Janda Bohay

Janda Bohay
Hukuman Untuk Keluarga Melati


"Baby, jangan berburuk sangka dulu ah!" tegur Zaky pada istrinya dengan lembut. "Djiwa pasti punya alasan sendiri kenapa belum mengumumkan pernikahannya ke publik."


"Maaf, Mas." Carmen cepat-cepat memperbaiki kesalahannya.


"Tak apa, santai saja. Benar yang suami kamu katakan. Kami memang punya alasan sendiri kenapa sampai sekarang belum mengumumkan pernikahan kami ke publik. Salah satunya karena masalah yang terjadi sebelumnya. Aku harus menyelesaikannya dahulu dan ternyata memakan waktu sampai berbulan-bulan. Aku saja kaget pas pulang ternyata istriku hamil." Djiwa menjelaskan dengan tenang. Ia memang sudah terbiasa menghadapi banyak orang dengan beragam karakter. Ini salah satu yang Mawar sukai dari suaminya.


"Oh ... masalah swasembada beras itu ya? Aku juga mau cerita sama kamu, Wa. Aku hampir saja bergabung dan ikut penawaran yang Melati tawarkan. Tiba-tiba saja dia mendekatiku setelah acara tender salah satu perusahaan besar. Aku agak risih saja. Bagaimanapun aku ini pria beristri, didekati wanita lain tentu aku harus menjaga perasaan istriku dong? Aku menghindar. Berkat itu pula aku terlindungi dari bisnis sesat itu. Aku dengar banyak yang join juga loh. Entah bagaimana dengan modal yang mereka tanamkan," cerita Zaky.


"Wah keren kamu, Ky. Karena menghargai perasaan istri, kamu jadi terlindung dari masalah di kemudian hari. Memang ya, doa istri itu pasti didengar Allah. Semua yang istri lakukan pasti demi kebaikan suami, karena itu aku selalu menghormati dan menghargai istriku. Dia-lah wanita baik dan penyabar yang bisa membawaku ke jalan yang lebih baik lagi." Djiwa tersenyum ke arah Mawar. Sikapnya sangat romantis, membuat Carmen iri dan menaruh kepalanya di bahu Zaky. Mencari perhatian dari suaminya.


"Irinya sama pengantin baru ini. Aku juga sama istriku selalu menjaga keharmonisan kami. Masalah yang terjadi dalam rumah tangga kami dulu, kami jadikan pelajaran agar kami bisa terus saling mencintai dan menghargai pasangan." Zaky balas mengusap rambut Carmen sebelum anak mereka iri melihat Mama-nya dimanja oleh Papa-nya dan mulai mencari perhatian.


"Rencananya kami akan mengadakan selamatan 7 bulanan anak kami. Nanti insya Allah aku undang ya kalian. Sekalian syukuran pernikahan kami. Awalnya kami mau mengadakan pesta pernikahan tapi melihat perut istriku yang semakin besar dan keadaan fisiknya yang tak mungkin menerima banyak tamu, rencana kami batalkan. Kami rencananya akan syukuran pernikahan dan tujuh bulanan bersama anak yatim. Ini adalah rasa syukur kami karena bisa melewati segala ujian yang menerpa kami selama ini," kata Djiwa.


"Wah ... insya Allah kami akan datang. Aku suka dengan rencana kamu. Percayalah, acara pernikahan mewah cuma membuat kaki, tangan, leher dan wajah kamu pegal saja. Berdiri lama, harus terus tersenyum dan menjabat tangan banyak orang yang tak dikenal. Kasihan istrimu yang hamil, Wa. Lebih baik acaranya berbagi dengan anak yatim dan kaum dhuafa. Doa baik dari mereka adalah keberkahan untuk kita nantinya," kata Zaky menimpali.


"Setuju. Ayo sambil dimakan dong. Maaf ya istriku cemilannya banyak sekali. Maklum, ibu hamil laper mata. Semua mau dimakan." Djiwa mengambil sebuah croissant dan menyuapi Mawar dengan penuh kasih.


"Tak apa. Mau makan saja sudah alhamdulillah. Makan yang banyak ya, Mbak Mawar. Nikmati masa-masa dimanja suamimu. Nanti saat suamimu sibuk bekerja lagi akan sulit minta dimanja," sahut Carmen.


Mawar tersenyum mendengar perkataan Carmen. "Iya, Mbak." Mawar melihat buah hati Carmen dan Zaky yang anteng menikmati croissant. Tak rewel dan asyik saja makan. "Anaknya lucu sekali, pintar. Anteng lagi, biasanya anak kecil sudah nangis dan minta ini itu."


Carmen tersenyum mendengar anaknya mendapat pujian. "Anak ini mirip sekali dengan Papanya, anteng dan agak pendiam. Untunglah tidak mirip aku apalagi Kakeknya yang wuah, super ajaib itu."


"Oh ya? Memang kakeknya kenapa?" tanya Mawar penasaran. Obrolan kini beralih ke anak kecil menggemaskan dengan pipi gembil putih itu.


"Wah panjang deh ceritanya. Kayak cerita Duda Nackal di novelnya Mizzly. Seru," jawab Carmen.


"Oh, suka baca karya Mizzly juga? Aku juga, Kak. Apa saja sih yang bagus?" Mawar tertarik dengan yang Carmen katakan.


"Banyak. Ada Namaku Ayu, Bisnis Plus Plus, Delima, Cinta Setelah Perceraian, pokoknya banyak deh. Yang terbaru di Pijo judulnya Batas Tipis Cinta dan Benci. Baca semua deh dijamin kamu enggak nyesel!"


Acara nongkrong di cafe jadi lumayan lama karena ada teman satu frekuensi. Djiwa dan Zaky membicarakan bisnis, Mawar dan Carmen membicarakan novel kesukaan mereka. Mawar senang karena kini punya teman baru. Selama ini statusnya yang mantan narapidana membuat banyak orang di sekelilingnya menjauh. Sekarang saat tabir kebenaran tentang siapa pembunuh Purnomo terkuak, ia tak perlu lagi merasa minder. Ia tak bersalah. Seperti kata Djiwa, Mawar harus mengangkat kepala dan tak perlu takut. Ia bukan pembunuh, ia hanya korban fitnah dan kini namanya sudah bersih.


****


Melati dan Papanya, Surya Danarhadi, kini dalam proses penyidikan polisi. Keduanya sudah ditahan dan menunggu hanya tinggal proses persidangan.


Barang bukti kembali ditemukan. Bukan hanya transfer ke oknum polisi saja, sejumlah uang cash dan emas batangan jadi bukti terjadinya kesepakatan di antara mereka.


Anton yang selama ini Djiwa sembunyikan pun akhirnya diserahkan ke pihak yang berwajib. Terjadi saling menyalahkan antara Anton dengan Melati dan Papanya. Anton yang tak terima dijadikan tumbal atas segala masalah akhirnya buka mulut.


Rupanya Anton menyimpan racun yang dulu Melati berikan padanya. Malangnya Melati, terdapat sidik jarinya di plastik racun yang dijaga dengan rapi oleh Anton. Anton sengaja menyimpannya karena sudah menduga kalau dirinya akan disalahkan atas semua kejadian yang terjadi selama ini.


Kesaksian dan barang bukti tambahan yang Anton berikan membuat hukuman terhadap Melati dan Papanya menjadi semakin berat. Hukuman pembunuhan berencana pun sudah di depan mata. Melati dan Papanya pasrah. Tak bisa lagi melawan.


Kemalangan juga menimpa Mama Melati. Setelah suami dan putri semata wayangnya ditangkap, semua harta bendanya hilang. Sebagian harus membayar kerugian dan sisanya disita sebagai barang bukti oleh negara. Rekening pribadinya juga dibekukan. Mama Melati yang biasa hidup nyaman dengan bergelimangan harta mulai stress dan mengalami gangguan kejiwaan. Ia suka berhalusinasi memakai barang branded, perawatan muka ratusan juta dan perhiasan mahal. Mau tak mau akhirnya Mama Melati dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Mentalnya tak siap hidup susah.


Melati dan Papanya kini mengenakan baju berwarna orange. Mereka menghadiri konferensi pers yang diselenggarakan polisi dan dihadiri banyak wartawan. Keduanya menunduk dan tak mau mengangkat wajahnya. Barang bukti hasil kejahatan mereka pun dibeberkan di depan publik. Hukuman di depan mata, tak dapat mereka hindari lagi.


"Saya minta maaf kepada Mawar karena sudah memfitnahnya atas pembunuhan yang saya lakukan terhadap Mawar," kata Melati dengan bercucuran air mata. Entah benar-benar menyesal atau ingin mendapat keringanan hukuman.


Sayang, bukan iba yang ia dapatkan malah sorakkan dari wartawan dan penghinaan serta diteriaki pembunuh. Melati menunduk sambil terus menangis. Percuma, kini ia harus membayar semua kejahatannya di masa lalu. Mendekam di balik jeruji besi, seperti yang pernah Mawar alami dulu.


"Oh ... jadi lo yang namanya Melati?" Teman satu sel Melati yang bertubuh gempal dan berwajah bak debt collector menyambut Melati dengan senyum licik di wajahnya.


"Gue denger lo fitnah orang sampai membuat orang itu mendekam di penjara? Kaya banget lo jadi orang? Bagi duit dong!" Rekan satu sel yang lain mulai menekan Melati.


"Eh diem aja lo, gue cuma mau bilang ... selamat datang di neraka dunia."


****