
"Mau bicara apa, Yoona? Cepatlah bicara, masih ada waktu tiga puluh menit sebelum aku kembali ke kantor," tanya Erlan seraya menatap jam tangannya.
"Ini demi pernikahan kita berdua, Mas Erlan. Kenapa kamu harus menambah beban orang lain di rumah kita? Dan sekarang pesta? Bahkan Emma tidak meminta persetujuan dariku terlebih dahulu. Apa aku di sini tidak pantas bicara? Ini juga rumahku, Mas."
"Hei, apa ini? Kau mengajakku ke sini hanya untuk berdebat, Yoona. Hentikan semua dramamu itu, Yoona. Aku sudah mencoba menerima dirimu dan calon bayi kita karena bagaimanapun itu adalah darah dagingku, maka dari itu aku berusaha melupakan sedikit rasa kesal ku padamu. Lalu sekarang, kau juga ingin mengacaukan tentang pesta yang Emma buat? Apa kau sadar sedang menentang siapa? Dia adik kandungku, Yoona," bantah Erlan yang sama sekali tidak berpihak pada istrinya.
"Aku tahu Emma itu adikmu, Mas. Tapi, setidaknya kalian membicarakan hal ini padaku sebelum merayakan pesta. Terlebih kondisiku sekarang sedang berbadan dua, dan masih butuh beberapa waktu untuk menenangkan diri. Tidakkah kau memikirkan hal itu? Bahkan kau pun menolak saat aku keberatan dengan kehadiran Alice dan mamaku di rumah ini."
"Apa maumu sebenarnya, Yoona? Hanya aku dan dirimu yang ada di rumah ini, begitu? Dan membiarkan orang-orang yang aku sayangi menderita di luaran sana, itu maumu? Emma sudah lama tidak pulang ke rumah, jadi dia berhak memutuskan untuk merayakan pesta ataupun tidak. Terlebih Ernio—adikku juga akan kembali, maka dari itu sambil merayakan kepulangannya. Lagi pula kenapa hatimu seperti batu? Kau hanya memikirkan tentang dirimu sendiri, padahal jelas-jelas yang tinggal di rumah kita juga keluargamu."
"Aku tahu Alice saudara tiriku sekarang, tapi aku tidak terima wanita itu hadir di sini karena kalian memiliki hubungan khusus. Jadi, aku mohon padamu, Mas Erlan. Tolong pilihlah aku atau Alice yang akan tetap di sini karena satu rumah tidak akan bisa ada dua ratu yang menetap."
"Bicaramu semakin tidak jelas, dan melantur. Sudahlah aku tidak suka ucapan mu ini, jangan buat aku marah hari ini karena aku harus menghadiri rapat penting. Kalau begitu aku pergi dulu, dan tidak perlu menungguku pulang," ucap Erlan.
"Memangnya kau mau ke mana setelah dari kantor, Mas?"
"Aku tidak tahu, tapi bisa saja ke cafe atau kemanapun yang aku suka. Di rumahmu membuatku suntuk saja," ketus Erlan. Lalu melangkah pergi tanpa berpamitan dengan benar.
"Bahkan aku belum tahu ke mana kamu akan pergi, Mas Erlan. Rasanya hatiku terlalu sakit jika terus memikirkan masalah buruk ini."
Melihat Erlan dan Alice pergi bersama dalam satu mobil, hati Yoona terasa begitu sesak. Namun apa boleh buat, ia tidak bisa melakukan apapun selain dengan melihatnya dari jauh. Terlebih setelah Alice memberikan senyuman jahat untuknya.
Masih membuat Emma berdiri di depan teras, ia tidak tahu harus melakukan pekerjaan apa di dalam sana. Terlebih Emma sedang sibuk menatap setiap tempat demi berpesta, namun Mama Rossa ikut membantunya.
Teringat dengan Jerrol, namun sekarang ia tidak tahu harus berbicara dengan siapa. Rumahnya sendiri, tetapi rasanya seperti rumah orang asing saja.
Yoona melangkah keluar dengan berjalan kaki, dan sengaja tidak mengabari orang rumah. Hal itu membuat Yoona terus berjalan tanpa tahu harus melangkah ke mana. Sampai tiba-tiba ia melihat seorang wanita paruh baya yang sangat ia kenal sedang berlarian pagi tidak jauh dari pekarangan rumahnya.
"Loh, itukan Mama Geisha. Kok bisa ada di sini? Apa mungkin mereka baru saja pindah ke komplek perumahan ini?" Rasa penasaran Yoona yang tinggi membuatnya berjalan mendekat.
"Halo, Tante Geisha."
"Eh, Yoona! Ya ampun, Sayang. Kamu kok bisa ada di sini juga? Tinggal di sini ya sekarang?" tanya Mama Geisha dengan sangat ramah.
"Ya, Tan. Setelah menikah Yoona pindah ke sini bareng suami. Tapi ngomong-ngomong, tumben Tante bisa ada di sini?"
"Memang baru kemarin Tante dan Malvin pindah ke sini, Yoona. Malvin sengaja membeli rumah di pekarangan ini, entah apa maunya itu, tapi Tante juga senang karena di dekat komplek ini ada rumah calon papa barunya Malvin. Oh ya, Yoona. Sebenarnya Tante sudah tahu semua permasalahan kamu dengan Malvin, dia sudah menceritakan semuanya, Nak. Sangat tane sayangkan, kalian berdua sampai harus berpisah seperti ini. Andaikan saja dulu kalian langsung menikah saja, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini," ucapnya yang memang sudah begitu menyukai kehadiran Yoona di dalam hidup putranya.
"Maafkan aku, Tan. Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk menyakiti Malvin, tapi keadaan justru membuatku tidak bisa berbuat apa-apa. Itulah sebabnya, aku harus memilih berpisah dengan Malvin. Namun sekarang, kami sudah menjadi teman, meskipun bukan kekasih, tetapi teman justru akan lebih baik."
"Meskipun begitu, rasanya Tante masih ingin sekali agar kamu yang menjadi istrinya Malvin, Yoona. Tapi sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Yuk masuk ke dalam rumah, daripada ngobrol di luar begini. Malvin juga belum berangkat kok. Dia lagi siap-siap mau ngantor."
"Eh ... enggak usah, Tan. Lagi kali saja."
"Loh kenapa? Yoona, apa sekarang kamu juga keberatan untuk masuk ke rumahku? Tante sedih loh dengarnya."
"Ya udah deh, Tan. Ayo kita masuk."
Melihat rumah baru Malvin seketika membuat Yoona tersadar bahwa Malvin membeli rumah impian seperti yang mereka inginkan dulu. Meskipun rumah minimalis, tetapi terasa nyaman untuk ditempati. Bahkan di dingin rumah, terdapat tiga bingkai foto yang menarik terpanjang saat Yoona dan Malvin sedang berlibur.
"Foto ini ... ternyata Malvin belum melupakannya," gumam Yoona, tetapi terdengar di telinga Tante Geisha.
"Tentu saja, Yoona. Rasa cinta putraku terhadap dirimu yang besar sampai membuatnya rela terus memandangi wajahmu di dinding ini."
"Tan, aku merasa semakin tidak enak hati denganmu."
"Hei, jangan begitu, Sayang. Tidak ada yang marah meskipun memang kamu sudah berpisah dengan Malvin karena di sini aku tahu semua rencana ini pasti akal-akalan dari Tante Rega. Jika tidak, mana mungkin kamu bisa sampai menikahi orang lain. Padahal, Malvin juga sudah menyimpan rumah baru kalian ini, tapi takdir justru berkata lain," sahut Tante Geisha yang terlihat begitu sedih.
Ucapan itu membuat Yoona semakin merasa bersalah, ia tak kuasa melihat Tante Geisha bersedih. Apalagi wanita paruh baya itu selama ini sudah seperti menganggapnya sebagai anak sendiri.
Segera memeluk Tante Geisha, namun tindakan itu membuat Malvin terdiam saat ingin ke luar dari rumahnya.
"Kau datang ke sini, Yoona?" tanya Malvin dengan tiba-tiba.
"Eh, kau sudah turun. Ya, tadi kebetulan aku tidak sengaja melihat mamamu di luar, jadi aku ke sini."
"Baguslah, Yoona. Sekarang kita sudah menjadi tetangga. Jika nanti kamu butuh sesuatu, datangi saja ke rumah ku. Aku tidak masalah kalau kamu sering berkunjung ke sini, begitupun dengan mamaku. Apalagi Mama cuma tinggal sendirian di sini, jadi dia sangat senang kamu bermain ke sini."
"Tante juga suka sekali kamu hadir di sini, Nak. Kalau begitu ayo kita ke dapur. Kebetulan Tante habis bikin puding kesukaan kamu sama Malvin semasa masih bersama dulu. Kamu cicipi ya, Nak."
Ingin menolak, tetapi Yoona juga merasa tidak enak. Apalagi Malvin terus menatapnya. Akhirnya Yoona menjawab dengan anggukan kecil.
Rasanya masih sama, sampai Malvin membela diri untuk datang bekerja sedikit terlambat karena kehadiran Yoona di rumahnya. Tepat ketika mereka sedang berduaan, Mama Geisha dengan sengaja pergi meninggalkan mereka.
"Um, Yoona."
"Ya, Malvin?"
"Aku baru melihat berita kalau katanya sebagian rumah Alice itu terbakar, ya?" tanyanya dengan sengaja demi bisa bisa mengobrol lebih banyak.
"Aku juga baru tahu, walaupun aku menduga jika semua itu bisa saja terjadi karena memang disengaja. Tapi, Malvin. Aku ingin meminta maaf atas sikapku padamu yang waktu itu sedikit kasar. Sungguh! Aku tidak bermaksud untuk berkata kasar meskipun memang kamu hanya menginginkan kebaikan diriku, tapi percayalah aku merasa sedikit menyesal karena sudah berkata kasar. Seharusnya aku tidak perlu melakukan itu."
"Tidak apa-apa, Yoona. Hal itu wajar terjadi karena memang kamu berhak untuk marah padaku, tapi aku tidak akan berhenti untuk melihatmu dari sini, Yoona. Terlebih setelah aku mengetahui kalau Alice dan ibumu juga akan tinggal serumah, tadi pagi aku sempat melihat mereka datang. Ternyata ... aku pun baru tahu kamu dan Alice saudara tiri," sahut Malvin dengan santainya.
"Begitulah kenyataannya sekarang. Aku pun tidak menduga bahwa rupanya Alice dan aku memiliki ibu yang sama, tapi sudahlah, mau bagaimana lagi? Walaupun aku merasa keberatan dengan kehadiran mereka, tapi Mas Erlan tetap saja tidak mau mendengarkan diriku," keluh Yoona saat ia mulai merasa lebih baik untuk bersikap ramah dengan Malvin, terlepas dari semuanya.
"Selama kamu masih mampu, kamu bisa memilih bertahan, Yoona. Tetapi jika nanti sudah ingin menyerah, katakan saja padaku. Aku ada di sini untukmu," sahut Malvin yang memberi peluang besar.
Yoona tersenyum senang, meskipun ia tidak tahu apa pantas untuk harus menerima perlakuan lembut dari Malvin. Meskipun demikian, sekarang Yoona mencoba memahami cara Malvin dalam menyayanginya.
"Memang Malvin benar, aku harus bertahan sampai rasa lelah benar-benar membuatku sadar. Tapi, aku tidak akan kembali padamu, Malvin. Entah bagaimana akhirnya nanti, rasanya akan sangat sulit ketika harus memilih pergi dan kembali tanpa memikirkan perasaan dirimu dulu, dan sepertinya aku sudah semakin lama berada di sini. Lebih baik aku pulang saja daripada Emma melihatku bermain di sini nanti," batin Yoona.
"Ayo di makan lagi, Yoona. Pudding masih banyak loh. Tadi emang sengaja Tante bikin banyak supaya bisa kasih ke kamu, eh ternyata kamu nya yang datang ke sini lebih dulu. Nanti sekalian di bawa pulang, ya. Siapa tahu orang rumah suka." Terdengar suara Mama Geisha yang tiba-tiba muncul.
"Eh enggak usah, Tan. Lain waktu saja aku bawa, nanti malah enggak enak sama orang rumah. Malvin, kalau begitu aku pulang dulu, ya."
"Loh? Mau langsung pulang? Bentar lagi dong, Yoona." Malvin terlihat memohon.
"Malvin, kapan-kapan aku bakal datang ke sini lagi. Apalagi di rumah Emma dan yang lain sedang menghias dekor buat pesta, jadi aku merasa sedikit tidak nyaman pergi terlalu lama."
"Ya sudah kalau begitu ayo aku antar ke depan."
"Tan, nanti Yoona mampir lagi, ya."
"Iya, Sayang. Sering-sering yah ke sini ...."
"Pasti, Tan."
Tak henti-hentinya Malvin menatap kepergian Yoona sampai wanita itu sudah menghilang dari pelupuk mata. Tiba-tiba Mama Geisha menepuk pundaknya.
"Udah ... jangan dilihatin terus. Nanti makin susah buat berpaling loh," ledek Mama Geisha sembari tersenyum kecil.
"Memang Malvin belum melupakan Yoona, Ma. Apalagi setiap melihatnya selalu bayangan kenangan kami yang terlihat, dan sekarang hidupnya harus menderita karena pria sialan itu."
"Apapun itu, dia sudah menjadi istri orang, Malvin. Tidak baik bagimu untuk menatap wanita yang sudah beristri seperti itu. Jika saja Yoona jodohmu nanti, pasti takdir akan kembali membawa kalian bersama, tapi kalau tidak, tentunya melanjutkan hidup untuk hidup terus maju menjadi satu-satunya pilihan. Ya sudah sekarang kamu berangkat kerja gih, udah satu jam loh kamu telat."
"Ah enggak deh, Ma. Malvin udah males kerja apalagi kalau harus ketemu wajah pria brengsek itu. Sepertinya Malvin harus memikirkan cara agar bisa kembali menjalankan bisnis sendiri, tentu saja sekarang sudah ada modal lebih ditambah dengan warisan yang ditinggalkan oleh papa," jelas Malvin.
"Kamu yakin, Nak? Mama hanya takut kalau kamu sampai salah mengambil jalan." Terlihat raut wajah Mama Geisha yang cemas.
"Aku sudah sangat yakin, Ma. Ini keputusan yang tepat untukku, dan aku rasa tidak ada salahnya, kan? Daripada harus berada dalam tertekan seperti itu, apalagi di saat melihat pria brengsek yang sudah membuat hidup wanita yang aku cintai menderita."
"Baiklah, Malvin. Kalau memang itu jadi keputusan dirimu, maka lakukanlah. Mama hanya akan mendukungmu saja. Oh ya, Nak. Hampir saja Mama lupa satu hal, tapi ini tentang masa depan mama sendiri."
"Memangnya apa?" tanya Malvin yang terlihat sedikit heran.
"Sebenarnya sudah sejak lama Mama ingin katakan hal ini, tapi sulit bagi Mama untuk bicara. Karena kebetulan kamu ingin keluar dari perusahaan itu, maka sepertinya ini waktu yang tepat untuk Papa mengatakannya. Terlebih ini tidak akan membuat keributan antara dirimu dan orang lain lagi-"
"Katakan dengan jelas, Ma. Apa yang sebenarnya ingin Mama bicarakan? Jangan berbelit-belit, dan Malvin menduga apa mungkin ini tentang calon papa baru?" tebak Malvin.
"Um, memang benar ini tentang orang itu. Jadi, apa kamu sudah setuju kalau seandainya Mama menikah lagi? Kebetulan pria itu sudah mencintaiku sejak dulu, Nak. Bahkan dia begitu baik dengan keluarga kita."
"Jadi, siapa pria yang sedang Mama maksud ini?"