Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Episode 147 : Yang sebenarnya terjadi di masa lalu.


Episode 147 : Yang sebenarnya terjadi di masa lalu.


.


.


Hari penuh dengan kejutan, Edgar sudah membawa Aluna ke makam ibunya dan Aluna sudah siap akan pergi ke negaranya esok hari.


Rasanya ada kelegaan di hati Edgar, dia menemukan seseorang yang benar-benar luar biasa dan tepat di kehidupan nya.


Aluna sudah kelelahan, pergi ke luar membuat nya jadi cepat lelah.


Edgar tersenyum melihat istrinya itu terlelap di mobil, wajahnya kian cantik dan indah di matanya.


"Kau semakin cantik, setiap hari semakin cantik!" bisik Edgar mengecup kening istrinya kemudian menggendong nya memasuki mansion nya.


Hanya dalam waktu singkat, mereka sudah sampai di kamar dan Aluna segera dibaringkan di atas ranjang.


"Srak!"


Edgar mengambil Foto yang tadi ia lihat di atas meja, dia kemudian melangkah kan kaki ke arah balkon agar tidak mengganggu Aluna saat tidur.


Kembali Edgar melihat foto itu, dimana Aluna bersama para polisi, kelihatan wajah Aluna sehabis menangis di tempat itu.


Sebenarnya Edgar ingin mencari tahu ini saat mereka kembali ke negara nya saja, akan tetapi dia sudah tidak sabar sama sekali.


Jika benar dugaan nya maka yang di hotel malam itu bukan Fiona, melainkan Aluna yang entah mengalami hal apa sampai-sampai bisa sampai di bar saat itu.


"Tring ... Tring ... Tring!"


Edgar langsung menghubungi pemilik hotel yang sekitar 5 tahun lalu secara tidak sengaja menjadi tempat bersejarah baginya.


"Halo? saya Edgar Brown, sekitar lima tahun lalu, tanggal ..." Edgar berbicara sebentar lalu melihat di belakang foto tertera tanggal diambil nya foto yang ia pegang.


"Sekitar tanggal 25 Desember 5 tahun lalu, malam hari bisakah kau kirimkan cctv gedung hotel kepada ku?"


Seru Edgar membuat pemilik hotel itu tentu saja syok, memberikan rekaman cctv sekitar lima tahun lalu bukanlah hal mudah, tetapi untung saja Edgar memberitahu mengenai tanggal nya sehingga pihak hotel langsung bisa mencari dengan cepat dan menyerahkan nya kepada Edgar.


Sebenarnya hal ini tidak bisa dilakukan, tetapi karena yang meminta adalah pemilik perusahaan Brown jadi pemilik hotel tidak bisa apa-apa.


"Baik Tuan, akan segera kami kirimkan ..."


Balasan itu pun akhirnya mengakhiri panggilan mereka.


Sekitar 15 menit kemudian, Edgar sudah mendapatkan cctv yang ia inginkan.


Di sana, Edgar masih harus mencari jam yang sekiranya saat ia datang bersama seorang gadis.


***


Flash back kejadian lima tahun lalu,


Saat itu usia Aluna baru saja menginjak 20 tahun, dan secara mengejutkan dia bisa pergi ke luar negeri merasakan musim salju saat natal.


Walau hal itu terjadi karena ayahnya mendapatkan undian pengobatan dari acara televisi, tetapi Aluna bisa pergi ke sana karena harus ada wali yang menjadi pendamping pasien.


Lima tahun lalu di negara bersalju,


"Ahhh ... tempat ini indah sekali ... kenapa bisa seindah ini?" seru Aluna berbicara dari balik kaca mobil.


Dia melihat salju turun dan banyak ornamen natal berwarna merah dan hijau di sana-sini.


Matanya melebar dan berbinar-binar melihat semua itu.


Perjalanan nya begitu singkat hingga mereka sampai di rumah sakit yang ternyata tidak terlalu besar, namun tidak masalah karena pengobatan ini juga gratis.


"Aluna ... hari ini natal, malam ini juga Ayah harus istirahat penuh untuk bisa menjalankan operasi besok ..."


"Sayang sekali jika kau tidak mengelilingi kota ini, jadi pergilah sebentar ke luar, mumpung kita disini ... tapi jangan jauh-jauh."


Ayah Aluna meminta nya untuk keluar sebentar.


Ayahnya melihat Aluna duduk di pinggir jendela berkaca, dimana matanya berbinar-binar melihat salju yang sedang turun itu.


Aluna kemudian melihat ke arah Ayahnya, sebenarnya dia sangat khawatir karena ini akan menjadi pertama kalinya dia melalui jalanan yang benar-benar asing baginya.


"Apakah Ayah akan baik-baik saja?" tanya Aluna menyakinkan, matanya memelas dan sebenarnya dia memang sudah sangat ingin keluar.


Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah merasakan salju di mulutnya.


"Iya Lun, tidak apa-apa, lagian Ayah sudah mengantuk sekali, mungkin karena terlalu lelah di perjalanan ..." seru Ayahnya itu lagi.


Aluna yang mendengar itu kemudian tersenyum dan mengambil jaket tebal nya dan segera mengenakannya.


"Baiklah Ayah, kalau begitu Aluna pergi sebentar ya ..." seru Aluna tersenyum sangat lebar.


.


.


.