
"Mawar!"
Mawar mengangkat wajahnya dan menghambur ke pelukan orang yang memanggilnya. "Ly! Aku bukan pembunuh, Ly! Aku bukan pembunuh!"
Tangis Mawar pecah bersama tubuhnya yang terasa dingin dan bergetar saat Lily memeluknya. "Iya. Kamu bukan pembunuh. Kamu itu sahabatku. Wanita baik hati. Tenanglah dulu."
Lily agak lama memeluk Mawar. Membiarkan Mawar sedikit tenang dan pada akhirnya Mawar melepaskan pelukannya. "Makasih, Ly. Kamu sudah menenangkanku."
Lily mengangguk dan tersenyum teduh. "Ada apa? Aku lihat kamu ketakutan dan cepat-cepat pergi ke atas. Siapa yang kamu lihat?"
Mawar menggelengkan kepalanya. "Tak ada. Aku baik-baik saja." Mawar kembali duduk sambil melipat kedua kakinya. Memeluk dirinya sendiri seakan melindungi dirinya dari dunia luar.
Lily tahu ada yang tak beres dengan sahabatnya. Lily ingin mengorek keterangan lebih banyak lagi namun melihat sahabatnya yang masih ketakutan, Lily urung melakukannya. Yang terpenting bagi Lily adalah Mawar tenang dan tak lagi ketakutan.
"Kamu di kamar saja ya! Biar warung aku yang urus. Kamu nggak usah pikirkan apapun, istirahat saja. Aku tak bisa menemani kamu lebih lama karena di bawah sedang ramai. Kalau sudah sepi kembali, aku janji akan menemani kamu."
Mawar menganggukan kepalanya, Mawar sadar warung itu tanggung jawabnya, bukan Lily. Kalau saja orang itu tidak muncul, pasti Mawar sedang mengurus warungnya dengan semangat penuh.
"Tolong ya, Ly. Aku mengandalkan kamu!"
Lily tersenyum hangat. "Percaya aja ya sama sahabat kamu ini. Aku enggak akan pernah mengecewakan kamu sekalipun. Kamu istirahat saja biar warung urusan aku."
Lily meninggalkan kamar Mawar dan turun kembali ke bawah. Lily melayani para pembeli yang datang. Benar saja, Ibu Sari dan Mbak Nia agak kerepotan karena banyak pembeli yang datang dan bahkan antri di depan.
Lily dengan sigap mengambil buku menu dan mencatat menu pesanan yang masuk. Tak akan dia biarkan sahabatnya merugi. Lily akan menjadi seseorang di belakang Mawar yang menemani sahabatnya menaiki tangga kesuksesan.
Warung Janda Bohay baru agak sepi sekitar pukul 3 sore. Para karyawan sudah kembali ke kantor, anak-anak sekolah juga mulai pulang ke rumah dan tukang ojek yang sudah mengantarkan pesanan ke pemesannya. Tinggal menunggu warung ramai kembali saat jam pulang kerja dan malam hari.
Lily tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia menelepon Rendi untuk melaporkan apa yang sudah terjadi dengan Mawar. "Mas, tadi Mawar tiba-tiba ketakutan." Lily memulai pembicaraan setelah mengucap salam.
"Ketakutan? Takut kenapa?" Rendi terdengar khawatir mendengar aduan dari Lily.
"Tak tahu, Mas. Sepertinya, ada seseorang yang Mawar kenal datang ke ruko. Perubahan sikap Mawar secara tiba-tiba, Mas. Mawar yang semula ceria melayani pembeli yang datang, tiba-tiba ketakutan dan menyerahkan pekerjaan pada kami, karyawannya. Mawar lalu berlari ke kamar dan terlihat mengurung diri. Saat aku datang, tubuhnya bergetar dan dingin. Mawar meracau dan ketakutan. Aku kasihan, Mas. Apa yang harus aku lakukan?"
"Kamu nggak kenal siapa yang datang?" tanya balik Rendi.
"Tidak, Mas. Aku dan Mawar bertemu selama di Lapas aja. Aku tak pernah bertemu orang-orang dari masa lalu Mawar. Keluarga Mawar sama sekali tak ada yang menjenguknya selama di Lapas, selain almarhum ibunya tentu saja," kata Lily.
"Nanti Mas akan coba bicara dengan Djiwa. Siapa tahu, Djiwa bisa mengorek keterangan lebih dalam lagi dari Mawar. Kamu coba cari tahu siapa yang Mawar lihat. Mas akan periksa dari CCTV. Tolong dijaga Mawar ya. Jangan biarkan dia seorang diri dan ketakutan lagi." Tugas menjaga Mawar adalah tugas Rendi juga. Ia tak mau bosnya sedih jika terjadi apa-apa dengan istrinya.
"Tentu, Mas. Aku akan jaga sahabat aku. Aku tak mau Mawar sedih dan ketakutan. Maaf ya Mas mengganggu waktu kerja Mas Rendi." Lily merasa tak enak hati mengganggu kekasih hatinya bekerja, namun terpaksa Lily lakukan karena hal ini bersifat mendesak dan penting.
****
Djiwa mengepal tangannya dengan kesal. Rendi sudah melaporkan apa yang terjadi pada Mawar. "Siapa lagi sih yang ganggu istri gue? Kemarin Melati, sekarang siapa?" sembur Djiwa.
Rendi mengeluarkan tab miliknya dan memutar rekaman CCTV di warung Mawar. Djiwa melihat warung Mawar mulai ramai. Tukang ojek online dipanggil satu persatu oleh Mawar saat pesanan sudah selesai.
"Mawar masih biasa saja. Melayani para ojek online yang mau mengambil pesanan. Bos lihat deh saat Mawar mengangkat wajahnya. Dia terlihat terkejut dan mulai gelisah." Rendi lalu menggeser layar tab miliknya. "Ini CCTV yang diambil dari depan ruko."
Djiwa menonton rekaman CCTV dengan wajah serius. Ia mau tahu apa yang terjadi dengan istri tercintanya. Seorang laki-laki bertubuh agak gempal dan berkulit sawo matang nampak turun dari motor.
Kening Djiwa berkerut. Agak aneh karena laki-laki itu celingukan dan agak mencurigakan. Tak ada senjata tajam yang dipegangnya. Itu artinya Mawar mengenal lelaki tersebut, karena itu Mawar ketakutan.
"Perbesar gambarnya!" perintah Djiwa.
Rendi mematuhi apa yang bosnya perintahkan. Djiwa tak mengenal lelaki tersebut. Bukan fans Mawar yang centil apalagi Pak Lurah yang menghilang tanpa jejak sejak mereka menikah.
"Siapa ya dia, Ren? Kok Mawar segitu takutnya? Mukanya biasa saja Ren. Bukan muka bengis macam preman pasar atau tukang tagih. Kenapa Mawar takut ya?" Djiwa tak mendapat jawaban karena Rendi sendiri juga belum tahu siapa laki-laki yang membuat Mawar ketakutan.
"Coba rekaman saat Mawar takut!" perintah Djiwa.
Rendi menurut. Ia memutarkan video yang Djiwa minta. Nampak Mawar yang sedang ketakutan bahkan menaruh celemeknya dengan asal.
Djiwa menyandarkan kepalanya di kursi kerja miliknya. Masalah Melati belum sepenuhnya kelar, kini ada masalah baru. Kalau memang orang tersebut adalah orang yang Mawar kenal dari masa lalunya, Mawar harus bisa menghadapi orang tersebut. Harus berani. Kenapa Mawar takut?
"Mungkin Mawar mengalami trauma, Bos. Masa lalu dia kelam. Dituduh membunuh padahal bukan dia pelakunya. Kini saat masa lalu datang, bayangan trauma masa lalu kembali hadir. Sedikit saran, Bos. Pulanglah! Temani Mawar. Ajak dia bicara. Bos juga akan tahu siapa lelaki tersebut sekalian memberikan semangat agar Mawar lebih berani," nasehat Rendi.
Djiwa menganggukkan kepalanya. "Iya. Kayaknya gue memang harus pulang cepat, Ren. Gue balik dulu. Sisa laporan, lo kirim saja lewat email!"
Djiwa mengambil jas dan tas miliknya lalu pergi keluar ruangan.
"Djiwa!"
Langkah Djiwa terhenti saat namanya disebut. Djiwa berbalik badan dan melihat seulas senyum terukir di wajah orang yang memanggilnya. "Bisa kita bicara?"
Huft ... datang lagi pengacau. Capek deh!
****