
Sebagai seorang pria, Jerrol merasa cemas dengan keadaan Yoona, meskipun memang dia bukanlah siapa-siapa. Tetapi, Jerrol tahu bahwa Erlan pasti sudah melakukan sesuatu untuk wanita itu.
Membuat Jerrol berlari demi bisa menemukan Yoona, namun ia tidak tahu ada di mana.
"Katakan di mana dia, Erlan?" tanya Jerrol yang terlihat sangat panik.
"Apa peduli mu? Dia bukan siapa-siapa kita." Erlan merasa tidak senang.
"Dasar kau gila." Jerrol semakin dibuat tidak habis pikir. Ia berusaha membuka satu per satu pintu kamar.
Sampai akhirnya Yoona terlihat terbaring di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dengan cepat Jerrol mendekat.
"Hei, bangun! Ayo sadarlah, Yoona." Dengan cepat Jerrol menepuk-nepuk kedua pipi Yoona. Tetapi wanita itu masih belum bergerak.
Jerrol merasa sedikit lega saat merasakan denyut nadi Yoona yang masih berdetak. Ia segera membopong tubuh wanita itu dengan cepat.
"Erlan, kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Ayo bantu aku untuk ke sana," pinta Jerrol dengan sangat terburu-buru.
"Kau saja," sahut Erlan dengan perlahan, dan tanpa ada rasa cemas sedikitpun juga.
Reaksi Erlan yang begitu santai, membuat Jerrol hanya bisa melakukan segalanya sendiri. Terlebih di dalam rumah itu juga tidak ada yang akan peduli.
Segera membawa wanita itu pergi ke rumah sakit, namun tidak dengan Erlan yang masih duduk diam sembari merenung.
Setiba di rumah sakit, Jerrol menunggu sampai dokter datang menemuinya setelah Yoona masuk ke dalam ruangan pemeriksaan beberapa saat. Namun tiba-tiba saja, sebuah dering ponsel membuat Jerrol terkejut.
"Ponselnya Yoona berbunyi, tapi siapa panggilan tidak terdata ini?" tanya Jerrol yang merasa heran ketika melihat panggilan keluar tanpa identitas. Terlebih sebelumnya Jerrol mengambil barang tersebut sebelum Yoona diperiksa.
Segera menjawab tanpa ragu, tetapi terdengar suara seorang pria. Jerrol semakin terheran, meskipun dalam hati kecilnya, ia tidak akan peduli dengan permasalahan ia orang lain.
"Halo, di mana kau sekarang, Yoona?" Ini aku, Malvin.
"Maaf, tapi ini temannya."
"Kau siapa? Kenapa ponsel Yoona berada di tanganmu? Katakan di mana dia sekarang?"
"Dia sedang dirawat, tapi katakan dulu siapa kau ini? Apa kerabat dekatnya?" Jerrol tidak ingin kalah.
"Aku kekasihnya, jadi katakan keberadaannya sekarang."
Seketika membuat Jerrol terdiam saat mendengarnya. Rasanya ia ingin tidak memberitahukan keberadaan Yoona, tetapi ketika mengingat tentang nasib wanita itu yang malang di tangan Erlan, membuat Jerrol tidak berdaya.
"Aku hanya temannya saja. Sekarang Yoona ada di rumah sakit. Jika kau mau bisa segera datang ke sini."
"Katakan di mana dia sekarang?"
"Aku akan mengirimkan alamatnya."
Tak berapa lama, dokter keluar berjalan mendekat kearahnya. Segera mematikan telepon tanpa menunggu panggilan tersebut menunggu.
"Kenapa dengannya, Dok?"
"Hanya kelelahan dan stress yang berat. Terlebih karena kekurangan makanan sampai membuat wanita itu tak berdaya. Aku harap dia di rawat dua hari di sini sampai kondisi tubuhnya membaik. Namun tenanglah, dia tidak mengalami sakit yang serius," jelas Dokter dengan tenang.
"Baiklah, Dok." Jerrol merasa sedikit tenang.
"Kalau begitu segera urus semua administrasinya dulu. Saya permisi."
"Baik, Dok."
Tak lama Yoona akhirnya tersadar apalagi setelah mendengar seseorang seperti berbicara di samping telinganya.
"Siapa kau?" tanya Yoona dengan penuh kebingungan.
"Bangunlah kau sudah sadar, Nona Yoona. Aku teman sekaligus tangan kanan suamimu—Erlan. Namaku Jerrol, hanya itu."
"Lalu di mana Mas Erlan? Aku tidak melihatnya di sini?" Yoona bertanya sembari melirik ke sana kemari.
"Um, dia tidak datang. Aku yang memaksa membawamu ke rumah sakit karena aku tidak sengaja menemukan dirimu tergeletak di lantai. Tapi tenanglah, mungkin nantinya dia akan datang. Tapi maaf karena aku sudah lancang membawamu ke sini. Namun, Erlan mengetahui hal itu. Jadi pastinya dia akan datang kemari," sahut Jerrol.
Seketika Yoona mulai mengingat saat pertengkarannya di mulai. Ia tahu kondisi tubuhnya masih terasa pusing.
"Tidak apa, Jerrol. Aku berhutang banyak denganmu. Lagi pula aku tidak menunggu Mas Erlan. Dia pasti tidak akan datang," sahut Yoona dengan perlahan dengan penuh kesadaran.
"Kasihan sekali dia. Pasti Yoona kecewa karena dia paham jika suaminya tidak akan ke sini," batin Jerrol.
"Baiklah kalau begitu. Kau bisa kembali istirahat, Yoona. Aku akan ke luar sebentar untuk membelikan makanan untukmu. Nanti aku akan kembali lagi."
"Tidak perlu, Jerrol. Kita tidak saling mengenal dan tidak ada ikatan apapun, namun kau sudah melakukan banyak hal untukku. Sebaiknya biarkan aku mengurus diriku sendiri. Kau bisa pulang, dan terima kasih atas bantuanmu ini." Yoona merasa tidak nyaman apalagi ketika harus memiliki hutang budi.
"Eh tidak-tidak, Nona Yoona. Tenanglah, Nona. Aku tidak masalah jika kau keberatan. Tapi yang pasti, aku bisa meminta suster untuk menjagamu di sini."
"Jerrol, tidak apa. Aku bisa sendiri." Yoona tetap kekeh.
"Sungguh? Kau yakin tidak akan repot dalam keadaan seperti ini? Apalagi tanganmu di infus begini. Satu hal lagi, dokter bilang jika selama dua hari kau harus dirawat agar kondisi tubuhmu yang lemah bisa stabil." Jerrol masih tidak tenang.
"Biarkan dia menjadi urusanku." Terdengar suara seorang pria dengan tiba-tiba saat Yoona belum sempat menjawab permintaan Jerrol.
Membuat Jerrol terdiam, namun tidak dengan Yoona yang sangat terheran. Apalagi ia tidak berpikir kalau pria itu akan datang menemuinya di rumah sakit.
"Malvin." Terdengar lirih perlahan suara Yoona. Jerrol ikut menoleh kearahnya.
"Sepertinya mereka memang saling mengenal. Apa aku harus meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan ini? Tapi, bagaimana jika terjadi sesuatu?" batin Jerrol yang bimbang.
Pria bernama Malvin Jeremy segera berjalan mendekat ke arah Yoona sembari dengan membawa beberapa pakaian serta makanan untuk wanita yang ia sayangi selama kurang lebih dua tahun lamanya.
Hati Malvin merasa sangat cemas ketika mengetahui tentang keberadaan Yoona, terlebih lagi dua bulan yang lalu ia berpikir jika yang telah tiada adalah kekasihnya. Namun ternyata salah, justru yang ia anggap telah meninggal adalah saudara kembar Yoona.
Pria berusia tiga puluh tahun itu, dan sudah menjadi kekasih Yoona selama dua tahun lebih. Mereka dengan tiba-tiba berhenti berkabar saat Yoona dengan sengaja menjauh.
Ingin sekali rasanya Malvin memeluk tubuh Yoona, tetapi ia sadar kondisi wanita itu tidak sedang baik-baik saja. Meskipun rindunya paling besar, namun ia berusaha untuk sekedar menggenggam erat tangan Yoona.
"Kenapa kau harus membohongiku, Yoona?" tanya Malvin dengan tiba-tiba, namun Yoona tidak menjawab. Justru wanita itu sengaja memalingkan wajahnya.
"Hei, kau sepertinya tidak diterima di sini. Jadi lebih baik pergilah dari sini," perintah Jerrol dengan tiba-tiba saat melihat reaksi Yoona yang jelas-jelas menolak untuk bertemu.
"Siapa kau bisa mengaturku?" Malvin bertanya seraya terlihat berusaha menantang. "Lebih baik kau saja yang pergi, daripada aku menarikmu ke luar."
Mendengar nada bicara yang tidak sedap, perlahan Yoona menatap sembari memberikan pertanda dengan anggukan kecil. Agar semuanya terlihat baik-baik saja.
"Baiklah. Aku akan ke luar, tapi jika kau macam-macam di sini, maka riwayatmu akan tinggal nama," ancam Jerrol.
"Hanya orang bodoh yang akan menganiaya wanita sesempurna kekasihku. Jadi, pergilah dari sini daripada mulutmu aku sumpal."
"Jadi benar mereka punya ikatan. Sepertinya begitu, tapi kenapa Tuan Erlan tidak pernah cerita?" batin Jerrol yang merasa terheran sembari perlahan langkahnya berjalan keluar.