
Membuat Jerrol begitu terkejut sampai ia segera menoleh ke belakang, meskipun pukulannya cukup ringan. Terlihat seorang wanita cantik yang tiba-tiba menghampiri dirinya. Wanita itu selama ini sudah ia kenal dengan baik, dan sudah menjadi sekretaris pribadi milik Tuan Erlan sekaligus temannya saat berada di dalam satu pekerjaan.
Wanita bernama Alice Brianna, dan kerab dipanggil dengan Alice. Kedatangannya tidak sengaja melihat Jerrol dari jauh.
"Eh mau ngapain? Mau ngintip orang mesra-mesraan, ya?" tanya Alice dengan nada bercanda sembari menunjuk dengan telunjuk dengan senyuman menggoda.
"Ya ampun, Alice. Aku pikir tadi siapa. Kok bisa ada di sini? Tapi, jangan salah paham dulu. Enggak ada yang lagi ngintip kok di sini," sahut Jerrol dengan membela diri.
"Ah masa sih? Itu tadi ketahuan tengok ke sana. Emangnya di dalam siapa? Apa Tuan Erlan sedang sakit?" Alice ikut merasa penasaran, sembari ia bertanya, ia ikut menengoknya.
Betapa membuat Alice terheran saat melihat wajah Yoona. "Loh, itukan Fiona. Lalu pria itu siapa? Sepertinya bukan Erlan. Bukannya mereka baru menikah, ya? Apa istrinya ada di dalam sana atau Erlan yang sakit?" Alice semakin penasaran hingga tak hentinya bertanya.
Dengan perlahan Jerrol tersenyum sembari menepuk jidat Alice, meskipun ia sudah sering bergurau, namun tidak seperti sekarang yang melihat Alice begitu lucu saat ingin tahu sesuatu.
"Ya, kau benar, Alice. Wanita di dalam sana memang istrinya Tuan Erlan, namun dia bukan Fiona—seperti yang kita kenal selama ini. Melainkan dia adiknya, dan wajah mereka mirip karena memang kembar. Satu lagi, Tuan Erlan sedang baik-baik saja. Jadi, kamu tidak perlu secemas itu," jawab Jerrol yang memang mengetahui jika Alice sudah menyimpan perasaan terhadap tuannya selama kurang lebih sepuluh tahun.
"Tunggu dulu, itu artinya kalau Erlan tidak jadi menikah bersama tunangannya dulu. Lalu wanita di dalam sana wajahnya mirip sekali dengan Fiona. Berarti mereka ... sial, dia sudah berusaha menipu Erlan. Lihat saja kali ini aku tidak akan tinggal diam," batin Alice yang berusaha menahan amarahnya untuk tidak diketahui oleh Jerrol.
Alice yang sudah menjadi teman saat Erlan sekolah, sekaligus wanita itu selalu berusaha menjadi teman dekat walaupun perasaannya tidak pernah digubris. Bahkan sama sekali tidak diketahui oleh Erlan. Cinta dalam diam yang selalu Alice sembunyikan hanya karena dirinya tahu bahwa pria yang ia cintai jauh lebih bahagia bersama dengan wanita lain.
Namun berbeda setelah melihat orang lain yang memiliki wajah mirip dengan Fiona. Membuat Alice merasa kesal karena berpikir jika Erlan sedang dipermainkan. Terlebih ia sudah berusaha menyembunyikan rasa cintanya bahkan sepuluh tahun lamanya.
"Jerrol, kenapa Tuan Erlan mau menikah dengan wanita itu? Lalu sekarang dia sedang bermesraan dengan pria lain, apa dia sudah kehilangan akal?"
"Santai dulu, Alice. Kita sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan mereka berdua di dalam sana, namun nanti aku akan mencoba bertanya supaya Tuan Erlan tidak harus menerima penderitaan. Meskipun aku tahu jika tuanku hanya dijebak dengan pernikahan ini. Wanita itu sama sekali tidak memberitahukan kebenaran tentang wajahnya itu. Lalu kenapa kau bisa ada di rumah sakit, Alice?"
"Aku melihat kabar terbaru kalau ada seorang wanita paruh baya sedang dirawat koma di sini, itu sebabnya aku ingin menjenguk wanita itu. Bibiku bilang jika dia tahu banyak hal tentang masa laluku dulu dan orangtuaku juga. Baiklah, Jerrol. Karena kau sudah memberitahukan tentang wanita itu, maka aku yang akan masuk ke dalam sana dan melabrak kemesraan mereka. Aku tidak ingin jika sampai Erlan dipermainkan oleh wanita bodoh itu," ketus Alice yang sudah tidak sanggup bersabar.
"Eh, jangan dulu, Alice. Ayolah kenapa kau harus marah-marah begini? Tenanglah dulu." Tahan Jerrol sembari mencekal lengan.
"Enggak bisa. Mana mungkin aku membiarkan Erlan menikah dengan wanita seperti itu. Meskipun dulu aku pernah mengalah demi Erlan bahagia, tapi tidak dengan harus melihat kebahagiaannya bersama wanita pengkhianat itu. Enak saja dia bisa mempermainkan pria yang aku cintai." Alice semakin tidak ingin berdiam.
Melihat amarah yang semakin tidak terkendali, Jerrol segera menarik tangan Alice untuk menjauh.
"Lepaskan aku, Jerrol. Kenapa kau memaksaku pergi?"
"Ini rumah sakit, Alice. Kau tidak bisa membuat keributan di sini begitu saja, apalagi kita belum tahu pasti kalau Yoona dan pria itu sedang bermesraan seperti yang sedang kita duga. Lebih baik lain waktu, karena aku yang akan mencari tahu tentang hubungan mereka berdua," jelas Jerrol demi kebaikan bersama.
"Tidak bisa, Alice. Aku tidak akan membiarkan dirimu pergi."
"Oh, namanya Yoona, baiklah," batin Alice dengan memiliki maksud tertentu.
"Dasar kau ini sangat sulit diajak kompromi. Ah sudahlah, aku akan datangin rumah Erlan. Jika awal aku tahu dia menikah dengan wanita bodoh itu, maka lebih dulu aku yang akan menghalangi pernikahan mereka. Ya sudah, jangan beritahukan apapun kalau aku mengetahui tentang kebenaran wanita itu."
"Baiklah, pergi temui dia," sahut Jerrol yang hanya bisa pasrah.
Melihat kepergian Alice yang sama sekali tidak menoleh menatapnya untuk sekali lagi, saat itu harapan besar Jerrol untuk bisa memiliki Alice semakin mengecil. Ia sadar akan siapa dirinya dan posisi di dalam hidupnya.
"Kau bahkan berusaha mengejar pria yang tidak menaruh perhatian denganmu, Alice. Andaikan kau tahu bahwa selama sepuluh tahun dulu, aku yang mencintaimu meskipun cintamu jauh lebih besar kepada orang lain, dan itu atasanku sendiri. Memang kau jauh lebih pantas bersama dengan Tuan Muda Erlan yang jauh memiliki segalanya," gumam Jerrol dengan penuh ketabahan hatinya untuk memilih menyerah sebelum berperang.
Jerrol pun kembali mendekat ke arah ruangan Yoona dirawat, namun saat itu ia melihat Yoona sedang berjalan ke luar dengan infus yang masih dipegang oleh orang asing.
Dengan cepat Jerrol bergerak sembari bertanya. "Loh, mau ke mana, Nona Yoona?"
"Kebetulan kau datang, Jerrol. Rasanya penat sekali berada di ruangan tertutup seperti itu, apalagi bau obat. Aku ingin ke taman rumah sakit, tapi jika kau ingin pulang, maka pulanglah. Pasti Mas Erlan akan membutuhkanmu," sahut Yoona dengan kejujuran.
"Oh, enggak apa-apa kok. Aku bisa menunggumu di sini sampai kau kembali, Nona Yoona. Terlebih keselamatan dirimu pasti akan diserahkan kepadaku oleh Tuan Erlan."
"Heh, kalau dibilangin enggak usah, ya udah nurut, gimana sih? Yoona akan pulang dan selamat denganku, jadi kau tidak perlu repot-repot menjadi nyamuk di sini," timpal Malvin dengan ketusnya.
"Malvin, jangan ngomong gitu," sahut Yoona yang merasa tidak nyaman. "Maafkan temanku, Jerrol. Dia memang suka sekali bercanda. Ucapannya tidak perlu kau hiraukan."
"Tapi, Yoona, aku bicara dengan serius. Memang pria tidak berguna ini harusnya pulang, kan?"
"Malvin, tolong. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman di sini. Biarkan Jerrol melakukan yang ia sukai. Jerrol, jika pun kau pulang, tolong jangan beritahukan tentang keadaanku kepada tuanmu."
"Itu tidak akan baik, Nona Yoona. Tuan Erlan harus tahu yang sebenarnya, apalagi Nona istrinya," sahut Jerrol dengan penolakan yang tegas.
"Tapi, Jerrol-" Yoona semakin merasa tidak nyaman ketika ia sadar tangan kanan dari suaminya tidak bisa diajak kompromi. Hal itu membuat hatinya merasa sedikit tidak nyaman, apalagi tiba-tiba ucapannya terhenti.
"Nona Yoona, tidak perlu khawatir."
"Andaikan kau tahu, Jerrol. Kau bilang aku sakit atau tidak, pasti suamiku tidak akan peduli. Sayangnya aku tidak bisa menceritakan hal ini kepada orang lain," batin Yoona yang berusaha menjaga utuh pernikahannya.