Janda Bohay

Janda Bohay
Rekaman Video


Djiwa tak menyangka jika barang bukti yang selama ini ingin Jamal rebut selalu ada bersama mereka. Djiwa menduga, Jamal pernah masuk ke dalam rumah Mawar namun tak pernah menemukan dimana ponsel Purnomo berada.


Mawar berjongkok dan mengeluarkan kotak kecil berbungkus koran yang selama ini menjadi ganjalan lemari bajunya. "Mas Pur bilang, ponselnya sudah rusak. Mas Pur yang suruh aku menjadikan ponsel ini sebagai pengganjal lemari yang miring sebelah."


Djiwa tak habis pikir, bagaimana bisa barang bukti yang menyebabkan Purnomo terbunuh selama ini adalah pengganjal lemari? Ck ... ck ... ck ... pantas saja saat pindahan rumah ke ruko, Mawar meminta ganjalan lemari harus tetap dibawa. Saat Djiwa menawari untuk membeli lemari baru saja Mawar menolak. Ternyata ini rahasianya.


"Purnomo yang minta kamu melakukan ini?" Djiwa membuka bungkusan koran, nampaklah kardus ponsel jadul di dalamnya. Djiwa membuka isi kardus dan benar saja di dalamnya ada ponsel milik Purnomo.


"Ada chargerannya?" tanya Djiwa.


Mawar mengangguk. "Ada."


Mawar pun pergi ke dekat meja rias. Mawar membuka kaleng bekas biskuit yang terletak di atas meja. Ia mengeluarkan chargeran edisi lama yang selama ini sudah gemas ingin Djiwa buang karena tak ada manfaatnya.


Djiwa menerima chargeran yang Mawar berikan lalu mengisi daya ponsel yang sudah lebih dari lima tahun dijadikan ganjalan lemari saja. Perlahan aliran listrik mengisi daya baterai. Djiwa kembali geleng-geleng kepala. Barang bukti kok dijadikan ganjelan lemari?


"Kita akan cari tahu apa yang mantan suami kamu rekam sampai membuat nyawanya menjadi korban." Djiwa duduk di tepi tempat duduk dan menepuk sudut kosong di sampingnya. "Duduklah!"


Mawar menurut dan menatap suaminya dengan lekat. Djiwa memang berbeda. Mas Pur bahkan sampai terbunuh oleh sahabatnya sendiri, sedangkan Djiwa malah bisa membuat Jamal membuka suara tentang apa yang terjadi. Rasa curiga dalam diri Mawar kembali hadir.


"Mas, kalau Mas Jamal datang menemuiku lagi bagaimana?" Mawar sengaja mengetes suaminya. Ia mau tahu bagaimana Djiwa menjawab pertanyaannya.


"Tenang saja. Dia tak akan mengganggu kamu lagi. Dia sedang dibuat taubat dengan anak bu- maksudnya anak-anak, teman kerja aku yang membantu menangkapnya hari ini." Djiwa memasang senyum yang dipaksakan agar Mawar tak curiga.


Mawar mendengarnya. Djiwa hampir keceplosan menyebut anak buah. Mawar semakin curiga.


Setahu Mawar, Jamal bukan orang yang akan dengan mudah mengakui apa yang terjadi waktu itu. Sahabatnya saja tega ia jadikan tumbal namun Djiwa berhasil menjinakkannya. Siapa sebenarnya Djiwa?


"Kenapa? Aku tampan ya? Sayangnya si tampan ini butuh istirahat karena tubuhnya sakit semua. Boleh aku tidur dulu? Bangunkan aku kalau ponsel mantan suamimu sudah penuh ya." Djiwa mengusap lembut rambut Mawar, membuat Mawar yang sejak tadi menatap Djiwa memaksakan senyum di wajahnya.


"Iya. Tidurlah, Mas. Aku mau membuat bumbu dulu di bawah baru tidur." Mawar meninggalkan Djiwa dan turun ke dapur bawah. Pikirannya masih dilingkupi banyak tanda tanya besar.


Siapa Djiwa?


Benarkah Djiwa hanya pemuda kampung biasa?


****


Mawar membangunkan Djiwa saat ponsel Mas Purnomo sudah terisi penuh. Mawar belum tertidur karena rasa penasaran yang melingkupinya.


Djiwa bangun perlahan dan merasakan tubuhnya semakin terasa remuk redam. Djiwa mengutak-atik ponsel milik Purnomo. Masih menyala namun meminta nomor pin untuk membuka ponsel.


"Tanggal kalian menikah kapan?" tanya Djiwa dengan malas. Timbul sedikit rasa tak suka menanyakan masa lalu Mawar. Djiwa hanya mau Mawar menjadi miliknya seorang, namun garis takdir tidak berkata demikian.


"Untuk apa, Mas?" tanya Mawar dengan polosnya.


Mawar menyebutkan tanggal pernikahannya dengan Purnomo dulu. "Kalau Mas Djiwa, kunci ponselnya tanggal apa?" tanya Mawar dengan penasaran.


Djiwa memasukkan tanggal pernikahan Mawar dan dengan mudahnya ponsel Purnomo terbuka. Djiwa mengangkat wajahnya dan tersenyum menatap Mawar. "Kalau aku? Hmm ... kayaknya bukan tanggal pernikahan kita deh."


"Lalu?" Mawar lebih tertarik dengan jawaban Djiwa daripada isi ponsel Purnomo yang kini kembali Djiwa lihat-lihat. Kumpulan foto mereka dibuka oleh Djiwa dengan wajah yang ditekuk kesal.


"Tentu saja ... tanggal pertama kita bertemu." Djiwa tersenyum ke arah Mawar lalu kembali mengutak-atik ponsel Purnomo.


"Kenapa bukan tanggal pernikahan kita?" Mawar makin penasaran dengan jawaban Djiwa.


Tak ada yang aneh di foto yang Djiwa lihat. Hanya wajah Mawar yang memenuhi isi galeri. Terlihat sekali kalau Purnomo sangat mencintai Mawar, itu membuat Djiwa kembali dilanda cemburu meski Purnomo sudah tiada. Ada lelaki lain yang amat mencintai Mawar, membuat jiwa bersaing Djiwa merasa tak terima. Cukup dia saja yang pernah ada di hati Mawar. Sayang, mereka justru bertemu setelah Mawar menjadi janda.


"Bagi aku, bertemu kamu adalah sebuah anugerah. Kamu adalah penyelamatku. Kamu menolong aku dengan tulus dan tak takut sama sekali. Jika orang lain, mungkin akan kabur tapi kamu tidak, karena itu aku akan selalu mengingat tanggal pertemuan kita,"


"Bukan berarti aku tidak mau mengingat tanggal pernikahan kita. Jangan takut. Tanggal pernikahan kita sudah terpatri di dalam hatiku. Tak akan bisa dihapus oleh hal apapun." Djiwa tersenyum menenangkan Mawar yang kini sudah mendapat jawaban yang ia mau.


Mawar kembali terkena kata-kata manis Djiwa, lupa akan kecurigaannya. Djiwa membuka video di ponsel Purnomo dan lagi-lagi hanya video kebersamaan mereka yang terekam kamera. Wajah Djiwa sudah memerah menahan api cemburu di dada namun sekuat mungkin ia menahannya.


"Mesra ya kamu dulu sama Purnomo?" sindir Djiwa.


"Iya. Namanya juga baru menikah, Mas. Pasti sedang mesra-mesranya," jawaban Mawar membuat hati Djiwa makin memanas.


"Lebih romantis aku atau Purnomo?" tanya Djiwa.


Mawar terlihat memikirkan jawabannya dahulu. "Hmm ... dua-duanya romantis."


Djiwa tak suka jawaban yang Mawar berikan. Ia tak suka disamaratakan. Ia mau lebih unggul, apalagi lawannya orang yang sudah meninggal. "Pasti ada yang lebih romantis bukan di antara kami berdua?"


"Hmm ... Mas Pur dan Mas Djiwa punya sisi romantisnya masing-masing. Punya caranya sendiri dan kalian berdua spesial di hatiku. Bersama Mas Pur aku merasakan cinta untuk pertama kali, namun Mas Pur terlalu sayang padaku sampai menyimpan masalahnya sendiri. Kalau Mas Djiwa ...." Mawar menggantung jawabannya.


"Kalau aku kenapa?" Djiwa menekan salah satu video yang dipikirnya tidak penting. Matanya malah menatap Mawar bukan video yang sedang diputar.


"Kalau Mas Djiwa terlalu banyak yang di-" Ucapan Mawar terhenti kala melihat video yang diputar Djiwa.


Video yang gambarnya diambil seenaknya tiba-tiba terfokus pada sebuah wajah yang membuat Mawar terbelalak kaget. Suara yang terekam kini membuat Djiwa dan Mawar menajamkan telinga mereka guna mendengar percakapan penting di dalamnya.


"Bagaimanapun caranya, paksa para petani bodoh itu menjual beras ke kita dengan harga murah! Kalau mereka menolak, bakar saja lahan mereka. Jangan biarkan mereka menjual di tempat lain! Beli hasil panen mereka dengan harga murah. Ingat, kita yang mengatur mereka, bukan mereka yang mengatur kita!"


Mata Djiwa juga ikut terbelalak melihat siapa yang berbicara dengannya. "Hah? Dia?"


***