
POV Djiwa
Aku, Rendi, Jamal, Security dan dua bodyguard kepercayaanku pergi dari rumah lewat pintu belakang. Bodyguard-ku sudah bergerak cepat menelepon polisi untuk mengamankan rumah Papa. Jangan sampai ada barang-barang yang hilang dan rusak.
Beruntung kami sudah bekerja sama dengan security di depan gerbang komplek. Saat ada yang mencurigakan, kami bisa pergi secepatnya.
Kelebihan rumah yang kugunakan untuk menyekap Jamal dan Anton adalah rumah ini memiliki pintu belakang yang langsung menuju akses ke perkampungan penduduk. Kedua bodyguard-ku sudah menyiapkan kendaraan cadangan jika sesuatu hal mendesak terjadi, contohnya seperti hari ini. Tempat persembunyian kami ketahuan dan kami harus segera pergi.
Salah seorang bodyguard dengan sigap membuka pintu bagian kemudi, sementara bodyguard yang lain membukakan pintu gerbang menuju halaman belakang. "Bos, cepat naik!" perintah bodyguard yang ada di kursi pengemudi.
Aku, Rendi, Jamal dan security yang bertugas cepat-cepat naik ke dalam mobil Rubicor, salah satu koleksi mobil mewahku. Mobil pun melaju meninggalkan rumah setelah sebelumnya tak lupa bodyguard-ku yang satu lagi menutup pintu dan ikut bergabung bersama kami semua di dalam mobil.
"Sialan! Rupanya mereka sudah mengikuti kita sejak di ruko!" makiku dengan kesal. Aku kini menatap ke arah 2 bodyguard-ku yang merasa bersalah karena sudah lengah. "Bagaimana kerja kalian selama ini? Apakah kalian tidak tahu kalau selama ini kita selalu diikuti oleh mereka?" cecarku.
"Siap salah, Bos. Mungkin kami lengah karena banyaknya tugas yang harus kami lakukan sehingga tidak menyadari kalau orang-orang yang mereka utus sudah memantau sekitar ruko. Kami siap dihukum, Bos!" Bodyguard yang sedang menyetir berbicara dengan penuh penyesalan padaku.
"Argh! Sekarang bagaimana dengan nasib Mawar?!" Aku teramat sangat marah sekali. Aku tak menyangka kalau tempatku menyembunyikan Anton dan Jamal akan mudah diketahui oleh anak buah Anton.
"Kita ke markas kami saja, Bos. Di sana lebih aman. Tentang Ibu Mawar, saya akan menyuruh teman-teman untuk menjaga di sekitar ruko," kata bodyguard yang duduk di samping Bodyguard yang sedang menyetir.
"Lakukan apa saja semaksimal mungkin! Saya nggak mau ya, ada yang menyentuh Mawar seujung kuku pun!" ancamku.
"Siap, bos!" Kedua Bodyguard itu pun mulai sibuk. Yang satu fokus mengemudi, sedangkan yang satu lagi sibuk menelepon ke sana ke sini.
Jamal sejak tadi menatapku dengan tatapan takut. Ia pasti melihatku lebih menakutkan melebihi kedua bodyguard yang pernah menompol wajahnya. Auraku terlihat menyeramkan apalagi saat mendengar kalau Mawar berada dalam bahaya.
Kami lalu tiba di markas milik kedua bodyguard. Sebuah rumah yang letaknya di dalam pemukiman penduduk dan cocok untuk tempat persembunyian. Kami semua turun dari mobil dan menyiapkan strategi berikutnya. Jamal juga ikut turun dan tak berniat untuk meloloskan diri. Ia tahu, pergi ke manapun pasti nyawanya dalam ancaman. Berada di sampingku lebih aman baginya.
Hari masih sore. Aku dan Rendi sibuk menyusun rencana untuk melakukan serangan balasan atas kehilangan Anton. Jamal kami biarkan duduk santai dengan diawasi oleh security yang kini ikut serta dalam misi yang aku dan Rendi lakukan.
Saat sedang serius memikirkan rencana berikutnya, tiba-tiba ada salah seorang anak remaja dengan nafas tersengal sehabis berlari dengan ketakutan datang dan mengetuk pintu dengan kencang. Salah seorang bodyguard membukakan pintu dan terkejut melihat anak remaja tersebut berada di depan.
"Bang, gawat Bang! Banyak preman di depan. Mereka lagi nyari Abang. Kita sudah berusaha bohong, tapi mereka nggak percaya!" lapor anak remaja tersebut.
Aku dan Rendi saling pandang. Bagaimana mungkin keberadaan kami kembali bisa diketahui? Sudah jelas tadi kami pergi dengan aman dan tanpa ada yang mengikuti sama sekali.
"Bagaimana bisa sih kita ditemukan? Kok, mereka bisa tahu?" Aku kembali murka namun Rendi membuatku tenang.
"Sekarang bukan waktunya untuk marah-marah, Wa. Kita harus pergi lagi. Keselamatan kita jadi taruhannya!" Rendi lalu mengajak semua orang untuk pergi dari rumah milik bodyguard-ku. Kami kembali menempuh perjalanan dengan mobil Rubicor namun dengan jalur yang berbeda.
"Bagaimana mereka bisa menemukan kita coba? Ren, lo lihat ke belakang, Ada yang ngikutin kita nggak?" tanyaku. Aku cemas, kalau sampai terjadi sesuatu padaku, siapa yang akan melindungi Mawar?
Rendi melakukan apa yang aku suruh. Memantau belakang, untunglah lagi-lagi kami berhasil kabur. Kini kami sedang di jalan daerah perkampungan. Tak ada yang mengikuti kami, hanya ada angkot yang beberapa kali menaik turunkan penumpang. "Enggak ada, Wa. Cuma ada angkot doang."
Aku dan Rendi saling tatap. Cepat-cepat kami mengeluarkan ponsel kami berdua dan menonaktifkannya. "Kalian berdua juga. Matikan semua ponsel kalian secepatnya!" perintahku.
Semua orang yang ada di mobil menurut. Hanya security yang kuijinkan mengaktifkan ponsel karena tak mungkin nomor ponselnya diketahui.
"Gila, mereka pasti bekerja sama dengan orang dalam di kepolisian. Bagaimana bisa mereka melacak kita lewat sinyal ponsel?" rutukku.
"Ya ... begitulah, Wa. Yang lo hadapi sekarang bukan musuh kaleng-kaleng. Apalagi lo udah buat mereka sakit hati. Segala cara juga bakalan mereka lakukan," kata Rendi.
"Kita kemana lagi dong?" aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku harus berpikir jernih. Masalah yang kami hadapi begitu rumit. Hanya seseorang yang bisa membantuku sekarang.
"Wa, bagaimana kalau kita ke kampungnya Jamal?" usul Rendi.
"Ah gila lo! Kalau kesana sama aja kita masuk kandang macan!" tolak Djiwa.
"Justru itu, tempat paling berbahaya adalah tempat paling aman, Wa," jawab Rendi.
Aku memikirkan ucapan Rendi. Memang ada benarnya sih perkataannya. Yang paling berbahaya adalah yang paling aman. "Lalu dia gimana?"
"Ya ... kita ajak lah. Masa kita tinggal di jalanan?" jawab Rendi dengan seenaknya.
"Gue juga ngerti. Kalau dia kabur dan mengadu pada warga kampung gimana? Bisa jadi bulan-bulanan warga kampung kita nanti!" Djiwa masih meragukan rencana yang Rendi buat.
"Buat apa kita susah-susah bikin dia tobat kalau ujung-ujungnya dia mau berbuat dosa lagi? Iya, enggak?" Rendi menyenggol lengan Jamal yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan kami berdua di dalam mobil.
Aku menatap Jamal dengan tajam. Aku masih belum percaya dengan lelaki jahat yang sudah memfitnah Mawar ini.
"I-iya, Pak," jawab Jamal dengan tergagap.
"Heh!" Aku berbicara dengan nada penuh ancaman pada Jamal. "Asal lo tau ya, kalau pun lo berkhianat sama kita, enggak ada efeknya. Lo tetap saja akan diincar oleh Anton. Mau nasib lo kayak Purnomo?"
Jamal menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Pak. Jangan. Saya masih mau melihat anak saya dewasa dan menikah. Saya janji, saya tak akan berkhianat sama Bapak."
"Lo pikir gue percaya? Purnomo aja yang sahabat lo sejak kecil, lo khianatin, apalagi gue yang baru lo kenal?" sindirku tajam.
"Saya memang membunuh Purnomo tapi saya juga terancam akan dibunuh, Pak. Saya terpaksa berkhianat karena mereka mengancam akan membunuh saya jika tak menuruti perintah mereka. Sekarang saya sadar, saya sudah berbuat salah selama ini. Saya tak akan berkhianat lagi, kalau saya berkhianat, nyawa saya dan keluarga taruhannya. Lebih baik saya masuk penjara daripada terus dikejar Anton dan anak buahnya lalu diancam ingin dibunuh. Saya lelah. Saya mau hidup tenang," kata Jamal dengan sungguh-sungguh. Air mata penyesalan pun menetes dari pelupuk matanya.
Aku menilai Jamal, sebuah keputusan penting akhirnya aku buat. "Baiklah, kita pergi ke kampung Jamal. Mari kita buat rencana menghancurkan mereka dari tempat yang mereka tak pernah pikir sebelumnya!"
****