Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Erlan Terluka


Dengan sangat terang-terangan Malvin mengakui jika pernah memiliki hubungan khusus dengan Yoona, membuat Alice dan Jerrol hanya bisa saling bertatapan sembari menjawab dengan anggukan.


Tanpa banyak berpikir, ketiganya memilih untuk membuat surat cuti secara bersamaan, namun dengan alasan yang berbeda. Walaupun mereka bisa melakukan cuti tanpa dimintai, tetapi tetap saja akan membuat Pak Agra terheran.


Akhirnya mereka memutuskan untuk segera mendaki di temani dengan dua orang yang lainnya demi bisa mencari keberadaan Yoona dan Erlan. Jerrol membawa petunjuk dengan arah jalan yang sebelumnya Yoona berikan, tetapi sayangnya setengah perjalanan mereka hanya melihat hutan, bukan pedesaan.


"Aku rasa ada yang salah dengan alamat yang Yoona berikan. Kau lihat sendiri, kan? Padahal kita sudah berjalan di tempat ini sekali, tapi sepertinya kita kembali ke tempat yang sama lagi," ucap Jerrol kepada semua orang.


"Kau benar, aku pun merasa demikian. Sepertinya petunjuk itu memang sedikit membingungkan. Aku rasa tempat ini tidak jauh dari kediaman Tante Rega, karena sebelumnya aku pun pernah datang ke desanya bersama Yoona," sahut Malvin.


"Lalu ke mana kita akan pergi selanjutnya? Sejak tadi aku hanya melihat hutan tanpa mengetahui di mana keberadaan Yoona dan Erlan," tanya Alice.


"Sabar dulu, Alice. Apapun itu kita tetap akan mencari mereka, tapi yang terpenting kita tidak boleh berpencar," timpal Jerrol.


Namun tidak dengan Malvin, yang semakin tidak tenang ketika melihat cuaca yang sama sekali tidak bersahabat.


Kembali melanjutkan perjalanan, namun berbeda dengan Erlan yang perlahan mulai tersadar. Ia terbangun dalam keadaan yang sangat buruk, terlebih dengan kedua kakinya yang terluka akibat terhalang ranting pohon.


Meskipun demikian, Erlan berusaha untuk tidak menyerah. Ia berharap agar bisa kembali dan menemui Yoona. Tetapi sekarang, keadaannya sangat tidak memprihatinkan. Mencoba untuk sedikit bergerak, tetapi Erlan justru kembali terjatuh.


Pergerakannya itu terdengar oleh sekolompok orang yang sedang mencarinya. Membuat mereka terus mencoba mencari titik suara. Hingga mereka berhasil menemukan Erlan yang sedang dalam keadaan sekarat.


“Erlan!" Alice berteriak keras sembari berlari lebih dulu saat melihat Erlan sedang mencoba untuk bangkit. "Ya ampun, kenapa dengan keadaanmu ini? Ayo sekarang kita bangun, dan berpegangan tangan padaku. Aku akan membantumu berdiri."


Jerrol dan kedua anak buahnya merasa senang saat telah berhasil menemukan Erlan kembali, namun tidak dengan Malvin.


"Lalu di mana Yoona sekarang? Katakan padaku di mana dia, Tuan Erlan?" tanya Malvin dalam keadaan cemas.


"Aku ... meninggalkan Yoona di gubuk yang tidak terlalu jauh dari sini. Di sana ada kebun jagung yang sudah terlihat dekat jika terdengar aliran sungai," sahut Erlan dengan berusaha memaksakan dirinya bicara meskipun keadaannya sudah sangat lemah.


"Apa? Jadi kau meninggalkannya sendirian? Astaga, Yoona. Semoga kau baik-baik saja." Malvin begitu cepat hingga membuatnya berlari dengan cepat.


Kekhawatiran itu membuat Erlan sedikit merasa bingung, terlebih ia belum pernah melihat Malvin sampai secemas itu dengan seorang wanita sebelumnya.


"Jerrol, tolong bantu aku untuk berjalan menemui Yoona," pinta Erlan dengan tiba-tiba.


Namun dengan cepat, Alice menatap ke arah Erlan dengan tatapan tajam seperti tidak menginginkan pria itu pergi. "Tidak, Erlan. Kau harus ikut dengan kami dulu demi bisa mendapat perawatan. Jangan membantah karena aku tidak ingin melihatmu terluka seperti ini. Jerrol, sebaiknya dirikan tenda. Kita akan mengobati lukanya dulu."


"Tapi, Alice. Aku harus menemui Yoona dulu, dia sedang menungguku." Erlan berusaha untuk tetap bersikeras.


"Sayang, tolong pikirkan dirimu dulu. Lagi pula Yoona sudah dicari oleh Malvin, mereka pasti akan bertemu. Terlebih Malvin itu adalah kekasih Yoona selama dua tahun yang lalu. Aku rasa tidak akan mungkin Malvin membiarkan kekasihnya itu terluka," bantah Alice sampai berusaha membuka rahasia demi bisa membuat Erlan tetap menurut dengannya.


Sesuai dengan perkiraan Alice, Erlan yang awalnya sangat ingin menemui Yoona tiba-tiba sekarang terdiam dalam kebisuan. Betapa tidak pernah Erlan duga bahwa Yoona dan Malvin memiliki hubungan yang khusus.


"Jadi, itulah sebabnya Malvin saat itu tiba-tiba menjumpai ku? Bahkan yang aku lihat Yoona bertemu dengan seorang pria, ternyata adalah Malvin. Dia bahkan tidak mengakui tentang hubungannya itu, dan justru berpura-pura untuk terus mencintaiku. Yoona, aku seharusnya memang tidak perlu mempercayai wanita seperti dirimu. Apalagi kau sudah menyakiti saudara kembarmu sendiri, bagaimana mungkin kau tidak akan menyakiti diriku lagi?" batin Erlan dalam kekecewaan yang besar.


Erlan yang awalnya sangat ingin, kini mencoba menuruti semua ucapan dari Alice bahkan wanita itu membantu Erlan untuk berganti pakaian.


"Kenapa kau harus berbohong padaku, Sayang? Aku tidak pernah menduga jika kamu akan membohongiku tentang liburan bersama keluarga, tapi justru kau pergi dengan Yoona. Seharusnya sekarang aku sangat marah, tapi melihatmu terluka begini, aku semakin tidak bisa memarahi mu," ucap Alice saat mereka berdua di dalam tenda.


Tersadar akan kebohongan yang telah Erlan buat kepada Alice, apalagi mereka yang baru beberapa hari memiliki hubungan spesial. Perlahan Erlan menggenggam tangan Alice demi bisa membuat wanita itu tidak terus-terusan cemberut dengannya.


"Maafkan aku, Alice. Awalnya memang aku tidak berniat untuk mengambil tiket honeymoon dari Papa Agra, tapi kau tahu sendiri bagaimana papaku jika sudah menginginkan sesuatu? Itulah sebabnya aku datang ke sini demi bisa mencari kebenaran tentang Fiona. Namun sayangnya, kami seperti ditipu mentah-mentah oleh tantenya Yoona. Sungguh, aku merasa sangat menyesal telah mempercayai mereka semua," sahut Erlan dengan pembelaan diri.


"Lain kali jangan terlalu percaya dengan keluarga mereka, Erlan. Lihat sekarang bagaimana kondisimu ini? Jika sampai kau kembali ke rumah dengan sangat kacau seperti ini. Maka bukan saja honeymoon bohongan yang akan Papa Agra ketahui, namun juga dengan pernikahanmu. Tapi tenang saja, saat nanti kita kembali, kau akan tinggal denganku hingga sembuh."


"Alice, aku rasa itu tidak perlu. Lebih baik aku tinggal di apartemenku saja."


"Baiklah, jika memang kau tidak mau. Maka tidak apa, aku akan setuju, tapi kamu juga harus setuju untuk memberikan kode akses apartemen mu padaku. Karena tidak akan mungkin, kau bisa berjalan membuka pintu setiap waktu jika keadaanmu saja seperti ini? Tolong, sekali ini dengarkan keinginan ku demi kebaikan kita bersama, Sayang." Alice sampai memohon.


Membuat Erlan tersenyum manis saat melihat kecemasan Alice yang begitu tidak ingin ia terluka. Hal itu membuat batinnya berpikir sesuatu. "Bahkan sekarang wanita lain yang jauh lebih menyayangi ku dibandingkan dengan istriku sendiri. Entah kesialan apa sampai aku harus memiliki seorang istri yang sangat tidak bisa diandalkan itu."


"Baiklah, aku akan menuruti semua permintaanmu kali ini sebagai ucapan maaf dariku, Alice."


"Memang itu yang aku inginkan, Erlan. Agar kau bisa menurut hanya kepadaku seorang, dan Yoona, kau harus membayar semua kesalahanmu sendiri karena sudah membuat pria yang aku cintai terluka seperti ini. Lihat saja bagaimana aku akan membalas mu nanti, Yoona," batin Alice dengan penuh dendam.