
Tiba-tiba Yoona berpikir kotor, tanpa ia sadari bahwa Erlan hanya sengaja untuk berusaha membuatnya terpesona. Pria itu memang lebih menyukai menerba pesonanya sendiri.
Menyunggingkan senyumnya, ketika Erlan menyadari kalau Yoona seperti menginginkan sentuhannya. Namun, ia berusaha membuat wanita itu kebingungan. Antara menginginkan tubuhnya atau sekedar permainan semata.
"Jangan bertanya, Yoona. Malam ini kita harus segera pulang. Oh ya, sebelum itu. Kau harus membaca isi surat ini terlebih dahulu," pinta Erlan seraya memberikan surat tersebut.
"Apa ini, Mas?"
"Bisa dibacakan? Lalu kenapa harus bertanya lagi?" Erlan menatap dengan sebelah mata. Ia segera duduk sedikit berjauhan.
Perlahan-lahan Yoona mulai menyimak semua penjelasan dari isi surat tersebut. Ia merasa semua itu tidak adil.
"Apa maksudnya dengan uang satu juta dollar? Apa kau ingin membeli ku? Tapi, aku ini istrimu. Untuk apa aku uang itu segala? Terserah dirimu saja, aku tidak ingin menandatangani surat ini." Yoona bertanya dengan rasa penuh tidak percaya. Ia tidak menyangka kalau usai pernikahannya hanya berlangsung selama dua tahun sesuai perjanjian yang tertulis di dalam sana.
"Kenapa? Bukankah kau akan mendapatkan uang yang banyak? Jangan terlalu naif, Yoona. Wanita seperti dirimu yang rela menghancurkan kebahagiaan orang lain, tentu saja sangat menginginkan uang sebanyak itu, kan? Terlebih kau harus menembus semua pengkhianatan yang telah kau berikan kepada tunanganku. Bahkan jika dinilai dengan nyawanya, kau bukanlah apa-apa. Terima saja keputusan di dalam surat itu daripada aku harus menyeret mu masuk ke dalam penjara," tegas Erlan tanpa ingin dibantah.
"Tidak, Mas Erlan. Aku sama sekali tidak berniat untuk menghilangkan nyawa kakakku sendiri, lalu kenapa kau harus membuat surat pernikahan konyol seperti ini? Aku ini istrimu, bukan sebuah bahan percobaan yang hanya bisa kau hempaskan setelah dua tahun pernikahan kita selesai. Ini tidak adil untukku." Yoona berusaha melawan.
Mendengar bantahan yang semakin membuat Erlan kesal, ia segera bergerak mendekat dan langsung melemparkan kertas tersebut tepat di wajah Yoona.
"Kau berbicara tentang keadilan, begitu? Apa adil untukku saat kau berusaha membohongi pernikahan ini? Tidak, kan! Kau telah membuat wanita yang paling ia cintai pergi. Dirimu penyebab kesialan di dalam hidupku. Wajahmu ini juga menjadi kutukan saat aku tidak bisa membalas nyawa dengan nyawamu juga."
Teriakan dan hinaan yang kembali Erlan utarakan, dapat membuat tangan Yoona bergetar. Ia berusaha menggenggam tangannya sendiri sembari menundukkan kepalanya.
"Kenapa sekarang kau diam, Yoona? Haruskah aku juga menyanjung dirimu atas perbuatan bodoh yang telah kau buat? Dengarkan ini baik-baik. Terima semua keputusan di dalam pernikahan ini, maka sebagai balasannya aku akan memberikanmu uang. Setelah dua tahun, aku harap kita dapat melupakan segalanya," tegas Erlan.
Tidak bisa berkata-kata, rasa sakit hatinya semakin mendalam. Air mata perlahan terjatuh, namun tidak ada rasa kasihan yang Erlan perlihatkan.
"Jangan perlihatkan air mata busukmu itu padaku. Kau seorang pengkhianat, tetap saja akan menjadi pengkhianat. Oleh sebab itu, selama dua tahun, rasakan hukuman yang akan kau dapatkan." Erlan terus mengancam sampai rasa pusing di kepala istrinya mulai semakin bertambah.
"Baik, Mas. Aku mengerti." Yoona memilih untuk terus bersabar. Lalu perlahan ia menandatangani surat perjanjian itu yang berada di atas materai.
Membuat Erlan tersenyum puas saat melihat istrinya menurut. "Gitu dong, kan sama-sama enak. Enggak perlu marah-marah juga, kan? Lalu sekarang tunggu apalagi, bersiaplah kita akan pulang malam ini."
"Tapi, kepalaku masih terasa sangat pusing, Mas Erlan."
"Memangnya jika kau di sini pusingmu akan hilang, begitu? Malam ini pun kau juga akan beristirahat di rumah. Patuhi saja aturanku, Yoona. Aku tidak ingin papa berpikir buruk tentang pernikahan kita. Apalagi jika sampai dia tahu kalau kau bukanlah menantu seperti yang ia inginkan. Maka berhati-hatilah untuk bersikap dengannya, sewajarnya saja."
"Itu artinya papamu ingin tetap rukun, Mas. Kenapa kau harus membuatku tersiksa begini? Rasanya dua tahun bukanlah waktu yang cepat untuk aku menerima semua hukuman ini," batin Yoona yang sadar akan posisinya.
"Katakan apa itu?"
"Sudah lama aku tidak melihat ibuku. Bolehkah jika kau menemaniku ke sana? Kakiku masih sangat lemah, takutnya tidak bisa berjalan terlalu jauh. Meskipun memang mama dirawat di rumah sakit ini juga," pinta Yoona dalam rasa rindunya.
"Baiklah, tapi masih ada kursi roda yang dapat kau gunakan untuk berjalan sendiri. Sudahlah, jangan terlalu manja." Erlan menolak dengan sedikit kasar. "Aku akan menunggumu di luar, jadi bersiaplah."
"Baik, Mas."
Kepergian Erlan membuat Yoona kembali menangis tanpa bersuara. Rasa sesak di dadanya begitu membuat Yoona tidak tahan. Namun, demi kehidupan dan janji atas kakaknya. Ia berusaha tetap tenang sembari menghapus kesedihan yang semakin deras membuatnya terluka.
"Kau pasti bisa, Yoona. Kuatkan hatimu. Bagaimanapun juga Erlan pria yang kau cintai sekaligus suamimu sendiri. Terlebih hanya dia yang sekarang aku miliki," gumamnya.
Berbeda dengan Erlan yang saat itu bergerak menuju ruang administrasi dan sekaligus untuk meminta supaya Yoona dipulangkan. Tanpa ia sadari, ada seorang pria yang sedang membututi langkahnya.
"Tolong izinkan saya membawa istrinya pulang malam ini juga, Suster."
"Tapi, dokter sudah mengatakan kalau pasien bernama Yoona harus mendapatkan perawatan intensif selama dua hari ke depan untuk memastikan kondisinya tidak melemah kembali. Apalagi ia sudah kekurangan banyak cairan dari dalam tubuhnya, Tuan. Sungguh tidak ingin memikirkan hal ini sekali lagi?"
"Tidak perlu, Suster. Saya bisa mengurus istri saja di rumah dan akan tetap mendapatkan perawatan intensif. Sebaiknya lakukan perintah saya segera, dia harus pulang malam ini." Erlan terus mendesaknya.
"Baiklah jika begitu, Tuan. Anda harus segera mengurus semua persyaratannya terlebih dahulu supaya kami tidak bersangkutan dengan tindakan buruk yang mungkin terjadi. Tolong, lakukan ini, Tuan."
"Ya, saya mengerti."
Erlan terus mengisi sesuai dengan prosedur rumah sakit, namun ia tidak mengira bahwa sejak tadi Malvin sudah mendengar semua ucapannya itu.
Membuat Malvin sama sekali tidak habis pikir ketika mengetahui kalau ternyata suami mantan kekasihnya justru menikah bersama atasannya sendiri. Meskipun kabar pernikahan terdengar, namun ia tidak ada di tempat waktu itu.
"Gawat! Apa dunia benar-benar gila? Bagaimana mungkin takdir membawaku harus bertentangan dengan atasan arogan seperti Erlan? Sial! Padahal rasanya ingin sekali aku memberikan ganjaran karena keegoisan nya itu," gerutu Malvin sampai ia mengepalkan tangan dari jauh.
Erlan telah selesai, ia segera membawa Yoona pergi. Tepat saat mereka ke luar, Malvin menatap dengan rasa heran saat kedua pasangan itu terlihat seperti tidak ada keharmonisan sama sekali.
Apalagi ketika Yoona berusaha seorang diri menggerakkan kursi rodanya, namun Erlan lebih memilih sibuk dengan ponselnya.
"Kurang ajar kau, Erlan! Dasar tidak punya hati. Pernikahan ini masih berusaha Yoona pertahankan, sampai-sampai dia ingin menjauh dariku. Tapi, tidak akan aku biarkan itu terjadi," ucap Malvin sembari berjalan mendekat ke arah mereka berdua.