
Episode 110 : Kau pasti ketagihan.
.
.
.
Malam itu, Edgar melakukan nya dengan bersungguh-sungguh, dia meninggalkan tanda kepemilikan di setiap sudut tubuh istrinya.
Aluna bahkan sudah tidak bisa menahan erangan dan cakaran nya di pundak dan lengan suaminya.
Matanya terpejam dan terbuka saat merasakan gejolak luar biasa di dalam dirinya.
Dia memeluk suaminya kencang sekali saat dia merasakan sesuatu yang sungguh luar biasa.
Saat itu Aluna bsia melihat senyuman puas Edgar, Edgar bahkan menyesap jemari tangannya dan memutar tubuhnya untuk melakukan nya dengan posisi lain.
"Hah, tu ... tunggu, aku lelah sekali," keluh Aluna sudah kelelahan di saat pelepasan pertamanya.
Tubuhnya masih bergetar hebat namun saat itu Edgar langsung memeluknya dari belakang dan melakukan penyatuan itu lalu sembari menyesap daun telinganya.
"Bilang apa sayang? aku bahkan baru mulai, ini hanya permulaan ..." bisik Edgar dan saat Aluna syok sekali.
Tubuhnya di tindih dari atas dan dia tidak akan bisa lagi melarikan diri.
Dan benar saja, Edgar melakukan pelepasan itu sampai hampir tiga jam, tubuh Aluna membiru semua dan energi nya terkuras habis.
"Monster!"
"Mesum!"
"Bengis!"
Aluna mengumpat dalam dirinya sendiri, di saat ia terlentang di atas ranjang yang penuh keringat, dia bisa melihat suaminya dengan bangga dan tersenyum puas mengambil air minum dan minum dengan tenang.
Saat Edgar minum, Aluna menatap nya dengan tatapan mematikan, tetapi saat Edgar melangkah ke arah nya, Aluna langsung mengalihkan pandangannya ke arah berlawanan.
Edgar hanya tersenyum saat menyadari itu, dia melangkah membawa air minum dan segera duduk di sisi Aluna.
"Sayang, duduk dulu sebentar, minum air hangat dulu lalu mandi, setelah itu kita tidur ..." bisik Edgar mulai memapah Aluna untuk bisa bangun.
Aluna diam saja dan masih kesal, dia masih ingat bagaimana dia meminta ampun tadi tetapi suaminya tetap saja melanjutkan kebuasannya.
Aluna sudah berhasil duduk, dia hendak mengambil gelas yang ada di tangan suaminya.
Saat ia menggenggam nya, Aluna syok sekali.
Matanya melebar saat menemukan jika dirinya bahkan sudah tidak bisa memegang gelas dengan baik.
Tangannya bergetar dengan sangat hebat sampai air minum nya tumpah.
"Apa yang terjadi? apakah energi kehidupan ku diserap oleh mu? kenapa aku bahkan tidak bisa memegang gelas lagi?" seru Aluna syok dan bingung sekali.
Saat itu Edgar sudah dengan sigap meraih gelas yang ada di tangan istrinya agar tidak tumpah.
"Sayang, bagaimana mungkin ada manusia bisa menyerap energi kehidupan, aku tidak melakukan nya, ini semua terjadi karena energi mu yang sangat lemah ..." Edgar belum menyelesaikan ucapannya.
Tetapi seperti sudah ada panah langsung menembak dirinya.
"Tidak pernah berolahraga," Edgar menambahkan ucapannya lagi membuat Aluna sampai terdiam dan menunduk.
Panah kedua langsung menusuk dirinya dengan kata-kata suaminya yang memang nyata adanya.
"Jadi ini semua karena energi ku yang lemah, bahkan saat aku tidak bisa memegang gelas dengan baik itu semua juga karena salah ku?" seru Aluna melihat tangannya yang gemetaran.
Edgar mulai menyandarkan tubuh istrinya di lengannya, agar dia bisa memberikan minum istrinya yang masih syok saat menyadari jika dia kehilangan energinya.
"Tentu saja, orang yang jarang olah raga akan mudah lelah dan kehabisan energi, jadi mulai sekarang kau harus rajin berolah raga, ini semua demi kebaikan mu,"
"Aku sebenarnya ingin menahan diriku untuk tidak berlebihan tetapi sepertinya aku memang benar-benar menginginkan mu jadi aku tidak bisa berhenti saat sudah memulai,"
Edgar sudah memberikan istrinya yang masih syok itu minum.
"Setelah aku pikir lagi, kenapa semuanya jadi salah ku? kan kau yang melakukan nya dengan berlebihan, aku bahkan meminta ampun tadi, tapi kau malah melanjutkan nya semakin kencang sampai aku hampir berteriak ..."
Aluna keceplosan, dia malah mengingatkan adegan buas tadi saat mereka masih melakukan penyatuan.
"Boom!"
Seperti ada bom meledak di kepala Edgar, pipi dan daun telinga nya merah lagi, jantung nya berdegup kencang lagi.
Lintasan ingatan nakal dan penuh keringat tadi terlintas di benaknya.
Dia menelan salivanya dan terdiam menatap istrinya dimana salah satu tangannya masih merangkul istrinya.
"Ma ... maksud ku adalah, aku tak salah sepenuhnya, memang energi ku lemah, tetapi seharusnya kau juga menahan dirimu dan ..."
Belum sempat Aluna melanjutkan ucapannya, Edgar langsung ...
Edgar mencium bibir manis istrinya dan membisik pelan sekali.
"Sayang, kau berbicara sedikit lagi maka kejadian tadi akan aku lanjutkan lagi, aku sangat serius dengan ucapan ku, jika aku benar-benar gila karena mu, jadi diam lah dan jangan menggodaku lagi ..." bisik Edgar membuat Aluna terdiam dan menutup mulutnya dengan matanya yang melebar disaat yang bersamaan.
Dia geleng-geleng kepala sebagai tanda isyarat untuk tangan melakukan hal itu lagi.
'JANGAN! AKU BISA MATI!'
Teriak Aluna dalam dirinya karena tidak akan berbicara sepatah kata pun lagi.
'Bahkan berkeluh kesah pun sudah menggoda baginya, lalu apa yang harus aku lakukan? aaaaa ... aku bingung!'
Teriak Aluna dalam dirinya sendiri.
Setelah itu, Edgar segera menggendong istrinya di tangannya, untung saja tadi Aluna sudah mengenakan selimut tipis untuk menutupi tubuhnya, jadi saat digendong dia tidak benar-benar terlihat polos.
"Ma ... mau kemana? katanya tidak akan melakukan nya lagi ..." teriak Aluna pelan sekali, dia panik saat tubuhnya di gendong menuju kamar mandi.
Saat itu Edgar hanya diam saja dan wajahnya merah sekali.
"Crashh ..." Edgar segera membuat Aluna duduk di bathtub yang tadi sudah isi dengan air hangat sampai air nya sedikitpun tumpah ke lantai.
'Oh tidak ... apakah dia akan melakukan nya lagi? tulang ku akan remuk dan mungkin aku akan duduk di kursi roda selama satu minggu, tidaaaaakkkkk!'
Aluna panik sekali, dia menatap suaminya dengan mata yang sangat waspada dan dia juga menutupi tubuh bagian atasnya dengan tangan mungilnya.
"Ehem!"
"Aku tahu kau akan kecewa karena aku akan mengatakan ini, tetapi aku mandi di ruangan sebelah saja, aku tidak ingin membuat mu remuk jika melakukan itu lagi, kesehatan mu lebih penting sayang ..."
"Ingat ya, aku tahu melakukan itu sangat menyenangkan dan membuat ketagihan, aku juga sadar bagaimana aku membuat mu tergila-gila, tetapi dari semua itu yang lebih penting adalah kesehatan mu,"
"Jadi, berhentilah menggodaku dan mandi lah disini ya ..." seru Edgar benar-benar dalam mode kepercayaan diri yang membuat Aluna sampai terdiam menganga dan geleng-geleng kepala.
"Tak ... Tak ... Tak!"
Saat itu Edgar segera mengalihkan pandangannya dan pergi melangkah ke luar kamar mandi.
"Menggoda? aku menggoda! apa-apaan itu tadi? astaga ... dia memang sangat aneh!" Aluna berteriak kecil dan memukul-mukul air di bath tub.
Saat itu Edgar bahkan belum keluar dari kamar mandi.
"Aluna ..." Edgar memanggil Aluna dengan nada yang tegas dan sedikit kencang.
Seolah menekankan nama asli istrinya itu.
"Ha?" Mata Aluna melebar dan syok saat menyadari suaminya belum keluar dari kamar mandi.
Aluna menoleh ke belakang dan tersenyum kaku.
"A ... ada apa?" balas Aluna tersenyum kaku dan memperlihatkan wajah bak malaikat.
Padahal barusan dia menghina suaminya.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Jantung Edgar berdegup terlalu kencang saat ini, pipinya merah sekali dan dia menelan salivanya karena gugup.
Detak jantung nya bahkan membuat nya sedikit sakit karena terlalu kencang.
"Haaah!"
Edgar menghela nafasnya dalam-dalam lalu ia segera mengalihkan pandangannya dari istrinya itu lagi.
"Tidak ada, mandilah ... jika sudah selesai panggil aku agar aku menggendong mu," seru Edgar langsung keluar.
"Ctak!"
Saat ia sudah keluar dari kamar mandi, Edgar mengusap dadanya dan mencoba menenangkan jantung nya yang berdegup sangat kencang.
"Aku pasti sudah gila, tadi aku jelas-jelas merasakan seperti waktu berjalan sangat lambat, jantung ku juga berdegup terlalu kencang!"
Keluh Edgar merasa ada yang aneh dengan dirinya sendiri.
.
.
.
.
Dukung author dengan cara like dan komen ya guys, semoga kalian suka ceritanya.
Jangan lupa juga follow Instagram author: @Anak_Kost_Joy
Terimakasih atas dukungan nya ya guys, Lope you Somat.