
Episode 115 : Perdebatan menggemaskan.
.
.
"Aku lapar sekali," Aluna mengeluh lapar saat mereka melangkah kan kaki keluar dari rumah sakit.
Tangan Edgar merangkul istrinya dan seperti tidak ingin berada jauh sedikitpun darinya.
"Aku juga, aku tidak makanan apapun tadi karena ingin makan bersama mu, kau mau makan apa malam ini? haruskah kita ke restoran?"
Edgar bertanya dengan sangat lembut kali ini, dia menanyakan apa yang ingin dimakan oleh istrinya.
Aluna mungkin tidak menyadari ini, akan tetapi Edgar sudah mulai menanyakan pendapat nya, apa yang dia suka dan mulai memprioritaskan keinginan Istri nya dibandingkan dirinya.
"Hmmm," Aluna berhenti melangkah sebentar, mereka sudah akan sampai di lobby dimana supir pribadi Edgar sudah menunggu.
"Aku ingin makan pizza, aku tahu tempat makan yang enak," seru Aluna mengepal tangannya dan berbicara berbinar-binar.
Dia bahkan sudah bisa membayangkan saat pizza dengan taburan keju mozzarella yang sangat banyak memasuki mulutnya.
Aluna bahkan sudah menelan salivanya karena sudah tidak sabar dengan kenikmatan makanan berat itu.
"Pizza? hmmm, sebenarnya aku hanya ingin makan masakan buatan mu hari ini, tapi tidak masalah, ayo kita makan ke tempat yang kau suka." seru Edgar tidak masalah jika menemani istrinya makan seperti saat lalu.
"Tapi janji dulu, jangan menatap orang dengan tatapan mematikan, seperti saat lalu, tidak ada orang berani duduk di sekitar kita karena kau ancam dengan tatapan mematikan, kita nikmati saja keramaian di restoran nya ..." gerutu Aluna ingin suaminya jangan lagi menatap pelanggan-pelanggan dengan tatapan mematikan seolah-olah ingin menghabisi mereka jika duduk dengan mejanya.
"Sayang, aku tidak bisa melakukan itu, aku harus melindungi mu, apakah kau tahu banyak lelaki buas di dunia ini?"
"Hanya aku yang mampu melindungi mu jadi aku tidak akan berhenti menatap mereka dengan tatapan tajam ku jika mereka masih tetap ingin duduk di dekat meja kita, itu sama saja dengan ingin mendekati mu di depan mata ku!"
"Membayangkan nya saja sudah membuat darah ku mendidih! sebaiknya jangan hentikan aku dalam masalah itu," gerutu Edgar segera meraih tangan istrinya dan menggenggam nya.
Membawanya melangkah lagi menuju mobil yang sudah menunggu.
"Mereka duduk di dekat kita bukan karena ingin mendekati aku, aku tidak lah secantik itu, mereka hanya ingin makan ..." balas Aluna masih saja membalas suaminya, dia menjawab sembari mengikuti Edgar melangkah.
"Haaah!"
Edgar menghela nafasnya sejenak dan berhenti melangkah lagi.
Keduanya mungkin tidak sadar jika seisi rumah sakit sudah memerhatikan mereka yang bertengkar romantis di dekat lobby rumah sakit.
"Kau cantik! kata siapa kau tidak cantik? kau bahkan terlalu cantik!" Edgar berseru begitu kuat.
Suaranya seperti menggema jadi semua orang bisa mendengar.
'Astaga, apa-apaan mereka kita, bertengkar tapi memuji, apakah mereka ingin membuat semua orang jomblo di tempat ini iri dan menangis?'
Banyak orang langsung membisik mengenai kedua pasangan yang beradu argumen itu.
"Ehem, intinya kau cantik! aku saja terpesona apalagi yang lain!" gerutu Edgar dengan pipi dan daun telinga yang sudah merah sekali.
Edgar mengalihkan pandangannya dan memiringkan wajahnya karena merasa malu entah karena apa, dia jarang merasa malu, akan tetapi jika di sisi istrinya entah mengapa dia sering sekali merasa malu dan jantungnya berdegup sangat kencang.
Edgar menarik tangan istrinya yang melongo itu lagi, agar mereka segera pergi makan.
"Cih, dasar arogan!" gerutu Aluna menyerah memberikan saran pada suaminya.
Tetapi tetap saja ada garis senyuman di wajah Aluna saat menyadari tangannya di genggam lagi, dan suaminya melangkah di depannya seperti sebuah tameng yang melindungi.
Aluna suka perasaan seperti ini, saat Edgar menggenggam tangannya, saat itu Aluna merasa mereka akan bersama Selamanya, rasanya seperti Edgar tak akan pernah melepaskan genggaman tangannya.
.
.
Seperti dugaan Aluna, saat mereka makan di restoran pizza, tidak ada yang berani duduk di sekitar mereka.
Bagaimana tidak, Edgar duduk dengan tegap sembari melipat tangan menatap setiap orang yang hendak duduk di sekitar mereka dengan tatapan tajam.
Seolah ada laser di mata nya yang akan segera membunuh siapapun yang mau mendekat.
Aluna yang nampaknya seolah sudah terbiasa hanya bisa geleng-geleng kepala, dia benar-benar menikmati pizza yang sangat ia inginkan.
Dan benar saja, dia menghabiskan pizza satu loyang penuh sendirian.
"Kau benar-benar tidak ingin makan?" Aluna bertanya lagi pada suaminya yang sedang dalam mode overprotektif itu.
Edgar segera geleng-geleng kepala, dia kemudian menjawab.
"Aku makan masakan mu, aku rindu masakan buatan mu," balas Edgar tidak akan makan makanan yang lain kecuali makanan buatan istrinya.
.
.
.
.
Author : Besok update semoga bisa banyakan lagi yaa, sayang banget aku lagi sibuk sekali sekarang.
Mohon dimaklumi ya semuanya, setidaknya update setiap hari dulu yaaa.