
Rendi menghirup nafas dalam dan menghembuskannya. Lily tidak sepolos Mawar. Ia tak bisa menyembunyikan semua namun juga tak bisa mengatakan semuanya. Djiwa bisa marah besar padanya kalau membongkar identitasnya sebelum Mawar dirasa siap untuk bertemu kedua orang tua Djiwa.
Rendi memberi kode pada Djiwa kalau akan mengangkat telepon di luar. Djiwa mengangguk dan mengijinkan asisten pribadinya keluar ruang meeting. Sesampainya di luar, Rendi mencari sudut sepi agar bisa berbicara tanpa ada yang mendengar. "Jadi begini ... Melati itu sudah lama menyukai Djiwa. Sayangnya, Djiwa tidak. Djiwa hanya mencintai Mawar seorang. Jujur saja, Djiwa itu sangat pintar. Kamu lihat saja bagaimana kemajuan warung Mawar semenjak Djiwa memanage. Maju bukan?"
"Iya sih. Lantas apa hubungannya dengan Melati?" tanya Lily.
"Melati itu sudah mengincar Djiwa. Sayangnya, Djiwa tak mau dengan perempuan ambisius seperti Melati. Djiwa hanya mencintai Mawar dan rela hidup su- maksudnya rela kerja keras demi membahagiakan Mawar. Djiwa itu tulus sama Mawar. Aku menduga, Melati menyuruh orang untuk mengikuti Djiwa dan tahu dimana Djiwa tinggal. Jangan sampai Melati tahu tentang pernikahan Djiwa dan Mawar. Melati orangnya suka nekat dan khawatir Mawar akan terluka nantinya."
Lily memikirkan sejenak perkataan Rendi. Masuk akal alasannya. Ia pun akhirnya percaya setelah Rendi menjelaskan panjang lebar. "Jadi, aku juga harus menutupi ini semua dari Mawar?"
"Tak perlu. Kamu tak perlu menutupinya. Usahakan saja mereka jangan sampai bertemu. Aku hanya mengkhawatirkan keselamatan Mawar karena Melati adalah anak orang kaya yang bisa berbuat sesuka hatinya." Rendi sengaja menakuti Lily.
"Baiklah. Akan aku jaga sahabatku," kata Lily pada akhirnya.
Rendi kini bisa bernafas lega. Satu masalah bisa diredam, belum selesai karena ia tahu suatu hari bom akan meledak. Semua karena ulah bosnya yang kebanyakan les akting.
Djiwa keluar lebih dulu dari ruang meeting. Ia menghampiri Rendi dan menanyakan apa yang sudah terjadi. "Ada apa?"
"Gawat, Wa. Melati datang ke warung lo!" jawab Rendi.
"Hah? Melati? Tau darimana dia? Sial, pasti dia nyuruh orang buat ngikutin gue deh!" umpat Djiwa.
"Lo masih beruntung. Lily yang menemui Melati tadi, coba kalau Mawar gimana?" tanya Rendi. "Lily lebih pintar dari Mawar, Wa. Lily curiga sama lo. Melati tadi pesan ke Lily, katanya lo disuruh tanggung jawab atas kejadian malam itu. Lily belum kasih tau Mawar, dia telepon gue dulu. Untunglah Lily bisa gue yakinin, kalau tidak ... entah gimana nasib lo, Wa."
Djiwa menghembuskan nafas kesal. "Rese tuh anak. Berani-beraninya datang ke tempat gue. Thanks, Bro. Lo udah bantuin gue. Sekarang lo cari tahu tentang bisnis Melati. Gue ada feeling enggak enak dengan bisnis exspor beras dia."
"Hah? Cari tahu lagi? Penyebab Mawar di penjara aja masih gue cari tahu. Belum tentang Aksa. Banyak banget PR gue," gerutu Rendi. "Kapan gue bisa jalan sama Lily?"
"Udah lo jangan bawel. Sekarang Aksa dimana? Gue bakal datengin dia mumpung meeting selesai lebih cepat."
Rendi menelepon kenalannya dan memberitahu Djiwa dimana keberadaan Aksa. "Masalah Aksa gue selesaikan sekarang. Lo fokus sama dua permintaan gue yang lain!" Djiwa mengambil kunci mobil dan pergi sendiri ke tempat Aksa.
Sebuah club di tengah kota dengan tempat agak tersembunyi menjadi tempat yang Djiwa datangi. Ia menelepon orang suruhannya untuk datang. Rendi ia tugaskan mencari tahu tentang Melati. Biar Aksa dia yang urus.
Sudah lama Djiwa tidak masuk ke dalam club seperti ini. Tepatnya sejak terakhir ia dibuat teler dan terbangun dengan hanya celana pendek tanpa selembar uang dan alat komunikasi sama sekali.
"Dimana Aksa?" tanya Djiwa pada pemilik club.
"Eh Bos Djiwa. Aksa ... tidak ada-" Pemilik club terlihat gelagapan. Djiwa memotong ucapannya karena tahu apa yang akan dikatakannya hanyalah kebohongan semata.
"Jangan bohong! Gue paling enggak suka dengan pembohong. Bisnis club yang lo jalanin ini sudah berapa lama? Ada berapa karyawan lo? Mau mereka kehilangan pekerjaan, termasuk lo yang kehilangan tempat usaha kalau gue marah?" ancam Djiwa dengan senyum yang lebih menyeramkan daripada bentakan.
"Ja-jangan dong, Bos. Becanda, oke? Aksa kayaknya tadi ada deh, entah sudah pulang atau belum. Biasanya dia datang saat malam. Ini dia-"
Djiwa kembali memotong perkataan pemilik club. "Lo tau kalau gue bukan orang yang sabaran bukan? Dimana Aksa?"
"Oke." Djiwa menepuk bahu pemilik club yang terlihat ketakutan dengan ancaman Djiwa. "Club lo aman."
Djiwa berjalan menuju ruangan VIP di sebelah kiri. Dikendurkannya dasi yang dikenakannya. Dibuka kancing jasnya. Dua body guard yang ada di belakang Djiwa selalu setia menjaga bos mereka.
Djiwa menaikkan kedua alisnya. Memberi kode pada kedua bodyguardnya untuk maju. "Buka!"
"Siap, Bos!"
Kedua bodyguard Djiwa membuka pintu ruangan yang ternyata terkunci rapat.
"Tendang aja! Urusan biaya, biar gue yang urus!" perintah Djiwa.
Bodyguard Djiwa pun menurut perintah bos mereka. Ditendangnya pintu dengan sekuat tenaga dan terbuka. Tubuh bodyguard dengan berat di atas 90 kg tersebut tentu saja mudah membuka pintu dalam sekali tendangan.
Di dalam nampak Aksa sedang dihibur dengan dua gadis cantik. Ia menikmati layanan yang dua gadis malam itu berikan. Saat pintu dibuka paksa, Aksa dan kedua gadis tersebut terkejut.
"Siapa kalian?" bentak Aksa.
Kedua bodyguard memberi Djiwa jalan. Aksa terkejut mendapati siapa yang mendatanginya. "Dji-Djiwa?"
"Kaget? Kancingin dulu tuh celana lo! Pistol kecil aja dipamerin di depan gue!" kata Djiwa dengan santainya.
Aksa cepat-cepat menaikkan resletingnya dan malangnya karena terlalu cepat, senjata miliknya jadi terjepit. "Aww!"
Djiwa ikut mengernyit seakan merasakan apa yang dirasakan Aksa. Dua wanita yang sejak tadi memuaskan Aksa kini membantu Aksa dan mengambil es batu untuknya. Meredam rasa sakit yang Aksa rasakan.
"Uuh ... pasti sakit ya? Mau yang lebih sakit lagi?" ledek Djiwa.
"Wa ... please ... ini sakit banget ...." Aksa mengaduh kesakitan.
Djiwa masih belum melakukan apa-apa untuk membalas rasa sakit hatinya namun Aksa sudah mendapat karma. Djiwa lalu menyuruh dua wanita malam milik Aksa untuk keluar.
Djiwa menarik kursi dan duduk menatap Aksa. "Jadi, siapa yang nyuruh lo membuang gue di kampung yang gue enggak kenal hah?"
"Lo mabuk kali, Wa. Lo pasti yang nyasar ke sana terus membuang pakaian dan ponsel milik lo." Aksa yang kesakitan tak menyadari apa yang ia bicarakan.
"Kok lo tau kalau gue enggak pakai baju selain celana pendek? Lo juga bisa tau kalau gue enggak pegang ponsel? Gue enggak bilang loh dari tadi. Jadi benar, lo yang buang gue? Siapa yang nyuruh?" Tak ada lagi senyum di wajah Djiwa. Ia sangat serius dan marah sekarang. Suasana menjadi hening. Semua tahu saat Angkasa Djiwa marah, tak akan selesai dengan mudah.
"JAWAB!"
****