Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Episode 126 : Bawa aku pulang.


Episode 126 : Bawa aku pulang.


.


.


Sebelum Edgar sampai di lokasi,


Marin dan Freya sudah berada di mobil, entah mengapa ada kepuasan tersendiri bagi Marin ataupun Freya saat membuat Aluna tidak bisa berkutik dan menderita seperti itu.


"Bagus Freya, kau melakukan semua keinginan ku dengan sangat baik, aku akan membantu hubungan mu dengan puteraku," Seru Marin akan tetap berada di mobil itu.


Dia akan menunggu saat-saat kehancuran Aluna, setelah semua lelaki itu melecehkan Aluna maka dia akan datang lagi kesana dan menginjak-injak harga diri Aluna sampai ia puas.


Menurut nya Aluna sangat pantas mendapatkan balasan mengerikan ini.


"Aku akan melakukan segalanya untuk mu Ibu mertua, ini semua aku lakukan karena aku memang sangat mencintai Deffan," balas Freya juga sama sekali tidak peduli dengan Aluna.


Rasa cinta yang lebih ke terobsesi terhadap Deffan membuat nya buta.


"Brak!"


Tiba-tiba terdengar suara mobil yang begitu kuat dari arah belakang.


Marin dan Freya yang berada di mobil terkejut dan melihat siapa yang datang dari kaca spion mobil.


"Siapa itu?" tanya Marin kebingungan saat melihat ada seseorang yang datang dengan darah di wajahnya.


Lelaki itu bertubuh tinggi dan nampaknya seolah pernah ia lihat entah dimana.


Marin Keluar dari mobil bersama Freya untuk bisa melihat dengan jelas siapa yang datang ke arah gubuk itu.


Namun saat mereka sudah berada di luar mobil, baik Marin ataupun Freya langsung syok dan tubuh mereka gemetaran saat itu.


"Bu ... bukankah itu Edgar Brown? pewaris keluarga Brown yang sangat terkenal itu?" tanya Marin menatap Freya dengan tatapan yang sangat tajam.


Freya yang sudah ketakutan teramat sangat langsung masuk lagi ke mobil tanpa menjawab pertanyaan Marin yang kebingungan, syok juga ketakutan.


Marin tentu langsung menyusul Freya ke dalam mobil dan menghujani Freya dengan berbagai pertanyaan.


"Apa maksudnya semua ini Freya? kau bilang dia simpanan lelaki tua, lalu mengapa Edgar Brown tiba-tiba ada disini? apakah kau berbohong?" geram Marin menuntut Freya yang sudah terdiam membeku tak tahu lagi harus menjawab apa.


"Ibu Marin, maafkan aku tapi, aku sama sekali tidak menduga jika dia memiliki hubungan dengan Tuan Edgar Brown, bagaimana mungkin? mengapa bisa?"


"Kenapa wanita sialan itu bisa bertemu lelaki yang sangat hebat seperti dia? kenapa dia sangat beruntung? kenapa? kenapa? kenapa? aku benci!!!!" Freya berteriak merespon Marin.


Bagaimana Freya semakin benci kepada Aluna karena setelah berpisah dengan Deffan, Aluna malah bersama seseorang yang bahkan tidak pernah bisa ia bayangkan.


"Plak!"


Marin langsung menampar pipi Freya sampai memerah.


"Tidak tahu sopan santun! kenapa kau berteriak padaku? apakah kau sudah kehilangan akal sehat mu!" teriak Marin terhadap Freya yang sudah memegangi pipinya yang sakit itu dengan tertunduk.


Freya yang sudah kehilanga akal sehatnya itu kemudian tersenyum seperti orang gila.


"Ibu Marin, apakah anda lupa jika anda lebih buruk dari saya? ingatlah jika anda yang merencanakan rencana gila ini, anda lah yang harus bertanggungjawab terhadap Tuan Edgar ..." bisik Freya benar-benar telah kehilangan akal sehatnya.


Keduanya yang berada di mobil tidak kabur sama sekali tetapi malah berdebat.


Marin yang mendengar itu mencengkeram tangannya dengan sangat kuat.


"Kau gila! memangnya siapa yang membayar dan mencari para bandit itu? itu kau sialan! aku bisa saja menghapus bukti telepon dan pesan mengenai permintaan ku! sedangkan kau, kau tidak akan bisa karena kau sendiri lah yang mencari dan membayar mereka!"


"Yang artinya kaulah pelaku dari semua ini, ingat itu!" geram Marin sama sekali tidak akan kalah dari Freya.


Dia akan membuat Freya jatuh ke dalam ini semua, dia tentu saja tidak mau terkena amukan dari Edgar Brown yang terkenal dingin dan sadis itu.


"AAAAAAAAAAAA!!!!"


"SEMUANYA HANCUR! SEMUANYA HANCUR! AAAAAAAA!"


Mendengar itu Freya berteriak dan memukul-mukul kepalanya sendiri, dia bingung dan hancur ketika sadar ucapan Aluna tadi.


Bagaimana Aluna bersumpah jika mereka akan berlutut di hadapannya.


.


.


.


Dean langsung berlari ke arah pintu gubuk dimana Aluna menangis disana mencoba membuka gubuk dengan sekuat tenaga nya.


"Ed ... tolong buka, jangan lakukan itu! jangan membunuh siapapun, tolong!"


"Ed ..." Aluna menangis dengan sangat hebat.


Jika saja suaminya itu membunuh orang lain karena dirinya maka Aluna akan menyesal seumur hidupnya.


"Nyonya Aluna ..." Dean berlari ke sana dengan sangat khawatir.


Saat mendengar namanya di panggil, Aluna langsung menoleh dan meminta tolong kepada Dean.


"Pak Dean, tolong ... tolong, suamiku di dalam sana, aku tidak mau dia jadi pembunuh, tolooongg!" Aluna menangis sejadi-jadinya, air matanya membasahi pipinya sampai wajahnya sembab.


Mendengar itu Dean langsung panik, dia bisa mendengar suara rintihan orang dari dalam dan juga suara tinju dan tendangan yang begitu keras.


Dean tahu, kali ini Edgar akan benar-benar membunuh semua orang yang ada di dalam sana, apalagi melihat keadaan Aluna yang menyedihkan ini.


"Brak ... Brak!"


Dean langsung mendobrak pintu itu, lalu saat pintu terbuka ...


Di dalam sana ada beberapa lelaki yang sudah berdarah-darah dan tergeletak di lantai, ada yang sudah tidak bisa bersuara dan ada yang masih bisa berteriak kesakitan.


"Ampun, Ampun Tuan ..." seru seorang dari bandit itu saat melihat Edgar akan menerjangnya tepat di kepalanya.


Jika saja Edgar melakukan itu maka mungkin dia akan geger otak atau bahkan mati.


"Ampun? kau bilang ampun? lalu saat istriku menangis dan meminta tolong apakah kalian mendengar nya? beraninya kau berbicara ampun, tidak akan aku biarkan siapapun menyentuh istriku!"


"Yang berani menyentuh dan menyakiti istriku akan aku habisi dengan tangan ku sendiri!" geram Edgar benar-benar serius.


"Tuan ..." Dean langsung berlari ke arah Edgar.


Edgar menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka lebar, dia melihat ada Dean di sana dan istrinya yang terlihat pucat dan sesenggukan melihat nya dengan tatapan yang begitu khawatir.


Tanpa menunggu lama, Aluna langsung berlari ke arah suaminya dan memeluknya kencang sekali.


"Tolong jangan lanjutkan lagi, tolong bawa aku pergi, tolong jangan lepaskan tangan ku lagi, aku takut bawa aku pulang, aku mohon ..." Aluna menangis seperti menggantungkan harapannya terhadap suaminya ini.


Mendengar itu, hati Edgar menjadi teramat sakit, dia mendekap istrinya dan memeluknya kencang sekali.


"Sayang, maafkan aku, maafkan aku gagal menjaga mu dan membuat mu berada di posisi ini, maafkan aku ..." Edgar menyalahkan dirinya sendiri.


Atas apa yang terhadap terhadap istrinya, Edgar merasa itu adalah kelalaian nya sebagai seorang suami.


Hatinya terlalu hancur melihat betapa lemahnya Aluna yang tadi diikat dan menangis menunggu nya untuk segera di bawa pulang.


Aluna masih menangis, apalagi tempat ini semakin ramai oleh kepolisian, rasanya Aluna merasa tertekan dan dia semakin menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


Edgar yang menyadarkan tubuh istrinya bergetar hebat langsung membuka jas yang masih melekat di tubuhnya dan memakaikan nya untuk menutupi wajah istrinya.


Setelah itu, dengan rasa amarah dan kesedihan yang teramat sangat, dia menggendong istrinya sembari menyembunyikan wajah istrinya yang merasakan takut dan tidak nyaman berada di sekitar lelaki yang begitu banyak.


.


.


.


.


Author : Maaf ya kemarin ga update, btw besok tahun baru nih, selamat tahun baru ya semuanya.


Semoga kebahagiaan dan kedamaian menyertai kita semua, sayang kalian banyak-banyak.


Di tahun 2023 semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik dalam segala hal.


Amin 🤍