
Ibu Mina -Mamanya Djiwa- sangat merindukan anaknya yang sudah beberapa hari ini tidak pulang ke rumah. Dia sengaja memasak aneka jenis makanan kesukaan Djiwa. Semenjak kejadian makan malam di rumah Melati, Djiwa semakin jarang pulang ke rumah. Sebagai seorang Ibu, ia tentu merindukan anak lelaki satu-satunya.
Ibu Mina pun berencana membawakan makanan untuk anaknya tercinta. Suaminya sudah berangkat pagi-pagi sekali saat masakan yang ia masak belum matang. Dengan diantar oleh supir pribadi, Ibu Mina pergi ke kantor tempat suami dan anaknya bekerja.
Tempat pertama yang Ibu Mina tuju adalah ruangan Djiwa tentunya, sayangnya tak ada Rendi yang biasa duduk di depan ruangan Djiwa menyambut kedatangannya. Ibu Mina pun langsung masuk ke dalam ruangan Djiwa namun tak ada siapapun di sana.
Tak mau kedatangannya sia-sia, Ibu Mina pun pergi ke ruangan suaminya. Jarak ruangan Djiwa dan suaminya tidak begitu jauh. Sayup-sayup ia mendengar suara Djiwa dan Papanya seperti sedang bertengkar.
Ibu Mina mempercepat langkahnya. Ia mendengar kata-kata janda, membunuh dan sebuah nama yang terus menerus diulang, yakni nama Mawar. Siapa Mawar?
Saat Ibu Mina masuk ke dalam, benar dugaannya. Djiwa dan suaminya sedang bertengkar, bahkan suaminya sampai menggebrak meja saking marahnya.
"Ada apa ini? Siapa yang janda? Siapa yang dituduh membunuh?" tanya Ibu Mina. Tak ada yang menjawab pertanyaannya. Ia pun kembali mengajukan pertanyaan. "Siapa Mawar?"
Ibu Mina makin bingung. Dilihatnya Djiwa yang mengepalkan tangannya karena marah. Rendi yang terus menunduk seakan merasa bersalah dan wajah suaminya yang memerah dengan nafas cepat memburu.
"Ada yang kalian sembunyikan dari Mama?" selidik Ibu Mina.
Djiwa membuang pandangannya. Ia pasrahkan sudah nasibnya. Mau diberitahu pada Mamanya pun ia tak peduli.
"Ada apa, Pa?" Ibu Mina memutuskan bertanya langsung pada suaminya. Ibu Mina menaruh kotak makanan yang ia bawa di kursi lalu menatap suaminya dengan lekat. "Apa yang membuat kalian bertengkar?"
Pak Prabu menghirup udara banyak-banyak lalu berbicara pada istrinya. "Anak Mama berbuat ulah lagi. Dia sudah menikah secara siri dengan seorang janda dari kampung!"
"Hah?" Ibu Mina tak percaya dengan perkataan suaminya. "Jangan becanda deh, Pa. Anak kita tak mungkin berbuat seperti itu!"
Ibu Mina menatap Djiwa dan suaminya bergantian. Ia melihat suaminya tidak berbohong dan terus menatap Djiwa dengan kesal. Ibu Mina kembali menatap Djiwa dan bertanya langsung pada putranya mengenai kebenaran berita yang disampaikan oleh suaminya. "Apa benar yang dikatakan sama Papa kamu? Jawab yang jujur!"
Djiwa balas menatap Mamanya. Tak ada keraguan sedikitpun dalam dirinya. Ia pun menjawab pertanyaan Mamanya dengan tegas. "Iya, benar. Aku memang sudah menikah, Ma. Nama istriku Mawar. Ia seorang janda dan pernah dipenjara atas tuduhan pembunuhan."
Bak mendengar petir di siang bolong, tubuh Ibu Mina terasa lemas. Ia mundur selangkah dan hampir terjatuh jika tidak memegang tepi meja kerja suaminya. "Kamu sudah menikah dengan janda dan mantan pembunuh? Astaghfirullah Djiwa! Kegaduhan apalagi sih yang kamu buat?"
"Aku tidak membuat kegaduhan, Ma. Aku hanya menikahi wanita yang aku cintai. Wanita yang menerimaku apa adanya," jawab Djiwa setelah melihat Mamanya sudah duduk dan terlihat lebih tenang.
"Jelas saja dia menerima kamu apa adanya, kamu memiliki semua kriteria yang diinginkan oleh para wanita. Bagaimana ia bisa menolak kharisma yang kamu miliki? Dia justru harus bersyukur mendapatkan kamu! Kamu yang harus selektif memilih calon pasangan hidup. Kenapa kamu asal saja memilih wanita yang menjadi istri kamu?" omel Ibu Mina.
Djiwa menghirup nafas dalam dan menghembuskannya. Belum selesai menjelaskan pada Papanya, kini ada Mamanya yang harus ia jelasnya. Lelah sekali rasanya. Djiwa menyesal pergi ke kantor. Lebih baik ia mencabuti saja bulu ayam daripada tertekan seperti ini.
"Kalian tuh sudah salah paham sama Mawar. Mengenai statusnya, aku akui, Mawar memang seorang janda. Suaminya meninggal dan Mawar dituduh membunuh suaminya sendiri. Setelah aku mencari tahu, ternyata suaminya dibunuh oleh orang lain. Mawar yang menemukan suaminya pertama kali, dianggap pembunuhnya. Tak ada yang membela Mawar. Kini semua tersingkap kebenarannya. Mawar bukan pembunuh. Mawar adalah wanita baik dengan masa lalu yang kelam."
"Lalu kamu memaksa kami menerima masa lalunya? Tidak, kami tak mau terima!" kata Ibu Mina dengan tegas. "Pernikahan kamu masih siri bukan? Sudah, tinggalkan saja! Tak mau Mama merestui wanita seperti itu jadi menantu di keluarga kita!" putus Mama dengan tegas.
"Tidak bisa, Ma. Djiwa tak akan pernah meninggalkan Mawar!" tolak Djiwa.
"Harus! Kamu harus meninggalkan Mawar demi nama baik keluarga kita!" perintah Papa dengan tegas.
"Aku tak peduli dengan nama baik. Aku tak akan meninggalkan wanita yang aku cintai hanya karena nama baik. Nama baik siapa yang harus aku jaga? Papa?" balas Djiwa.
"Djiwa!" bentak Ibu Mina. Dada Ibu Mina naik turun karena kesal dengan Djiwa yang terus melawan.
"Ma, bukannya aku mau melawan Mama dan Papa. Bukan. Aku sama sekali tak ada niat untuk jadi anak yang durhaka. Aku hanya memilih jodohku sendiri, apa salah? Selama ini kalian terus memilihkan aku jodoh, seperti memilih pakaian. Harus anak keluarga berada, harus wanita cantik yang bibit, bebet dan bobotnya jelas. Namun kalian lupa, yang utama adalah aku harus mencari wanita yang baik akhlak dan agamanya!" kata Djiwa menjelaskan.
"Jelas salah. Yang kamu pilih tak ada baik-baiknya. Mantan narapidana karena membunuh suaminya sendiri. Bagaimana kalau wanita itu juga akan membunuh kamu? Melati saja sampai babak belur dihajar olehnya! Wanita barbar seperti itu tak pantas untuk menjadi menantu keluarga kita!" Papa Djiwa kini kembali bersuara.
"Kata siapa Mawar tak baik? Asal Papa dan Mama tau, saat Djiwa dibuang oleh Aksa atas suruhan Melati tanpa uang, ponsel dan hanya memakai celana pendek saja, siapa yang menolong Djiwa? Mawar, Pa! Bukan Melati, wanita yang ingin Papa jodohkan. Bagaimana kalau warga kampung mengira Djiwa adalah babi ngepet dan Djiwa dipukuli sampai mati? Melati justru secara tidak langsung mau membunuh Djiwa!" Melihat kedua orang tuanya agak terkejut dengan informasi yang diberikan, Djiwa kembali meneruskan perkataannya.
"Mawar sama sekali tak tahu siapa Djiwa. Dia tulus menolong Djiwa. Mana Mawar tahu kalau Djiwa anak orang kaya? Yang Mawar nikahi adalah Djiwa yang berbohong jadi pemuda kampung yang terkena hipnotis, bukan anak pengusaha terkenal. Lihatlah betapa tulusnya dia. Semua orang bilang kalau dia barbar? Asal kalian tahu, Mawar adalah wanita lembut dan baik hati di mata Djiwa. Hanya Mawar yang berhasil meyakinkan Djiwa untuk menikah. Kalau kalian tak bisa menerima Mawar, ya sudah. Toh aku tak peduli apa pendapat kalian!" Djiwa mengambil ponsel milik Rendi di atas meja Papanya lalu berjalan keluar ruangan.
"Ayo, Ren! Keluar. Ikut gue!"
****