Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Tinggal Bersama


"Baiklah, Alice. Aku setuju kalau kamu tinggal di rumahku, tidak apa. Pasti Yoona juga akan mengerti setelah mengetahui tentang kebakaran rumahmu ini, dan nantinya Yoona pun bisa ada yang jaga karena kau tahu, Alice? Ternyata sekarang Yoona sedang hamil anakku. Aku sangat senang mendengar kabar kehamilannya ini," ucap Erlan tanpa memikirkan dampak yang buruk.


"Wah ... sungguh? Selamat ya, Sayang. Sebentar lagi kamu akan jadi seorang papa, dan aku tentu saja akan dipanggil juga sebagai mama. Aku senang mendengar kabar ini. Tentu saja aku akan ikut membantu merawat bayimu karena bagaimanapun juga anakmu, akan menjadi anakku." Alice terlihat begitu gembira hingga menggenggam erat kedua tangan Erlan.


"Terima kasih banyak karena kau sudah berbaik hati. Ya sudah, ayo sekarang kita pulang ke rumahku," ajak Erlan.


"Tentu saja, Sayang. Kalau begitu aku akan mengajak ibu dulu, ya."


"Baiklah. Aku akan menunggumu di mobil."


Melihat Erlan pergi membuat Alice menyunggingkan senyumnya dengan begitu puas.


"Lihat saja, Yoona. Erlan akan menjadi suamiku juga, begitupun dengan ibumu," lirih Alice, tetapi tiba-tiba saja ibunya datang mendekat.


"Ibu pikir kamu pergi jadi pergi dengan Erlan. Lalu sekarang dia ada di mana, Nak?"


"Erlan sedang menunggu kita di mobilnya, Bu. Sebaiknya sekarang kita segera pergi ke rumahnya karena kita akan tinggal di sana."


"Tapi, Alice. Yoona ada di sana, dan aku masih belum bisa bertemu dengannya sekarang. Bayangan kecelakaan itu masih membuatku trauma dan cemas. Aku takut jika sampai emosiku tidak bisa terkontrol ketika melihatnya, Nak. Lebih baik kamu saja yang tinggal di sana. Ibu akan menetap di apartemen mu saja," tolak Mama Sania.


"Ibu, Alice mohon jangan menolak karena tidak akan mungkin Alice membiarkan Ibu sendirian tanpa ada yang menemani. Apalagi Ibu juga masih sering bermimpi buruk tentang kecelakaan itu, kan? Jadi, lebih baik ikut denganku saja. Biarkan Yoona menjadi urusanku juga."


"Nak, Ibu masih belum siap."


"Tidak apa-apa, Bu. Kalau semakin Ibu bersembunyi, dan pastinya Yoona akan semakin merasa bersalah. Dengan begitu, biarkan Ibu menghadapinya dulu, Ya." Alice mencoba membuat Mama Sania mengerti.


"Ya sudah kalau kamu memaksa."


Keputusan mereka sudah bulat, lalu segera bergegas tiba di kediaman Erlan. Membuat Yoona terheran di saat suaminya pulang bersama dengan wanita lain. Apalagi baru tadi Yoona melihat sikap suaminya begitu baik.


"Alice? Kenapa Mas Erlan membawanya ke sini lagi? Lalu itu kopernya juga. Apa jangan-jangan ... semoga saja perkiraan ku tidak benar," batin Yoona dalam kecemasan.


Bukan hanya Alice yang membuat Yoona terkejut, tetapi juga saat melihat seorang wanita paruh baya yang juga ikut turun bersama mereka.


Seorang ibu yang paling Yoona rindukan setelah kecelakaan itu, kini baru sekarang ia melihatnya kembali. Dengan cepat Yoona berlari demi bisa memeluk ibunya, tetapi dengan tiba-tiba pelukan itu tidak diperbolehkan sampai Mama Sania mendorong tubuh anaknya sedikit.


"Jangan sentuh aku!" ucap Mama Sania dengan tegas.


Yoona terdiam dalam kebingungan, apalagi setelah melihat sifat ibunya yang seperti orang lain. Padahal dulu, ia selalu bermanja-manja dan sering sekali tidur di paha sang ibu. Namun sekarang, jangankan memeluk, menyentuh saja sudah tidak diperbolehkan.


"Apa Mama sudah tidak mengenaliku lagi? Aku Yoona, Ma. Adik kembar dari Kakak Fiona. Ini aku—putrimu."


"Putri kembarku sudah tiada, karena bagiku Fiona dan adiknya telah pergi. Jadi, aku tidak ingin mengakui mu seperti anakku lagi. Terlepas dari kesalahanmu yang sudah membuat kakakmu menderita, dan sekarang kau senang-senang di rumah mewah ini setelah merampas calon suami dari kakakmu sendiri," ketus Mama Sania dengan mulut yang sangat tajam.


Bagikan tersambar petir di siang bolong, saat mendengar ucapan kasar dari orang yang paling disayang. Yoona tidak pernah menduga jika ibu tercinta mengatakan hal yang paling membuat hatinya terluka.


"Apa yang sedang Mama ucapkan? Aku tidak berniat melakukan semua itu. Kau sudah salah paham denganku, Ma." Yoona terus berusaha sampai berniat untuk menggenggam tangan ibunya.


"Hentikan! Aku sudah bilang kalau putri kembarku sudah tiada. Kecelakaan itu sudah membuatku sadar kalau kamu sampai rela menjadikan saudaramu sendiri sebuah jebakan hanya demi bisa hidup dalam serba kekayaan. Jadi, tolong minggir dari sana. Aku aka ingin lewat." Tak ada sedikitpun senyuman, bahkan Mama Sania menepis tangan putrinya.


"Tidak akan, Ma. Aku putrimu, dan aku berhak memberitahukan kebenaran padamu. Tidak ada yang sedang merencanakan semua itu hanya demi kekayaan, Ma. Tolong ... percayalah pada putriku, hanya aku satu-satunya putrimu sekarang."


"Tidak, karena aku masih memiliki putri yang lain. Sebaiknya perbanyak pahalamu saja agar dosamu bisa diampuni. Tapi, aku berpikir jika dosa seorang pembunuh tidak akan bisa diampuni, bahkan setelah merencanakan pembunuhan terhadap saudaranya sendiri."


"Ma, aku mohon ... jangan terus katakan itu lagi, dan siapa putrimu yang lain?" Yoona terlihat kebingungan.


"Aku." Terdengar suara seorang wanita dari belakang. Yoona menoleh, tetapi tidak pernah ia bayangkan bahwa wanita itu adalah Alice.


"Kau? Hei! Lelucon apa ini?" Yoona merasa seperti sedang dipermainkan oleh Alice.


"Tidak, kau salah. Ini hanya karangan mu saja, kan? Ma, katakan padaku kalau ini tidak benar, kan? Bagaimana mungkin Alice bisa menjadi saudaraku? Sedangkan kami berdua dulu tidak tahu apapun dengan kabar ini."


"Itu memang benar, Yoona. Alice adalah putri tertuaku dari seorang pria yang paling aku cintai. Tetapi, hubungan kami sebelumnya tidak direstui karena ayah Alice belum memiliki apapun saat kami masih sama-sama sekolah. Jadi sekarang, aku hanya mempercayai seorang putri yaitu anakku Alice. Terlebih sejak dulu dia belum pernah mendapatkan kasih sayang dariku, dan sekarang aku akan menyayanginya sepenuh hatiku. Daripada aku harus menyayangi seorang penjahat seperti dirimu ini," jawab Mama Sania. Lalu beranjak pergi tanpa menunggu Yoona berkata.


Terdiam seorang diri saat melihat Mama Sania dan Alice berjalan masuk ke dalam rumah, tetapi tidak dengan Yoona yang masih berdiri di samping mobil.


Melihat istrinya, Erlan pun datang menghampiri sembari mengusap bahu Yoona secara perlahan. "Bersabarlah dalam beberapa waktu sampai Mama Sania bisa menerima kenyataan ini. Emosinya tidak stabil karena rasa trauma yang dia alami setelah kecelakaan itu, dan kematian anaknya. Jadi, aku akan berada di sampingmu untuk menemanimu, Yoona. Jangan takut, ada aku di sini."


Seakan-akan semua masalah bisa diselesaikan dengan mudah, hingga Yoona merasa jika Erlan mengganggap semua sepele. Mendengar hal itu, membuat Yoona berbalik menatap suaminya dengan rasa kesal.


"Bersabar katamu, Mas Erlan? Bagaimana mungkin aku bisa bersabar? Jika mamaku sendiri saja berusaha mengubah takdir untuk melupakan diriku. Lalu sekarang kau juga membawa Alice ke mari tanpa sepengetahuan diriku? Apa maksudnya dengan koper mereka berdua?"


"Aku mengerti jika dirimu marah, Yoona. Tapi, dunia hanya melihat apa yang sedang terjadi, bukan fakta yang sebenarnya. Walaupun kamu mengatakan tidak berniat melakukan pembunuhan atas tunanganku dulu, tapi tetap saja orang lain akan berpikir begitu jika mereka mendengar kisah ini. Terlebih setelah semua orang tahu tentang pernikahan kita. Jadi, bersabar hanya bisa membuatmu dan kandunganmu lebih tenang. Aku harap kau dapat memaklumi perkataan ku ini. Lalu mengenai Alice, aku terpaksa mengajaknya ke sini karena rumahnya harus direnovasi setelah terjadinya kebakaran. Mama Sania dan Alice akan tinggal di sini beberapa saat, jadi aku mohon pengertiannya darimu," jelas Erlan dengan cepat.


"Tinggal bersama, Mas? Tidak bisa, aku tidak bisa ada wanita lain yang tinggal dengan kita, Mas Erlan. Apalagi hubunganmu dengan Alice sangat dekat, jadi bagaimana mungkin aku bisa setuju dengan keputusan ini? Dan bisa saja kalau kebakaran itu hanyalah sebuah rekayasa."


"Jangan keras kepala, Yoona. Supaya kamu juga ada teman, dan bisa kembali berbaikan dengan ibumu. Setidaknya berikan diriku pengertian sedikit, dan aku tahu kalau Alice sudah membuat hatimu terluka. Tetapi semua itu dia lakukan tidak benar-benar ingin melukaimu, melainkan dia hanya kecewa karena kepergian tunanganku juga. Sudahlah, Yoona. Aku tidak ingin kita berdebat hanya karena masalah sepele. Sekarang aku ingin masuk ke dalam, dan jika kamu menyetujuinya, aku akan sangat senang," pinta Erlan tanpa memikirkan perasaan istrinya.


Lagi-lagi Yoona merasa seperti sudah kembali dikhianati oleh Erlan juga keluarganya sendiri. Ia merasa sendirian, dan tidak ada orang lain yang peduli. Tetapi sekarang, bukanlah saat untuk menyerah.


Menatap kepergian suaminya dengan berusaha kuat sembari batinnya berucap. "Belum genap sehari kamu menerima kehadiran diriku dan calon bayi kita, Mas Erlan. Tetapi sekarang, kamu sudah menciptakan masalah baru yang jauh lebih besar. Semuanya kau anggap sepele, tapi baiklah aku akan mengikuti semuanya sampai kesabaran ku habis. Demi calon bayiku, rumah tangga ini akan aku pertahankan walaupun adanya peperangan."


Melawan secara nyata hanya akan membuat diri seseorang merasa kalah, tetapi tidak jika melawan secara diam-diam, tentu saja kemenangan pasti ada meskipun hanya satu persen. Itulah yang sedang Yoona renungkan, lalu ia melangkah masuk ke dalam.


Ruangan kamar tamu yang sengaja Alice pilihkan sendiri tepat di samping kamar Yoona dan Erlan. Membuat Yoona sedikit kesal melihat sikap Alice yang terlalu semena-mena, tetapi ia berusaha diam.


Begitupun dengan Emma yang sangat senang saat mengetahui kehadiran Alice di sisinya. Ia sampai menyangkut wanita itu dengan penuh semangat sampai ingin melakukan sesuatu di rumah ini, tepat ketika Emma mengajak semua orang berkumpul.


"Baiklah, Kak Erlan. Sebelumnya terima kasih banyak karena sudah memperbolehkan diriku untuk bicara, jadi aku ingin mengatakan sesuatu yang pastinya akan membuat kalian begitu senang. Pasti sangat penasaran sekali, bukan?"


"Memangnya ada apa, Em? Tumben tiba-tiba sekali," tanya Erlan yang ikut penasaran.


"Yups! Tenang saja, Kak Erlan. Sebenarnya di sini aku hanya mengatakan kalau akan membuat pesta besar-besaran di rumahmu, Kak. Tidak masalah, kan? Ini kali pertamanya kita membuat pesta yang keren, bukan seperti perayaan pernikahanmu yang Papa Agra adakan, sangatlah membosankan sekali. Terutama sambil merayakan kepulangan Kak Ernio. Bukankah dia sudah lama tidak kembali? Demi bisa membuatnya betah, aku ingin memberikan kejutan," jelas Emma dengan begitu gembira.


"Jadi, Ernio menghubungimu? Baiklah, Em. Aku setuju dengan pesta itu. Terlebih kita bisa membuang semua permasalahan rumit dengan berganti berpesta, tapi aku hanya terima beres nya saja, ya," timpal Erlan sembari langsung mengangkat tangan karena tidak ingi direpotkan seraya tersenyum kecil.


"Tidak masalah, Erlan. Aku bisa membantu Emma, bukankah begitu calon adik ipar?" sahut Alice dengan sengaja sembari mengedipkan mata ke arah Emma.


Yoona melihat kedipan mata, ia merasa seperti ada buruk yang akan menimpanya. "Perasaanku jadi tidak enak. Apalagi saat Emma juga mulai membenci diriku, dan sekarang ia berada di pihak Alice."


"Ya, benar sekali. Kak Alice yang akan membantuku dalam pesta ini, dan Kak Erlan tenang. Hanya perlu makan dan bergoyang, itulah kerjamu, Kak. Akan tetapi, aku sedikit curiga dengan Papa Agra. Bagaimana jika dia sampai menolak hal ini?" Wajah Emma seketika terlihat cemas.


"Tidak masalah, urusan Papa akan menjadi tanggung jawabku. Terlebih aku ingin supaya dia memperkenalkan calon mama baru bagi kita, sudah pasti Papa Agra akan sangat setuju. Ya sudah teruskan saja semuanya dengan baik. Aku harus kembali ke kantor dulu. Lalu bagaimana denganmu, Alice? Mau ikut bersama ke kantor?" tanya Erlan tanpa merasa takut mengajak wanita lain, meskipun Yoona berdiri di sampingnya.


"Aku sudah pasti mau. Bu, Alice dan Erlan mau pamit ke kantor lagi, ya. Jika nanti perlu sesuatu katakan saja pada Emma, dia akan membantumu," ucap Alice dengan sangat bersemangat.


"Pasti, Nak. Berhati-hatilah."


"Tentu saja, Bu. Ayo kita pergi, Erlan," ajak Alice yang ingin merangkul tangan pria itu.


"Tunggu dulu, Mas Erlan! Kita perlu bicara!" Tiba-tiba Yoona menghentikan, dan membuat semua orang menatapnya.


Lalu Erlan menyetujui dengan anggukan kecil, dan berjalan mengikuti istrinya masuk ke kamar. Berbeda dengan Alice yang tersenyum kecil saat menyadari akan ada perang di antara suami dan istri itu.


"Berbahagialah kalian berdua, Yoona. Di sini aku berjanji dengan tugasku untuk membuat Erlan hanya merasa puas dengan diriku seorang," batinnya sembari melipat kedua tangan di dadanya dengan penuh kesombongan.