Janda Bohay

Janda Bohay
Djiwa yang Pusing


Djiwa menatap tumpukan dokumen di depannya dengan tatapan kosong. Sejak tadi konsentrasinya buyar. Djiwa kepikiran dengan percakapannya semalam dengan Mawar. Perkataan Mawar yang mengatakan kalau dirinya bukan satu-satunya wanita yang dicintai oleh Djiwa, membuat Djiwa merasa kalau ada yang sesuatu yang Mawar sembunyikan. Kenapa Mawar mengatakan seperti itu? Apa yang Mawar ketahui?


Djiwa menghubungi Rendi, asisten pribadinya dan meminta datang ke ruangannya. Djiwa bertanya pada Rendi, apakah saat transaksi sewa ruko ada sesuatu yang mencurigakan? Rendi mengatakan semua lancar-lancar saja. Namun Djiwa tetap yakin ada sesuatu yang Mawar sembunyikan.


"Apakah Mawar sudah tahu identitasku yang sebenarnya? Ah ... tidak mungkin. Kalau Mawar tahu, dia pasti akan sangat marah padaku, karena aku sudah banyak menipunya. Mawar biasa saja semalam, malah memelukku dengan penuh cinta. Tak mungkin Mawar sudah mengetahui identitasku," batin Djiwa.


Rendi memperhatikan Djiwa yang sejak tadi terus melamun. "Kenapa sih, Bos? Tak ada yang terjadi, tenang saja. Mawar aman dan baik-baik saja. Lily juga tidak bercerita apa-apa. Mungkin hanya perasaan Bos aja. Nggak usah terlalu dipikirkan." Rendi berusaha menenangkan Djiwa.


"Gue tuh ngerasa ada yang aneh, Ren. Bingung mengatakannya ke lo, sejujurnya perkataan Mawar semalam itu mengandung arti kalau dia tuh siap untuk ditinggal pergi gue, artinya apa coba? Itu tuh seakan Mawar udah tahu identitas gue yang sebenarnya. Gue mesti bagaimana dong, Ren? Enggak mungkin gue nanya sama Mawar apakah dia tahu siapa gue? Kalau gue nanya dan ternyata dia belum tahu, bukankah itu malah membuat gue membuka dengan sendirinya identitas gue di depan Mawar?" tanya Djiwa.


"Lo tuh terlalu banyak pikiran, Wa. Enggak ada apa-apa, gue yakin. Mawar pasti akan marah kalau dia tahu lo udah membohongi dia. Sekarang dia tuh baik-baik saja, malah lo curiga kayak gitu. Sekarang yang harus kita pikirin adalah penyelidikan tentang Anton yang terus berjalan. Dia pindah-pindahan terus. Gue susah nangkap dia. Gue mesti gimana dong?" tanya Rendi.


"Kenapa lo malah nanya sama gue? Ya ... lo pikirin sendiri lah caranya! Gue tuh bos di sini. Seorang bos cuma tinggal kasih perintah, anak buah yang pikirin caranya gimana. Udah tau gue lagi banyak pikiran, lo malah nyuruh gue mikir lagi! Lo pikirin sendiri deh," omel Djiwa membuat Rendi menggerutu dalam hati.


"Ya ... kali aja Bos mau bantuin mikir," balas Rendi.


"Bodo ah. Lo pikirin sendiri. Upaya membuat Jamal sadar gimana? Udah berhasil belum? Ada kemajuan enggak?" Djiwa menaikkan kedua kakinya ke atas meja dan menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya yang super nyaman.


"Masih terus dilakuin kok, tenang aja. Setiap hari, murotal Alquran terus putar. Belum lagi isi ceramah tentang taubat, kesaksian palsu dan berkata bohong. Semua diputerin biar Jamal sadar akan kesalahannya. Lama-lama, bukan cuma Jamal aja yang tobat, dua body guard lo juga bakalan tobat. Kalau mereka taubat, Jamal nggak ditonjok lagi tapi cuma dielus-elus aja kayak anak kucing, mau lo?" Rendi tertawa sendiri membayangkan dua body guard Djiwa yang bertampang menyeramkan berubah karena taubat.


"Bagus lah kalau mereka taubat. Sekarang lo balik lagi sana ke ruangan! Cari Anton sampai ketemu!" Djiwa memijit pelipisnya. Pusing dengan banyaknya masalah yang harus ia selesaikan. Tender yang harus dimenangkan agar Papa tidak marah, mencari Anton dan biang keladi pembunuhan Purnomo serta menyelidiki sikap aneh Mawar. Mau pecah rasanya kepala Djiwa.


Rendi yang baru saja keluar ruangan kembali mengetuk pintu dan masuk ke dalam. "Bos, ada Melati mau ketemu."


Djiwa menghela nafas dalam dan menghembuskannya dengan kesal. Belum selesai masalah eh datang lagi si pembuat onar. "Mau apa lagi sih dia?"


Rendi mengangkat kedua bahunya. "Entah. Mau diusir pakai sapu aja?"


"Lo pikir dia anak kucing? Udah suruh masuk. Lo diam aja di luar. Kalau gue panggil lo siap siaga!" perintah Djiwa.


"Siap!"


Rendi keluar ruangan dan tak lama Melati pun masuk dengan cara jalannya yang sok anggun. Ia melihat Djiwa yang sedang mengangkat kedua kakinya di atas meja. Tak ada sopan-santun sama sekali menyambut kedatangannya.


"Hi Sayang!" sapa Melati.


"Enggak usah banyak basa-basi. Ada perlu apa lo datang ke sini?" tanya Djiwa dengan ketus.


"Kangen." Melati mendekat ke arah Djiwa namun tangan Djiwa terangkat menyuruhnya diam di tempat.


"Wa, entah dengan cara apalagi aku meyakinkan kamu kalau aku menyesal dengan kesalahanku di masa lalu. Aku menyesal, Wa. Hanya kamu lelaki yang aku cintai. Aku mau kembali sama kamu, Wa. Apapun yang kamu minta, aku pasti akan turuti, Wa. Please, jangan kamu terus begini sama aku!" Melati kembali membujuk Djiwa untuk balikan.


"Aku minta kamu pulang! Kamu akan turuti bukan?" tantang Djiwa.


"Tentu. Setelah kamu mau makan siang bersamaku." Melati mendudukkan dirinya di kursi depan Djiwa.


"Enggak mau."


"Wa, please. Apa salahnya sih kita makan siang bareng. Sekali saja. Aku mau kamu dan aku berteman dekat sebelum akhirnya memutuskan akan melanjutkan hubungan kita nantinya." Melati tak putus semangat membujuk Djiwa.


"Pulanglah! Sebelum kesabaranku hilang!"


"Kamu mau Warung Janda Bohay yang kamu buat, aku hancurkan dalam sekejap?" ancam Melati.


Djiwa tertawa kencang mendengar ancaman Melati. Diturunkannya kedua kaki dari atas meja dan tertawa sambil memegang perutnya yang sakit. "Kamu ngancem aku?"


"Ya ... bisa dibilang begitu."


Djiwa kembali tertawa. "Salah ancam, Neng. Bukan aku pemilik warung itu."


Kening Melati berkerut dalam. "Bukan kamu? Lalu siapa? Bukankah kata karyawan di sana, kamu adalah pemiliknya?"


"Kalau enggak tau, jangan sok tau. Punya otak dipake, jangan dianggurin!"


Djiwa berdiri dan berjalan menuju pintu. "Keluarlah baik-baik sebelum aku menendang kamu. Aku beritahu satu hal sama kamu, aku punya kartu As milikmu yang bisa menjebloskan kamu ke penjara. Berhenti mendekatiku dan keluargaku lagi. Aku tak akan memberi kamu ampun meski kita pernah punya hubungan di masa lalu!"


Djiwa membuka pintu ruangannya dan menunggu Melati keluar dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Melati menatap Djiwa penuh tanda tanya. Kartu As apa yang Djiwa miliki tentangnya?


Melati pergi dari kantor Djiwa dengan kesal. Dilajukan mobil miliknya ke Warung Janda Bohay. Ia turun dan bersikap bak preman yang seenaknya saja di usaha orang lain.


Melati langsung menuju Lily, yang kemarin memberitahunya kalau Djiwa pemilik usaha ini. Tangan Melati terjulur maju dan menjambak rambut Lily. "Heh, perempuan sialan, berani ya lo udah nipu gue?"


Lily mengaduh kesakitan dan minta dilepaskan. Kegaduhan yang terjadi membuat Mawar keluar dari dapur dan terkejut melihat Melati ada di Warung miliknya.


"Lepaskan tangan kamu dari pegawai saya!"


****