Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Ingin Berpisah


"Yoona, jangan lari! Kembalikan ponselku!" teriak Ernio yang mulai ikut mengejarnya.


"Apapun yang sedang kalian sembunyikan akan pasti aku ketahui meskipun bukti di dalam ponsel itu sudah hilang, Yoona. Jadi, cepat berikan ponselnya padaku!" paksa Erlan yang masih terus mengikuti Yoona.


Rasa lelah begitu membuat Yoona semakin tidak bertenaga untuk terus membawa lari ponsel tersebut, namun ia tidak menduga bahwa sejak tadi Malvin sudah berusaha mengintainya.


Dengan cepat Malvin merebut ponsel di tangan Yoona tanpa tersadar, namun pria itu tidak ingin tahu apapun, dan justru membawa pria ponsel tersebut semakin menjauh.


Sampai Malvin menemukan sebuah tempat pembakaran sampah milik tetangga, tanpa pikir panjang, ia langsung melemparkan ponsel tersebut ke dalam api hingga terbakar.


Yoona merasa senang sampai ia tersenyum bahagia. "Syukurlah Malvin menolongku. Meskipun aku akan bercerita dengan jujur, tapi setidaknya rasa sakit tidak akan bisa membuat orang lain terbayang-bayang setelah melihat rekaman menjijikan yang Ernio perbuat."


"Malvin, terima kasih banyak. Kau sudah membantuku, aku sangat bersyukur sampai aku tidak tahu harus berterima kasih seperti apa karena kau selalu berusaha ada tanpa ada pinta."


"Meskipun kita tidak lagi bersama, tapi aku akan tulus menjagamu seperti ini, Yoona. Kau akan tetap aku sayangi. Lagi pula saat ini aku sudah mulai iklhas dengan pernikahanmu, dan justru aku ingin kau bahagia meski bersama Erlan ataupun orang lain," sahut Malvin dengan hati yang lapang.


Rasa bersalah sekalipun rasa syukur membuat Yoona segera memeluk Malvin, ia sampai meneteskan air matanya karena ia sadar sudah meninggalkan seorang pria yang begitu baik, dan selalu mengutamakan rasa bahagianya.


"Malvin, kau sudah seperti kakakku. Terima kasih banyak."


"Hei ... udah jangan cengeng gitu. Udah sana masuk ke dalam gih! Erlan dan Ernio sudah menunggu klarifikasi darimu, katakan apapun yang kau inginkan. Aku akan kembali pulang, Yoona," sahut Malvin sembari mengacak-acak rambut mantan kekasihnya.


"Jadi, kau tidak ingin tahu apa yang sebenarnya ada di dalam ponsel tadi? Jika tidak, maka ikutlah masuk denganku, Malvin."


"Tidak perlu, Yoona. Apapun itu pasti menjadi rahasia besar bagimu sampai kau berusaha membuang semua rahasia itu. Sebaiknya sekarang pergilah, aku tidak akan memaksamu untuk memberitahukan rahasia mu itu. Jika memang kau ingin bercerita, maka aku bisa mendengarnya kapanpun juga. Ya sudah, pulanglah. Erlan sudah di belakangmu," ucap Malvin sembari tersenyum kecil.


"Keihklasan ini tulus, Yoona. Kau bahagia, dan aku pun akan bahagia melihatmu. Hanya saja ... aku akan menjadi pelindung jika seandainya kau membutuhkan lindungan dariku," batin Malvin saat melihat Yoona berbalik ke arah Erlan.


Berjalan pergi, namun Yoona menyempatkan diri untuk menoleh sejenak sembari ia ikut kembali bersama dengan Erlan.


Mama Sania, Alice, Emma, dan Ernio terdiam melihat Yoona kembali bersama Erlan.


Dengan cepat Alice bergerak mendekati sembari bertanya. "Ada apa ini? Kalian sampai ribut-ribut hingga kami semua terkejut. Jika memang ada sesuatu, bicarakan baik-baik tanpa harus berteriak seperti itu, kan? Lihat sekarang, Sayang. Setelah wanita itu kembali, belum sempat dia menginjak kaki di dalam rumah, tapi sudah berbuat onar."


"Hentikan, Alice! Aku tahu kalau kau sangat tidak suka dengan istriku, begitupun dengan kedekatan kami. Jadi tolong, jangan berbicara buruk untuknya, apalagi sampai menghinanya. Ini rumah kami berdua, tolong biarkan semua berada di dalam, dan kalian semua bisa berjalan pergi untuk sementara sampai kami bisa selesai membicarakan urusan kami. Aku yakin kalau Yoona pasti ingin mengatakan sesuatu perihal ponsel itu," bantah Erlan dengan cepat membela istrinya sembari menggenggam tangannya.


"Erlan, kau-" Dengan cepat Alice ingin membantah, tapi Erlan justru berjalan lebih dulu tanpa mempedulikan Alice yang ingin bicara.


Menutup pintu depan setelah membawa Yoona masuk ke dalam rumah, berbeda dengan Ernio yang hanya terdiam saat melihat reaksi Erlan di luar dugaannya.


Membersihkan luka Yoona tanpa Erlan mengatakan sepatah kata pun sembari menggantikan perbannya. Lalu memberikan segelas minuman.


"Minumlah dulu, baru setelah itu kita akan bicara," ucap Erlan yang terlihat begitu baik.


"Apa Mas Erlan sedang dapat bonus besar? Atau ada klien baru yang memuaskan?" tanya Yoona dengan sengaja saat ia merasa heran dengan sikap perubahan suaminya.


"Tidak ada. Semuanya masih seperti biasa, begitupun dengan perusahaan dan juga klienku. Namun, aku hanya ingin melayani istriku dengan baik. Ayo di minum dulu, kakimu juga sampai berdarah lagi karena berlari sejak tadi. Pasti sangat sakit, kan?"


Yoona hanya menerima pemberian Erlan, dan langsung meminumnya. Namun batinnya bertanya. "Apa mungkin dia sedang sakit? Atau aku yang sudah bermimpi? Bahkan dia berbicara begitu kasar dengan Alice yang jelas-jelas kekasihnya sendiri. Aku jadi bingung."


"Sudah merasa lebih enakan? Jika sudah, ayo aku akan bantu membersihkan tubuhmu. Pasti sudah kelelahan sejak tadi."


Lagi-lagi Yoona tidak menolak, dan hanya menerima setiap perlakuan manis dari Erlan. Baru kali ini, pria itu terlihat begitu tulus melakukan segalanya. Bahkan sampai menggantikan pakaian Yoona dengan sangat baik.


"Semuanya sudah siap, kalau begitu aku buatkan sisa untukmu ya, istriku. Pasti sejak kemarin kau menghilang, bayi kita tidak sempat minum susu." Terlihat keceriaan di wajah Erlan.


Belum sempat pria itu bergegas pergi, namun Yoona dengan cepat menahan suaminya sembari menggenggam tangannya.


"Mas, aku ingin bicara."


"Kita pasti akan bicara, tapi nanti, Yoona. Kau harus minum susu dulu, baru setelah itu istirahat. Nanti malam kita akan bicara sekaligus membicarakan pernikahan Papa Agra," tolak Erlan dengan terus berusaha mengganggap semuanya sedang baik-baik saja.


"Tidak. Aku hanya akan bicara sekarang karena di rumah ini hanya ada kita berdua. Jika nanti, semua orang akan datang, dan aku tidak ingin membuatmu malu. Izinkan aku untuk berbicara sekarang, Mas Erlan," desak Yoona yang terlihat begitu serius.


"Kenapa kau terus memaksaku, Yoona? Calon bayi kita butuh minum susu untuk ibunya dulu. Jangan bandel sekali."


"Aku mohon dengarkan aku dulu, Mas Erlan! Ini tentang calon bayi kita dan juga pernikahan kita, tolong ... mengertilah." Yoona terus memaksa hingga ia mengeraskan suaranya.


Membuat Erlan memilih untuk berdiam sembari menjawab dengan anggukan kecil. "Baiklah. Katakan apa yang ingin kau bicarakan denganku, Yoona? Sepertinya ini sangat serius. Jika memang tentang ponsel itu tadi, aku sudah tidak memikirkannya. Lalu sekarang apalagi yang terlalu penting selama tentang kita berdua?"


"Ada, dan jauh lebih penting daripada apapun, Mas Erlan. Namun aku mohon supaya kau tidak salah paham denganku. Aku hanya ingin mengatakan kalau sebaiknya kita bercerai saja, Mas Erlan," ucap Yoona dengan perlahan.


Sontak membuat Erlan sangat terkejut setelah mendengar hal itu, pasalnya ia sudah berusaha membuka hati, dan sekaligus rasa perhatian yang jauh lebih besar untuk Yoona dibandingkan dirinya sendiri. Namun sekarang, sebuah keputusan buruk yang paling tidak ingin ia dengar mampu membuat hatinya sangat kecewa.


"Bercerai? Tapi kenapa, Yoona? Kita tidak lagi mengikuti surat kontrak yang aku buat selama dua tahun, lalu kenapa kita harus melakukan perceraian? Aku tidak mau berpisah darimu, Yoona."