
Djiwa mengendarai motor bututnya dengan hati riang. Thinwall berisi aneka cemilan menggantung di gantungan motor. Oleh-oleh untuk istri tercinta yang menunggu di rumah.
Djiwa sudah memakai kemeja sederhana seperti saat berangkat. Di belakang Djiwa, Rendi mengikuti atasannya agar selamat sampai tujuan. Rendi memperhatikan Djiwa yang diperkirakan sedang bernyanyi karena kepalanya sesekali bergoyang mengikuti irama musik.
"Kok bisa pebisnis sukses sampai mabuk janda begitu? Ck ... ck ... ck ...." gumam Rendi. "Sudah mabuk minuman ditambah lagi judi, masih saja Abang tergoda janda kembang tak sudi ku tak sudi." Rendi ikut menyanyikan salah satu lagu dangdut yang cukup terkenal.
Setelah Djiwa sampai ruko, Rendi membunyikan klakson sekali sebagai tanda pamit lalu pergi meninggalkan bosnya. Djiwa melihat ruko sudah tutup, Mawar pasti sedang istirahat di atas.
Djiwa memasukkan motor butut miliknya lalu mengunci pintu. Ia naik ke lantai atas dan melihat Mawar tertidur pulas. Djiwa membersihkan dirinya lalu merebahkan tubuhnya di samping Mawar. Ditariknya Mawar dan ia peluk dengan erat.
Mawar terbangun dan membuka matanya. "Mas sudah pulang? Mau makan dulu?"
Djiwa tersenyum dan dikecupnya kening Mawar dengan penuh kasih. "Tak perlu, Sayang. Tidurlah kembali. Mas tahu kamu lelah. Mas sudah makan tadi di acara pertemuan."
Mawar mengangguk dan membenamkan kepalanya di tubuh Djiwa yang harum sehabis mandi. Tak lama Mawar tertidur lelap, begitu pun dengan Djiwa. Baginya, Mawar adalah obat segala hal dalam dirinya. Obat melawan godaan wanita lain, obat tidur dan obat untuk senjatanya yang besar.
Keesokan paginya mereka bangun dan menutup warung selama sehari. Semua demi perubahan yang lebih baik di bisnis Mawar. Djiwa mengajak Mawar ke pemotongan ayam dan meminta nomor telepon jika ingin diantarakan setiap pagi.
"Kita tak perlu setiap hari belanja mulai sekarang. Cukup telepon dan akan diantarkan. Untuk sayuran dan yang lain, aku punya caranya!" Djiwa kini mengajak Mawar ke toko elektronik. Ia membeli show case untuk menaruh sayuran dan cabe. "Ini untuk sayuran. Kamu pun tak perlu setiap hari ke pasar. Cukup telepon akan diantarkan."
Djiwa sudah menyuruh Rendi mencari tahu bagaimana supplai barang baku untuk berjualan bisa dilakukan tanpa harus ke pasar setiap hari. Hasilnya adalah mereka tak perlu lagi ke pasar setiap subuh.
"Memang ya, Mas itu pintar!" puji Mawar.
"Iya dong. Kita harus manajemen waktu dan tenaga. Kalau dulu kamu membelinya sedikit, menggunakan cara ini malah lebih mahal. Sekarang kamu membeli dalam jumlah banyak, cara ini lebih efektif karena mereka sekalian kirim," jawab Djiwa.
"Oh iya, Mas. Lily katanya mau bekerja sama aku. Dia mau berhenti kerja di tempat yang lama dan ingin membantuku berjualan. Bagaimana menurut Mas?" tanya Mawar.
"Boleh saja. Justru bagus. Kita ubah jam kerja. Ibu Sari datang pagi untuk membersihkan ayam dan membantu kamu di dapur, Lily masuk agak siang untuk melayani pembeli. Kamu jadi tak perlu terlalu lelah bekerja mulai sekarang," usul Djiwa.
"Iya juga sih. Baiklah. Akan aku informasikan pada mereka berdua."
Sementara Mawar mengurus karyawan dan makanan, Djiwa dan Rendi mengubah konsep warung Mawar. Djiwa sudah memesan papan nama baru dan mendekor ruko agar terlihat lebih menarik. Di halaman depan ruko ada tempat duduk untuk nongkrong yang di atasnya ada payung lebar agar pengunjung tidak kehujanan dan kepanasan.
Ruko sebelah yang kosong (Djiwa memang sengaja menyewa dan mengosongkannya) membuat mereka berjualan lebih leluasa. Nanti Djiwa akan pelan-pelan membujuk Mawar untuk meluaskan usahanya sampai ke ruko sebelah.
WARUNG JANDA BOHAY
Papan nama baru sudah Djiwa pasang. Dari namanya saja sudah menarik orang untuk datang membeli. Djiwa berencana akan mengadakan promosi agar pembeli yang datang makin banyak.
Ruko baru dengan konsep baru selesai tepat waktu. Djiwa puas dengan hasil kerjanya, begitu pun dengan Mawar. Ia tak menyangka kalau warungnya yang semula hanya di depan rumah kontrakkan kecil kini sudah menjelma menjadi sebuah warung keren di ruko dengan konsep yang fotogenic.
"Iya dong. Semua demi kamu, Sayang!" Djiwa memeluk pinggang Mawar dan mengecup keningnya di depan Rendi dan Lily tanpa sungkan. Rendi dan Lily saling pandang dan menunduk malu. Mereka juga ingin seperti Djiwa dan Mawar.
"Mas cuma mau kamu sukses, Sayang. Oh iya, Mas lupa!" Djiwa mengambil thinwall yang ia taruh di lemari es paling belakang dan memberikannya pada Mawar. "Untuk kamu!"
"Apa ini Mas?" Mawar membuka tutup thinwall dan mengerutkan keningnya.
"Ini anniversary pernikahan kita bulan pertama. Maaf ya Mas baru bisa kasih hadiah dari acara pertemuan semalam. Mas janji akan memberi kamu yang lebih lagi nanti!" janji Djiwa.
Mata Mawar berkaca-kaca melihat pemberian Djiwa. Meski bentuknya sudah campur aduk antara cokelat dan kacang pistacio, Mawar bisa melihat nilai tulus yang Djiwa berikan dalam hadiahnya.
Rendi yang melihat adegan di depannya mengumpat dalam hati. "Hadiah apaan? Itu hasil menjarah di rumah orang tau!"
"Makasih ya, Mas. Hadiah dari Mas sangat berarti buat aku." Mawar memeluk Djiwa dengan erat membuat Rendi dan Lily kembali menjadi obat nyamuk kemesraan pasangan di depan mereka.
"Kalau saja Mawar tahu hadiah yang Djiwa berikan adalah hasil nyomot di rumah Melati, kira-kira gimana ya reaksi Mawar?" batin Rendi.
"Mereka romantis sekali ya, Mas?" komentar Lily.
"Iya. Romantis sekali," jawab Rendi. "Meski sering nyusahin," gerutu Rendi dalam hati.
"Mawar beruntung bisa bertemu Mas Djiwa. Aku bisa lihat kalau Mas Djiwa sangat mencintai Mawar. Aku berharap, Mawar akan bahagia selalu. Mawar lebih malang nasibnya dari aku. Selama kami di penjara, hanya ibunya yang menjenguk. Itu pun tak lama karena Ibunya sakit-sakitan dan akhirnya meninggal. Mawar itu wanita baik, hanya nasibnya saja yang buruk," kata Lily.
Rendi menghela nafas dalam. Ia sadar, nasib Mawar bisa lebih buruk lagi nanti. Semua karena Mawar menikahi bosnya. "Takdir memang terkadang suka mempermainkan manusia seenaknya. Kamu sendiri bagaimana? Mau menjadi seperti Mawar? Kalau mau, aku siap menjadi seperti Djiwa yang mencintai Mawar."
Lily menunduk malu. Ia memang menyukai Rendi sejak pertama bertemu. Rendi anak yang rajin dan baik. Lily lalu menyadari sesuatu. Masa lalunya. Ia pun menarik diri.
"Aku tak layak untuk kamu, Mas. Masa depan kamu masih bisa lebih cerah lagi jika dengan yang lain." Lily kini berwajah sedih.
"Cerah itu belum tentu indah. Kamu lihat saja efek kamera yang ada di ponsel. Membuat wajah cerah agar terlihat cantik, padahal aslinya tidak. Namun jika sesuatu sudah indah, mau pakai kamera buram sekalipun akan tetap terlihat cantik. Aku lebih memilih kamu yang indah dibanding yang cerah, karena hati kamu cantik melebihi yang lain," balas Rendi.
Wajah Lily kini memerah. Ia merona mendengar perkataan Rendi.
"Cie ... ngegombal loh dia! Udah pacaran aja! Rendi kelamaan jomblo udah hampir karatan tuh!" sindir Djiwa.
"Gimana, Ly. Mau tidak?" tanya Rendi.
****