Janda Bohay

Janda Bohay
Permintaan Maaf Djiwa


Melati dan Mamanya sempat berpikir kalau mereka salah mendengar. "Istri? Wanita ini istri kamu?" Mama Melati yang lebih dulu bertanya mendahului anaknya.


"Iya. Baru tahu ya? Niatnya sih aku mau buat surprise dan memberitahu kalian kalau aku udah nikah. Sayang, kalian jadi sudah tahu duluan, enggak jadi surprise deh," kata Djiwa semakin memanasi suasana.


"Jangan bohong kamu, Wa. Aku tahu bagaimana selera kamu. Mana mungkin kamu suka sama cewek liar dan kampungan macam dia!" Melati masih tak terima dan tak percaya dengan apa yang Djiwa katakan.


Djiwa menyunggingkan seulas senyum mengejek. "Tahu apa kamu tentang selera aku? Buktinya, aku tidak selera dengan wanita seperti kamu yang murahan. Aku lebih berselera dengan wanita yang liar dan kampungan seperti Mawar, seperti yang kamu katakan. Asal kamu tau ya, hati Mawar jauh lebih baik dan bersih dibanding kamu yang busuk!"


"Angkasa Djiwa!" Suara bentakan dengan nada berat terdengar. Papa Melati rupanya yang bersuara, ia yang sejak tadi hanya diam kini tak terima saat putrinya dikatakan busuk oleh Djiwa. "Jaga bicara kamu! Anak saya lebih terhormat dibandingkan wanita manapun!"


"Oh ya? Apakah seorang wanita terhormat akan datang ke tempat usaha orang lain untuk mencari ribut dan gara-gara seperti yang anak Om lakukan ini? Nggak perlu 'kan saya beberkan di depan umum kejahatan apa saja yang putri Om sudah lakukan? Selama ini saya diam, tapi kalau putri anda melakukan hal seperti ini pada orang yang saya cintai, saya nggak bisa tinggal diam. Masih untung istri saya tidak apa-apa. Kalau sampai istri saya luka parah karena putri Om yang bar-bar itu, saya pastikan jalur hukum saja tidak cukup untuk membayar semua kesalahannya!" Wajah Djiwa terlihat amat serius dan ucapannya tidak main-main.


Papa Melati terlihat semakin marah karena Djiwa memperlakukannya seperti ini. Dadanya terlihat naik turun menahan kekesalannya. "Pak, bawa kedua wanita ini ke kantor polisi dan kita akan selesaikan secara hukum! Akan saya jebloskan mereka berdua ke dalam penjara karena sudah membuat putri saya terluka!" perintah Papa Melati pada petugas polisi yang dibawanya.


"Om berani? Satu ujung kuku saja istri saya disentuh oleh polisi itu, saya pastikan putri Om duluan yang akan membusuk di dalam penjara!" ancam balik Djiwa.


Djiwa berdiri di depan Mawar untuk melindungi istrinya dari ancaman orang-orang yang punya kuasa seperti Pak Surya. "Saya akan buka CCTV dan tunjukkan kepada kalian semua kalau putri Om duluan yang mendatangi karyawan saya. Mereka hanya membela diri saat putri Om berusaha menyakiti mereka. Karyawan saya tidak bohong, warung ini memang punya istri saya yang artinya punya saya juga bukan? Anak Om saja yang terlalu bodoh hingga tidak tahu maksud perkataan karyawan saya. Masa sih putri Om yang pintar kalah sama karyawan saya yang dikatainya gadis kampung?"


Djiwa lalu menyuruh Rendi untuk membuka CCTV yang memperlihatkan bagaimana Melati datang dengan emosi lalu langsung menjambak Lily yang sedang bekerja. Dalam CCTV tersebut juga terlihat bagaimana Mawar melerai perdebatan mereka tapi tak diindahkan oleh Melati hingga akhirnya Mawar turun tangan dan menjambak balik rambut Melati.


"Sudah lihat bukan? Anak Om duluan yang datang mencari ribut dan menganiaya karyawan saya. Masih mau dilanjutkan?" Djiwa menantang balik keluarga Melati yang kini menunduk malu. Jelas saja malu, putri mereka yang salah dan CCTV tersebut merupakan bukti yang sangat kuat yang justru akan menjadi bumerang jika mereka tetap melanjutkan laporan mereka ke kepolisian.


Papa Melati menghela nafas berat. "Ayo kita pulang!" Secara tak langsung saat Papa Melati mengajak keluarganya untuk pulang, artinya tidak akan meneruskan laporan ke kepolisian. Melati tidak terima begitu saja melihat Papanya menyerah terhadap ancaman dari Djiwa.


"Pa, kenapa kita kalah sih? Sudah jelas-jelas mereka menganiaya aku! Kenapa Papa jadi takut dengan ancaman dari Djiwa? Aku mau mereka dijebloskan ke dalam penjara, terutama wanita liar itu yang sudah seenaknya menyakitiku, Pa!" Melati menunjuk ke arah Mawar yang masih berlindung di belakang punggung Djiwa.


"Kamu masih nggak kapok? Oke, kita akan ketemu di kantor polisi!" Ucapan Djiwa terdengar tegas dan tidak main-main.


Papa Melati membawa paksa putrinya. Tak mau keadaan menjadi semakin runyam. Melati lalu pergi meninggalkan warung Mawar. Kini giliran Djiwa yang harus menjelaskan semua pada Mawar.


"Sayang-" Belum selesai Djiwa berbicara, Mawar sudah pergi ke lantai atas.


Djiwa mengikuti Mawar yang kini masuk dalam kamar mereka. Djiwa menutup pintu dan melihat Mawar yang duduk di tepi tempat tidur dengan berderai air mata. Djiwa lalu duduk di bawah dan menengadahkan wajahnya seraya mengusap air mata di wajah Mawar.


"Maafin aku," ucap Djiwa dengan penuh penyesalan.


Mawar tak menjawab. Dia menangis dan terus menangis. Hatinya merasa sakit. Dia berusaha menepis kenyataan kalau Djiwa adalah pemuda kampung yang dinikahinya, bukan seorang pengusaha besar yang berpura-pura menjadi pemuda kampung polos. Melihat Djiwa yang muncul dengan jati diri yang sebenarnya, rasa marah karena dibohongi kembali menyeruak dalam diri Mawar.


Mawar pikir dirinya sudah menerima siapa Djiwa, ternyata tidak. Perasaan kalau dirinya dibohongi, lalu ada wanita lain yang datang dan mengaku sebagai kekasihnya ingin menjebloskannya ke dalam penjara membuat rasa marah dan benci dalam diri Mawar semakin besar.


"Sayang, Mas tahu kalau Mas udah jahat sama kamu. Mas udah ngebohongin kamu selama ini. Percayalah, tak ada sedikitpun niat jahat Mas terhadap kamu." Djiwa memegang tangan Mawar dan mengecupnya. "Mas sayang sama kamu. Mas sangat mencintai kamu. Maafin Mas. Mas salah sudah berbohong."


Mawar tak dapat berkata-kata. Ada pergulatan dalam batinnya. Ia pikir sudah bisa menerima kebohongan Djiwa namun kenapa sekarang terasa perih lagi? Kenapa dirinya begitu labil? Mawar bahkan tak mengenali dirinya sendiri.


"Waktu itu memang Mas sengaja bohong. Mas tak mau sampai diketahui saat Mas dibuang oleh teman Mas yang jahat itu. Mas tak mau reputasi Mas jadi jelek. Setelah kamu tolong, Mas malah tertarik dengan kehidupan kamu dan mulailah kebohongan demi kebohongan Mas buat."


"Karena aku bodoh dan mudah kamu bohongi?" tanya Mawar dengan lirih.


"Tidak, Sayang. Kamu tak pernah terlihat bodoh di mata Mas. Tak pernah sekalipun. Mas melanjutkan kebohongan Mas karena ... Mas ingin mengenal kamu lebih dekat," jawab Djiwa dengan jujur.


"Lalu membodohi aku lagi dan lagi? Jujur ya Mas, aku sudah tahu siapa Angkasa Djiwa dan aku ... merasa sakit dibohongi kamu. Aku jadi mempertanyakan cinta kamu, Mas. Apakah cinta yang kamu berikan juga tak lebih dari sebuah kebohongan lain yang kamu buat?"


****