Janda Bohay

Janda Bohay
Periksa Kehamilan


Ibu Mina menuruni tangga bersama Mawar, tentunya Ibu Mina menggandeng tangan Mawar dengan hati-hati agar menantunya yang sedang hamil aman. Satu demi satu anak tangga mereka turuni hingga akhirnya sampai di lantai bawah.


Rupanya teman-teman arisan Ibu Mina masih ada di warung. Mereka seakan tak percaya dengan apa yang Ibu Mina katakan tadi. Mereka pikir itu hanya akal-akalan Ibu Mina saja agar mereka yang ingin menjodohkan anak mereka dengan Djiwa bisa mundur dengan sukarela.


"Loh? Kalian masih di sini? Saya pikir sudah pulang," kata Ibu Mina.


"Belum, Jeng. Masih nungguin Jeng Mina. Memang beneran Jeng Mina mau memeriksakan menantunya ke dokter kandungan?" tanya salah seorang anggota arisan tak percaya.


"Beneran, Bu. Masa sih saya bohong? Nih buktinya Mawar sudah rapi. Nanti saya update status deh saat di rumah sakit. Mohon maaf ya ibu-ibu, saya pergi dulu. Sudah mepet waktunya." Ibu Mina menggandeng tangan Mawar kembali dan mengajaknya pergi meninggalkan teman-temannya. Tak akan habis bila meladeni mereka terus. Pasti akan banyak yang ditanyakan.


Mawar dan Ibu Mina naik mobil mewah milik Ibu Mina yang kemarin Mawar tumpangi. "AC-nya terlalu dingin tidak? Kalau kamu kedinginan, nanti saya minta supir kecilkan."


Mawar masih tak percaya kalau ibu mertuanya begitu perhatian padanya sampai masalah AC pun diperhatikan. "Tidak, Bu. Sudah cukup. Enak. Sejuk."


"Bilang saja ya kalau kedinginan."


"Iya, Bu."


Mobil yang mereka tumpangi pun melaju di jalanan Jakarta yang ada saja titik macetnya. Di perjalanan, tak ada banyak obrolan yang terjadi antara Mawar dan Ibu Mina. Keduanya masih belum terlalu akrab dan kaku. Bingung mau membicarakan apa. Mau membahas Djiwa, yang dibahas juga belum pulang.


Perjalanan terasa lama sekali. Mawar sesekali melirik Ibu Mina yang sedang membaca buku. Wow, Mawar kagum. Di usianya yang tak lagi muda, Ibu Mina masih rajin membaca. Mawar jadi malu sendiri, selama ini dirinya sibuk bekerja, kalaupun baca novel hanya karangan Mizzly saja yang beda dari yang lain.


Mawar memilih menatap pemandangan di luar jendela. Banyak yang ia pikirkan saat ini. Keberadaan suaminya yang entah dimana. Apakah dirinya benar hamil? Bagaimana nanti kalau teman-teman ibu mertuanya tahu tentang masa lalunya? Semuanya Mawar pikirkan sampai tak menyadari kalau mereka sudah sampai di rumah sakit.


"Kita sudah sampai," kata Ibu Mina..


Mawar tersadar dari lamunannya. Mereka kini sudah berada di lobby Rumah Sakit Kesehatan Keluarga Itu Penting. Rumah sakit semua golongan. Rumah sakit yang banyak direkomendasikan karena dokter-dokternya yang cakap dan profesional.


Mawar pernah ke rumah sakit ini saat Lily sakit usus buntu. Mereka ke sisi berbeda dengan sisi yang sekarang Mawar dan mertuanya tuju. Ruang pemeriksaannya pun berbeda dengan ruang periksa saat menemani Lily dulu.


"Jadi begini bedanya antara kasta orang kaya dan orang susah?" batin Mawar.


Seakan bisa membaca kebingunan menantunya, Ibu Mina pun membuka suaranya. "Kenapa? Kok kamu kayak bingung begitu sih? Kamu pernah ke rumah sakit ini sebelumnya?"


"I-iya, pernah, Bu. Waktu mengantar Lily berobat dan menjenguk Lily yang dirawat saat operasi usus buntu tapi bukan sebelah sini, melainkan sebelah sana." Mawar menunjuk sisi yang lain, tempat yang ia datangi sebelumnya.


"Oh ... rumah sakit ini memang membedakan pelayanannya, namun dokternya tidak kok. Hanya pelayanannya saja. Wajar sih, ini juga demi kemajuan rumah sakit. Uang yang didapat dari sisi di sebelah sini akan digunakan juga untuk memberikan keringanan pasien di sisi sana. Pengobatannya sama kok, istilahnya saling membantu gitu," jawab Ibu Mina.


Mereka kini sudah berada di depan meja pendaftaran. Ibu Mina meminta KTP Mawar untuk melakukan pendaftaran yang pertama kali secara langsung meski sudah booking sebelumnya lewat telepon. "Silahkan ke suster di depan poli kandungan dan berikan form ini ya."


Ibu Mina menerima form yang biasa ditulis dokter lalu mengajak Mawar ke poli kandungan. Ibu Mina menyerahkan form di tangannya dan menunggu nama Mawar dipanggil.


Mawar melihat sekitar dengan tatapan bingung. Untunglah Ibu Mina menemani Mawar. Setelah Mawar diukur tensi darah dan berat badan serta ditanya beberapa pertanyaan, mereka dipersilahkan masuk karena sudah reservasi duluan.


"Selamat siang, Ibu. Silahkan duduk!" jawab dokter dengan ramah.


Dokter menanyai beberapa pertanyaan kepada Mawar yang menjawabnya dengan gugup. "Kita coba USG dulu ya, Bu. Silahkan naik!"


Mawar ditemani Ibu Mina melihat layar monitor yang sedang diperiksa oleh dokter. "Wah sudah ada kantongnya, usia kandungannya sekitar 6 minggu. Bayinya sehat, ukurannya ...." Dokter menjelaskan lebih rinci tentang janin yang terlihat di layar monitor. "Mau dicetak hasil USG-nya?"


"Mau!" jawab Ibu Mina cepat. "Yang banyak ya, Dok!"


Dokter tersenyum mendengar permintaan Ibu Mina. "Mamanya senang sekali ya mau punya cucu?" goda dokter.


"Iya dong, Dok. Cucu pertama nih!" jawab Ibu Mina dengan bangganya. "Dok, saya mau rekam, tolong tahan dulu ya!" Ibu Mina menyalakan kamera ponselnya dan merekam layar monitor sambil tersenyum lebar. Mawar terus menatap Ibu Mina, seakan tak percaya kalau kini ibu mertuanya begitu bahagia mengetahui dirinya hamil. Tanpa disadari air mata Mawar menetes turun. Ia merasa sangat bahagia sampai mau menangis kencang rasanya. Cepat-cepat Mawar menghapus air mata agar tak ada yang melihatnya.


"Sudah, Dok," kata Ibu Mina setelah puas merekam dan foto-foto. "Kalau mau tahu jenis kelaminnya, kira-kira di usia kandungan berapa ya, Dok?"


"Paling cepat sih 16 minggu ya, Bu, namun terkadang masih belum terlihat jelas." Dokter menyudahi pemeriksaan USG dan meminta Mawar kembali duduk.


Dokter lalu menuliskan resep seraya memberikan saran untuk Mawar. "Makan-makanan yang bergizi, cukup istirahat dan minum vitamin yang saya berikan ya. Jangan terlalu lelah dan banyak pikiran, tak bagus untuk kesehatan ibu dan bayi."


"Tuh kamu dengar, jangan kecapekan bekerja! Harus banyak istirahat!" Ibu Mina malah ikut menasehati Mawar. Dokter yang mendengarnya sampai tersenyum.


"Iya, Bu."


Setelah selesai diperiksa, Ibu Mina mengajak Mawar ke kantin sambil menunggu obat yang ditebus sudah selesai. "Kamu mau minum apa? Jus alpukat mau? Terus mau makan apa? Ayam penyet eh kamu jualan itu ya, pasti bosan. Kalau soto ayam, mau?"


"Boleh, Bu."


"Boleh apa? Kamu pilih mau makan yang mana. Jangan saya yang mengaturnya. Makan apapun yang kamu mau tapi harus yang sehat ya."


"Iya, Bu."


"Loh cuma iya, Bu, saja. Cepat pilih mau yang mana? Jangan ketakutan begitu sama Mama. Memangnya Mama mau makan kamu apa? Cepat pilih!"


Mawar terdiam dan menyalipkan anak rambutnya ke belakang telinga, takut salah mendengar. Barusan ia mendengar Ibu Mina yang biasa menyebut dirinya saya jadi bilang Mama.


"Kenapa malah diam saja?" tanya Ibu Mina lagi.


Mawar masih menatap Ibu Mina dengan lekat. Masih belum percaya dan ragu. Ibu Mina menghela nafasnya dalam. "Iya. Panggil saya dengan sebutan Mama mulai sekarang, oke? Kamu sudah Mama akui di depan teman Mama, ya sekarang panggil Mama juga kayak Djiwa. Mau 'kan?"


****