
Episode 134 : Dia istriku.
.
.
.
Rasa khawatir Edgar benar-benar sangat besar, dia sudah bersumpah pada dirinya sendiri jika dia akan menjaga istrinya bagaimana pun caranya.
Jadi ketika tidak melihat istrinya di sisinya membuat perasaan takut dan khawatir di dalam hatinya meledak begitu hebat.
"Berjanjilah jangan pergi sebelum aku membuka mata ku di pagi hari, aku benar-benar akan gila jika sesuatu terjadi padamu lagi, aku bersungguh-sungguh mengatakan nya!" seru Edgar terlihat gemetaran.
Dia memeluk istrinya erat sekali sampai Aluna terasa sedikit sesak.
"Uhmmm ... aku, aku sulit bernafas, juga ada ... itu, ada I ... Bu ..." Aluna merasa sangat sesak saat dipeluk sangat erat oleh Edgar Brown.
Rasanya Edgar mendekapnya dengan sangat kencang sampai terasa sedikit sesak.
Saat mendengar istrinya berbicara terbata-bata, Edgar segera melonggarkan pelukannya sejenak lalu meraih kedua pipi istrinya.
Edgar mendekatkan wajahnya agar dia bisa melihat wajah Aluna dari arah dekat sekali.
"Ada apa? apakah ada yang mengganggu mu lagi? kenapa kau berbicara terbata-bata, beritahu padaku sekarang juga! aku akan menghabisi nya!" geram Edgar langsung menghujani Aluna dengan pertanyaan.
"Glek!"
Aluna segera menelan salivanya dan sekarang berbicara lebih jelas dari yang tadi.
"Ada Ibumu ..." seru Aluna dengan sedikit rasa khawatir dan takut.
Aluna pasti yakin jika dia tidak akan diterima, Walaupun Edgar tidak pernah menceritakan mengenai Fiona, akan tetapi Aluna sudah langsung tahu jika kesan Fiona terhadap keluarga Edgar pastilah sangat buruk.
Dimana Ibu Edgar ini pasti akan membenci nya karena mirip dengan Fiona.
"Hmmm? Ibuku?" tanya Edgar menoleh ke belakang tetapi tangannya masih tetap berada di pipi istrinya.
Dan benar saja, saat Edgar menoleh ke belakang, dia melihat Ibunya sedang berdiri disana dengan tatapan melebar seolah melongo.
Camelia yang berdiri di tempat itu sejak tadi mendengar semua pembicara Edgar dan Aluna, dan hanya dari pembicaraan itu saja Camelia langsung tahu jika Edgar kali ini seperti berhubungan dengan sangat serius dengan wanita yang memiliki kemiripan dengan Fiona.
Tetapi berbeda dengan kesan pertama Edgar, Camelia malah menemukan perbedaan yang sangat besar di mata mereka.
Menurut Camelia mata Aluna dan Fiona sangat berbeda.
"IBU?"
"Kenapa Ibu ada disini?"
"Tidak maksud ku, kenapa Ibu ada disini?"
Edgar bertanya dengan sangat cepat.
Camelia yang mendengar itu segera menyadarkan dirinya dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya saat melihat Aluna.
Rencana sebelum nya adakah Camelia akan langsung mengusir Aluna saat sampai di kediaman putranya, akan tetapi dalam kenyataan nya, Camelia melihat betapa Aluna sangat lemah, pucat dan terlihat seperti kelinci yang selalu ketakutan.
"Tak ... Tak ... Tak!"
Tanpa berbicara satu patah katapun, Camelia langsung melangkahkan kakinya dan duduk di meja makan.
Dengan sangat anggun dan berkelas dia melipat tangannya dan menatap Aluna dari atas sampai bawah.
Terlihat ada memar di pipinya, wajahnya masih terlihat pucat, tangannya juga terlihat ada bekas tali tambang membekas.
Dan Edgar, terlihat perban di dahinya, tangan nya terlihat memar dan masih terlihat salep yang sepertinya masih baru diolesi.
"Ah!"
"Ed! tidakkah menurut mu kau harus menjelaskan sesuatu?! siapa gadis itu? mengapa dia mirip dengan Fiona dan berada di sisimu?!"
Camelia masih mencoba tenang, dia duduk dan menatap tajam ke arah Edgar Brown.
Aluna yang sadar suaminya akan terkena masalah oleh nya langsung dengan keberanian yang tersisa maju dan berdiri di hadapan suaminya.
"Ma ... maafkan saya Nyonya, saya hanyalah seorang pelayan dan ..."
Belum sempat Aluna melanjutkan ucapannya, dimana Aluna ingin sedikit berbohong demi suaminya.
Akan tetapi ...
"Srak!"
Edgar langsung menarik tangan istrinya dan menggenggam tangannya erat sekali.
"Pelayan apanya?! kau istriku!"
"Ibu, aku sebenarnya sudah mau membawa istriku ke rumah, akan tetapi ada sesuatu yang telah terjadi, tapi mumpung Ibu ada disini, aku mau mengatakan, jika aku sudah menikah secara rahasia!"
"Dan dia istriku!" seru Edgar mengangkat tangan istrinya dan memperkenalkan Aluna dengan sangat percaya diri.
"Ah!"
Aluna mengeluh sedikit saat tangannya yang masih memar itu di genggam sangat erat.
"Kenapa sayang? kau tidak terima? ingat ya! aku akan menghukum mu karena telah mengaku-ngaku jadi pelayan! padahal kau istriku!" gerutu Edgar kembali tidak memerhatikan Ibunya tetapi langsung tertuju kepada istrinya yang mengeluh sedikit.
"Bukan begitu, tapi tanganku sakit ..." seru Aluna membuat Edgar panik dan tangannya langsung ia lepaskan.
"Sayang, astaga ... maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja dan ..." Belum sempat Edgar melanjutkan ucapannya.
"BRAK!"
Camelia yang sejak tadi diabaikan oleh Edgar langsung memukul meja untuk mendapatkan perhatian.
"Edgar, tinggal aku dengan wanita yang kau sebut istri mu itu disini sekarang juga! aku ingin berbicara dengan nya sendirian!" seru Camelia sudah kehilangan kesabarannya.
Edgar yang tahu Ibunya pasti akan mengamuk pada Aluna tentu saja tidak terima.
"Ibu, dia istriku, dia mengalami hal mengerikan selama berada di sisiku, aku tidak akan membiarkan Ibu memarahi nya lagi, dia tidak sama dengan Fiona, dia berbeda dan ..."
Lagi lagi sebelum Edgar melanjutkan ucapannya, Aluna langsung menyentuh tangan Edgar.
"Ed, lihatlah Ibumu sudah kelelahan, dia baru saja tiba ... dengarkan saja dia, jangan membantah, jika dia ingin berbicara dengan ku maka tidak apa, aku juga sudah terbiasa dimarahi jadi tidak akan masalah,"
"Sejak kau mengatakan akan memperkenalkan aku kepada keluarga mu, aku sebenarnya sudah mempersiapkan mental ku ..." balas Aluna membuat Camelia syok.
Hal yang membuat Camelia syok adalah bagaimana Aluna membuat Edgar mau mendengarkan nya dan terdiam menurut.
"Tapi ..." Edgar masih tetap belum setuju Aluna berbicara berdua dengan Ibunya ...
"Ed ..." Dengan mata yang berbinar-binar dan terlihat sangat kasihan, Aluna akhirnya berhasil meluluhkan Edgar.
"Ah baiklah, tapi hanya lima menit!"
"Dan Ibu, jangan marahi dia, dia akan melahirkan cucu untuk mu!" seru Edgar pergi begitu saja.
"CUCU?!"
Camelia sangat syok, dimana kedatangannya ke kediaman putranya benar-benar mendapatkan kabar yang membuat jantungnya berpacu dengan sangat cepat.
.
.
.