
"Baiklah kalau begitu, memang kita sebaiknya ke kantor langsung," sahut Erlan yang memilih untuk pasrah.
"Baguslah jika kamu setuju, tapi kamu tidak merasa marah setelah melihat hal ini, kan? Meskipun aku tahu hubungan kalian berdua tidak cukup baik, tapi aku mengerti bagaimana situasinya, dan aku semakin curiga jika anak yang sedang Yoona kandung sebenarnya bukanlah anakmu, Sayang. Apa sebelumnya kau tidak memikirkan hal itu? Maaf, tapi pikiranku seketika terbayang ke arah sana apalagi mereka berdua sempat bermalam di hutan saat itu, bukan?" ucap Alice yang terus berusaha untuk membuat situasi rumit.
Erlan yang awalnya sangat yakin jika itu memang anaknya, namun sekarang hatinya mulai merasa tidak nyaman. Hingga memberhentikan mobilnya secara tiba-tiba.
"Sayang, ada apa? Kau cemas setelah aku mengatakan hal itu?"
"Aku masih tidak tahu dengan kebenarannya, tapi Yoona mengatakan jika anak itu adalah anakku, Alice."
"Ya, aku pun sependapat denganmu setelah mengetahui tentang hal ini, Sayang. Tetapi, aku sedikit curiga dengan wanita itu. Bukankah kita sekarang tahu bahwa dulunya mereka memiliki hubungan yang lumayan lama? Dan tiba-tiba pernikahanmu bersama Yoona terjadi, bisa saja kan saat itu Yoona sedang hamil? Ataupun tanpa sepengetahuan kita, mereka masih berhubungan baik. Lihat saja sekarang, istrimu begitu berani meminta kekasihnya untuk menjemput langsung di rumah suaminya. Menurutku, kau harus mencurigai kehamilannya itu, Erlan."
Terlihat Erlan terdiam sembari masih mencoba menduga-duga dengan apa yang sudah ia dengar, apalagi sekarang membuatnya semakin tidak tahu harus mempercayai siapa. Tetapi yang pasti, Alice sudah menjadi sekretarisnya selama ini.
Perlahan Alice menggenggam tangan Erlan dengan erat sembari berucap. "Kenapa kamu diam saja, Sayang? Jika memang Yoona dan Malvin masih memiliki hubungan sampai hamil, itu artinya kau tidak boleh menyepelekan masalah mereka ini, bukan? Mintalah tes DNA, dengan begitu akan terbukti semuanya, kan? Jika tidak, mereka akan semakin berusaha bersenang-senang atas apa yang sudah dilakukan."
"Dan semoga saja aku bisa terus membuat Erlan terperdaya sampai dia benar-benar mempercayai diriku. Aku hanya takut kalau aku kehilangan Erlan, sebab dia salah satu aset terbesar untuk diriku bertahan hidup dalam kemewahan tanpa bekerja keras," batin Alice yang memiliki niat buruk.
"Um ... aku akan mencoba memikirkan hal ini dengan baik. Apapun itu akan aku lakukan, dan meminta Yoona supaya bisa membuktikan hal ini. Lebih baik sekarang kita lanjut pergi. Ini sudah lewat tiga puluh menit, apalagi rapat penting itu sudah sedikit terlambat."
"Hei, tidak perlu terburu-buru, Sayang. Aku hanya berpura-pura mengatakan kalau ada rapat penting. Sebenarnya tidak ada rapat apapun itu karena aku hanya menginginkan agar bisa lebih lama bersama denganmu setiap saat," jawab Alice yang langsung memberitahukan alasannya tanpa merasa takut.
"Jadi, kau?"
"Ya, dugaanmu memang benar, Erlan. Aku hanya ingin denganmu karena aku merindukanmu. Terlebih aku tahu kalau setelah kita memiliki hubungan, tidak ada hari baik untuk bisa berduaan. Apalagi setelah kalian pulang dari hutan, kau bahkan jatuh sakit. Itu sebabnya aku ingin selalu bersamamu. Sekarang apa kau marah? Tolong ... jangan marah!" Alice memohon sembari memperlihatkan raut wajah cemberutnya.
Membuat Erlan tersenyum ketika ia sudah mulai bisa menerima kehadiran Alice dengan perlahan-lahan. "Baiklah, aku mengerti dengan keinginanmu. Ya sudah sekarang kita sebaiknya cari makan, aku tahu kalau kau lapar. Apalagi tadi kita tidak sempat makan dulu di rumah."
"Tentu saja, Sayang. Itu ide yang brilian." Alice terlihat begitu senang sampai dia memberikan pelukan kecil. "Baguslah, Erlan. Dengan perlahan-lahan aku akan bisa menguasai dirimu sampai aku bisa membuat Yoona kehilangan calon bayinya juga."
***
Dengan penuh perhatian Malvin membuka pintu mobil saat Yoona ke luar, mereka baru saja tiba di sebuah taman.
"Kau benar. Terima kasih banyak. Tapi, apa yang ingin kau bicarakan denganku, Malvin?"
"Ini tentang mamaku, Yoona. Lebih baik aku memberitahukan dirimu dulu supaya kau bisa menjaga mamaku."
"Memangnya Mama Geisha kenapa, Malvin? Apa dia sakit?"
"Tidak ada, Yoona. Mama baik-baik saja, hanya saja aku merasa tidak nyaman setelah mengetahui kalau Mama Geisha ingin menikah lagi, dan kau tahu prianya siapa? Dia adalah mertuamu sendiri, Yoona. Itu sebabnya aku mengajakmu ke sini."
"Jadi ... yang akhir-akhir ini aku dengar kalau Papa Agra ingin menikah itu bersama dengan mamamu? Hei, bagus dong! Mereka memang lebih baik bersama, bukan? Terlebih setahuku, Mama Geisha dan Papa Agra sudah lumayan lama sendiri, lalu apa masalahnya lagi?" Yoona terlihat sedikit kebingungan.
"Memang. Aku setuju kalau mama memilih untuk kembali hidup bahagia dengan pilihannya sendiri, tentu saja aku sangat berharap dia bahagia. Karena setelah aku melihat Papa Agra memang sudah bisa membuat mamaku tersenyum setiap waktu, namun aku tidak ingin jika Erlan dan adik-adiknya membenci mamaku. Kau tahu sendiri bagaimana sifat suamimu itu, kan?"
"Ya, kau benar, Malvin. Aku juga tidak tahu apa mereka akan menerima keputusan ini atau sebaliknya? Tapi apapun itu, aku akan mencoba memahami Mas Erlan agar tidak menolak keputusan dari mereka berdua. Kau tenang saja, aku akan membantu Mama Geisha karena meskipun kita sudah berpisah, dia tetap seperti ibu bagiku, Malvin," sahut Yoona dengan bersungguh-sungguh.
Membuat hati Malvin merasa sangat senang sampai tidak berhenti tersenyum. "Terima banyak, Yoona. Aku berharap banyak padamu, dan sekarang kau masih berusaha membantuku. Sungguh, jika tidak ada dirimu, entah dengan siapa aku membicarakan hal ini."
"Santai saja, Malvin. Mama Geisha sudah begitu baik denganku bahkan setelah dia tahu aku meninggalkan dirimu, jadi ini akan menjadi tanggung jawabku juga. Sekarang jangan cemas, aku akan memikirkan hal ini. Semoga semua keluarga bisa menerima Mama Geisha dengan baik."
"Kau benar, Yoona. Aku pun berharap demikian, tapi apa kau tidak tahu satu hal tentang keluarga Erlan? Atau mungkin kau sudah tentang ini." Tiba-tiba saja senyuman Malvin menghilang, namun membuat hati Yoona sedikit cemas.
"Memangnya apalagi, Malvin? Bukankah cuma ini saja yang ingin kau bicarakan denganku, kan?"
"Tidak, Yoona. Ada hal yang lain, dan ini tentang dirimu. Aku takut setelah kau mendengar kabar buruk ini, tapi jangan cemas. Aku akan selalu berada di sampingmu, jika saja terjadi sesuatu."
"Tapi, apa itu, Malvin? Katakan saja dengan jelas padaku. Jangan membuatku semakin bingung. Apa masalah buruknya?" Yoona semakin tidak sabar. Terlebih ia sedikit ketakutan, apalagi akhir-akhir ini sudah banyak kejutan buruk di dalam hidupnya.
"Apa kau masih ingat tentang Marcello? Ini yang aku ingin katakan padamu, Yoona. Pria itu sekarang begitu dekat denganmu, bahkan sudah menjadi adik iparmu juga. Apa sebenarnya kau memang tidak tahu hal ini?"
"Apa? Marcello? Tapi, bagaimana mungkin bisa, Malvin? Dia sudah lama tinggal di luar negeri, dan sampai sekarang aku sudah tidak lagi mendengar kabar tentangnya. Lalu kenapa tiba-tiba kau mengatakan kalau dia adik ipar ku? Apa maksudmu ini? Coba jelaskan padaku!" paksa Yoona dengan penuh ketakutan sampai membuat tangannya bergetar.