
POV Djiwa
Aku dan Rendi bergegas ke tempat dimana Anton disekap oleh kedua bodyguard suruhanku. Selama di jalan, aku dan Rendi menyusun rencana bagaimana membuat Anton mengaku.
Rendi membelokkan mobilku di sebuah rumah yang hanya dijaga oleh seorang security. Aku minta security tersebut merahasiakan apa yang aku lakukan dari Papa. Jangan sampai Papa tahu dan mengacaukan semua rencanaku.
Ruangan tempat Jamal berada sengaja dipisahkan dari Anton. Aku tak mau Jamal yang sudah susah payah kubuat tobat jadi berubah pikiran jika bertemu Anton.
Jamal kini berada di salah satu kamar tamu yang nyaman. Kamar dengan pendingin AC dan kamar mandi di dalam membuat Jamal betah. Apalagi kedua bodyguard-ku memberikannya makanan yang enak setiap hari. Jamal hanya diminta mendengarkan ceramah setiap hari dan rajin sholat serta mengaji.
Awalnya Jamal menolak, namun saat bodyguard-ku memutarkan video tentang anak perempuannya, Jamal jadi terdiam. "Kamu mau anak kamu tahu kalau dia punya bapak yang jahat?" ancam salah seorang bodyguard yang sengaja merekam video dan mengirimkannya padaku. Jamal tak berkutik. Ia memilih taubat dan memohon ampun pada Allah atas segala kesalahannya.
Aku hari ini tak ada rencana menemui Jamal. Aku mau menemui Anton, pembunuh sebenarnya dari Purnomo. Kalau bukan demi Mawar, tak mau aku repot-repot mengusut kematian orang yang tak aku kenal. Biar tugas polisi saja.
Aku harus membersihkan nama Mawar agar Papa dan Mama tak memandang Mawar dengan sebelah mata. Aku harus buktikan kalau Mawar bukan pembunuh Purnomo walau aku tahu jalan yang akan kulalui akan berliku.
"Dimana dia?" tanyaku pada Rendi. Tanpa perlu kusebut nama, Rendi tahu kalau yang aku maksud adalah Anton.
"Di studio musik. Dia masih tak mau mengaku," lapor Rendi.
"Kita lihat saja, mau sampai kapan dia tutup mulut!" Aku mengambil masker yang ada di depan pintu ruang musik. Sengaja kusediakan agar wajahku dan Rendi tak ada yang mengenali.
Aku masuk ke dalam ruang musik yang gelap. Nampak Anton sedang duduk di sebuah kursi dengan wajah babak belur. Pasti dua bodyguard itu pelakunya. Tak sabar rupanya menunggu Anton sadar.
"Siram air!" perintahku.
"Baik, Bos!" Sebuah gayung berisi air diguyurkan ke wajah Anton. Ia nampak gelagapan saat dibangunkan dengan paksa.
Anton awalnya masih bingung namun kini menatapku sambil memicingkan matanya. Salah seorang bodyguard sudah menyalakan lampu remang-remang. Sengaja agar siapapun yang disekap di ruangan ini tak dapat mengenaliku.
"Lepasin gue!" kata Anton.
Aku diam dan tetap berdiri di tempatku sambil melipat kedua tanganku. Kuperhatikan wajah Anton yang tak ubahnya macam preman pasar level atas. Pasti dia punya kuasa sampai susah sekali ditangkap. Licin bak belut.
"Heh, lepasin gue! Kalau anak buah gue berhasil nangkep lo, gue pastiin kalau lo bakal bernasib seperti Purnomo!" ancamnya.
"Oh ya?" Aku tersenyum mendengar ancamannya. Kutarik kursi yang ada di dekat Anton dan duduk dengan santai. "Sebelum lo buat gue kayak Purnomo, gue yang bakal buat lo nemuin Purnomo duluan!" ancamku balik.
Anton tersulut emosinya. Ia berusaha melepaskan ikatannya dan hendak menghajarku. Tentu saja bodyguard-ku tak tinggal diam. Dijambaknya rambut Anton dan suara ancamannya mampu membuat bulu kuduk merinding. "Yang sopan kalau ngomong, mau gue buat lidah lo tinggal kenangan saja?"
Aku mengangkat tanganku, memberi kode kalau bodyguard-ku itu harus mengontrol emosinya. Aku akan melakukan negosiasi pada Anton. Cara membuat Anton tobat nampaknya tak akan berhasil. Anton bukan Jamal, seperti kata Rendi, Anton adalah pembunuh sebenarnya.
"Gue ke sini bukan mau mengancam lo. Gue hanya mau kita kerja sama," kataku dengan tenang. "Gue akan bayar lo mahal kalau lo mau buka mulut siapa yang menyuruh lo melakukan semua ini?"
"Ya buat hidup lo selama di penjara. Lo memang bodoh. Di penjara juga butuh duit keles. Daripada lo di penjara enggak punya duit, lebih baik lo punya duit, bisa beli rokok sama nasi bungkus," jawabku dengan nada mengejek.
Anton terdiam. "Tetap saja gue enggak akan masuk penjara. Memang lo ada bukti kalau gue melakukan tindakan yang melanggar hukum? Tidak ada bukan?" Anton merasa di atas angin sekarang.
Sial!
Aku harus tenang dan tak boleh sampai kalah dengan ancamannya. "Bukti itu bisa dibuat. Lo jangan pikirin gue. Pikirkan saja diri lo sendiri. Bisa tidak lo keluar dari ruangan ini hidup-hidup?"
Anton tersenyum penuh maksud. "Tentu bisa Bapak Angkasa Djiwa."
Aku terkejut saat dia mengetahui siapa diriku. Bagaimana mungkin dia tahu identitasku? Aku menatap kedua bodyguard dan Rendi, keduanya menggelengkan kepala yang artinya mereka tak pernah mengungkap identitasku pada siapapun.
"Kenapa? Bapak penasaran bagaimana saya tahu siapa Anda? Mudah saja, wajah Anda lumayan terkenal. Saat Anda menangkap Jamal, saya berhasil lolos. Saya mendengar nama Anda disebut oleh polisi yang bertugas. Saya bahkan tahu dimana ... Mawar tinggal." Anton kembali tertawa penuh kemenangan.
Rasa amarah melingkupiku. Aku berdiri dan melayangkan tinjuku pada wajah Anton sampai kursi yang didudukinya terjatuh. Saat aku ingin menendangnya, Rendi menahanku. "Wa, tenang, Wa! Dia mau memancing emosi lo!"
Nafasku sudah memburu, mendengar ia menyebut nama Mawar emosiku memuncak. Aku bahkan ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri.
Sekuat mungkin aku menahan emosiku. Benar yang Rendi katakan, Anton berusaha memainkan emosiku. Anton kembali menyulut emosiku. "Kenapa? Masih butuh gue dalam keadaan hidup?"
Rendi masih menahanku yang ingin menghajarnya lagi. Mendengar tawa Anton membuatku muak.
"Menurut kalian, semudah itu menangkap seorang Anton? Sudah beberapa jam kalian menyekap gue di ruangan ini. Tak lama lagi, anak buah gue yang sejak tadi membuntuti Anda akan datang. Sudah siap dengan paket yang segera datang?" ancam Anton.
Kedua bodyguard-ku saling pandang dan bertindak cepat. Keduanya berlari ke depan mengamankan lokasi. Aku dan Rendi juga bersiap siaga.
Rendi pergi ke luar dan memeriksa keadaan. Aku menunggu di dalam bersama Anton yang mengoceh bak tukang paket. "Permisi, paket. COD nih. Siapin uang pas ya!"
Aku hendak menghajarnya namun Rendi masuk dengan terburu-buru. "Gawat, Wa. Banyak anak buah Anton di luar komplek!"
Anton kembali tertawa. "Selamat menikmati. Mari kita mati bersama-sama. Oh iya, Mawar bagaimana ya?"
"Wa, kita harus tinggalkan rumah ini secepatnya!" Rendi menarikku untuk meninggalkan Anton demi keselamatanku.
Tak lupa Rendi membuka pintu kamar Jamal dan mengajaknya kabur bersama kami. "Cepat keluar kalau lo mau selamat!"
****
Mohon maaf kalau ceritanya loncat dikarenakan perbedaan waktu antara Djiwa dan Mawar. Inilah alasan Djiwa menghilang tanpa kabar. Baca terus kisah Mawar dan Djiwa ya 🥰