jam kerja. Ia yakin warung yang sepi membuatnya bisa menemui Mawar. Benar saja, warung Mawar sepi.
Djiwa hari ini pamit pada Mawar karena harus datang ke kantor. Djiwa mulai sering meninggalkan Mawar karena tahu bisnis Mawar kini semakin maju dan dua karyawannya bisa menghandle. Apalagi sekarang pembelian bahan baku bisa dilakukan secara online.
Kedatangan Melati disambut hangat layaknya pembeli yang lain. "Selamat datang di Warung Janda Bohay, Kak. Silahkan ini menunya. Kakak bisa panggil saya saat memesan nanti." Lily meletakkan menu di atas meja dan menyapa dengan ramah.
"Djiwa mana?" tanya Melati tanpa basa-basi.
Kening Lily berkerut mendengar nama suami sahabatnya disebut. "Mbak kenal Mas Djiwa?"
"Iya. Dia pacar saya!" kata Melati berbohong. "Mana pacar Djiwa yang ada di warung ini?"
"Pacar? Tidak ada pacar Mas Djiwa. Kami di sini karyawan dan pemilik." Lily sengaja menyembunyikan Mawar. Untung saja sahabatnya sedang di atas. Mawar tadi mengantuk dan ijin tidur sebentar karena warung sedang sepi.
"Oh ya? Ada yang bilang sama saya kalau dia memeluk cewek lain sambil tertawa." Melati mengeluarkan selembar foto dimana Djiwa tertawa sambil merangkul bahu Mawar.
Otak Lily berpikir cepat. "Itu bukan pacarnya, Mbak. Memangnya Mbak beneran pacarnya Mas Djiwa ya? Kok enggak tahu sih kalau Mas Djiwa itu tampan dan banyak yang menyukainya? Wanita di foto itu salah satunya."
Melati menilai kejujuran Lily. Sikap tenang Lily membuat Melati akhirnya yakin kalau Lily berkata jujur.
"Sejak kapan Djiwa membuka warung ini? Kenapa seorang Angkasa Djiwa mau membuka bisnis kelas kecil macam ini?" tanya Melati.
Lily sebenarnya terkejut namun ia pandai menyembunyikan rasa terkejutnya. "Belum lama. Mungkin Mas Djiwa mau belajar bisnis kelas kecil?"
Melati merasa omongan Lily masuk akal. "Kalau begitu, sampaikan saja pada Djiwa kalau Melati datang. Bilang padanya kalau ia harus bertanggung jawab atas yang terjadi malam itu!"
Lily menahan amarahnya. Cewek modis di depannya sangat tidak sopan dan ia juga penasaran dengan hubungan Djiwa dengan cewek modis ini. "Iya."
Melati lalu pergi. Setidaknya kedatangan Melati hari ini tidak sia-sia. Ia tahu kalau Djiwa membuka usaha baru dan wanita yang memeluknya bukanlah siapa-siapa Djiwa.
Lily menatap kepergian Melati dengan perasaan yang campur aduk. Lily merasa sahabatnya dikhianati Djiwa. Ia mau memastikan kebenarannya dahulu sebelum memberitahu Mawar.
Lily pun menghubungi Rendi, kekasih hatinya. Dalam dering kedua, Rendi mengangkat teleponnya sambil setengah berbisik. "Ada apa Sayang? Aku sedang meeting."
"Mas, ada seorang cewek yang datang ke warung. Dia meminta Mas Djiwa bertanggung jawab atas apa yang terjadi di malam itu," lapor Melati.
"Seorang cewek? Siapa?" tanya Rendi.
"Cewek itu berpesan, bilang sama Mas Djiwa kalau Melati datang."
Rendi sangat terkejut dengan informasi yang Lily sampaikan. "Melati?"
"Gila, ternyata wanita sinting itu sudah membuntuti Djiwa tanpa sepengetahuanku! Gawat ini!" batin Rendi.
"Bagaimana dengan Mawar? Apakah Melati berhasil bertemu dengan Mawar?" tanya Rendi.
Kerutan di kening Lily semakin dalam mendengar pertanyaan Rendi. "Kenapa malah menanyakan Mawar? Jadi benar wanita itu memang ada apa-apanya dengan Mas Djiwa?" tanya Lily dengan nada meninggi.
"I-itu ... bukan seperti itu. Melati itu agak gila. Aku hanya takut dia menyakiti Mawar di saat Djiwa tak ada," elak Rendi.
"Kenapa dia harus menyakiti Mawar? Memang apa yang Mas Djiwa lakukan sampai takut Mawar disakiti? Mas, please. Jangan bodohi aku seperti kalian membodohi Mawar. Katakan, apa yang kalian sembunyikan!"
****
Mau dua kali Up hari ini? Yuk vote yang banyak nanti aku Up lagi, oke? Maacih 🥰🥰🥰