Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Episode 119 : Masakan mu sangat enak.


Episode 119 : Masakan mu sangat enak.


.


.


Di kediaman Edgar Brown,


"Suapi aku, tangan ku masih sakit!" Edgar tetap saja membuat Aluna duduk di pangkuan nya, selalu ingin dekat dan bersentuhan dengan istrinya.


"Jelas-jelas tangan mu bisa menarik tanganku dengan kuat, menggendong ku, kenapa saat makan tangan mu jadi tidak bisa mengangkat sendok?"


Aluna dibuat geleng-geleng selalu oleh suaminya, bagaimana Edgar selalu saja mencari alasan dan cara untuk dimanja seperti sekarang ini.


"Memangnya kenapa? kau protes? memangnya salah bermanja-manja pada istri sendiri? aku lapar ... berikan suami mu ini makan!" gerutu Edgar benar-benar manja sekarang ini.


Dia terlihat kesal, akan tetapi sisi kesal ini terasa hangat dan bukan menunjukkan kemarahan yang membabi-buta.


Aluna dengan sabar segera menyuapi suaminya makan.


Saat suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, Edgar sampai memejamkan matanya.


"Kenapa masakan mu sangat enak? aku selalu merindukan nya sejak pertama kali aku memakan nya, dari mana kau belajar memasak?"


Edgar berbicara sembari mengunyah makanan dan berpangku tangan menatap istrinya yang dekat sekali dengannya sekarang.


"Apakah seenak itu?" Entah mengapa Aluna sangat senang saat makanan yang ia buat di puji oleh suaminya, Aluna memastikan lagi dengan bertanya dengan ekspresi bersemangat, matanya melebar dan terlihat sangat imut di depan suaminya.


"Umm, menurut ku sangat enak dan sesuai dengan seleraku." balas Edgar benar-benar jujur.


Aluna langsung tersenyum, dia mengambil makanan dan lauk lebih banyak ke sendok dan menyuapi suaminya.


"Aku belajar memasak sejak kecil, Ibuku sudah tiada saat aku masih terlalu muda, aku sepertinya dewasa sebelum waktunya, saat itu aku masih ingat aku melihat Ayahku memasak telur untukku sebelum pergi bekerja, aku kasihan dan diam-diam belajar memasak ..."


"Jika memang seenak itu aku jadi bangga pada diriku sendiri, ternyata aku yang tidak memiliki bakat ini memiliki kemampuan memasak yang bagus, sangat menyenangkan mengetahui itu!"


Aluna bercerita banyak, Edgar mendengar dengan sangat baik, senyumannya merekah saat tahu istrinya adalah tipe wanita pekerja keras dan dewasa, tetapi baginya tetap saja Aluna adalah istri yang lemah, mudah menangis dan harus dia lindungi.


"Sayang, kau itu sangat sepesial, kata siapa kau tidak memiliki bakat, kau memiliki bakat merebut hatiku ..." seru Edgar ingin pagi ini mereka bahagia saja.


Jangan ada kisah sedih dan pahit, dia benar-benar ingin memulai lembaran hidup baru bersama istrinya.


Sejak ia menyadari perasaan nya, saat itulah Edgar bersumpah tidak akan melepaskan tangan istrinya ini, akan memperbaiki kesalahan di masa lalu.


"Gombal, kenapa pagi ini kau sangat suka merayu?" balas Aluna sudah menyuapi Edgar sampai suapan terakhir.


"Bukan kau, tapi suami! mulai hari ini panggil aku suamiku, kalau tidak aku akan mencium mu 100 kali!" seru Edgar mengangkat tubuh istrinya agar berdiri, lalu ia juga berdiri.


"Baiklah ... baiklah, suamiku, suamiku, suamiku!" seru Aluna benar-benar terlihat kecil jika berdiri di sisi suaminya.


"Oh ya, suami ... kenapa tidak belum bersiap-siap ke kantor? apakah hari ini hari libur?" Aluna kebingungan, apalagi saat ia menyadari Edgar malah mengajak nya kembali ke lantai atas dimana kamar mereka berada.


"Sayang, aku lupa mengatakan ini, tetapi mulai hari ini aku akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, aku meminta kepada Dean untuk mengatur jadwal ku agar pekerjaan bisa aku monitor dari rumah ..."


"Aku ingin mengajari mu beberapa hal," Edgar berbicara dengan tetap menggenggam tangan istrinya.


"Mengajari apa?"


"Mengajari tata krama di keluarga ku, mengenai hal-hal apa yang disukai oleh orangtua ku, Minggu depan aku akan membawa mu pulang dan memperkenalkan mu, jadi kau harus siap agar mereka menyukai mu!" seru Edgar dengan percaya diri dan perasaan yang sangat menggebu-gebu.


Berbeda dengan Edgar, Aluna tentunya syok dan tak menyangka.


Matanya sampai melebar dan dia tidak tahu jika Edgar benar-benar berpikir akan memperkenalkan dirinya dengan orangtuanya.


"A ... APA?" Seru Aluna syok dan terdiam sebentar.


Edgar yang menggenggam tangan Aluna menyadari jika Aluna terdiam dan berhenti sejenak.


Wajah Aluna masih terlihat syok dan terdiam.


"Sayang, kau seperti nya suka sekali di gendong ya! kau berhenti pasti karena ingin digendong kan?" seru Edgar tersenyum dengan sangat nakal.


Tentu saja sebelum dia mengajari Aluna, pertama-tama dia akan menghabisi Aluna di ranjang, dia suka melakukan itu dengan istrinya.


Dengan sigap Edgar menggendong istrinya dengan lembut dimana Aluna masih syok dengan apa yang dikatakan oleh suaminya barusan.


.


.


Di saat yang bersamaan,


"Nona, apakah benar target bernama Aluna? apakah anda yakin meminta kami menculik nya dan melakukan hal buruk kepadanya?" seru para penculik yang memang sudah dibayar oleh Freya atas suruhan Marin.


"Iya benar, apakah ada masalah?" tanya Freya kebingungan.


Dia sedang melakukan perawatan tubuh bersama Marin di sebuah salon besar di kotanya.


"Apakah Nona yakin? setelah kami selidiki dan ikuti selama satu minggu ini, beliau sepertinya memiliki hubungan yang sangat erat dengan seseorang yang sangat kaya dan berkuasa, kami juga tidak akan berani menculiknya jika nanti kami akan dalam bahaya karena ini!" seru penculik itu sedikit ragu dengan hal ini.


"Berhubungan dengan seseorang yang berkuasa? sudah kuduga, dia itu pasti hanya simpanan lelaki tua, lakukan saja apa yang aku katakan, jika berhasil aku akan menambah bayaran jadi dua kali lipat!" seru Freya sama sekali tidak tahu apa yang sedang ia lakukan sekarang.


"Dua kali lipat? wah ... baiklah Nona, kami akan segera lakukan dalam Minggu ini, bayaran nya ditunggu!" seru para penculik itu sangat senang karena akan mendapatkan bayaran lebih mahal.


Setelah panggilan itu usai.


"Si Aluna menjijikkan ini, dia menghina ku karena bersama Deffan sedangkan dia jadi simpanan lelaki tua, menjijikkan!" geram Freya sangat yakin dengan ucapannya sendiri.


"Ada apa Freya." tanya Marin tepat ada di sisi Freya sekarang ini.


"Tidak ada apa-apa Ibu mertua, tadi aku baru ditelepon oleh orang-orang yang kita bayar, katanya wanita itu akan diculik dalam Minggu ini, Ibu mertua pasti akan bisa membalaskan dendam Ibu." seru Freya sudah sangat bangga memanggil Marin sebagai Ibu mertuanya.


"Heh, baguslah! wanita menjijikkan itu harus membayar 1000 kali lipat atas apa yang ia lakukan padaku!" geram Marin benar-benar tanpa perasaan.


Padahal dia juga wanita, tetapi sangat tega merencanakan itu terhadap sesama wanita.


.


.


.