
Rendi dan Pak Ilham saling tatap. Rendi seakan memberi kode lewat lirikan matanya. Mawar menangkap hal tersebut dan berpura-pura tidak tahu.
"Bu-bukan begitu, Mbak Mawar. Ruko itu punya saya tentu saja. Mengenai harga ... itu bisa kita bicarakan. Memang Mbak Mawar berani menawar dengan harga berapa?" tanya Pak Ilham dengan suara terbata-bata.
Mawar kembali tersenyum. Nampaknya Rendi salah memilih peran figuran kali ini. Mawar lalu menyebutkan harga yang sangat murah. Dari sudut matanya ia melihat tangan Pak Ilham menyentuh lengan Rendi.
Kini Mawar memperhatikan Rendi, nampak ia menganggukkan kepalanya sedikit. Mawar masih berpura-pura tidak tahu. Ia tentu diuntungkan dalam hal ini. Mendapat sewa murah, siapa yang akan menolaknya?
"Baiklah. Khusus untuk Mbak Mawar ... saya akan kasih," kata Pak Ilham.
"Alhamdulillah. Jadi kapan saya bisa menempati ruko sebelah, Pak?" tanya Mawar sambil tersenyum senang.
"Hari ini juga bisa, Mbak. Kita buat perjanjian sewa secara sederhana saja bagaimana?" tawar Pak Ilham.
"Boleh, tentu saja. Saya akan membayar selama 6 bulan dimuka, sesuai kesepakatan."
Setelah kesepakatan dibuat, Rendi dan Pak Ilham pun pergi. Kunci ruko sebelah sudah Mawar pegang kini.
Mawar pergi ke kamarnya saat sore hari. Ia butuh waktu sendiri untuk berpikir sebelum Djiwa pulang.
"Sepertinya Mas Rendi adalah karyawan Mas Djiwa, lalu orang tua yang datang di pernikahan kami siapa dong?" gumam Mawar. "Jelas itu bukan orang tua Mas Djiwa. Papanya pengusaha terkenal, suka masuk TV juga, berbeda dengan yang waktu itu datang."
"Baiklah, kalau Mas Djiwa masih ingin lebih lama berakting, aku juga akan mengimbangi aktingnya," putus Mawar. Berbagai rencana pun sudah terpikir dalam otak Mawar. Bahkan Mawar tak menyadari kalau Djiwa sudah pulang.
"Assalamualaikum, Istriku tercinta." Djiwa mendekati Mawar yang sedang duduk di tepi tempat tidur dan mengecup keningnya. "Sedang apa kamu di dalam kamar? Tumben. Biasanya di bawah?"
Mawar tersenyum menyambut kepulangan suaminya yang memiliki identitas yang disembunyikan. "Aku sedang memikirkan ruko sebelah, Mas. Butuh beli apa saja dan kapan bisa direnovasi. Kebetulan di bawah agak sepi jadi aku pamit ke atas deh."
Djiwa membawa Mawar ke dalam pelukannya. Hari ini kerjaannya amat banyak. Ia sama sekali belum mendengar suara istrinya. Rasa kangen menyeruak dalam diri Djiwa. "Kangen sama kamu."
Mawar menghirup dalam aroma parfum Djiwa. Aroma parfum mahal. Jelas mahal, seharian bekerja tak ada bau keringat yang tercium. Mawar tersenyum menyadari kebodohannya lagi. Kenapa Mawar baru menyadarinya sekarang dan berfikir selama ini kalau harum tubuh Djiwa?
"Luka Mas bagaimana? Masih sakit?" Mawar tak membalas ungkapan kangen Djiwa. Ia lebih tertarik dengan luka yang Djiwa dapatkan saat mengejar Jamal. Entah bagaimana caranya tapi Djiwa berjasa menemukan pembunuh sebenarnya atas kematian Mas Pur.
"Udah agak enakkan. Semua berkat tangan ajaib kamu," puji Djiwa. Ia melepas pelukan mereka dan merengkuh wajah Mawar. Mengecup bibir Mawar yang ranum dan jiwa kelelakiannya pun terbangun. "Mandiin Mas, yuk! Sakit nih buat gosok punggungnya."
Wajah Djiwa yang merajuk manja membuat Mawar sejenak melupakan rasa curiganya. Ia tersenyum dan seakan tersihir dengan pesona tampan Djiwa. Diturutinya keinginan sang suami.
"Yaudah ayo!"
****
Mawar merapikan kemeja yang dikenakan suaminya. Tak tercium parfum yang semalam ia hirup. Pasti disemprotkan saat sudah keluar rumah.
"Mas, Ibu dan Bapak kamu bagaimana kabarnya? Sehat? Kok selama kita menikah mereka sama sekali tak pernah menanyakan tentangku ya? Aku juga belum telepon mereka," tanya Mawar.
"Ih itu sih mau Mas saja. Oh iya, kalau ada rejeki, bagaimana kalau kita pulang kampung, Mas? Aku pengen tahu kampung halaman Mas Djiwa seperti apa?" Mawar tersenyum setelah kemeja Djiwa rapi. Ia mengambilkan sisir dan menyisiri rambut Djiwa. Mawar tak mau Djiwa keluar dengan penampilan berantakan sejak Djiwa mulai bekerja di kantor.
"Itu ... nanti saja ya. Bisnis kamu juga sedang ramai. Rugi kalau kita tutup sampai berhari-hari lamanya. Mas juga belum lama bekerja, tak punya cuti." Alasan masuk akal Djiwa berikan. Mawar mengangguk saja meski dalam hati timbul berbagai rasa yang entah jika dijabarkan satu persatu. Dibohongi, ditipu, dikecewakan dan berbagai rasa lain yang berkumpul jadi satu.
"Yaudah. Hmm ... udah sebulan lebih kayaknya Mas Djiwa bekerja. Kamu memangnya belum gajian ya, Mas? Maaf, bukan aku menagih. Aku hanya takut kamu dibohongi perusahaan. Hanya disuruh kerja tanpa dikasih gaji." Mawar sengaja menguji lagi sampai sejauh mana Djiwa akan jujur.
"Katanya sih hari ini, Sayang. Mas baru buat ATM, makanya gajiannya telat. Itu pun pinjam uang Rendi untuk membuka tabungan."
Mawar sekuat mungkin menahan tawanya. Pasti Djiwa lupa merencanakan tentang kapan gajian. Untung saja jawabannya masuk akal, kalau tidak pasti Mawar akan memberikannya pertanyaan lagi yang lebih membingungkan.
"Mas mau bawa bekal tidak? Aku tadi sempat masak loh."
Djiwa berpikir sejenak sebelum menjawab. Hari ini ada meeting di salah satu restoran. Kalau ia bawa bekal, kapan dimakannya? Kalau ia menolak, apakah Mawar akan kecewa? Djiwa tak mau mengecewakan istrinya yang sudah susah payah memasakkan lauk untuknya.
"Boleh, Sayang. Makasih ya kamu sudah memasak pagi-pagi untuk aku." Djiwa memeluk Mawar dan mengecup kening istrinya. "Mau Mas bawakan apa pulang kerja nanti? Mas gajian pertama loh hari ini."
"Bawa apa ya? Bakso saja deh," jawab Mawar.
"Oke. Mas berangkat dulu ya. Jaga diri kamu baik-baik. Jangan kelelahan. Masalah ruko sebelah, Rendi akan bantu dekor seperti saat ruko hari ini." Djiwa mengambil tas laptop miliknya dan keluar kamar.
Mawar mengikuti dari belakang. Dibawakannya jaket butut yang selalu dipakai Djiwa dan hanya dicuci saat weekend saja. Mawar memberikan jaket pada Djiwa setelah suaminya sudah mengeluarkan motor bututnya.
"Mas pergi dulu. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam."
Mawar menatap punggung tegap Djiwa sampai menghilang di ujung jalan. Ia menghela nafas dalam dan merasakan berbagai perasaan yang mendera.
Jujur saja Mawar sangat marah saat tahu Djiwa membohonginya. Rasa marah dalam dirinya terlalu besar sampai mau nangis pun tak ada air mata yang keluar. Mau memaki-maki pun hanya rasa lelah yang keluar.
Mawar merasa dilema. Di satu sisi, ia tahu Djiwa berbohong dan di lain sisi ia tahu cinta Djiwa untuknya begitu tulus. Mawar berniat menyimpan rasa ini dulu untuk sementara. Ia akan mencari tahu lagi tentang Djiwa.
Mawar membuka ponsel miliknya dan mencari informasi lebih dalam tentang Djiwa. Wajah Melati yang ada dalam video Mas Pur kerap diberitakan sebagai kekasih Djiwa.
Tanpa sadar air mata Mawar menetes. Jika semua sudah terbongkar kelak, apakah Djiwa masih mau bersama Mawar? Apakah Djiwa akan kembali bersama Melati, kekasihnya sejak dulu?
Mawar takut kehilangan Djiwa. Perasaan cintanya sudah teramat dalam, melebihi cintanya pada Purnomo. "Apakah Mas Djiwa suatu hari nanti akan pergi meninggalkanku?" gumam Mawar pelan.
Mawar menggelengkan kepalanya. "Tak akan kubiarkan itu terjadi. Tidak setelah apa yang sudah ia lakukan padaku. Aku akan buktikan pada Mas Djiwa kalau aku lebih baik dari Melati dan wanita manapun di dekatnya! Jangan panggil aku Mantan Janda Bohay, kalau aku tak bisa mempertahankan apa yang menjadi milikku!"
*****