
"Ma-mau, Bu, eh Ma," jawab Mawar dengan tergagap.
Wah hari ini akan Mawar catat sebagai hari keberuntungan untuknya. Siapa yang sangka kalau dirinya akan diakui sebagai menantu dan disuruh memanggil Ibu Mina dengan sebutan Mama? Benar-benar hari keberuntungan Mawar.
"Jadi mau pesan apa?" tanya Ibu Mina lagi.
Mawar hanya menunjuk ke arah kedai soto, rasanya lidahnya kelu karena terlalu bahagia.
"Yaudah, Mama pesankan dahulu. Tunggu sebentar." Ibu Mina lalu memesankan soto ayam untuk Mawar dan gado-gado untuk dirinya sendiri. Tak lupa dua jus alpukat ia pesan juga.
Ibu Mina duduk kembali di kursinya sembari menunggu makanan yang dipesannya datang. "Kamu dengar apa yang dokter katakan tadi, bukan?"
Mawar menjawab dengan anggukan.
"Jangan terlalu lelah. Apa warung kamu tak bisa di-handle oleh karyawanmu saja?" tanya Bu Mina.
"Tidak bisa, Bu, eh Ma." Mawar belum terbiasa dengan panggilan barunya. "Aku masih yang memegang rahasia bahan masakannya."
"Oh gampang itu, kamu yang perintah untuk buat bumbu nanti kamu koreksi rasa. Cukup koreksi. Jangan turun tangan lagi di dapur! Usia kandungan kamu masih muda, tidak boleh terlalu kelelahan," nasehat Ibu Mina.
"Iya, Ma."
"Kalau jaga di kasir masih boleh, karena hanya menerima pembayaran. Kalau barang yang dipesannya banyak juga kamu tidak boleh angkat. Biarkan karyawan kamu yang angkat!"
"Iya, Ma."
"Satu lagi, tambah karyawan! Sudah saatnya warung kamu menambah karyawan baru. Mama lihat sudah ramai dan banyak pembelinya. Kasihan karyawan kamu sampai keteteran melayani pembeli."
"Iya, Ma."
"Jangan iya-iya saja, dilakukan!" omel Bu Mina.
"I-iya," jawab Mawar agak tergagap.
Bu Mina diam sejenak. Menantu di depannya begitu penurut. Sama sekali tak ada tampang bekas pembunuh. Ia jadi ikut-ikutan Djiwa dan suaminya yang meragukan kalau Mawar adalah pembunuh sebenarnya. Masih ada keraguan besar mengenai mana yang benar dan yang salah.
Tak lama makanan yang mereka pesan datang. "Makanlah," tawar Bu Mina.
Mawar nurut saja. Untunglah ngidamnya tidak terlalu parah. Makan apa saja masih masuk, hanya sesekali mual itu hal yang wajar. Mawar pun memberanikan diri menanyakan tentang suaminya pada Ibu Mina.
"Ma, apa Mama ada kabar terbaru tentang Mas Djiwa?" tanya Mawar.
Ibu Mina menyelesaikan makannya lalu minum jus alpukat sebelum menjawab pertanyaan Mawar. "Mama sih tidak dihubungi langsung namun Mama sempat dengar Papa bicara di telepon sama Djiwa,"
"Papa bilang, Djiwa harus hati-hati. Jangan terlalu gegabah. Yang mereka hadapi bukan orang sembarangan. Jujur, Mama khawatir. Djiwa anak Mama satu-satunya. Meskipun selama ini anak itu suka berbuat seenaknya namun sebagai seorang Ibu, Mama tentu merasa khawatir," ujar Ibu Mina. "Mama berusaha bertanya sama Papa namun jawaban Papa hanya Mama diminta mendoakan keselamatan Djiwa."
"Aamiin. Mawar akan selalu doakan Mas Djiwa, Ma." Hati Mawar jadi ikutan waswas mendengar cerita Ibu Mina.
Pulang dari rumah sakit, Mawar kembali melakukan rutinitasnya. Kali ini ia sangat membatasi apa yang ia lakukan. Ia menjaga dengan sangat anak Djiwa yang ada dalam kandungannya.
****
Sementara itu di tempat lain, Djiwa dan Rendi masih memberikan sosialisasi door to door pada para petani. Berbekal tampangnya yang bak anak kuliahan, ia berhasil sedikit demi sedikit membuat para petani mau berubah haluan dari menjual hasil panen ke pihak Melati ke pihaknya.
Djiwa tetap menjadi mahasiswa yang KKN namun terus mengarahkan para petani untuk menjual ke perusahaan Papanya. Akting Djiwa yang meyakinkan membuat para petani percaya saja dengan ucapannya.
Orang suruhan Pak Prabu sudah mulai datang. Mereka membuka tempat pemotongan padi dan penggilingan yang letaknya masih di kampung Mawar. Panen diperkirakan dalam beberapa hari. Sebelum pihak Melati datang, mereka sudah bergerak cepat.
Djiwa dan Rendi mencatat petani mana saja yang mau ikut program dengannya. Hasilnya sudah cukup untuk membuat bisnis Papa Melati kelimpungan.
"Bagaimana hasil pemeriksaan beras kualitas jelek?" tanya Djiwa pada bodyguard yang waktu itu ia suruh memeriksa.
"Lapor, Bos. Rupanya beras kualitas jelek itu dioplos dengan beras kualitas bagus. Perbandingannya lumayan, 70 persen beras kualitas bagus dicampur 30 persen beras kualitas jelek. Hasilnya sudah bisa diduga, banyak konsumen yang mulai protes. Katanya beras yang mereka beli banyak yang isinya hanya pecahan beras bukan beras utuh, namun karena merk beras lumayan terkenal mereka maklum dan menganggapnya rusak karena di jalan," kata sang bodyguard.
Djiwa menganggukkan kepala sambil tersenyum bak joker. "Kalau begitu, kita mainkan mental mereka. Kamu ada rekamannya?" tanya Djiwa.
"Ada, Bos. Sesuai yang Bos perintahkan."
"Kirimkan ke saya. Biar kita buat heboh negeri ini." Djiwa kembali tersenyum bak joker. Hari-hari menjelang panen harus ia buat rusuh, agar konsentrasi keluarga Melati terpecah.
Setelah video dikirimkan, Djiwa mulai memainkan jari jemarinya di atas laptop. Wajahnya terlihat serius sambil sesekali tersenyum bak Joker. Rendi dan anak buah Djiwa yang lain tak berani mendekat. Bos mereka kalau sudah dalam mode seperti itu artinya jangan diganggu. Bahaya.
"Ren, lo pantau sosial media. Kerahin temen lo yang hacker dan buat video yang gue kirim ke lo makin heboh," perintah Djiwa.
"Video?" Rendi membuka video yang Djiwa kirimkan. Sudah Djiwa edit sedemikian rupa dan kini hasilnya akan menggemparkan negeri ini.
Rendi melakukan apa yang Djiwa suruh. Tak sampai satu jam, video yang sudah Djiwa edit pun menyebar luas dan menjadi bahan perbincangan. Tak mau kalah cepat, salah satu berita di TV mulai menyiarkan video ditambah narasi yang membuat keadaan memanas.
Pemirsa, kami baru saja mendapatkan video tentang pelaku pengoplos dan pengemas ulang beras kualitas jelek dicampur dengan kualitas bagus. Beras yang sudah dioplos ini diperjualbelikan dengan ukuran 5 kilogram hingga 25 kilogram. Yang lebih mengherankan, nama salah satu perusahaan terkenal ikut terseret di dalamnya. Berikut percakapan dari pengoplos yang sudah kami samarkan suaranya.
"Iya. Ini beras kualitas jelek yang dibeli. Sengaja, harganya lebih murah, nanti dicampur dengan beras kualitas bagus. Yang penting beras kualitas jeleknya laku. Petani tak rugi toh? Pembeli memang rugi tapi kalau dimasak toh tak akan terlalu terlihat," jawab pengoplos yang sudah diburamkan wajah dan disamarkan suaranya oleh Djiwa.
Sampai berita ini diturunkan belum ada konfirmasi dari pihak BELOG dan kementrian perdagangan terkait video yang beredar. Tentunya kami tak ingin hal yang merugikan konsumen akan terus berlanjut dan pihak berwenang bisa mengusut tuntas mafia beras tersebut.
Djiwa mematikan siaran berita di TV. "TV sudah. Ren, sekarang saatnya kita jadi netijen julid. Lo cari ibu-ibu dan buat video tentang kualitas beras punya keluarga Melati. Kita viralkan! Kita buat mereka hancur dalam sekejap!"
****