
Episode 143 : Jangan mengabaikan aku!
.
.
Hari itu, kediaman Edgar Brown terasa sangat ramai.
Di meja makan,
"Makan lah Ibu mertua, ini aku memasak beberapa makanan," seru Aluna dengan sigap dan sopan memberikan makanan kepada Camelia.
Saat itu, Camelia masih diam saja tetapi dia segera menyantap makanan yang dibuatkan oleh Aluna.
Disaat yang sama, Edgar juga duduk di sisi istrinya sembari melipat tangan dengan mata yang tajam, tidak suka saat dirinya diabaikan oleh sang isteri.
Setelah beberapa saat ...
"Katanya kau hamil muda, bagaimana perasaan mu?" Camelia menyudahi makanan nya, dan segera bertanya kepada Aluna.
"Aku merasa baik-baik saja Ibu mertua, hanya saja aku mudah kelelahan dan jadi lebih suka tidur ..." balas Aluna jujur dan tersenyum begitu manis.
"Hmmm!"
Camelia melipat tangan dan melirik ke arah putranya yang terus menatap ke arah istrinya.
"Kalau begitu kita akan kembali ke rumah ku besok, kau mudah lelah bukankah harus ada yang menjaga mu sepanjang waktu, bagi ibu hamil yang kehamilan nya masih muda tidak perlu memasak dan melakukan pekerjaan yang lain ..."
"Lebih baik melakukan olah raga ibu hamil saja, lalu istirahat yang banyak ..."
Seru Camelia akhirnya mendapatkan alasan untuk membawa putranya dan menantunya ke rumahnya.
"Ibu, disini masih banyak pekerjaan dan istriku juga keadaan nya belum stabil, jadi ..." Tentu saja Edgar mencoba menolak, sebenarnya Edgar sudah akan kembali ke negara asalnya akan tetapi karena ibunya sudah terlebih dahulu datang, maka Edgar merasa kepulangannya bisa diundur sampai istrinya baikan dulu.
Camelia langsung menatap tajam ke arah Edgar.
"Tidak ada tapi-tapi, kita harus segera pulang ... Ayahmu keadaan nya semakin memburuk, perusahaan juga semakin besar dan tidak bisa lagi aku kendalikan,"
"Dan jika memang istrimu adalah wanita yang baik, maka dia harus membuktikan dirinya sendiri kepada Ayah mu dan juga aku ..."
"Jadi untuk ini tidak ada penolakan sama sekali, besok kita semua pulang!"
"Ummm, I ... Ibu mertua? itu ..." Aluna mencoba berbicara sehingga wajah marah Camelia tadi segera mengarah kepada Aluna.
Berbeda dengan ekspresi marah Camelia pada Edgar, kepada Aluna ekspresi nya malah kelihatan sangat lembut.
"Katakan lah, apakah kau keberatan juga sepatu suami mu itu?" tanya Camelia.
"Ti ... tidak Ibu mertua, jika memang besok kita harus kembali kesana, maka ijinkan aku menjenguk Ayahku sebentar ke rumah sakit, dia sendirian disini ... aku juga harus ke makam Ibu ku ..." balas Aluna mengatakan pada Camelia jika dia harus menjenguk Ayahnya dulu, lalu ke makam Ibunya sebentar.
Agar hatinya bisa lebih tenang pergi ke negara suaminya.
"Tentu saja bisa, lakukan apa yang kau mau, hanya saja jaga dirimu dan bayi mu," balas Camelia kemudian bangkit dan pergi.
Entah mengapa Camelia masih ingin bersikap tegas, akan tetapi setiap kali mengajak Aluna berbicara, nampaknya ketegasannya luntur dan akan berubah menjadi sangat lembut.
.
.
Saat Camelia sudah pergi ...
"Sayang ... tidakkah menurut mu kau berlebihan? kenapa kau hanya perhatian pada Ibuku sedangkan aku, kau mengabaikan aku begitu saja!"
"Padahal kan aku suami mu!"
Edgar menggerutu sembari melipat tangan, dia menatap istrinya dengan sangat tajam dan wajahnya terlihat kesal namun menggemaskan.
"Haaaah!"
Aluna menghela nafasnya dalam-dalam, dia sudah kewalahan dengan betapa manja suaminya ini.
"Aku melakukan itu agar Ibu mertua menerima aku, aku ingin diterima oleh keluarga mu juga, agar kita bisa hidup bahagia dan tenang, apalagi sebentar lagi kita akan punya bayi ..." balas Aluna meraih tangan suaminya dan berbicara begitu lembut.
"DEG ... DEG ... DEG!"
Jantung Edgar berdegup kencang saat itu.
'Jadi, dia melakukan itu demi aku, karena dia sudah mencintai aku? astaga ... jantung ku!'
Benak Edgar dimana lambat laun, wajahnya menjadi merah merona.